Tampilkan postingan dengan label Alergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alergi. Tampilkan semua postingan

06 November 2018

Reaksi Alergi Terhadap Antibiotik

Reaksi Alergi Terhadap Antibiotik

Jika Anda alergi terhadap antibiotik, Anda akan mengalami gejala dan tanda seperti ruam, bengkak di wajah hingga kesulitan bernapas.

Reaksi alergi yang parah disebut sebagai anafilaksis, dan biasanya terjadi dalam waktu satu jam setelah menggunakan antibiotik. Anafilaksis merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan medis segera. Segera ke gawat darurat rumah sakit jika mengalaminya.

Gejala-gejala anafilaksis diantaranya:
  • sukar bernapas / napas berisik
  • pembengkakan lidah
  • bengkak / sesak tenggorokan
  • kesulitan berbicara / suara serak
  • mengi atau batuk
  • pusing atau pingsan
  • pucat dan terkulai (terutama pada remaja dan anak-anak)

Terkadang juga ada gejala-gejala yang kurang berbahaya sebelum anafilaksis terjadi, seperti:
  • pembengkakan wajah, bibir dan / atau mata
  • gatal atau bilur
  • sakit perut atau muntah.

Sebagian besar ahli imunologi dan alergi klinis merekomendasikan adrenalin sebagai pengobatan awal untuk reaksi alergi berat. Jika Anda alergi terhadap antibiotik, Anda mungkin akan diajari dokter tentang cara menghindari pemicunya dan cara menggunakan suntikan adrenalin yang dapat digunakan sendiri seperti EpiPen®.

Sebagian besar alergi disebabkan oleh antibiotik golongan penicillin atau antibiotik yang berhubungan erat dengan penicillin, atau oleh jenis antibiotik lain yang disebut sulfonamid.

Merasa mual dan muntah setelah minum antibiotik biasanya merupakan efek samping dari obat, bukan reaksi alergi.

Dokter biasanya dapat mendiagnosis reaksi alergi terhadap antibiotik dengan memeriksa dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap Anda. Dia mungkin merujuk Anda ke dokter spesialis alergi/imunologi, yang mungkin nantinya akan dilakukan tes alergi kulit dan darah.

04 November 2017

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Alergi Telur

Alergi telur

Alergi telur merupakan salah satu penyebab alergi yang paling umum pada anak-anak. Para ahli memperkirakan bahwa sebanyak 2 persen anak alergi terhadap telur. Namun kabar baiknya adalah sekitar 70 persen anak-anak yang alergi telur akan sembuh dengan sendirinya sebelum memasuki usia remaja.

Gejala alergi telur yang paling umum adalah reaksi negatif pada kulit. Gejala lainnya yang dapat menyertai antara lain, pilek, mata gatal dan berair, kejang perut, mual atau muntah, dan masalah pencernaan lainnya.

Penyebab alergi telur

Pada orang yang memiliki alergi, sistem kekebalan tubuhnya terlalu peka sehingga bereaksi berlebihan terhadap molekul pemicu alergi tertentu (alergen). Pada alergi telur, sistem kekebalan tubuh mengidentifikasi protein telur yang masuk ke tubuh sebagai zat yang berbahaya. Selanjutnya sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi dan menyebabkan reaksi inflamasi serta pelepasan zat kimia yang disebut histamin. Histamin inilah yang menyebabkan gejala alergi terjadi.

Molekul telur yang menjadi pemicu alergi pada seseorang dapat berasal dari putih telur atau kuning telur, tapi alergi telur lebih sering terjadi pada putih telur. Biasanya jika seseorang alergi telur dari unggas tertentu, biasanya juga akan alergi terhadap telur dari unggas jenis lain.

Pada ibu menyusui, ada kemungkinan bayi yang disusui memiliki reaksi alergi terhadap protein telur yang terdapat dalam ASI jika ibunya mengkonsumsi telur.

Gejala alergi telur

Karena kemampuan sistem kekebalan tubuh berbeda-beda pada tiap orang, maka gejala alergi telur juga dapat berbeda, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Gejala alergi telur bisa muncul langsung dalam beberapa menit saja atau beberapa jam setelah makan telur atau makan produk olahan telur. Umumnya alergi telur menyebabkan reaksi yang tidak berat, namun pada sebagian orang dapat mengancam jiwa, dan harus ditangani segera.

Berikut adalah gejala-gejala reaksi alergi telur mulai dari yang ringan hingga yang berat (jarang).

Gejala alergi pada kulit

Reaksi alergi pada kulit adalah gejala yang paling umum dari alergi telur. Gejalanya adalah gatal-gatal, ruam kulit atau kaligata.

Gejala alergi rhinitis

Orang dengan alergi telur dapat mengalami alergi rhinitis, yakni:
  • Hidung buntu
  • Sinus tersumbat
  • Bersin-bersin
  • Hidung gatal atau pilek
  • Mata merah, gatal, dan berair
  • Gatal pada langit-langit mulut atau tenggorokan
  • Batuk.

Reaksi alergi berat - anafilaksis

Gejala reaksi alergi berat meliputi:
  • Kesulitan bernapas
  • Pembengkakan lidah
  • Denyut nadi cepat
  • Konstriksi saluran napas, termasuk tenggorokan menyempit atau benjolan di tenggorokan yang membuat sulit bernapas
  • Kesulitan bicara
  • Mengi atau batuk terus menerus
  • Syok, kolaps atau hilang kesadaran.
  • Pucat dan lunglai.

Gejala alergi ringan yang bisa terjadi sebelum muncul reaksi alergi berat meliputi:
  • Pembengkakan bibir, wajah dan mata
  • Mulut kesemutan
  • Sakit perut atau muntah.

Faktor risiko alergi telur

Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terkena alergi telur:
  • Dermatitis atopik. Anak-anak dengan reaksi kulit ini lebih berisiko mengembangkan alergi makanan.
  • Riwayat keluarga. Anda berisiko tinggi terkena alergi makanan jika salah satu atau kedua orang tua Anda penderita asma, alergi makanan atau jenis alergi lainnya.
  • Usia. Alergi telur paling sering terjadi pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan dan sistem kekebalan tubuh akan matang dan reaksi alergi makanan cenderung tidak terjadi.

Komplikasi alergi telur

Komplikasi alergi telur yang paling berat adalah reaksi anafilaksis yang memerlukan injeksi epinefrin dan perawatan darurat segera.

Reaksi sistem kekebalan tubuh yang sama, yang menyebabkan alergi telur juga bisa menyebabkan kondisi kesehatan negatif lain. Jika Anda atau anak Anda memiliki alergi telur, maka Anda atau anak Anda juga berisiko tinggi terkena:
  • Alergi makanan lain, seperti susu, kedelai, atau kacang tanah
  • Alergi pada bulu binatang, tungau debu atau serbuk sari
  • Asma, yang pada gilirannya akan meningkatkan risiko reaksi alergi yang parah terhadap telur atau makanan lainnya.

Mendiagnosis alergi telur

Mendiagnosis alergi telur bukanlah perkara yang mudah. Untuk mendiagnosis alergi telur, dokter perlu melakukan beberapa pendekatan, seperti mengesampingkan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa. Dalam banyak kasus, apa yang tampak seperti alergi telur sebenarnya disebabkan oleh intoleransi makanan yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh dan kondisi ini bukan kondisi serius. Jadi, tidak semua reaksi negatif (seperti diare, kembung dan sakit kepala) yang muncul setelah mengonsumsi suatu makanan adalah alergi.

Beberapa tes mungkin akan dilakukan dokter setelah mewawancarai Anda atau melakukan pemeriksaan fisik, seperti:
  • Tes tusuk kulit. Pada tes ini, kulit akan ditusuk dan dipapari dengan protein telur dalam jumlah kecil. Jika setelah beberapa saat (biasanya antara 15-20 menit) muncul benjolan atau ruam di lokasi tes dan sekitarnya, maka itu alergi telur.
  • Tes darah. Tes darah dapat mengukur respons sistem kekebalan tubuh terhadap telur dengan memeriksa jumlah antibodi tertentu dalam aliran darah yang mungkin mengindikasikan reaksi alergi.
  • Food challenge (tantangan makan). Anda akan diberi sejumlah kecil telur untuk melihat apakah menimbulkan reaksi. Jika tidak ada reaksi alergi dalam beberapa waktu, maka dokter akan memberikan telur dalam jumlah yang lebih banyak untuk melihat apakah reaksi alergi akan muncul. Tes ini dapat menyebabkan reaksi alergi berat, karena itu sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis alergi. 
  • Eliminasi makanan. Dokter akan menyuruh Anda membuat catatan harian makanan Anda dan dokter mungkin akan meminta Anda untuk tidak menggunakan telur untuk melihat apakah gejala akan membaik.

Pengobatan alergi telur

Alergi telur adalah bagian dari alergi makanan. Satu-satunya pengobatan alergi makanan adalah menghindari dari mengonsumsi makanan yang menjadi pemicu alergi, dalam hal ini telur dan produk olahan telur.

Anda harus lebih cermat dalam menghindari telur. Untuk makanan yang dibuat dari telur utuh, tentu mudah kita mengenalinya. Tapi bagaimana dengan makanan dari produk olahan telur? Maka dari itu baca dengan seksama label pada makanan kemasan, atau tanyakan kepada pelayan restoran mengenai menu mereka apakah mengandung telur atau tidak. Karena banyak sekali jenis masakan yang secara kasat mata tidak lagi terlihat ada unsur telurnya. Selain itu, untuk antisipasi beritahu teman dan orang terdekat bahwa Anda alergi telur. Dan jika anak Anda yang alergi telur, beritahukan juga hal tersebut kepada pihak sekolahnya.

Tidak semua penderita alergi telur akan mengalami reaksi alergi pada telur yang dimasak dengan cara tertentu. Sebagai contoh, sebagian orang dapat mentolerir telur yang sudah digoreng, karena molekul (protein) pada telur telah berubah ketika digoreng dan tidak lagi dikenali sistem kekebalan tubuh sebagai sesuatu yang berbahaya.

Perawatan untuk reaksi ringan alergi telur

Obat-obatan seperti antihistamin dapat mengurangi gejala-gejala alergi telur ringan. Obat ini bisa dikonsumsi setelah terpapar telur. Meskipun begitu, obat-obat ini tidak efektif untuk mencegah reaksi alergi telur atau untuk mengobati reaksi alergi yang berat.

Perawatan darurat untuk reaksi alergi berat

Perawatan darurat untuk reaksi alergi berat adalah:
  • Baringkan penderita - jangan disuruh berdiri apalagi berjalan
  • Berikan injeksi epinefrin (adrenalin)
  • Segera ke gawat darurat.

Ringkasan

  • Salah satu penyebab alergi yang paling umum pada anak-anak adalah telur.
  • Gejala alergi telur mulai dari gatal-gatal hingga reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa.
  • Cara terbaik untuk mengelola alergi telur adalah dengan menghindari semua makanan yang mengandung telur atau produk olahan telur.
  • Jika anak Anda mengalami alergi berat, segera hubungi dokter.

Article Resources
  • Department of Health & Human Services, State Government of Victoria, Australia. "Egg allergy." https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/egg-allergy
  • Mayoclinic. "Egg allergy." https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/egg-allergy/basics/definition/con-20032721
  • American College of Allergy, Asthma & Immunology. "Egg Allergy." http://acaai.org/allergies/types/food-allergies/types-food-allergy/egg-allergy

27 September 2015

Gejala Alergi Telur Pada Anak-anak

Alergi telur

Sebagian anak-anak mengalami gejala alergi tertentu setelah mengonsumsi telur. Sebagian anak lainnya sangat sensitif sehingga mereka mengalami reaksi alergi, bahkan ketika mereka hanya menyentuh telur. Orangtua sebaiknya memahami bahaya dan reaksi alergi telur pada anak-anak.

Untungnya, sebagian anak-anak yang dulunya memiliki alergi terhadap telur secara bertahap tubuhnya mentolerir telur ketika mereka telah dewasa. Dalam arti kata, mereka telah sembuh dari alergi telur. Salah satu alasan mengapa anak-anak alergi pada telur adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka yang hipersensitif terhadap kandungan protein dalam telur.

Ketika sistem kekebalan tubuh tidak dapat mentolerir telur, maka sistem kekebalan tubuh akan melepaskan zat kimia tertentu yang selanjutnya menyebabkan gejala alergi telur.

Gejala Alergi Telur Pada Anak-anak

Masalah kulit seperti kaligata

Masalah tertentu pada kulit seperti kaligata, eksim, kemerahan, gatal-gatal dan bengkak di sekitar mulut dapat terjadi segera setelah anak mengonsumsi telur.

Masalah pencernaan seperti diare

Beberapa masalah pencernaan seperti diare, sakit perut, mual dan muntah juga menjadi gejala alergi telur pada anak-anak.

Masalah saluran pernapasan seperti pilek

Masalah pada saluran pernapasan seperti hidung yang berair (pilek), bersin-bersin dan pernapasan terasa berat juga dapat terjadi akibat reaksi alergi yang ditimbulkan karena mengonsumsi telur. Gejala ini dapat berubah menjadi berbahaya karena gangguan pernapasan dapat memburuk hingga mengancam jiwa.

Masalah terkait jantung seperti tekanan darah rendah

Sebagian anak-anak yang mengalami alergi telur juga bisa mengalami detak jantung yang cepat dan tekanan darah yang rendah. Ketika tekanan darah mendadak rendah, yang dapat membuat anak pusing atau pingsan, dan menyebabkan syok, segeralah bawa anak ke dokter guna mendapatkan perawatan medis.

Saat ini, telur banyak digunakan dalam banyak makanan, seperti kue dan biskuit. Bahkan, pasta dan puding sangat umum mengandung telur sebagai bahan pembuatnya. Orangtua sebaiknya berhati-hati.

Kondisi alergi telur semacam ini memang hanya terjadi dalam persentase yang sangat kecil dari anak-anak. Tapi orangtua tetap harus berhati-hati karena risiko alergi telur ada pada tiap anak-anak. Jangan sampai mereka mengembangkan reaksi alergi berbahaya (anafilaktik) yang dapat mengancam jiwa.

10 Juli 2015

Alergi Hewan : Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Alergi hewan

Alergi hewan adalah reaksi alergi terhadap protein yang terdapat pada sel-sel kulit, air liur atau urin hewan. Gejala-gejala alergi hewan yang paling umum adalah hay fever (rinitis alergi), dengan gejala khasnya bersin-bersin dan hidung meler. Sebagian orang juga mungkin mengalami gejala asma, seperti mengi dan sukar bernapas.

Alergi hewan paling sering dipicu akibat terpapar serpihan kulit mati atau bulu dari hewan. Hewan yang paling banyak menyebabkan alergi adalah anjing, kucing, tikus dan kuda. Hal ini karena hewan-hewan ini paling sering berinteraksi dengan manusia baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Jika Anda memiliki alergi hewan, langkah terbaik untuk mencegahnya adalah dengan menghindari atau mengurangi kontak dengan hewan tersebut. Untuk meredakan gejala alerginya, seringkali diperlukan obat dan perawatan rumahan atau perawatan medis lainnya.

Gejala alergi hewan

Gejala alergi hewan muncul akibat adanya inflamasi (peradangan) pada saluran napas, gejalanya antara lain:
  • Bersin-bersin
  • Hidung meler
  • Mata gatal, merah atau berair
  • Hidung buntu
  • Hidung, langit-langit mulut atau tenggorokan gatal
  • Batuk-batuk
  • Wajah terasa nyeri atau rasa tertekan
  • Kelopak mata bawah bengkak atau berwarna biru
  • Pada anak-anak, mereka sering menggosok-gosok hidungnya.

Jika alergi hewan menyebabkan seseorang terkena serangan asma, maka biasanya akan mengalami:
  • Kesukaran bernapas
  • Dada sesak atau terasa sakit
  • Suara mengi (siul) saat menghembuskan napas
  • Sulit tidur akibat sesak napas, batuk atau mengi.

Sebagian orang yang alergi hewan juga mengalami reaksi alergi kulit atau dermatitis alergi. Kontak langsung dengan hewan peliharaan yang menyebabkan alergi dapat memicu gejala-gejala dermatitis alergi, seperti:
  • Bercak-bercak merah pada kulit
  • Eksim
  • Gatal-gatal.

Gejala alergi hewan seperti pilek atau bersi-bersin mirip dengan flu biasa. Karena itu terkadang sulit untuk mengetahui apakah seseorang sedang terkena flu atau mengalami alergi hewan. Namun jika gejalanya berlangsung lebih dari satu minggu, kemungkinan Anda mengalami alergi.

Jika gejala-gejalanya semakin hebat, seperti hidung tersumbat parah, tidak bisa tidur atau mengi, segera hubungi dokter. Segera minta bantuan medis jika mengi atau sesak napas memburuk dengan cepat.

Penyebab alergi hewan

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat asing seperti serbuk sari, jamur, atau bulu hewan.

Sistem kekebalan tubuh manusia memproduksi protein yang dikenal sebagai antibodi. Antibodi ini melindungi Anda dari "penjajah asing" dari luar tubuh yang dapat membuat Anda sakit atau terkena infeksi. Bila Anda mengalami alergi, sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang menganggap zat asing tertentu sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuh, padahal sebenarnya tidak. Ketika Anda menghirup atau bersentuhan dengan alergen (bahan pemicu alergi) tersebut, sistem kekebalan tubuh akan merespon dan menciptakan respon peradangan di hidung atau di paru-paru.

Kontak dengan alergen yang terjadi dalam waktu yang lama atau sering dapat menyebabkan peradangan kronis (berkelanjutan).

Anjing dan kucing

Alergen dari kucing dan anjing ditemukan di dalam sel-sel kulit, air liur, urin, keringat dan bulu mereka. Alergen-alergen dari anjing dan kucing ini umumnya tidak terlihat dan dapat bertebaran di udara untuk waktu yang lama jika sirkulasi udara di ruangan kurang. Alergen dari hewan-hewan ini dapat dengan mudah menumpuk di sofa, kain, atau bahkan pakaian Anda.

Air liur hewan juga dapat menempel pada karpet, selimut, furnitur dan pakaian. Sedangkan air liur keringnya dapat bertebaran di udara.

Saat ini sudah dibiakkan anjing atau kucing yang hipoalergenik (kurang menyebabkan alergi), yang berarti bahwa hewan ini tidak akan banyak meninggalkan bekas-bekas tubuh mereka di suatu tempat. Tapi tetap saja tidak ada anjing atau kucing ini yang murni hipoalergenik.

Hewan pengerat dan kelinci

Contoh hewan pengerat adalah tikus, gerbil, hamster dan marmut. Alergen dari tikus biasanya muncul dari bulu, air liur dan urin. Debu dari sampah atau serbuk gergaji (yang telah disinggahi tikus) dapat membawa alergen dari hewan pengerat. Sedangkan kelinci, alergennya berasal dari bulu dan air liurnya.

Hewan lain

Masih banyak jenis hewan lain yang dapat menyebabkan alergi. Namun karena hewan-hewan ini hidup di alam liar dan jarang kontak dengan manusia, maka jarang menyebabkan alergi. Sedangkan hewan peliharaan lainnya yang tidak berbulu seperti ikan dan reptil, jarang menyebabkan alergi.

Faktor risiko alergi hewan

Alergi hewan sangat umum terjadi. Namun, seseorang akan lebih berisiko mengalami alergi hewan jika ia terlahir dari keluarga yang memiliki riwayat alergi atau asma.

Komplikasi alergi hewan

Sinusitis

Perdangan jaringan di bagian hidung secara kronis (berkelanjutan) yang disebabkan oleh alergi hewan akan berdampak buruk pada sinus. Sinus adalah rongga kecil berisi udara yang terletak di belakang tulang pipi dan dahi. Akibatnya orang tersebut berisiko tinggi mengalami infeksi bakteri pada sinusnya, yaitu sinusitis.

Asma

Orang dengan asma dan alergi hewan jelas akan mengalami kesulitan dalam mengelola asmanya. Kondisi ini membuat orang tersebut rentan terkena serangan asma yang memerlukan perawatan medis segera.

Tes dan diagnosis alergi hewan

Dokter akan menduga alergi hewan pada seseorang berdasarkan gejala, pemeriksaan hidung dan dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Dokter akan memeriksa hidung Anda dengan suatu alat khusus. Jika Anda mengalami alergi hewan, maka lapisan rongga hidung mungkin tampak bengkak atau tampak pucat atau kebiruan.

Tes alergi

Dokter dapat menyarankan pasien untuk melakukan tes alergi kulit untuk menentukan apakah seseorang itu alergi atau tidak. Biasanya ini dilakukan oleh seorang dokter spesialis alergi.

Pada tes ini, sejumlah kecil esktrak alergen yang dimurnikan - termasuk ekstrak protein hewani - disuntikkan ke permukaan kulit. Biasanya penyuntikan dilakukan di lengan bawah, tetapi dapat juga dilakukan pada punggung bagian atas.

Setelah 15 menit, dokter akan mengamati kulit untuk melihat reaksi-reaksi alergi. Jika Anda alergi terhadap kucing, misalnya, kulit Anda akan merah, muncul benjolan, dan gatal di lokasi dimana ekstrak kucing itu disuntikkan. Efek samping yang paling sering terjadi dari tes kulit ini adalah gatal dan kemerahan pada kulit, namun biasanya akan hilang dalam waktu 30 menit.

Tes darah

Pada beberapa kasus, tes kulit tidak dapat dilakukan karena pasien memiliki suatu kondisi seperti penyakit kulit atau karena interaksi dengan obat tertentu. Sebagai alternatif, dokter mungkin akan melakukan tes darah. Tes darah ini juga dapat menunjukkan seberapa sensitif seseorang terhadap alergen.

Pengobatan alergi hewan

Langkah pengobatan pertama untuk mengendalikan alergi hewan adalah dengan menghindari hewan penyebab alergi selama mungkin. Selain dengan menghindari alergen dari hewan peliharaan, juga dibutuhkan obat-obatan untuk mengendalikan gejala alerginya.

Obat alergi

Untuk mengatasi gejala alergi pada hidung, dokter biasanya akan meresepkan salah satu dari obat berikut:
  • Antihistamin, yang akan menurunkan produksi kimia dari sistem kekebalan tubuh yang aktif dalam reaksi alergi. Antihistamin akan membantu meringankan gatal, bersin-bersin dan hidung meler. Antihistamin ini dapat berupa semprot hidung seperti azelastine (Astelin, Astepro) dan olopatadine (Patanase); berupa tablet seperti fexofenadine (Allegra Allergy), loratadine (Claritin, Alavert) dan cetirizine (Zyrtec Allergy); juga berupa sirup untuk anak-anak.
  • Kortikosteroid, yang dalam bentuk semprotan hidung dapat mengurangi peradangan dan mengendalikan gejala rinitis alergi. Kortikosteroid ini diantaranya fluticasone (Flonase), mometasone furoate (Nasonex), triamcinolone (Nasacort AQ) dan ciclesonide (Omnaris). Kortikosteroid nasal (semprot hidung) memiliki efek samping jauh lebih rendah ketimbang kortikosteroid oral (tablet).
  • Dekongestan, akan membantu mengecilkan jaringan pada hidung yang bengkak dan membuat bernapas menjadi lebih mudah. Sebagian tablet obat alergi terdiri dari kombinasi antihistamin dan dekongestan. Dekongestan oral dapat menaikkan tekanan darah dan tidak boleh dikonsumsi jika memiliki penyakit darah tinggi, glaukoma atau penyakit kardiovaskular. Pada pria yang mengalami pembesaran prostat, obat ini akan memperparah kondisinya. Dekongestan juga dapat berupa semprot hidung yang juga dapat mengurangi gejala alergi.
  • Natrium kromolin, akan mencegah pelepasan bahan kimia oleh sistem kekebalan tubuh dan dapat mengurangi gejala alergi. Obat ini juga tersedia dalam bentuk semprot hidung dan cukup efektif bila digunakan sebelum gejala alergi muncul. Natrium kromolin tidak memiliki efek samping yang serius. 
  • Leukotriene modifier, akan memblokir aksi dari kimia sistem kekebalan tubuh tertentu. Contoh obat golongan ini adalah montelukast (Singulair). Dokter mungkin akan meresepkan obat ini jika pasien tidak bisa mentolerir semprotan hidung kortikosteroid atau antihistamin. Kemungkinan efek samping montelukast adalah sakit kepala dan demam. Efek samping lainnya yang kurang umum terjadi adalah perubahan mood atau perilaku, seperti kecemasan atau depresi.

Pengobatan lain

Pengobatan untuk alergi hewan diantaranya:
  • Imunoterapi. Disini Anda difokuskan untuk melatih sistem kekebalan tubuh sendiri agar tidak peka terhadap alergen. Ini dilakukan melalui serangkaian suntikan alergi yang disebut sebagai imunoterapi. Satu atau dua suntikan akan diberikan setiap minggu dengan dosis alergen yang sangat kecil, dalam hal ini menggunakan protein hewani yang menyebabkan reaksi alergi. Secara bertahap dosisnya akan ditingkatkan, biasanya selama tiga sampai enam bulan. Imunoterapi biasanya diterapkan bila pengobatan lainnya tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.
  • Irigasi hidung. Menggunakan neti pot yang dirancang khusus untuk mengairi lendir dan iritasi dari sinus Anda dengan air asin siap (saline). Jika menggunakan larutan garam sendiri, gunakan air yang bebas kontaminan atau dalam artian air yang steril. Untuk melakukan hal ini, membutuhkan pelatihan khusus dari dokter.

Article Resources
  • Mayo Clinic

05 Juli 2015

Anafilaksis : Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Anafilaksis atau syok anafilaksis adalah reaksi alergi hebat yang mengancam jiwa. Anafilaksis akan mempengaruhi beberapa organ penting tubuh, termasuk jantung dan paru-paru. Anafilaksis sangat berbahaya dan harus segera mendapatkan perawatan medis.

Syok anafilaksis

Penyebab anafilaksis

Zat yang dapat menyebabkan anafilaksis disebut dengan zat pemicu atau alergen. Beberapa contoh alergen yang umum, antara lain:
  • Makanan dan aditif makanan, terutama telur, kacang, makanan laut, susu, kedelai, ikan, kerang, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
  • Sengatan serangga atau gigitan lebah, tawon, atau semut api.
  • Obat-obatan, misalnya antibiotik, obat kejang dan relaksan otot.
  • Vaksin (obat imunisasi).
  • Produk dari bahan lateks, misalnya sarung tangan dan selang medis.
  • Transfusi darah.
  • Beberapa jenis obat pengendali rasa sakit, terutama narkotika.
  • Pemicu lainnya, seperti pewarna yang digunakan untuk produser pemeriksaan x-ray, dapat memicu reaksi yang mirip dengan anafilaksis.

Faktor risiko anafilaksis

Faktor-faktor risiko akan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk terkena anafilaksis. Siapapun dapat terkena anafilaksis. Beritahu dokter jika Anda memiliki beberapa faktor risiko anafilaksis berikut:
  • Sebelumnya pernah mengalami alergi terhadap zat yang tercantum di atas, bahkan meskipun itu alergi ringan.
  • Sebelumnya pernah terkena eksim, asma atau hay fever.
  • Anak-anak dengan kondisi medis tertentu, seperti spina bifida dan cacat urogenital kemungkinan besar mengalami peningkatan risiko alergi terhadap bahan lateks (karena sering terpapar bahan lateks dalam beberapa kali pembedahan/operasi).

Gejala anafilaksis

Gejala anafilaksis biasanya sudah muncul dalam waktu beberapa menit saja setelah terpapar alergen, namun dapat juga baru terjadi setelah hitungan jam. Gejala anafilaksis dapat berupa gejala yang ringan atau sangat parah, hingga kematian. Gejala anafilaksis antara lain:
  • Kaligata dan gatal-gatal di kulit.
  • Rasa pedas, hangat dan merah pada kulit.
  • Pembengkakan, kemerahan, rasa tersengat atau terbakar, terutama pada wajah, mulut, mata atau tangan.
  • Warna kulit pucat/kebiru-biruan, nadi lemah, dan pusing.
  • Obstruksi hidung, mulut, dan tenggorokan.
  • Gangguan pernapasan berat (misalnya dada sesak, sesak napas, dan mengi).
  • Mual, muntah, kram atau sakit perut, atau diare.
  • Aritmia jantung.
  • Kejang.
  • Tekanan darah turun.
  • Syok.
  • Perasaan cemas.

Diagnosis anafilaksis

Dokter akan menduga seseorang mengalami anafilaksis jika orang tersebut telah menunjukkan gejalanya dan kemungkinan telah terpapar suatu alergen. Kasus anafilaksis sebaiknya ditangani langsung oleh dokter spesialis alergi/imunologi. Diagnosis alergi dengan risiko reaksi anafilaksis dibuat berdasarkan riwayat pasien. Hal ini juga dikonfirmasi dengan tes pada kulit dan terkadang juga diperlukan tes darah oleh dokter spesialis imunologi.

Pengobatan anafilaksis

Anafilaksis merupakan suatu bentuk keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan medis segera karena dapat membahayakan jiwa. Diantara bentuk pengobatan anafilaksis, antara lain:
  • Injeksi epinefrin (adrenalin) - membuat pembuluh darah menyempit (akhirnya tekanan darah naik), melemaskan saluran napas, menghentikan kaligata dan gatal-gatal, mengurangi kram gastrointestinal.
  • Obat lain - kortikosteroid dan/atau antihistamin dapat diberikan setelah pemberian epinefrin untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan kemampuan bernapas.
  • Bronkodilator - untuk meningkatkan pernapasan.
  • Cairan infus - untuk menjaga tekanan darah.
  • Oksigen.
  • Cardiopulmonary resuscitation (CPR) - mungkin diperlukan untuk kasus anafilaksis berat yang menyebabkan terganggunya sistem kardiovaskular. Mechanical ventilation mungkin diperlukan untuk menangani anafilaksis yang parah.

Catatan: Jika memberikan epinefrin darurat, pasien harus segera dibawa ke ruang gawat darurat, meskipun gejalanya sudah hilang setelah disuntik epinefrin.

Pencegahan anafilaksis

Menghindari zat yang memicu anafilaksis merupakan satu-satunya langkah pencegahan terbaik, selain itu:
  • Suntikan alergi dapat mengurangi risiko anafilaksis dan mengurangi keparahan reaksi atas pemicu tertentu.
  • Menggunakan gelang medis khusus atau selalu membawa cacatan khusus yang berisi daftar alergi Anda.
  • Memberitahu dokter (termasuk dokter gigi) mengenai alergi Anda sebelum mereka meresepkan obat. Bila mungkin, lebih baik minta obat yang dalam bentuk pil saja. Karena reaksi alergi akan lebih hebat dengan obat-obatan yang disuntikkan.
  • Dokter mungkin saja membekali Anda dengan kit injeksi epinefrin untuk situasi kedaruratan di rumah, di tempat kerja, di dalam mobil, atau ketika Anda bepergian. Pastikan keluarga dan teman-teman tahu bagaimana menggunakan kit tersebut. Namun hal ini membutuhkan pelatihan khusus dari dokter yang menangani.
  • Pastikan kit epinefrin Anda tidak kadaluarsa.
  • Khususnya anak-anak, pastikan tenaga kesehatan sekolah atau guru tahu dengan alergi yang mungkin anak Anda miliki. Jika anak Anda dibekali dengan injeksi epinefrin, pastikan staf sekolah tahu bagaimana menggunakannya dan paham dengan kondisi anak Anda.
  • Jika Anda alergi terhadap sengatan serangga, gunakan pakaian lengkap saat berada di luar.
  • Jangan segera meninggalkan ruang dokter atau dokter gigi paling tidak selama 30 menit setelah Anda disuntik oleh dokter atau dokter gigi tersebut. Jika ada gejala segera laporkan.

Article Resources
  • http://www.lifescript.com/health/centers/anaphylaxis/basics/facts.aspx

28 Januari 2015

Alergi Makanan pada Anak-anak

Alergi makanan
Kemungkinan bayi untuk terkena alergi semakin tinggi jika terlahir dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit eksim, asma, atau alergi makanan.

Jika bayi berasal dari keluarga seperti ini, maka sangat disarankan untuk menyusuinya hanya dengan ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Jika memang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI eksklusif karena alasan tertentu, sebaiknya berkonsultasi ke dokter guna mencari solusi susu formula jenis apa yang sebaiknya diberikan pada bayi Anda.

Makanan-makanan yang dapat memicu alergi

Periode dimana sering terjadi alergi adalah saat bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat atau dengan kata lain telah lepas dari periode ASI eksklusif. Makanan atau bahan makanan yang seringkali memicu alergi pada bayi, antara lain:
  • Susu formula
  • Telur
  • Gandum
  • Kacang-kacangan
  • Biji-bijian
  • Ikan laut dan kerang.

Bukan berarti makanan diatas buruk, hanya saja makanan-makanan tersebutlah yang seringkali menjadi pemicu pada sebagian besar kasus alergi anak. Jangan memberikan makanan-makanan ini sebelum bayi berusia enam bulan.

Banyak anak yang sembuh dari alergi terhadap susu atau telur, namun alergi terhadap kacang seringkali terjadi selama seumur hidup.

Alergi kacang

Sekitar 1-2 persen populasi diketahui mengalami alergi terhadap kacang, produk olahan kacang, dan sebagian jenis biji-bijian. Seorang anak berisiko tinggi mengalami alergi kacang jika sebelumnya ia sudah memiliki alergi lainnya (seperti eksim atau alergi makanan lain), atau terdapat riwayat alergi di dalam keluarga dekat mereka (seperti asma, eksim, atau hay fever).

Jika anak Anda dalam situasi berisiko tinggi seperti diatas, sebaiknya berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memberikannya kacang atau makanan berbahan kacang untuk pertama kalinya.

Sebuah kabar baik, bahwa jika Anda ingin makan kacang atau makanan berbahan kacang (seperti selai kacang) padahal Anda sedang menyusui, maka hal ini tidak dilarang kecuali jika memang Anda sendiri alergi terhadap makanan-makanan itu atau karena dokter melarangnya.

Jangan memberikan kacang atau makanan berbahan kacang pada anak hingga ia berusia enam bulan. Selain itu, jangan memberikan kacang dalam bentuk utuh kepada anak berusia dibawah lima tahun karena dapat membuat mereka tersedak.

Jika anak memang alergi kacang, selalulah membaca label kemasan makanan dengan seksama dan hindari suatu makanan yang meragukan.

Apa ciri anak alergi makanan?

Reaksi alergi makanan dapat berupa satu atau beberapa gejala berikut:
  • Diare
  • Muntah
  • Batuk
  • Sesak napas dan mengi
  • Tenggorokan dan lidah gatal
  • Ruam atau gatal pada kulit
  • Bibir bengkak (gembung)
  • Hidung berair atau buntu
  • Mata merah, sakit atau gatal.

Pada beberapa kasus, alergi makanan dapat berupa reaksi alergi yang berbahaya (anafilaksis) dan mengancam jiwa. Jika Anda mengira anak Anda alergi suatu makanan, jangan mengambil tindakan sendiri, tapi konsultasikanlah dengan dokter.

Bahan aditif dalam makanan

Bahan aditif adalah bahan-bahan yang ditambahkan pada makanan selama proses produksi, pengemasan, atau penyimpanan untuk tujuan tertentu, seperti untuk mengawetkannya, agar tetap aman dikonsumsi untuk waktu lama, dan untuk memberikan warna atau tekstur makanan.

Seluruh bahan aditif makanan biasanya telah melalui pemeriksaan dan penelitian ketat sebelum dinyatakan aman untuk digunakan. Label pada makanan seharusnya menunjukkan bahan aditif dalam komposisinya, seperti nama bahannya, kodenya, atau fungsinya seperti sebagai pewarna atau untuk memberikan tekstur tertentu.

Banyak orang yang ternyata memiliki reaksi alergi terhadap beberapa bahan aditif makanan, namun reaksi alergi terhadap makanan biasa seperti, susu atau soya jauh lebih umum terjadi.

Umumnya makanan olahan mengandung bahan aditif, kadar garam dan gula yang tinggi, dan lemak. Oleh karena itu, makanlah makanan-makanan ini sewajarnya saja.

09 Januari 2015

Alergen dan Penyakit Asma

Saluran napas normal dan saat terserang asma

Penderita asma umumnya sensitif terhadap pemicu di sekitar lingkungan mereka. Pemicu-pemicu ini akan menyebabkan peradangan (bengkak dan merah) di saluran napas dan memperparah kondisi asma.

Suatu kecenderungan genetika dalam mengembangkan penyakit alergi disebut dengan atopi. Banyak penderita asma yang termasuk dalam golongan ini (atopik) dan cenderung untuk mengembangkan penyakit alergi, seperti demam, eksim dan syok anafilaksis. Pada orang yang atopik, alergen dapat menjadi faktor pemicu utama yang dapat memperparah kondisi asmanya.

Ketika penderita asma alergi terkena alergen, maka asma mereka akan semakin parah. Gejalanya tergantung dari jenis alergennya dan dimana ia bersarang atau masuk ke tubuh.

Reaksi alergi lainnya yang mungkin terjadi akibat terpapar alergen, antara lain:
  • Rhinitis alergi - bersin, pilek, hidung buntu, mata dan tenggorokan gatal
  • Eksim - kulit kering, merah dan gatal
  • Ruam kulit - urtikaria/kaligata
  • Syok anafilaksis - suatu reaksi alergi berbahaya yang mengancam jiwa.

Jenis pemicu asma

Ada dua jenis pemicu asma: alergi (alergen) dan non-alergi

Alergen pemicu asma

Alergen adalah zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Reaksi alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain. Jika seseorang alergi terhadap sesuatu, maka memakannya, menghirupnya atau bahkan menyentuhnya dapat menimbulkan reaksi alergi dan gejala serangan asma.

Di dalam debu, banyak sekali terdapat alergen. Partikel-partikel debu mengambang di udara sekitar yang Anda hirup dalam waktu yang lama. Tergantung dimana lokasi seseorang berada (kota, desa, rumah, kantor) dan waktu (pagi, sore, musim hujan, musim kemarau), partikel debu dapat membawa alergen, seperti:
  • Tungau
  • Anasir-anasir serangga
  • Serbuk sari
  • Partikel kulit binatang, sisik, dan bulu
  • Debu makanan. 

Jenis pemicu asma lainnya

Bukan hanya jenis alergen yang dapat memicu serangan asma, pemicu lainnya dapat berupa:
  • Virus saluran pernapasan (misalnya flu)
  • Beberapa jenis obat
  • Asap rokok
  • Parfum
  • Bahan kimia
  • Udara kering atau udara dingin
  • Olahraga atau aktivitas fisik
  • Asap pembakaran
  • Cat
  • Gas. 

Salah satu pemicu serangan asma yang paling sering adalah karena olahraga atau aktivitas fisik. Namun penderita asma tidak boleh menghindari pemicu yang satu ini, sebab olahraga merupakan bagian penting dari gaya hidup yang sehat.

Tes alergi asma

Tes alergi dapat menentukan jenis alergen apa yang dapat memicu asma seseorang. Dokter akan mengoleskan sejumlah kecil alergen yang berbeda, seperti ekstrak serbuk sari di sepanjang lengan seseorang. Lalu dilakukan sedikit penusukan pada kulit. Jika kulit membengkak atau bilur, maka seseorang itu alergi terhadap zat tersebut. Selain tes ini, juga dapat dilakukan tes darah.

Tes seperti ini hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan seorang dokter. Sayangnya, tes kulit dan tes darah ini tidak secara konklusif menentukan pemicu asma. Hanya karena kulit dan darah bereaksi terhadap alergen, bukan berarti paru-paru Anda juga akan mengalami hal serupa.

14 September 2014

Gejala dan Pengobatan Alergi Obat

Obat-obatan
Reaksi alergi obat muncul ketika sistem kekebalan tubuh diaktifkan dalam merespon obat. Alergi obat bisa terjadi dari obat yang diminum, disuntikkan, atau dioleskan pada kulit. Gejala reaksi alergi obat bervariasi mulai dari ruam kulit ringan, hingga pembengkakan dan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba yang dapat mengancam nyawa seseorang.

Umumnya, orang yang alergi obat biasanya sudah pernah terpapar obat tersebut atau obat sejenisnya. Ketika pertama kali terjadi paparan, sel-sel imun (sel-sel kekebalan tubuh) membentuk antibodi untuk melawan obat tersebut. Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem imun untuk melawan penyerbu asing seperti bakteri dan virus. Ketika orang itu terpapar lagi dengan obat tersebut, maka antibodi akan bereaksi, dan memunculkan respon alergi. Gejala alergi obat dapat terjadi segera setelah minum obat atau dapat terjadi satu minggu kemudian.

Penyebab seseorang alergi terhadap jenis obat-obatan tertentu hingga kini masih belum diketahui, namun faktor genetik atau keturunan diyakini berperan penting.

Alergi obat dapat menimbulkan keadaan yang serius, bukan hanya karena gejala yang ditimbulkannya, tapi juga karena akan menghambat atau mencegah fungsi obat tersebut untuk mengobati penyakit atau kondisi medis tertentu.

Umumnya, alergi obat tidak terdeteksi hingga seseorang itu terpapar obat tersebut, lalu kemudian muncul reaksi alergi.

Banyak orang yang sensitif terhadap obat-obatan, namun tidak semua sifat sensitivitas ini adalah alergi obat sejati. Sebagian reaksi negatif dari obat hanyalah merupakan efek samping bagi mereka yang sensitif, sedangkan bagi mereka yang tidak sensitif, efek samping ini mungkin tidak terjadi. Di antara efek samping obat yang paling umum adalah sakit perut, diare, muntah, demam dan kulit yang sensitif terhadap cahaya matahari (photosensitivity). Alergi obat berbeda dengan sensitif terhadap obat. Keadaan sensitif pada obat tidak melibatkan sistem imun tubuh, dan kadangkala efek samping akan hilang ketika dosisnya diturunkan. Sedangkan yang dikatakan alergi obat adalah jika reaksi alerginya melibatkan sistem imun tubuh.

Gejala alergi obat

Gejala alergi obat bervariasi tergantung dari bentuk mekanisme imun tubuh yang terlibat. Reaksi yang paling sering terjadi adalah ruam kulit. Jika sebelumnya seseorang pernah terpapar obat yang menyebabkannya alergi, maka ruam mungkin akan timbul lebih cepat, bisa dalam satu atau dua hari sejak minum obat. Reaksi juga dapat 'tertunda' atau belum terjadi hingga 8 sampai 10 hari setelah meminum obat. Reaksi obat juga mungkin baru terjadi setelah satu minggu sejak seseorang berhenti dari meminum obat, biasanya ini terkait dengan penggunaan antibiotik.

Gejala alergi yang muncul hanya beberapa saat setelah mengonsumsi obat (gejala akut) biasanya memunculkan ruam kulit dan gatal-gatal (mirip kaligata). Namun pada kasus yang lebih berat, gejala lain yang mungkin timbul adalah hidung tersumbat, denyut nadi cepat, tekanan darah turun, sesak napas, wajah bengkak, dan sakit kepala. Jenis reaksi alergi yang satu ini disebut dengan anafilaksis, yang merupakan jenis reaksi alergi yang paling serius. Jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan kematian bahkan dalam hitungan menit.

Jenis reaksi alergi yang kurang umum disebut dengan serum sickness. Serum sickness dapat terjadi setelah satu hingga tujuh hari setelah mulai mengonsumsi obat, juga dapat terjadi meskipun sebelumnya belum pernah menggunakan obat tersebut. Gejala serum sickness antara lain, ruam kulit, gatal-gatal, demam dan nyeri sendi. Pada kasus yang cukup jarang terjadi, reaksi alergi juga dapat menyebabkan pemecahan sel darah merah yang disebut dengan anemia hemolitik.

Jika seseorang alergi pada salah satu jenis obat, menggunakan obat jenis lain namun dengan struktur kimia yang mirip juga berisiko memicu alergi. Sebagai contoh, jika seseorang diketahui alergi pada antibiotik penisilin, maka ia juga harus menghindari penggunaan antibiotik sefalosforin seperti cephalexin.

Diagnosis alergi obat

Selain pemeriksaan fisik dan mempelajari riwayat kesehatan pasien, terutama riwayat alergi, biasanya juga akan dilakukan tes kulit. Contoh, tes kulit dengan penisilin yang sering dilakukan sebelum dokter memberikan resep penisilin, sedikit penisilin akan disuntikkan dokter tepat di bawah kulit. Jika muncul reaksi alergi pada lokasi penyuntikan (dengan radius tertentu), maka orang tersebut alergi penisilin. Namun tes kulit ini tidak selalu dapat diandalkan karena tes ini hanya menggunakan bagian dari molekul penisilin.

Durasi alergi obat

Reaksi alergi obat biasanya sembuh dengan sendirinya dan paling lama hanya berlangsung selama beberapa hari setelah obat dihentikan. Namun pada beberapa kasus, reaksi alergi yang berat bisa saja terjadi. Pada kasus yang cukup jarang, reaksi alergi obat dapat menyebabkan kulit mengelupas/melepuh, kondisi ini disebut dengan toxic epidermal necrolysis (TEN). Pasien yang mengalami reaksi alergi ini membutuhkan perawatan yang sama dengan pasien luka bakar, dan mungkin kulit akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh sepenuhnya. Obat-obat yang memiliki keterkaitan dengan TEN antara lain, antibiotik berbasis sulfa, allopurinol, beberapa jenis obat kejang, dan ampisilin.

Mencegah alergi obat

Langkah terbaik untuk mencegah alergi obat adalah dengan menghindari obat-obatan yang menjadi pemicunya. Namun menentukan jenisnya merupakan hal yang sulit, karena pada kenyataannya pasien baru diketahui alergi obat setelah ia mengalaminya.

Jika saat ini Anda memiliki riwayat alergi pada makanan tertentu, serbuk sari, jenis sabun dan kosmetik tertentu, atau produk-produk umum lainnya, pastikan untuk memberitahukannya kepada dokter sebelum mereka meresepkan obat. Anda juga harus memberitahu dokter mengenai reaksi negatif jenis obat tertentu yang sebelumnya pernah Anda alami. Satu langkah baik bagi Anda, sebaiknya catat obat-obatan, jenis makanan dan produk tertentu yang memberikan efek negatif bagi Anda untuk diberitahukan kepada dokter. Terlebih lagi jika dokter tersebut belum pernah menangani Anda sebelumnya.

Perlu diingat bahwa, jika setelah meminum obat muncul reaksi negatif, hentikan penggunaan obat tersebut dan segeralah hubungi dokter. Dokter akan memastikan ini apakah alergi obat sejati atau hanya sensitivitas, solusinya dokter mungkin akan mengganti obat tersebut dengan obat lain.

Pengobatan alergi obat

Setelah gejala-gejala alergi obat muncul, pengobatannya akan berdasarkan tingkat keparahannya. Jika hanya terjadi ruam kulit, dan selebihnya kondisi Anda sehat secara umum, mungkin hanya butuh menghentikan penggunaan obat tersebut. Namun jika tidak, pengobatan akan dilakukan untuk menghilangkan gejalanya.

Antihistamin sangat disarankan untuk mengurangi gejala gatal-gatal dan gejala terkait histamin lainnya. Salep/krim kortikosteroid (seperti hydrocortisone dan lain-lain) dapat diresepkan dokter untuk mengatasi gejala alergi pada kulit. Sedangkan tablet kortikosteroid (seperti prednison) dapat juga digunakan untuk gejala yang lebih parah.

Anafilaksis, reaksi alergi yang paling serius, akan menyebabkan tekanan darah turun secara dramatis, mengi dan sesak napas. Pada kasus anafilaksis yang parah, pasien dapat kehilangan kesadaran, atau bahkan kematian. Perawatan anafilaksis adalah dengan cara menyuntikkan epinefrin (adrenalin) dan cairan yang diberikan secara intravena (infus).

11 September 2014

Solusi Alergi Susu Formula pada Bayi


Rewel merupakan hal yang umum terjadi pada bayi. Namun ada pula bayi yang rewel sepanjangan karena mereka alergi terhadap protein dalam susu sapi. Protein merupakan bahan pembentuk utama dari sebagian besar susu formula komersial.

Semua orang dari semua umur, baik laki-laki maupun perempuan bisa alergi terhadap susu sapi, meskipun alergi susu lebih umum terjadi pada bayi.

Alergi susu adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh keliru melihat protein susu sebagai sesuatu yang harus dilawan oleh tubuh. Ini akan memicu reaksi alergi, yang akhirnya menyebabkan bayi menjadi rewel dan lekas marah, serta sakit perut dan gejala lainnya. Umumnya, bayi yang alergi terhadap susu sapi juga alergi terhadap susu kambing atau domba, dan sebagian lainnya juga alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu kedelai.

Bayi yang mendapatkan ASI memiliki risiko mengembangkan alergi susu yang lebih rendah daripada bayi yang diberi susu formula. Namun para peneliti belum sepenuhnya memahami mengapa sebagian bayi mengalami alergi susu dan sebagian lainnya tidak, meskipun diyakini bahwa dalam banyak kasus alergi susu terkait dengan genetik.

Biasanya, alergi susu akan sembuh dengan sendirinya pada saat anak berusia 3 sampai 5 tahun, tapi sebagian anak lainya juga tidak bisa lepas dari alergi susu hingga remaja.

Alergi susu sangat berbeda dengan intoleransi laktosa, yaitu ketidakmampuan tubuh untuk mencerna gula laktosa, yang cukup jarang terjadi pada bayi namun lebih sering terjadi pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa.

Gejala alergi susu

Gejala alergi protein susu sapi biasanya sering muncul dalam beberapa bulan pertama sejak kelahiran, setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian susu formula sapi. Bayi dapat mengalami gejala alergi susu sapi langsung setelah mengonsumsinya (reaksi cepat), dan sebagian lainnya gejalanya baru muncul setelah puluhan jam atau beberapa hari setelah mengonsumsinya (reaksi lambat). Bayi yang tidak diberikan susu formula namun mengalami gejala alergi, bisa saja didapat dari ASI dari seorang ibu yang mengonsumsi susu sapi.

Reaksi alergi susu sapi reaksi lambat lebih sering terjadi. Gejalanya antara lain:
  • Mencret (bisa saja mengandung darah) 
  • Muntah
  • Tersedak
  • Menolak makan
  • Kolik dan lekas marah 
  • Ruam kulit seperti eksim. 

Jenis reaksi alergi lambat yang satu ini cukup sulit didiagnosis karena gejalanya dapat mirip dengan kondisi kesehatan lain, terlebih rentang waktu reaksinya dari minum susu cukup lama. Sebagian besar bayi biasanya akan sembuh dari alergi susu sapi setelah usianya 2 tahun, meskipun juga sebagian lainnya baru akan sembuh pada saat remaja.

Rekasi alergi susu sapi yang cepat biasanya muncul hanya dalam hitungan menit atau jam setelah mengonsumsi susu sapi, gejalanya antara lain:
  • Iritabilitas
  • Muntah
  • Mengi
  • Bengkak
  • Ruam dan benjolan gatal pada kulit
  • Diare (bisa juga disertai darah).

Pada sebagian kasus, reaksi alergi yang lebih serius bisa saja terjadi (disebut dengan anafilaksis) yang mempengaruhi kulit, perut, pernapasan dan tekanan darah bayi. Namun, anafilaksis lebih umum terjadi karena alergi terhadap makanan lain dibandingkan dengan susu.

Diagnosis alergi susu

Jika Anda menduga bayi Anda mengalami alergi susu, segeralah bawa ke dokter. Dokter akan mewawancarai keluarga, riwayat kesehatan keluarga dan bayi, serta melakukan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus untuk mendiagnosis alergi susu, jadi dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan guna memastikan anak Anda alergi susu sapi atau tidak.

Selain melakukan tes darah (atau mungkin juga melakukan tes tinja), dokter juga akan melakukan tes alergi kulit, dimana protein susu dalam jumlah kecil dimasukkan tepat di bawah permukaan kulit dengan jarum. Jika setelah beberapa saat muncul ruam alergi di lokasi penyuntikan, maka anak Anda mungkin mengalami alergi susu. Jika sudah positif alergi susu, tentu saja dokter akan menyarankan penghentian penggunaan susu sapi.

Ada pula dokter yang melakukan tes oral untuk mendiagnosis alergi bayi. Bayi diberikan susu, kemudian dokter akan melihat reaksinya hingga beberapa jam. Terkadang juga dokter akan mengulangi tes oral ini (mungkin pada lain waktu) untuk memastikan diagnosis.

Mengobati alergi susu

Jika bayi Anda positif alergi susu dan Anda juga memberikannya ASI, maka Anda juga harus mengurangi minum atau makan produk susu, karena protein susu yang Anda konsumsi dapat dialirkan ke bayi melalui ASI. Mintalah saran kepada dokter atau ahli gizi mengenai sumber-sumber alternatif dari kalsium dan nutrisi penting lainnya untuk menggantikan susu yang Anda tinggalkan atau kurangi.

Jika bayi Anda diberikan susu formula, dokter atau ahli gizi biasanya akan menyarankan untuk menggantinya dengan susu formula berbasis protein susu kedelai. Jika pun juga bayi Anda ternyata alergi atau intoleransi susu kedelai, dokter atau ahli gizi mungkin akan menyarankan penggunaan susu formula hipoalergenik (hypoallergenic), dimana protein dalam susu ini telah dipecah menjadi partikel sehingga cenderung kurang memicu reaksi alergi.

Ada dua jenis utama susu formula hipoalergenik yang tersedia:
  • Extensively hydrolyzed formula (EHF). Protein susu sapi dipecah menjadi partikel kecil sehingga kurang menyebabkan reaksi alergi. Umumnya bayi yang alergi susu formula biasa dapat mentolelir susu formula EHF ini, namun dalam sebagian kecil kasus, susu ini juga masih dapat menyebabkan reaksi alergi. Contoh produk susu ini antara lain: Alimentum®, Nutramigen®, dan Pregestimil®.
  • Amino acid-based formula (AAF atau sering juga disebut elemental), mengandung protein dalam bentuk yang paling sederhana (asam amino adalah blok pembangun protein). Susu ini dianjurkan jika kondisi bayi Anda tidak membaik ketika sudah diberikan susu formula EHF. Contoh produk susu ini antara lain: Neocate®, EleCare®, dan Nutramigen AA®.

Setelah bayi Anda beralih ke susu formula diatas, gejala alerginya seharusnya sudah hilang dalam 2 sampai 4 minggu. Dokter mungkin juga akan menyarankan penggunaan susu ini hingga bayi berusia satu tahun, kemudian secara bertahap diberikan juga susu formula biasa.

Article Resources
  • kidshealth.org

Perbedaan Alergi Susu dan Intoleransi Susu (Intoleransi Laktosa)


Alergi susu sapi dan intoleransi susu sapi (intoleransi laktosa), adalah dua kondisi yang sama sekali berbeda.

Alergi susu adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi terhadap protein dalam susu. Ini merupakan jenis alergi bayi yang paling umum terjadi, mempengaruhi sekitar 2%-7% dari seluruh bayi. Bayi yang terkena eksim kemungkinan besar mengalami alergi susu.

Sedangkan intoleransi laktosa adalah kondisi dimana bayi kesulitan dalam mencerna laktosa. Laktosa adalah gula alami yang terdapat pada susu. Intoleransi laktosa pada bayi biasanya terjadi pasca infeksi perut (gastroenteritis virus). Kondisi ini bisa berlangsung selama empat minggu sebelum akhirnya usus sembuh dan mulai memecah laktosa kembali.

Alergi susu pada bayi

Selain dari produk susu yang diminumnya langsung, bayi juga dapat mendapatkan protein susu dari ASI sang ibu, tentunya apabila sang ibu juga mengonsumsi susu atau produk susu. Susu mengandung dua jenis protein:
  • Kasein, protein utama penyusun susu. Terdiri dari zat-zat organik dan anorganik (kalsium, magnesium, fosfor).
  • Whey, protein yang terdiri dari asam amino esensial dan non-esensial. Mudah diserap dan 100% akan digunakan tubuh.

Bayi Anda kemungkinan alergi terhadap salah satu dari kedua protein ini.

Jika bayi Anda alergi, biasanya dia akan memunculkan reaksi langsung setelah minum atau makan sesuatu yang berbahan susu. Gejalanya adalah memerah dan timbul ruam pada wajah, mata cenderung berair dan hidung tersumbat. Mungkin juga akan muncul reaksi alergi lainnya seperti diare atau reaksi alergi yang lebih serius yang disebut anafilaksis.

Dokter dapat mengetahui seorang bayi itu alergi dengan cara wawancara dengan sang ibu, memeriksa keadaan fisik bayi, dan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium. Darah yang diperlukan untuk pemeriksaan biasanya tidak banyak, hanya diambil dari tusukan kecil pada tumit (heel-prick test).

Kebanyakan reaksi alergi susu pada bayi terjadi secara langsung, tetapi ada juga yang reaksi alergi yang baru terjadi setelah beberapa jam atau bahkan hari setelah minum susu. Perlu diingat, jika bayi mengalami eksim, refluks, diare atau sembelit yang berkepanjangan, kemungkinan penyebab utamanya adalah alergi.

Gejala alergi susu mirip dengan kolik, suatu fase yang umum dialami bayi kecil. Namun jika bayi Anda terus-terusan menangis/rewel, maka salah satu penyebabnya yang paling mungkin adalah alergi. Segeralah bawa ke dokter untuk memastikannya.

Cukup sulit untuk mengetahui apakah bayi Anda mengalami reaksi alergi yang tertunda (terjadi kemudian), karena melibatkan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang responnya akan memakan waktu lama.

Intoleransi laktosa pada bayi

Reaksi intoleransi laktosa pada bayi tidak terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Jika bayi Anda mengalami intoleransi laktosa, ada kemungkinan ia kekurangan enzim laktase, yang berfungsi memecah laktosa.

Bayi biasanya mengembangkan intoleransi laktosa pasca mengalami infeksi pada perut, namun ini biasanya hanya bersifat sementara. Reaksi dari intoleransi laktosa yang paling mungkin terjadi adalah sakit perut, peningkatan produksi gas dalam usus, dan kebanyakan bayi akan rewel.

18 April 2014

Jangan Sepelekan Alergi, Tangani Berdasarkan Penyebabnya

Tangan gatal alergi

Seluruh tubuh Anda dapat merasa nyeri atau sesak napas, jangan pula merasa tidak terjadi apa-apa jika tiba-tiba hidung Anda gatal, tersumbat, atau kulit melepuh. Itu semua hanyalah bagian kecil dari gejala alergi.

Alergi adalah suatu reaksi yang berlebihan dari sistem imun atau sistem kekebalan tubuh terhadap zat-zat tertentu yang berasal dari luar. Beberapa zat yang menjadi pemicu alergi (alergen), antara lain: makanan, kosmetik, obat, dan bahan-bahan penyebab alergi lainnya. Ada beberapa jenis penyakit alergi, diantaranya:

  • Asma bronkial
  • Rinitis Alergi - hidung gatal, bersin dan tersumbat
  • Urtikaria (kaligata)
  • Angioderma - menyerupai urtikaria namun menyerang jaringan kulit lebih dalam
  • Lupus Eritematosus Sistemik (LES) - penyakit auto-imun.


Reaksi alergi sendiri bisa bermacam-macam, dapat berupa sesak napas, gatal-gatal di seluruh tubuh atau hanya di bagian tubuh seperti mata, mata berair, hidung, timbul ruam pada kulit, merasa lelah, atau sakit. Gejala yang timbul pun berbeda pada setiap orang karena tergantung jenis alergennya.

Alergi terhadap makanan dapat menimbulkan reaksi kram perut, muntah atau diare. Seperti itu juga terhadap makanan atau obat yang sering menimbulkan gatal atau ruam. Ada pula orang yang alergi makanan laut seperti udang, begitu pun dengan beberapa jenis obat tertentu.

Untuk orang yang alergi terhadap sesuatu, sebaiknya hindari hal-hal yang memicu kejadian alergi untuk mengurangi faktor risiko yang akan terjadi. Tentunya Anda harus tahu bahan apa yang menyebabkan Anda alergi, karena tiap-tiap orang akan berbeda. Jika memang Anda tidak tahu, lebih baik sediakan catatan khusus sebagai daftar makanan atau bahan yang bisa menyebabkan alergi.

Lantas bagaimana dengan alergi terhadap obat? Bukankah obat penting dalam mengobati suatu kondisi kesehatan?

Dalam pemberian atau menggunakan obat, sebelumnya harus dicek dulu dan harus diketahui dulu zat yang terkandung di dalamnya, bahwa pasien itu alergi terhadap zat apa. Seandainya alergi terhadap obat demam panas, disatu jenis yang sering diberikan, coba beri obat yang tidak ada kandungan yang membuat dia alergi atau ganti dengan jenis obat lain yang tujuannya sama. Rasanya tidak mungkin seseorang itu alergi semua jenis obat, pasti ada satu zat dalam obat yang bisa diterima tubuhnya.

Faktor risiko alergi bisa dari keturunan, atau dari orangtua. Seorang ibu yang memiliki penyakit alergi, kemungkinan risiko anaknya terkena alergi lebih kecil dibandingkan jika kedua orangtuanya memiliki alergi, kemungkinan besar si anak mudah terkena alergi.

Dalam penatalaksanaan alergi bisa melalui obat-obatan dan imunoterapi sebagai upaya meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu, pasien alergi harus diberikan edukasi yang bertujuan agar pemahaman dan pengetahuan pasien terhadap alerginya atau penyebabnya menjadi lebih baik. Pengetahuan inilah yang akan mempermudah dokter dalam memahami penyebabnya dan memilihkan pengobatan terbaik baginya.