Solusi Alergi Susu Formula pada Bayi

Thursday, September 11, 2014
http://www.medkes.com/2014/09/solusi-alergi-susu-sapi-pada-bayi.html

Rewel merupakan hal yang umum terjadi pada bayi. Namun ada pula bayi yang rewel sepanjangan karena mereka alergi terhadap protein dalam susu sapi. Protein merupakan bahan pembentuk utama dari sebagian besar susu formula komersial.

Semua orang dari semua umur, baik laki-laki maupun perempuan bisa alergi terhadap susu sapi, meskipun alergi susu lebih umum terjadi pada bayi.

Alergi susu adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh keliru melihat protein susu sebagai sesuatu yang harus dilawan oleh tubuh. Ini akan memicu reaksi alergi, yang akhirnya menyebabkan bayi menjadi rewel dan lekas marah, serta sakit perut dan gejala lainnya. Umumnya, bayi yang alergi terhadap susu sapi juga alergi terhadap susu kambing atau domba, dan sebagian lainnya juga alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu kedelai.

Bayi yang mendapatkan ASI memiliki risiko mengembangkan alergi susu yang lebih rendah daripada bayi yang diberi susu formula. Namun para peneliti belum sepenuhnya paham mengapa sebagian bayi mengalami alergi susu dan sebagian lainnya tidak, meskipun diyakini bahwa dalam banyak kasus alergi susu terkait dengan genetik.

Biasanya, alergi susu akan sembuh dengan sendirinya pada saat anak berusia 3 sampai 5 tahun, tapi sebagian anak lainya juga tidak bisa lepas dari alergi susu hingga remaja.

Alergi susu sangat berbeda dengan intoleransi laktosa, yaitu ketidakmampuan tubuh untuk mencerna gula laktosa, yang cukup jarang terjadi pada bayi namun lebih sering terjadi pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa.

Gejala alergi susu

Gejala alergi protein susu sapi biasanya sering muncul dalam beberapa bulan pertama sejak kelahiran, setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian susu formula sapi. Bayi dapat mengalami gejala alergi susu sapi langsung setelah mengonsumsinya (reaksi cepat), dan sebagian lainnya gejalanya baru muncul setelah puluhan jam atau beberapa hari setelah mengonsumsinya (reaksi lambat). Bayi yang tidak diberikan susu formula namun mengalami gejala alergi, bisa saja didapat dari ASI dari seorang ibu yang mengonsumsi susu sapi.

Reaksi alergi susu sapi reaksi lambat lebih sering terjadi. Gejalanya antara lain:
  • Mencret (bisa saja mengandung darah)
  • Muntah
  • Tersedak
  • Menolak makan
  • Kolik dan lekas marah
  • Ruam kulit seperti eksim.
Jenis reaksi alergi lambat yang satu ini cukup sulit didiagnosis karena gejalanya dapat mirip dengan kondisi kesehatan lain, terlebih rentang waktu reaksinya dari minum susu cukup lama. Sebagian besar bayi biasanya akan sembuh dari alergi susu sapi setelah usianya 2 tahun, meskipun juga sebagian lainnya baru akan sembuh pada saat remaja.

Rekasi alergi susu sapi yang cepat biasanya muncul hanya dalam hitungan menit atau jam setelah mengonsumsi susu sapi, gejalanya antara lain:
  • Iritabilitas
  • Muntah
  • Mengi
  • Bengkak
  • Ruam dan benjolan gatal pada kulit
  • Diare (bisa juga disertai darah)
Pada sebagian kasus, reaksi alergi yang lebih serius bisa saja terjadi (disebut dengan anafilaksis) yang mempengaruhi kulit, perut, pernapasan dan tekanan darah bayi. Namun, anafilaksis lebih umum terjadi karena alergi terhadap makanan lain dibandingkan dengan susu.

Diagnosis alergi susu

Jika Anda menduga bayi Anda mengalami alergi susu, segeralah bawa ke dokter. Dokter akan mewawancarai keluarga, riwayat kesehatan keluarga dan bayi, serta melakukan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus untuk mendiagnosis alergi susu, jadi dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan guna memastikan anak Anda alergi susu sapi atau tidak.

Selain melakukan tes darah (atau mungkin juga melakukan tes tinja), dokter juga akan melakukan tes alergi kulit, dimana protein susu dalam jumlah kecil dimasukkan tepat di bawah permukaan kulit dengan jarum. Jika setelah beberapa saat muncul ruam alergi di lokasi penyuntikan, maka anak Anda mungkin mengalami alergi susu. Jika sudah positif alergi susu, tentu saja dokter akan menyarankan penghentian penggunaan susu sapi.

Ada pula dokter yang melakukan tes oral untuk mendiagnosis alergi bayi. Bayi diberikan susu, kemudian dokter akan melihat reaksinya hingga beberapa jam. Terkadang juga dokter akan mengulangi tes oral ini (mungkin pada lain waktu) untuk memastikan diagnosis.

Mengobati alergi susu

Jika bayi Anda positif alergi susu dan Anda juga memberikannya ASI, maka Anda juga harus mengurangi minum atau makan produk susu,  karena protein susu yang Anda konsumsi dapat dialirkan ke bayi melalui ASI. Mintalah saran kepada dokter atau ahli gizi mengenai sumber-sumber alternatif dari kalsium dan nutrisi penting lainnya untuk menggantikan susu yang Anda tinggalkan atau kurangi.

Jika bayi Anda diberikan susu formula, dokter atau ahli gizi biasanya akan menyarankan untuk menggantinya dengan susu formula berbasis protein susu kedelai. Jika pun juga bayi Anda ternyata alergi atau intoleransi susu kedelai, dokter atau ahli gizi mungkin akan menyarankan penggunaan susu formula hipoalergenik (hypoallergenic), dimana protein dalam susu ini telah dipecah menjadi partikel sehingga cenderung kurang memicu reaksi alergi.

Ada dua jenis utama susu formula hipoalergenik yang tersedia:
  • Extensively hydrolyzed formula (EHF). Protein susu sapi dipecah menjadi partikel kecil sehingga kurang menyebabkan reaksi alergi. Umumnya bayi yang alergi susu formula biasa dapat mentolelir susu formula EHF ini, namun dalam sebagian kecil kasus, susu ini juga masih dapat menyebabkan reaksi alergi. Contoh produk susu ini antara lain: Alimentum®, Nutramigen®, dan Pregestimil®.
  • Amino acid-based formula (AAF atau sering juga disebut elemental), mengandung protein dalam bentuk yang paling sederhana (asam amino adalah blok pembangun protein). Susu ini dianjurkan jika kondisi bayi Anda tidak membaik ketika sudah diberikan susu formula EHF. Contoh produk susu ini antara lain: Neocate®, EleCare®, dan Nutramigen AA®.
Setelah bayi Anda beralih ke susu formula diatas, gejala alerginya seharusnya sudah hilang dalam 2 sampai 4 minggu. Dokter mungkin juga akan menyarankan penggunaan susu ini hingga bayi berusia satu tahun, kemudian secara bertahap diberikan juga susu formula biasa. (kidshealth.org)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.