19 April 2020

Inilah 12 Virus Paling Mematikan di Bumi

Virus influenza
(Kredit: Shutterstock)

Manusia telah berjuang melawan virus sejak usia penciptaan manusia itu sendiri. Untuk beberapa penyakit akibat virus, sudah ditemukan obat anti virus dan vaksin yang mencegah penyebaran infeksinya. Salah satunya adalah penyakit cacar (smallpox) yang sudah bisa diberantas dan dimusnahkan dari muka bumi.

Tapi kita masih jauh dari memenangkan pertempuran melawan virus. Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa virus telah bermutasi dari sebelumnya hanya menulari hewan, tapi kemudian menulari manusia dan memicu wabah yang cukup besar, hingga merenggut ribuan nyawa. Wabah virus Ebola pada 2014-2016 di Afrika Barat membunuh hingga 90% dari orang yang terinfeksi, menjadikannya sebagai salah satu virus yang paling mematikan.

Tidak hanya Ebola, masih ada virus lain di luar sana yang juga mematikan, dan bahkan ada yang lebih mematikan. Beberapa jenis virus, seperti coronavirus baru yang saat ini menciptakan pandemi dunia, memiliki tingkat kematian yang lebih rendah, namun menimbulkan ancaman serius bagi dunia karena obat dan vaksinnya belum ditemukan.

Berikut adalah 12 virus 'pembunuh terbaik' di dunia, diambil berdasarkan pada kemungkinan bahwa penderitanya akan mati jika terinfeksi salah satunya, banyaknya orang yang telah meninggal akibatnya, dan apakah ancamannya semakin besar.

Virus Marburg
Virus Marburg
(Kredit: ROGER HARRIS/SCIENCE PHOTO LIBRARY via Getty Images)

Para ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada tahun 1967, ketika wabah kecil terjadi di antara para pekerja laboratorium di Jerman yang terpapar monyet-monyet yang terinfeksi yang diimpor dari Uganda.

Virus Marburg mirip dengan Ebola karena keduanya dapat menyebabkan demam berdarah, yang berarti orang yang terinfeksi mengalami demam tinggi dan perdarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian selama wabah Marburg pertama adalah 25%, kemudian meningkat menjadi lebih dari 80% selama wabah 1998-2000 di Republik Demokratik Kongo, serta pada wabah 2005 di Angola.

Virus Ebola
Virus Ebola
(Kredit: Shutterstock)

Wabah Ebola pertama yang diketahui menyerang manusia secara serentak terjadi di Republik Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain, atau jaringan dari orang atau hewan yang terinfeksi.

Strain Ebola diketahui sangat bervariasi dan mempengaruhi kemungkinan kematian. Salah satu strain, Ebola Reston, bahkan tidak membuat penderitanya sakit. Tetapi untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian hingga 50%, dan hingga 71% untuk strain Sudan..

Wabah Ebola yang masih berlangsung sekarang ini di Afrika Barat dimulai pada awal 2014, dan merupakan wabah penyakit terbesar dan paling kompleks hingga saat ini.

Virus Rabies
Virus Rabies
(Kredit: CDC/ Dr. Fred Murphy)

Meskipun vaksin rabies untuk hewan yang diperkenalkan pada 1920-an telah membantu menurunkan angka kejadian penyakit di negara maju secara signifikan, tetapi kondisi ini tetap menjadi masalah serius di India dan beberapa negara di belahan Afrika.

Dunia sudah memiliki vaksin untuk melawan rabies, jadi jika seseorang digigit oleh hewan rabies, akan bisa ditangani. Namun, jika penderita tidak mendapatkan perawatan yang tepat, maka ada kemungkinan penderita meninggal 100%. Rabies akan menghancurkan otak dan merupakan penyakit yang sangat buruk.  

HIV
HIV
(Kredit: Cynthia Goldsmith, Centers for Disease Control and Prevention)

Di dunia modern, virus yang paling mematikan dari semua virus mungkin adalah HIV. HIV masih menjadi virus pembunuh utama. Penyakit menular yang memakan korban terbesar umat manusia saat ini adalah HIV.

Diperkirakan 32 juta orang telah meninggal karena HIV sejak penyakit ini pertama kali diakui pada awal 1980-an.

Obat antivirus yang kuat telah memungkinkan penderita HIV bertahan hidup hingga bertahun-tahun. Tetapi penyakit ini terus menghancurkan banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana 95% infeksi HIV baru terjadi disini. Hampir 1 dari setiap 25 orang dewasa di wilayah WHO Afrika positif HIV, tercatat jumlahnya lebih dari dua pertiga penderita HIV di seluruh dunia.

Virus Smallpox
Virus Cacar Smallpox
(Kredit: CDC/ J. Nakano)

Pada tahun 1980, Majelis Kesehatan Dunia WHO menyatakan dunia bebas dari cacar (smallpox). Tetapi sebelum itu, manusia telah berjuang melawan cacar selama ribuan tahun, dan penyakit ini membunuh sekitar 1 dari 3 orang yang terinfeksi. Korban yang selamat pun mendapatkan bekas luka yang dalam dan permanen di kulit dan wajah dan bahkan kebutaan.

Tingkat kematian cacar jauh lebih tinggi terjadi pada populasi di luar Eropa, di mana mereka sebelumnya hanya sedikit kontak dengan virus dan penyakit, hingga akhirnya orang Eropa datang menularinya. Contohnya, sejarawan memperkirakan 90% populasi asli Amerika (bangsa Indian) meninggal karena cacar yang diperkenalkan oleh penjelajah Eropa. Pada abad ke-20 saja, cacar telah menewaskan 300 juta orang.

Cacar merupakan beban besar di planet ini, tidak hanya menyebabkan kematian tetapi juga kebutaan, dan itulah yang mendorong kampanye dunia untuk memberantasnya dari muka Bumi

Hantavirus
Hantavirus
(Kredit: Cynthia Goldsmith. Provided by CDC/ Brian W.J. Mahy, PhD; Luanne H. Elliott, M.S.)

Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) pertama kali mendapat perhatian luas di Amerika Serikat. Pada tahun 1993, ketika seorang lelaki muda Navajo (penduduk asli Amerika yang tinggal di Amerika Serikat barat daya) yang sehat dan tunangannya yang tinggal di daerah Four Corners Amerika Serikat meninggal mendadak dalam beberapa hari karena sesak napas.

Beberapa bulan kemudian, otoritas kesehatan AS mengisolasi Hantavirus dari tikus rusa yang tinggal di rumah salah satu penderita yang terinfeksi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, lebih dari 600 orang di AS sekarang telah terinfeksi HPS, dan 36% telah meninggal karena penyakit ini.

Virus ini tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, melainkan dari paparan kotoran tikus yang terinfeksi.

Sebelumnya, Hantavirus yang berbeda menyebabkan wabah pada awal 1950-an, selama Perang Korea, menurut sebuah makalah 2010 dalam jurnal Clinical Microbiology Reviews. Lebih dari 3.000 tentara terinfeksi, dan sekitar 12% dari mereka tewas.

Sementara virus ini adalah virus baru bagi dunia Barat ketika ditemukan di AS, peneliti kemudian menyadari bahwa tradisi medis Navajo sudah menggambarkan penyakit yang serupa, dan menghubungkan penyakit itu dengan tikus.

Influenza
Influenza
(Kredit: National Institute of Allergies and Infectious Diseases (NIAID))

Selama musim flu biasa, hingga 500.000 orang di seluruh dunia akan meninggal karenanya, menurut WHO. Tetapi terkadang, ketika strain flu baru muncul, pandemi terjadi dengan penyebaran penyakit yang lebih cepat dan seringkali dengan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Pandemi flu yang paling mematikan, yang juga disebut sebagai flu Spanyol, dimulai pada 1918 dan merebak hingga 40% dari populasi dunia, menewaskan sekitar 50 juta orang.

Selalu ada kemungkinan pandemi seperti wabah flu Spanyol akan terulang kembali, jika muncul strain influenza baru dan dapat ditularkan dengan mudah di antara manusia, dan menyebabkan gejala parah.

Virus Dengue
Virus dengue
(Kredit: Frederick Murphy. Provided by CDC/ Frederick Murphy, Cynthia Goldsmith)

Virus dengue pertama kali muncul pada 1950-an di Filipina dan Thailand, dan sejak itu menyebar ke seluruh wilayah tropis dan subtropis di dunia. Hingga 40% dari populasi dunia sekarang tinggal di daerah-daerah di mana dengue adalah endemik, dan penyakit ini - dengan nyamuk yang membawanya - diperkirakan akan menyebar lebih jauh ketika iklim dunia menghangat.

Menurut WHO, dengue telah membuat sakit 50 hingga 100 juta orang setiap tahunnya. Meskipun tingkat kematian untuk dengue lebih rendah dibanding beberapa virus lain, yaitu 2,5%, virus ini dapat menyebabkan gejala seperti Ebola yang disebut demam berdarah dengue, dan kondisi ini  memiliki tingkat kematian 20% jika tidak diobati.

Pada tahun 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyetujui vaksin dengue untuk digunakan pada anak-anak berusia 9-16 tahun yang tinggal di daerah di mana dengue biasa terjadi dan dengan riwayat terkonfirmasi terinfeksi, menurut CDC. Di beberapa negara, vaksin yang disetujui tersedia untuk mereka yang berusia 9-45 tahun, tetapi sekali lagi, penerimanya harus punya riwayat dengue di masa lalu. Mereka yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya bisa berisiko terkena demam berdarah jika diberikan vaksin.

Rotavirus
Rotavirus
(Kredit: CDC/ Dr. Erskine L. Palmer)

Sekarang sudah tersedia dua vaksin untuk melindungi anak-anak dari rotavirus, yang merupakan penyebab utama penyakit diare parah pada bayi dan anak kecil. Virus ini dapat menyebar dengan cepat, melalui apa yang oleh para peneliti disebut sebagai fecal-oral route (artinya partikel feses yang kecil yang pada akhirnya masuk ke mulut)

Meskipun anak-anak di negara maju jarang meninggal karena infeksi rotavirus, penyakit ini masih menjadi pembunuh serius di negara berkembang, terutama di negara yang fasilitas kesehatannya tidak memadai dan tidak tersedia secara luas.

WHO memperkirakan bahwa 453.000 anak-anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia meninggal akibat infeksi rotavirus pada 2008. Namun negara-negara yang telah memperkenalkan vaksin tersebut telah melaporkan penurunan tajam dalam angka kejadian rawat inap dan kematian akibat rotavirus.

SARS-CoV
SARS-CoV
(Kredit: CDC/ Dr. Fred Murphy)

Virus ini menyebabkan sindrom pernafasan akut hebat, atau SARS, dan pertama kali muncul pada tahun 2002 di provinsi Guangdong di Cina selatan. Awalnya, virus itu kemungkinan muncul pada kelelawar, kemudian berpindah ke musang sebelum akhirnya menginfeksi manusia. Setelah memicu wabah di Cina, SARS menyebar ke 26 negara di seluruh dunia, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan lebih dari 770 orang selama dua tahun.

Penyakit ini menyebabkan demam, menggigil dan nyeri pada tubuh, dan seringkali berkembang menjadi pneumonia, suatu kondisi parah di mana paru-paru menjadi meradang dan terisi dengan cairan nanah. SARS memiliki angka kematian sebesar 9,6%, dan sampai sekarang belum ditemukan obat atau vaksin yang disetujui. Meskipun begitu, hingga kini belum ditemukan kasus baru SARS sejak dilaporkan pada awal 2000-an.

SARS-CoV-2
SARS-CoV-2
(Kredit: NIAID-RML)

SARS-CoV-2 termasuk dalam keluarga besar virus yang sama dengan SARS-CoV, yang dikenal sebagai virus corona, dan pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di kota Wuhan di Cina. Virus ini kemungkinan berasal dari kelelawar, seperti SARS-CoV, dan kemudian melewati hewan peralihan sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

Sejak kemunculannya, virus ini telah menginfeksi puluhan ribu orang di Cina dan jutaan orang di seluruh dunia. Wabah ini mendorong karantina luas Wuhan dan kota-kota terdekat, pembatasan perjalanan ke dan dari negara-negara yang terkena dampak dan upaya di seluruh dunia untuk mengembangkan diagnostik, perawatan dan vaksinnya.

Penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang disebut COVID-19 ini, memiliki angka kematian sekitar 2,3%. Orang-orang yang berusia lanjut atau yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya adalah yang paling berisiko mengalami serangan parah atau komplikasi. Gejala umumnya adalah demam, batuk kering dan sesak napas, dan pada kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia.

MERS-CoV
MERS-CoV
(Kredit: Shutterstock)

Virus inilah yang menyebabkan sindrom pernapasan Timur Tengah, atau Middle East respiratory syndrome (MERS), memicu wabah di Arab Saudi pada 2012 dan  di Korea Selatan pada tahun 2015. Virus MERS milik keluarga virus yang sama dengan SARS-CoV dan SARS-CoV-2, dan kemungkinan berasal dari kelelawar juga. Penyakit itu menginfeksi unta sebelum menular ke manusia dan memicu demam, batuk dan sesak napas pada orang yang terinfeksi.

MERS sering berkembang menjadi pneumonia berat dan diperkirakan memiliki tingkat kematian antara 30% dan 40%, menjadikannya sebagai strain yang paling mematikan dari virus korona yang diketahui yang berpindah dari hewan ke manusia. Seperti halnya SARS-CoV dan SARS-CoV-2, obat MERS belum ditemukan dan juga belum ada vaksin yang disetujui.

Article Resources

06 April 2020

Pengertian dan Manfaat Epidemiologi

Epidemiolog
Ilustrasi ahli epidemiologi (Gambar: https://www.wlns.com/)

Apa itu epidemiologi?
Epidemiologi adalah studi tentang kemunculan, distribusi, dan pengendalian penyakit, kecacatan, dan kematian pada suatu populasi.

Bidang epidemiologi menggabungkan ilmu biologi, kedokteran klinis, sosiologi, matematika dan ekologi dengan tujuan untuk memahami pola masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan manusia di seluruh dunia.

Apa itu epidemiolog?
Kata "epidemiologi" berasal dari bahasa Yunani "epi," yang berarti pada atau menimpa, "demos," yang berarti orang-orang, dan "logia" yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah, epidemiologi adalah studi tentang apa yang menimpa orang-orang.

Dokter Yunani kuno Hippocrates dianggap sebagai bapak epidemiologi. Hidup antara abad keempat dan kelima SM, ketika sebagian besar perawatan dan obat-obatan kala itu mengandalkan takhayul, Hippocrates adalah yang pertama menggunakan pemikiran rasional untuk menghubungkan masalah kesehatan dengan penyebab lingkungan atau alami. Dia menyarankan perawatan seperti pembedahan, modifikasi diet dan pengobatan herbal. Dia juga menciptakan istilah "endemik" (penyakit khusus untuk daerah tertentu) dan "epidemi" (penyakit khusus pada suatu titik waktu). Kata epidemiolog adalah mereka yang mempelajari atau mempraktikkan epidemiologi atau ahli epidemiologi.

Bagaimana epidemiolog bekerja?
Epidemiolog dapat dianggap sebagai dokter umat atau massa. Seorang dokter klinis berbeda dari seorang epidemiolog karena dokter klinis hanya berfokus pada kesehatan masing-masing pasien, dan mendiagnosis serta merawat setiap pasien berdasarkan penilaian klinis, pengalaman dan pengetahuan ilmiah. Sebaliknya, seorang epidemiolog berfokus pada kesehatan kolektif masyarakat dan terkadang populasi manusia secara global.

Epidemiolog bekerja dengan memahami sumber penyakit dan efek kesehatan negatif lainnya, dan memperkirakan berapa banyak orang yang akan terpapar dan bagaimana penyakit ini dapat menyebar pada suatu populasi.

Epidemiolog menggunakan statistik, model matematika dan biologi dan pengetahuan ilmiah untuk menentukan tindakan kesehatan masyarakat yang tepat untuk mengendalikan dan mencegah masalah kesehatan.

Meskipun umumnya terkait dengan penyakit menular dan wabah, epidemiolog juga dapat mempelajari masalah kesehatan yang tidak menular, seperti prevalensi kanker paru-paru akibat merokok atau peningkatan laju bunuh diri di masyarakat. Meskipun penyebab masalah kesehatan ini mungkin berbeda, tapi alat dan metode yang digunakan para epidemiolog untuk menyelidiki masalah ini adalah sama.

Segitiga epidemiologi (trias epidemiologi)
Sebagai seorang detektif penyakit, setiap epidemiolog membutuhkan 'kotak' peralatan ekstensif untuk menemukan dan menyelidiki petunjuk. Dan di pusat setiap 'kotak' peralatan epidemiologis adalah apa yang disebut segitiga epidemiologi.

Segitiga adalah model untuk menjelaskan hubungan antara penyebab penyakit dan kondisi yang memungkinkannya untuk bereproduksi atau menyebar. Segitiga memiliki tiga sudut yang mewakili "siapa, apa dan di mana". "Siapa" adalah inang, atau orang yang memiliki penyakit. "Apa" adalah agen, atau penyebab penyakit. Dan "di mana" adalah lingkungan, atau faktor eksternal yang memungkinkan dan membantu dalam penularan penyakit.

Segitiga epidemiologi
Segitiga epidemiologi (Gambar: Wiki Common)

Manfaat epidemiologi
Tujuan dari seorang epidemiolog adalah untuk mengungkap informasi yang dapat membantu memutuskan setidaknya satu tautan antara sudut-sudut segitiga, memutus hubungan antara inang, agen dan lingkungan, dan menghentikan penyebaran penyakit.

Di masa lalu, jika seorang dokter menemukan organisme yang telah membuat orang sakit, sebagian orang mungkin berpikir bahwa masalah telah diselesaikan. Tapi sekarang kita tahu bahwa menemukan organisme saja tidaklah cukup. Epidemiologi adalah disiplin integratif, memahami bagaimana inang dan lingkungan berinteraksi untuk menyebabkan penyakit. Melalui penggunaan desain penelitian dan teknik analitik canggih, ahli epidemiologi dapat menggunakan informasi keduanya tentang manusia, atau inang, termasuk faktor risiko genetik, dan organisme.

15 March 2020

Kalkulator IMT, Ukur Berat Badan Ideal Anda

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan indikator sederhana dari korelasi antara tinggi dan berat badan Anda. IMT digunakan untuk mengukur ideal atau tidaknya berat badan, dan merupakan cara pengukuran yang baik untuk menilai risiko penyakit yang dapat terjadi akibat berat badan berlebih.

Jika IMT Anda di atas 25 maka Anda termasuk gemuk dan jika IMT Anda di bawah 18,5 maka Anda termasuk kurus. Semakin tinggi angka IMT Anda, makin tinggi pula risiko Anda untuk menderita penyakit tertentu.

Dibawah ini kami sediakan kalkulator untuk menghitung IMT atau BMI Anda.

Instruksi penghitungan:
- Pilih jenis kelamin
- Masukkan berat dalam kilogram > pilih kg
- Masukkan tinggi badan dalam cm > pilih cm
- Klik "Hitung"


Kalkulator Indeks Massa Tubuh (BMI)
Masukkan Data
Kelamin Pria Wanita
Berat
Tinggi
Hasil
Body Surface Area m2
Lean Body Weight kg = lbs
Ideal Body Weight kg = lbs
Body Mass Index (BMI) kg/m2 =
Interpretasi dari hasil penghitungan
BMI < 17 Sangat Kurus
BMI 17.0 - 18.5 Kurus
BMI 18.5 - 24.9 Normal
BMI 25.0 - 29.9 Gemuk
BMI 30.0 - 34.9 Obesitas Level I
BMI 35.0 - 39.9 Obesitas Level II
BMI ≥ 40 Obesitas Level III


Keterangan:
  • Body surface area; Perkiraan luas permukaan luar tubuh yang dinyatakan dalam m2. Digunakan untuk menghitung metabolisme, elektrolit, kebutuhan nutrisi, dosis obat, pengukuran fungsi paru dll.
  • Lean body weight; Perkiraan berat murni seseorang tanpa lemak. Total berat seseorang adalah lean body weight ditambah dengan lemak. Persentase berat total lemak tiap-tiap orang berbeda-beda, namun berkisar antara 10-40% dari berat total tubuh.
  • Ideal Body Weight; Ini adalah berat ideal Anda seharusnya. Berat tubuh berbanding tinggi badan

Menghitung IMT secara manual

Untuk menghitung IMT secara manual, berikut rumusnya:

http://www.medkes.com/2013/11/kalkulator-imt-ukur-berat-badan-ideal.html
Langkah sederhana menggunakan rumus di atas adalah:
  1. Bagi tinggi badan dengan angka 100, lalu kuadratkan hasilnya.
  2. Bagi berat badan dengan hasil pada poin 1.
Contoh : Seseorang dengan tinggi 160 cm dan berat 60 kg.
  1. 160 / 100 = 1,6. Selanjutnya 1,6 x 1,6 = 2,56.
  2. 60 / 2,56 = 23, 4. Inilah IMT-nya.
Meskipun IMT pada umumnya dapat digunakan pada pria dan wanita, namun ada pengecualian:
  • Tidak berlaku bagi orang-orang yang membangun otot, seperti olahragawan/atlet.
  • Tidak berlaku bagi orang yang kehilangan massa ototnya atau massa otot abnormal.
  • Bukan perhitungan yang akurat untuk orang yang berusia lanjut.

Faktor risiko terkait obesitas

Jika dalam kondisi gemuk atau obesitas, Anda memiliki risiko terhadap beberapa kondisi kesehatan di seperti di bawah ini :
  • Penyakit jantung
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Kolesterol LDL tinggi (kolesterol "jahat")
  • Kolesterol HDL rendah (kolesterol "baik")
  • Trigliserida tinggi
  • Diabetes (glukosa darah tinggi).
Untuk orang-orang yang gemuk (BMI 25-29,9) dan obesitas (IMT lebih besar atau sama dengan 30) memiliki dua atau lebih faktor risiko diatas, sangat disarankan untuk menurunkan berat badan. Penurunan berat badan 5 hingga 10% dari berat badan Anda saat ini (gemuk/obesitas) akan sangat membantu menurunkan risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda berada dalam risiko tersebut atau apakah Anda harus segera menurunkan berat badan. Dokter akan mengevaluasi IMT Anda, lingkar pinggang dan faktor risiko lain.

13 March 2020

7 Tanda Gangguan Mata pada Anak-anak

Tanda-tanda Gangguan Mata pada Anak-anak

Banyak hal tidak diinginkan yang mungkin saja menimpa anak-anak kita yang sedang tumbuh. Bagi orangtua cerdas dan perhatian mungkin saja akan mudah mengenali gejala-gejala gangguan mata pada anaknya.

Jika sudah mengetahui bahwa mata anak kita bermasalah, segeralah ke dokter. Jika hal ini dibiarkan, maka akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah pada matanya, selain akan mempengaruhi perkembangan anak.

Berikut adalah 7 tanda gangguan mata pada anak-anak

1. Matanya meradang atau berair
Mata yang meradang atau berair bisa disebabkan karena seringnya anak menggosok-gosok kelopak matanya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mata lelah, mata kering, konjungtivitis, alergi, lecet pada mata, hingga blefaritis (peradangan kelopak mata). Jika disebabkan oleh mata yang lelah, cari tahu penyebabnya, apakah karena ia terlalu sering menonton main gadget, TV, komputer, atau karena intensitas belajarnya yang tinggi.

2. Berkedip dan mengerutkan kelopak mata
Sering berkedip atau mengerutkan kelopak mata bisa jadi merupakan indikasi bahwa si anak sedang mengalami suatu gangguan mata, diantaranya: otot mata tegang, gangguan penglihatan, gangguan pergerakan mata (distonia mata), hingga masalah kesehatan mental dan fisik. Kondisi ini harus segera ditangani.

3. Menutup satu mata
Anak-anak, jika penglihatan mereka ganda atau kabur karena satu mata tidak normal, maka mereka akan belajar menutup mata itu. Di situlah orang tua perlu mengawasi. Jika anak secara konsisten menutup sebelah matanya, terutama ketika mereka berkonsentrasi pada pelajaran atau tugas, maka itu sudah menjadi tanda merah untuk segera ke dokter spesialis mata.

4. Memiringkan kepala
Memiringkan kepala mungkin akan dilakukan anak-anak yang sedang berusaha untuk memfokuskan matanya. Ini menjadi pertanda bahwa penglihatan si anak mungkin lebih baik di satu mata daripada yang lainnya. Waspadai hal ini.

5. Sering menangis dan sakit kepala
Ini juga merupakan salah satu ciri anak menderita suatu gangguan mata. Otot mata yang tegang dapat menyebabkan anak kesulitan memusatkan mata bersama-sama sehingga menyebabkan sakit kepala. Segera periksakan ke dokter.

6. Enggan bermain di alam terbuka
Perhatikan bila anak memiliki tanda seperti ini. Bermain di alam terbuka biasanya memerlukan penglihatan jauh, anak yang memiliki gangguan dalam melihat jauh biasanya "lemah" dalam aktivitas bermainnya di alam terbuka. Ini sudah menjadi gangguan penglihatan awal.

7. Perubahan perilaku
Jika anak melakukan sesuatu yang lain dari biasanya, itu bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami masalah penglihatan. Misalnya, ia biasa duduk jauh dari TV dan sekarang duduk dekat. Dia dulu bisa secara konsisten menangkap bola bisbol dan sekarang tidak bisa lagi. Atau, dia sekarang sering salah menyalin apa yang dituliskan gurunya di papan tulis. Hal ini menjadi pertanda bahwa si anak mengalami rabun jauh.

Article resources

09 March 2020

Fungsi dan Manfaat Darah Bagi Tubuh, Menakjubkan

Darah

Pernahkah jari Anda sobek, tertusuk, atau mungkin terpotong? Keluar cairan berwarna merah bukan? Cairan itulah yang telah menarik perhatian para ahli selama berabad-abad. Zat cair yang hangat dan berwarna merah itulah yang kita sebut dengan darah dan bisa disebut sebagai zat yang ajaib.

Di dalam darah terdapat berbagai macam unsur yang telah mendorong para peneliti di berbagai zaman untuk menyelidikinya dan bagaimana fungsi dan cara kerjanya di dalam tubuh.

Ada sebuah peribahasa lama yang mungkin sudah jarang Anda dengar: "Darah lebih kental daripada air." Ini memang benar adanya, karena darah manusia memang lima kali lebih kental daripada air. Itulah sebabnya mengapa darah harus dipompa dengan tekanan tinggi oleh jantung supaya tetap beredar ke seluruh tubuh. Bayangkan betapa kerasnya kerja jantung kita setiap hari.

Darah yang mengalir di dalam pembuluh balik (vena) dan pembuluh nadi (arteri) benar-benar merupakan sebuah jaringan yang hidup. Kurang dari setengahnya terdiri dari sel darah merah (eritrosit) yang tugasnya mengantarkan oksigen ke jaringan-jaringan. Sel-sel darah merah juga mengeluarkan karbon dioksida yang berlebih dari tubuh.

Aliran darah juga mengandung sel darah putih (leukosit), yang terdiri dari beberapa kelompok penting. Jumlah sel darah putih memang tidak sebanyak sel darah merah, tetapi dalam beberapa hal fungsinya sangat penting yaitu menjadi bagian sistem kekebalan tubuh.

Sel darah putih akan melindungi Anda dari kuman-kuman yang berbahaya yang dapat merugikan kesehatan. Dua jenis sel darah putih ini yaitu leukosit (leucocyt) dan monosit (monocyt) cara kerjanya adalah dengan "menelan" kuman-kuman dan membinasakannya. Tetapi untuk berbuat demikian, sel-sel darah putih ini juga akan mati dan membentuk nanah di dalam suatu abses atau pembengkakan di bawah permukaan kulit. Sel darah putih ini mati karena berkorban untuk menjaga kesehatan Anda.

Sel darah putih lainnya seperti limfosit (lymphocyt), juga memainkan peranan penting untuk mempertahankan tubuh Anda dalam melawan penyakit. Sel-sel tersebut dapat berubah menjadi bentuk-bentuk sel lain untuk memenuhi kebutuhan tubuh agar tetap sehat. Dalam keadaan normal, jumlah limfosit mencapai 15-40% dari sel darah putih dalam aliran darah.

Berikut fungsi dari limfosit :
  • Berubah menjadi sel yang membentuk antibodi (sel plasma)
  • Melindungi tubuh dari infeksi virus dan melawan kanker
  • Membantu sel lain dalam melindungi tubuh dari infeksi bakteri dan jamur, serta membantu mengatur aktivitas sel lain dalam sistem kekebalan tubuh.

Dua jenis utama dari limfosit adalah limfosit B (disebut juga sel B) dan limfosit T (disebut juga sel T). Sel B berasal dari sumsum tulang dan matang di dalam sumsum tulang; sedangkan sel T berasal dari sumsum tulang, namun proses pematangannya terjadi di dalam kelenjar timus (kelenjar yang terletak di tengah rongga dada).

Darah bukanlah benda cair biasa, melainkan suatu zat yang amat kompleks

Kelompok sel darah putih yang lain, yang disebut sel eosinofil (eosinophil) paling banyak jumlahnya selama dalam keadaan alergi. Sel darah ini membantu tubuh mengatasi berbagai zat beracun di dalam usus. Sel ini akan banyak terdapat di dalam aliran darah orang-orang yang menderita Trichinosis atau penyakit oleh cacing rambut, yakni suatu infeksi yang sering terjadi sesudah makan daging babi yang tidak dimasak dengan baik, dan juga dalam Schistosomiasis, yakni suatu infeksi parasit di daerah tropis.

Sel-sel basofil (basophil) juga mempunyai fungsi yang berbeda. Sel ini melepaskan heparin ke dalam aliran darah, dan dengan demikian mencegah pembekuan darah. Sel ini sangat diperlukan dalam kondisi peradangan yang lama.

Seluruh sel yang bermacam-macam ini membentuk kira-kira 40% dari darah. Dan 60% bagian darah yang lain adalah plasma, yakni bagian cairan dari darah. Plasma mengandung berbagai jenis protein seperti albumin, globulin, fibrinogen. Plasma juga mengandung banyak bahan kimia lain yang penting, termasuk bermacam-macam garam dan zat-zat makanan, seperti glukosa yang memberikan tenaga dan sebagai bahan bakar bagi semua sel.

Dengan demikian kita melihat bahwa darah bukanlah benda cair biasa, melainkan suatu zat yang amat kompleks. Semua unsur dalam darah yang berbeda-beda ini harus selalu dijaga keseimbangannya supaya tubuh tetap memiliki komponen-komponen yang diperlukan dalam kadar dan saat yang tepat untuk menjaga kesehatan tubuh.

Image Credit
  • Crystal (Flickr user) Via Wikimedia

24 February 2020

Hubungan Osteoporosis dan Gangguan Tiroid

Osteoporosis dan hipertiroidisme

Apa itu osteoporosis?
Secara harfiah osteoporosis berarti 'tulang keropos'. Osteoporosis adalah kondisi medis dimana tulang Anda rapuh dan rentan patah. Tulang yang paling sering mengalami kerusakan pada osteoporosis adalah pergelangan tangan, tulang belakang, dan pinggul. Meskipun osteoporosis dapat diobati, namun mencegahnya akan lebih mudah.

Bagaimana osteoporosis bisa terjadi?
Di dalam tulang terdapat dua jenis sel, 'osteoklas' dan 'osteoblas' , yang terus bekerja untuk menumbuhkan rangka dan dan memperbaiki kerusakan seperti retak dan patah tulang. Osteoklas bertugas memecah tulang sementara 'osteoblas' membangun kembali tulang. Setiap siklus memecah dan membangun kembali tulang ini biasanya memakan waktu 200 hari.

Banyak faktor yang mempengaruhi proses penggantian tulang ini, diantaranya hormon, olahraga yang biasa dilakukan, dan jumlah vitamin D dan kalsium yang dikonsumsi.

Pemecahan dan pembangunan kembali tulang terjadi dalam proses atau tingkat yang seimbang. Jika lebih banyak tulang yang hilang daripada yang diganti, maka tulang Anda menjadi kurang padat dan Anda mungkin menderita osteoporosis. Jika menderita osteoporosis, tulang Anda rentan sekali untuk patah.

Siapa saja yang berisiko terkena osteoporosis?
Baik pria dan wanita semua berisiko terkena osteoporosis. Faktanya, semua orang akan mulai kehilangan kepadatan tulang sejak usia 35 tahun dan ini merupakan bagian normal dari penuaan. Namun, kehilangan kepadatan tulang yang besar lebih sering terjadi pada wanita setelah menopause, masa dimana mereka berhenti memproduksi estrogen, hormon yang melindungi tulang. Pasca menopause, kepadatan tulang bisa hilang lebih cepat dalam lima hingga 10 tahun setelahnya.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko patah tulang osteoporosis meliputi:
  • Pernah patah tulang, baik patah tulang spontan, atau akibat trauma ringan seperti jatuh biasa
  • Riwayat keluarga dengan osteoporosis atau patah tulang akibat trauma ringan
  • Menopause dini
  • Sebelumnya menjalani terapi steroid
  • Anoreksia nervosa
  • Berat badan rendah
  • Diet yang buruk
  • Merokok
  • Alkohol
  • Kurang olahraga
  • Hipertiroidisme yang tidak diobati dalam waktu lama
  • Hipotiroidisme yang terlalu lama diobati
  • Penyakit lain seperti rheumatoid arthritis (peradangan sendi), penyakit celiac (penyakit auto imun), dan hiperparatiroidisme primer (gangguan pada satu atau beberapa kelenjar paratiroid).

Apa hubungan antara penyakit tiroid dan osteoporosis?
Hormon tiroid (yaitu tiroksin) mempengaruhi laju proses penggantian tulang. Terlalu banyak hormon tiroksin di dalam tubuh akan mempercepat laju kehilangan tulang. Jika ini terjadi terlalu cepat, osteoblas mungkin tidak dapat mengganti kehilangan tulang dengan cepat. Jika kadar hormon tiroksin dalam tubuh Anda terlalu tinggi untuk jangka waktu lama atau tingkat hormon perangsang tiroid (TSH) dalam tubuh Anda terlalu rendah untuk jangka waktu yang lama maka ada risiko lebih tinggi terkena osteoporosis.

Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang dengan kadar TSH rendah dapat kehilangan tulang dengan lebih cepat daripada mereka dengan kadar TSH normal bahkan ketika pengukuran tiroksin darah berada dalam kisaran normal, tetapi ini masih sedang dipelajari.

Tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme)
Jika Anda menderita hipertiroidisme, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengobati overaktivitasnya. Setelah kadar hormon tiroid dalam tubuh Anda turun ke kisaran normal, proses kehilangan tulang akan melambat dan kekuatan tulang dapat meningkat. Namun, sebagian orang akan mengalami keropos tulang yang persisten, dengan atau tanpa penyakit tiroid, dan wanita pasca menopause berisiko sangat tinggi mengalami hal ini. Jika Anda mengalami hipertiroidisme dan tidak diobati dalam jangka waktu yang lama, serta memiliki faktor risiko lain untuk osteoporosis dan patah tulang, pemindaian kepadatan mineral tulang dua hingga tiga tahun setelah pengobatan tiroid Anda dimulai akan membantu menilai risiko Anda. Jika pemindaian kepadatan tulang menunjukkan osteoporosis maka dapat diobati dengan obat-obatan.

Tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme)
Tiroid yang kurang aktif, bukan merupakan faktor risiko osteoporosis, tetapi jika Anda diresepkan obat seperti levothyroxine untuk meningkatkan kadar hormon tiroid ke kisaran normal, maka Anda harus melakukan tes darah rutin, minimal sekali setahun, untuk memastikan kadar hormon tiroid Anda tidak terlalu tinggi.

Bagaimana menurunkan risiko terkena osteoporosis?
Kesehatan tulang dapat dijaga dengan mengonsumsi makanan seimbang yang kaya akan kalsium, mendapatkan vitamin D yang cukup, menghindari rokok dan alkohol, dan berolahraga secara teratur. Olahraga yang memiliki dampak tinggi seperti jogging atau jalan kaki, akan membantu menguatkan tulang. Olahraga lain, seperti pilates dan yoga, mungkin berguna dalam meningkatkan keseimbangan, sehingga mengurangi risiko jatuh yang dapat mematahkan tulang.

Terapi Penggantian Hormon (HRT) dapat membantu mengurangi risiko osteoporosis pada wanita tetapi sekarang ini hanya direkomendasikan untuk pengobatan gejala menopause dan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kondisi lain tergantung pada individu. Menghabiskan waktu barang 10-20 menit setiap hari untuk terpapar sinar matahari akan memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh.

Berapa banyak kalsium yang dibutuhkan?
National Osteoporosis Society merekomendasikan asupan kalsium harian 700 mg untuk pria dan wanita, termasuk wanita hamil, atau hingga 1.000 mg setiap hari jika Anda sedang menjalani perawatan obat osteoporosis. Jika Anda menyusui maka perlu menambah asupan kalsium hingga 550 mg setiap hari.

Makanan apa yang mengandung kalsium dan vitamin D?
Kalsium paling mudah ditemukan dari produk susu (terutama yang rendah lemak) seperti susu, keju, dan yoghurt. Satu liter susu skim mengandung 880 mg kalsium. Jenis ikan tertentu, dan sayuran hijau seperti okra dan selada air, juga merupakan sumber kalsium yang baik sebagai ganti jika Anda tidak menyukai susu. Ikan berminyak, seperti salmon, trout, mackerel, herring (termasuk kippers) dan tuna segar mengandung vitamin D.

Perlu diingat
  • Tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) dapat meningkatkan risiko osteoporosis
  • Pengobatan hipertiroidisme akan mengurangi laju keropos tulang dan meningkatkan kekuatan tulang
  • Lakukan pemindaian kepadatan mineral tulang jika Anda telah lama mengalami hipertiroidisme
  • Risiko osteoporosis dapat diturunkan dengan rutin mengonsumsi makanan yang kaya akan kalsium dan vitamin D, dan berolahraga secara teratur
  • Asupan kalsium harian yang direkomendasikan untuk pria dan wanita dewasa termasuk wanita hamil adalah 700 mg, dan tambahan 550 mg jika Anda menyusui.

Article Resources