12 October 2020

Pertanyaan Populer dan Fakta tentang Imunisasi

Imunisasi

Apakah yang dimaksud dengan imunisasi?
Imunisasi adalah upaya aktif untuk menimbulkan antibodi atau kekebalan spesifik / khusus yang efektif mencegah penularan penyakit tertentu dengan cara memberikan vaksin.

Apa saja penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi?
Penyakit yang dapat dicegah degan imunisasi antara lain Hepatitis B, Tuberkulosis, Polio, Difteri, Pertusis (batuk rejan), Tetanus, Campak dan Pneumonia (radang paru) serta Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan oleh bakteri Haemophylus Influenzae tipe b.

Apa saja imunisasi dasar lengkap yang harus diberikan pada bayi?
Imunisasi Hepatitis B (1 kali), BCG (1 kali) Polio tetes (4 kali), Polio suntik (1 kali), DPT-HB-Hib (3 kali) dan Campak (1 kali)

Apabila bayi sudah diimunisasi lengkap, apakah masih perlu diberikan imunisasi lagi?
Imunisasi lanjutan masih perlu diberikan pada usia 18 bulan atau 1,5 tahun berupa imunisasi DPT-HB-Hib dan Campak masing-masing 1 kali, serta saat sekolah dasar (SD/MI atau yang sederajat) melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yaitu imunisasi Campak dan DT bagi siswa kelas 1 dan imunisasi Td bagi siswa kelas 2 dan 5. Imunisasi tersebut diberikan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyakit Campak, Difteri, Pertusis dan Tetanus.

Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita?
Benar. Pemberian imunisasi sudah berdasarkan hasil penelitian dan kajian para ahli imunisasi baik dari dalam maupun luar negeri. Vaksin yang diberikan sudah diuji keamanan, khasiat dan mutunya oleh badan resmi negara (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Saat ini 194 negara melaksanakan imunisasi untuk bayi dan balita

Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya?
Benar. Bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya sehingga mudah tertular penyakit, menderita sakit berat, menularkan penyakit ke anak-anak lain, bahkan dapat berujung pada kematian dan kecacatan.

Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak?
Isu itu tidak benar. Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi dinyatakan aman oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Bagaimana jika anak yang berusia 18 bulan (1,5 tahun) belum menerima imunisasi dasarnya?
Anak yang belum lengkap imunisasi dasarnya pada saat berusia 18 bulan (1,5 tahun), maka harus melengkapi terlebih dahulu imunisasi dasarnya kecuali imunisasi Hepatitis B untuk bayi baru lahir dan BCG. Setelah itu dapat diberikan imunisasi lanjutan dengan interval minimal 12 bulan dari dosis ketiga untuk DPT-HB-Hib dan minimal 6 bulan dari dosis pertama untuk campak.

Sesudah diimunisasi, apakah masih mungkin tertular penyakit tersebut?
Meskipun kemungkinannya kecil, bayi atau anak yang telah diimunisasi masih mungkin tertular penyakit tersebut, namun gejalanya jauh lebih ringan dan tidak berbahaya.

Apakah bayi dan anak yang sedang pilek, batuk boleh diimunisasi?
Boleh. Batuk pilek ringan tanpa demam boleh diimunisasi, kecuali bila bayi sangat rewel, imunisasi dapat ditunda 1-2 minggu kemudian.

Apakah bayi atau anak yang sedang minum obat antibiotik boleh diimunisasi?
Boleh. Antibiotik tidak mengganggu potensi vaksin, namun perlu dipertimbangkan apabila bayi atau anak menderita penyakit berat, berikan imunisasi setelah penyakitnya sembuh.

Apabila anak diberikan beberapa suntikan sekaligus apakah tidak berbahaya?
Tidak berbahaya, asalkan imunisasi dilakukan di bagian tubuh yang berbeda (misalnya paha / lengan kiri dan kanan) serta menggunakan alat suntik yang berlainan.

Apabila bayi atau anak sudah pernah sakit Campak, Difteri atau Pertusis (batuk rejan) bolehkah diimunisasi untuk penyakit-penyakit tersebut?
Boleh, karena pemberian imunisasi pada bayi atau anak yang pernah menderita penyakit tersebut dapat menambah kekebalan.

Apakah anak yang menderita Epilepsi boleh diimunisasi?
Boleh. Riwayat kejang atau Epilepsi di dalam keluarga bukan halangan untuk memberikan imunisasi. Orangtua atau pengasuh harus diingatkan bahwa sesudah imunisasi DPT-HB-Hib dan Campak dapat timbul demam, oleh karena itu dianjurkan untuk segera memberikan obat penurun panas. Harus diingatkan pula bahwa setelah imunisasi Campak, demam dapat timbul pada hari ke 5 sampai dengan hari ke 10 setelah imunisasi.

Apakah setelah diimunisasi, bayi atau anak akan selalu menderita demam?
Tidak selalu. Demam merupakan reaksi pertahanan tubuh terhadap imunisasi yang diberikan pada setiap anak, tergantung kondisi kesehatannya. Kalau anak demam, dapat disimpulkan bahwa tubuhnya memiliki reaksi pertahanan tubuh yang bagus dan vaksin yang diberikan tidak percuma. Vaksin mahal pun tidak dapat menjamin seratus persen bahwa anak yang diimunisasi tidak akan demam.

Vaksin yang sering menimbulkan demam adalah DPT-HB-Hib dan Campak. Demam pada DPT-HB-Hib timbul segera setelah imunisasi, sedangkan pada Campak demam timbul pada hari kelima sampai dengan hari kesepuluh setelah imunisasi.

Apakah anak yang menderita alergi boleh diimunisasi?
Pasien yang menderita alergi seperti Asma, Eksim, dan Pilek boleh diimunisasi tetapi kita harus berhati-hati jika anak alergi berat terhadap telur, karena beberapa vaksin mengandung protein telur seperti vaksin Campak.

Apakah benar mutu vaksin di Puskesmas atau Posyandu berbeda dengan di dokter spesialis?
Tidak. Dari segi mutu dan efektivitas vaksin sama walaupun merk berbeda. Semua vaksin yang digunakan di Indonesia sudah diteliti dan mendapatkan jaminan mutu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

09 October 2020

Bagaimana Menggunakan Obat Suppositoria?

Suppositoria adalah obat padat yang dimasukkan ke tubuh melalui anus, vagina, atau uretra (saluran kemih). Suppositoria rektal (anal) adalah jenis suppositoria yang paling umum digunakan.

Suppositoria tersedia dalam beberapa jenis untuk kondisi dan tujuan medis yang berbeda pula. Sebagian orang oleh dokter diberikan resep suppositoria rektum dan vagina, tapi ada juga yang diberikan resep suppositoria uretra meskipun ini jarang sekali.

Di artikel ini kami memberikan panduan langkah demi langkah tentang bagaimana cara menggunakan suppositoria.

Lebih lagi, kami juga memberikan beberapa solusi dan saran yang bermanfaat dalam menggunakan jenis obat suppositoria ini.

Penggunaan suppositoria

Obat supositoria

Suppositoria hanyalah cara lain untuk mengirimkan obat ke dalam tubuh ketika jalur lain, seperti oral, tidak dimungkinkan.

Ukuran suppositoria kecil dan bentuknya ada yang bulat, oval, atau kerucut. Obat suppositoria dilapisi keseluruhan oleh zat yang mirip mentega kakao atau gelatin. Begitu masuk ke dalam tubuh, suppositoria larut dan obat dilepaskan.

Suppositoria dapat mengobati area lokal tempat dimana obat dimasukkan, atau suppositoria juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah.

Mengapa menggunakan suppositoria?

Obat suppositoria mungkin digunakan oleh orang yang:
  • mengalami kejang dan tidak dapat minum obat melalui mulut
  • tidak dapat menelan obat dengan alasan apapun
  • muntah dan tidak dapat menelan pil atau cairan
  • mengalami penyumbatan di saluran pencernaan yang menghentikan laju obat.
Orang juga dapat menggunakan suppositoria jika obatnya:
  • rasanya sangat tidak enak untuk diminum
  • akan rusak terlalu cepat di usus
  • bisa dihancurkan di saluran gastrointestinal.

Penelitian juga menunjukkan bahwa menggunakan obat melalui rektum memungkinkan lingkungan yang relatif konstan. Namun, tingkat absorpsinya mungkin lebih rendah ketimbang obat yang diminum secara oral.

Jenis suppositoria dan kegunaannya

Ada tiga jenis suppositoria:

Suppositoria rektal

Suppositoria rektal masuk ke rektum atau anus. Biasanya panjangnya satu inci dan ujungnya membulat.

Suppositoria rektal biasanya digunakan untuk mengatasi kondisi, seperti:

Suppositoria vagina

Orang mungkin memasukkan suppositoria vagina ke dalam vagina untuk mengobati:
  • infeksi bakteri atau jamur
  • vagina kering.
Suppositoria vagina biasanya berbentuk oval dan dilengkapi dengan aplikator.

Suppositoria uretra

Jenis suppositoria uretra juga digunakan untuk mengobati masalah ereksi pada pria meskipun hal ini jarang terjadi.

Suppositoria ini seukuran sebutir beras dan menghasilkan obat yang disebut alprostadil.

Cara memasukkan suppositoria rektal

Siapa pun yang menggunakan suppositoria rektal sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut sebagai panduan:

1. Persiapan

Mencuci tangan
  • Cobalah buang air besar untuk mengosongkan usus besar, karena obat suppositoria paling efektif saat usus kosong.
  • Cuci tangan sampai bersih dengan sabun dan air hangat atau gunakan pembersih tangan (hand sanitizer). Keringkan tangan secara menyeluruh dengan handuk bersih.
  • Keluarkan suppositoria dengan hati-hati dari pembungkusnya.
  • Jika suppositoria perlu dipotong, gunakan pisau silet bermata satu yang bersih dan irislah memanjang.
  • Gunakan sarung tangan sekali pakai, jika perlu.

2. Bersiap memasukkan suppositoria


Memasukkan supositoria ke anus

  • Celupkan ujung suppositoria ke dalam air, atau oleskan sedikit pelumas yang berbahan dasar air. Pelumas membantu suppositoria lebih mudah masuk ke dalam rektum.
  • Lepaskan pakaian.
  • Temukan posisi yang benar. Berdiri dengan satu kaki di atas kursi atau berbaring di satu sisi dengan kaki bagian atas sedikit ditekuk ke arah perut. Pengasuh yang memberikan obat suppositoria kepada orang lain sering merasa lebih mudah jika orang tersebut berbaring.

3. Masukkan suppositoria

Perkiraan jari masuk ke anus
  • Rilekskan otot bokong dan buka pantat.
  • Masukkan suppositoria dengan lembut ke dalam anus, masukkan ujung sempitnya dulu.
  • Dorong sekitar 1 inci untuk orang dewasa, atau setengah inci untuk bayi.
  • Pada anak-anak, dorong suppositoria kira-kira setengah hingga satu inci, sesuaikan.

4. Rileks dan bersihkan

Berbaring menyamping
  • Duduk atau berbaring diam selama 10 menit setelah memasukkan suppositoria. Tetap diam memungkinkan waktu untuk suppositoria larut dalam tubuh. Pada anak-anak, pantatnya mungkin perlu ditutup dengan tangan.
  • Buang semua bahan, termasuk pembungkus suppositoria dan kertas tisu apapun.
  • Cuci tangan sampai bersih dengan sabun dan air hangat.
Cobalah untuk menghindari buang air besar hingga 60 menit setelah memasukkan suppositoria, kecuali jika itu adalah obat pencahar. Tidak buang air besar memberi obat cukup waktu untuk masuk ke aliran darah dan mulai bekerja.

Cara memasukkan suppositoria vagina

Posisi tubuh untuk memasukkan supositoria vagina

Untuk menempatkan suppositoria ke dalam vagina, ikuti tip berikut:

1. Persiapan
  • Cuci tangan dengan sabun dan air hangat, atau gunakan pembersih tangan jika tidak tersedia. Keringkan tangan di atas handuk bersih atau handuk kertas.
  • Buka bungkus suppositoria, dan letakkan di aplikator yang menyertai.
  • Berdiri dengan lutut ditekuk dan kaki terpisah atau berbaring dengan lutut ditekuk ke arah dada.

2. Masukkan suppositoria

Memasukkan supositoria vagina
  • Tempatkan aplikator ke dalam vagina, sejauh mungkin, tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman
  • Tekan plunger untuk mendorong suppositoria.
  • Lepaskan aplikator dari vagina, dan buang.

3. Rileks dan bersihkan
  • Berbaringlah selama 10 menit agar obat masuk ke dalam tubuh.
  • Cuci tangan sekali lagi dengan sabun dan air hangat.
Pertimbangkan untuk menggunakan handuk sanitasi atau pembalut selama beberapa jam, karena beberapa suppositoria dapat bocor ke celana dalam.

Cara memasukkan suppositoria uretra

Berikut adalah panduan untuk menempatkan suppositoria ke dalam uretra:

1. Persiapan
  • Kosongkan kandung kemih.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air hangat atau gunakan pembersih tangan. Keringkan tangan secara menyeluruh di atas handuk bersih atau handuk kertas.
  • Lepaskan penutup aplikator.

2. Masukkan suppositoria
  • Regangkan penis untuk membuka uretra.
  • Tempatkan aplikator ke dalam lubang di ujungnya.
  • Tekan tombol pada aplikator dan tahan selama 5 detik.
  • Pindahkan aplikator dengan lembut dari satu sisi ke sisi lain untuk memastikan suppositoria telah memasuki uretra.
  • Lepaskan aplikator.

3. Rileks dan bersihkan
  • Pijat penis yang diregangkan dengan cukup kuat selama 10 hingga 15 detik agar obatnya dapat diserap.
  • Buang aplikator dan bahan lainnya.
  • Cuci tangan sekali lagi dengan sabun dan air hangat.

Risiko dan efek samping

Obat suppositoria biasanya aman digunakan. Terkadang, beberapa obat bisa bocor. Untuk menghindari ketidaknyamanan, bisa digunakan pembalut.

Sebagian orang mungkin mengalami iritasi di sekitar area tempat mereka memasukkan suppositoria. Jika ini parah atau berlanjut, mereka harus ke dokter.

Kadang-kadang, tubuh tidak dapat menyerap obat yang diberikan oleh suppositoria seperti halnya obat oral.

Beberapa tip dan solusi

Kiat berikut dapat membantu orang yang perlu menggunakan suppositoria:
  • Hindari olahraga atau gerakan kuat selama 60 menit setelah memasukkan obat.
  • Jangan gunakan petroleum jelly, seperti Vaseline, untuk melumasi suppositoria. Ini akan memperlambat obat mencair. Hanya gunakan air, atau pelumas yang berbahan dasar air.
  • Simpan suppositoria di lemari es atau tempat sejuk lainnya, agar tidak meleleh. Selalu ikuti petunjuk penyimpanan pada label kemasan.
  • Suppositoria lunak mungkin sulit untuk dimasukkan. Peras perlahan untuk melihat apakah sudah cukup kencang. Jika tidak, kencangkan suppositoria yang terbungkus dengan menahannya di bawah aliran air dingin. Atau, letakkan di lemari es selama beberapa menit.
  • Potong kuku sebelum memasukkan suppositoria. Ini mencegah luka dan goresan. Sebagai alternatif, kenakan sarung tangan lateks.
  • Beberapa orang mungkin mengalami suppositoria yang keluar kembali. Ini bisa terjadi karena suppositoria tidak didorong cukup jauh ke dalam rektum. Doronglah sekitar 1 inci.
  • Mereka yang kesulitan menggunakan suppositoria sendiri sebaiknya meminta bantuan kepada orang lain.
  • Seperti halnya obat-obatan lain, jangan sampai ada dosis yang terlewat. Dosis yang terlewat dapat mengurangi efektivitas pengobatan.

Pesan

Suppositoria bermanfaat bagi orang yang tidak dapat minum obat melalui mulut. Orang yang mengalami kesulitan dalam menggunakan suppositoria harus meminta nasihat kepada dokter. Juga harus berbicara dengan dokter sebelum menggunakan suppositoria jika:
  • baru saja menjalani operasi rektal, operasi prostat, atau perawatan vagina
  • memiliki detak jantung yang tidak teratur.
Meskipun mungkin tidak menyenangkan untuk digunakan, suppositoria rektal, vagina, dan uretra bisa menjadi cara yang efektif untuk memberikan obat. (MNT)

19 April 2020

Inilah 12 Virus Paling Mematikan di Bumi

Virus influenza
(Kredit: Shutterstock)

Manusia telah berjuang melawan virus sejak usia penciptaan manusia itu sendiri. Untuk beberapa penyakit akibat virus, sudah ditemukan obat anti virus dan vaksin yang mencegah penyebaran infeksinya. Salah satunya adalah penyakit cacar (smallpox) yang sudah bisa diberantas dan dimusnahkan dari muka bumi.

Tapi kita masih jauh dari memenangkan pertempuran melawan virus. Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa virus telah bermutasi dari sebelumnya hanya menulari hewan, tapi kemudian menulari manusia dan memicu wabah yang cukup besar, hingga merenggut ribuan nyawa. Wabah virus Ebola pada 2014-2016 di Afrika Barat membunuh hingga 90% dari orang yang terinfeksi, menjadikannya sebagai salah satu virus yang paling mematikan.

Tidak hanya Ebola, masih ada virus lain di luar sana yang juga mematikan, dan bahkan ada yang lebih mematikan. Beberapa jenis virus, seperti coronavirus baru yang saat ini menciptakan pandemi dunia, memiliki tingkat kematian yang lebih rendah, namun menimbulkan ancaman serius bagi dunia karena obat dan vaksinnya belum ditemukan.

Berikut adalah 12 virus 'pembunuh terbaik' di dunia, diambil berdasarkan pada kemungkinan bahwa penderitanya akan mati jika terinfeksi salah satunya, banyaknya orang yang telah meninggal akibatnya, dan apakah ancamannya semakin besar.

Virus Marburg
Virus Marburg
(Kredit: ROGER HARRIS/SCIENCE PHOTO LIBRARY via Getty Images)

Para ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada tahun 1967, ketika wabah kecil terjadi di antara para pekerja laboratorium di Jerman yang terpapar monyet-monyet yang terinfeksi yang diimpor dari Uganda.

Virus Marburg mirip dengan Ebola karena keduanya dapat menyebabkan demam berdarah, yang berarti orang yang terinfeksi mengalami demam tinggi dan perdarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian selama wabah Marburg pertama adalah 25%, kemudian meningkat menjadi lebih dari 80% selama wabah 1998-2000 di Republik Demokratik Kongo, serta pada wabah 2005 di Angola.

Virus Ebola
Virus Ebola
(Kredit: Shutterstock)

Wabah Ebola pertama yang diketahui menyerang manusia secara serentak terjadi di Republik Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain, atau jaringan dari orang atau hewan yang terinfeksi.

Strain Ebola diketahui sangat bervariasi dan mempengaruhi kemungkinan kematian. Salah satu strain, Ebola Reston, bahkan tidak membuat penderitanya sakit. Tetapi untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian hingga 50%, dan hingga 71% untuk strain Sudan..

Wabah Ebola yang masih berlangsung sekarang ini di Afrika Barat dimulai pada awal 2014, dan merupakan wabah penyakit terbesar dan paling kompleks hingga saat ini.

Virus Rabies
Virus Rabies
(Kredit: CDC/ Dr. Fred Murphy)

Meskipun vaksin rabies untuk hewan yang diperkenalkan pada 1920-an telah membantu menurunkan angka kejadian penyakit di negara maju secara signifikan, tetapi kondisi ini tetap menjadi masalah serius di India dan beberapa negara di belahan Afrika.

Dunia sudah memiliki vaksin untuk melawan rabies, jadi jika seseorang digigit oleh hewan rabies, akan bisa ditangani. Namun, jika penderita tidak mendapatkan perawatan yang tepat, maka ada kemungkinan penderita meninggal 100%. Rabies akan menghancurkan otak dan merupakan penyakit yang sangat buruk.  

HIV
HIV
(Kredit: Cynthia Goldsmith, Centers for Disease Control and Prevention)

Di dunia modern, virus yang paling mematikan dari semua virus mungkin adalah HIV. HIV masih menjadi virus pembunuh utama. Penyakit menular yang memakan korban terbesar umat manusia saat ini adalah HIV.

Diperkirakan 32 juta orang telah meninggal karena HIV sejak penyakit ini pertama kali diakui pada awal 1980-an.

Obat antivirus yang kuat telah memungkinkan penderita HIV bertahan hidup hingga bertahun-tahun. Tetapi penyakit ini terus menghancurkan banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana 95% infeksi HIV baru terjadi disini. Hampir 1 dari setiap 25 orang dewasa di wilayah WHO Afrika positif HIV, tercatat jumlahnya lebih dari dua pertiga penderita HIV di seluruh dunia.

Virus Smallpox
Virus Cacar Smallpox
(Kredit: CDC/ J. Nakano)

Pada tahun 1980, Majelis Kesehatan Dunia WHO menyatakan dunia bebas dari cacar (smallpox). Tetapi sebelum itu, manusia telah berjuang melawan cacar selama ribuan tahun, dan penyakit ini membunuh sekitar 1 dari 3 orang yang terinfeksi. Korban yang selamat pun mendapatkan bekas luka yang dalam dan permanen di kulit dan wajah dan bahkan kebutaan.

Tingkat kematian cacar jauh lebih tinggi terjadi pada populasi di luar Eropa, di mana mereka sebelumnya hanya sedikit kontak dengan virus dan penyakit, hingga akhirnya orang Eropa datang menularinya. Contohnya, sejarawan memperkirakan 90% populasi asli Amerika (bangsa Indian) meninggal karena cacar yang diperkenalkan oleh penjelajah Eropa. Pada abad ke-20 saja, cacar telah menewaskan 300 juta orang.

Cacar merupakan beban besar di planet ini, tidak hanya menyebabkan kematian tetapi juga kebutaan, dan itulah yang mendorong kampanye dunia untuk memberantasnya dari muka Bumi

Hantavirus
Hantavirus
(Kredit: Cynthia Goldsmith. Provided by CDC/ Brian W.J. Mahy, PhD; Luanne H. Elliott, M.S.)

Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) pertama kali mendapat perhatian luas di Amerika Serikat. Pada tahun 1993, ketika seorang lelaki muda Navajo (penduduk asli Amerika yang tinggal di Amerika Serikat barat daya) yang sehat dan tunangannya yang tinggal di daerah Four Corners Amerika Serikat meninggal mendadak dalam beberapa hari karena sesak napas.

Beberapa bulan kemudian, otoritas kesehatan AS mengisolasi Hantavirus dari tikus rusa yang tinggal di rumah salah satu penderita yang terinfeksi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, lebih dari 600 orang di AS sekarang telah terinfeksi HPS, dan 36% telah meninggal karena penyakit ini.

Virus ini tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, melainkan dari paparan kotoran tikus yang terinfeksi.

Sebelumnya, Hantavirus yang berbeda menyebabkan wabah pada awal 1950-an, selama Perang Korea, menurut sebuah makalah 2010 dalam jurnal Clinical Microbiology Reviews. Lebih dari 3.000 tentara terinfeksi, dan sekitar 12% dari mereka tewas.

Sementara virus ini adalah virus baru bagi dunia Barat ketika ditemukan di AS, peneliti kemudian menyadari bahwa tradisi medis Navajo sudah menggambarkan penyakit yang serupa, dan menghubungkan penyakit itu dengan tikus.

Influenza
Influenza
(Kredit: National Institute of Allergies and Infectious Diseases (NIAID))

Selama musim flu biasa, hingga 500.000 orang di seluruh dunia akan meninggal karenanya, menurut WHO. Tetapi terkadang, ketika strain flu baru muncul, pandemi terjadi dengan penyebaran penyakit yang lebih cepat dan seringkali dengan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Pandemi flu yang paling mematikan, yang juga disebut sebagai flu Spanyol, dimulai pada 1918 dan merebak hingga 40% dari populasi dunia, menewaskan sekitar 50 juta orang.

Selalu ada kemungkinan pandemi seperti wabah flu Spanyol akan terulang kembali, jika muncul strain influenza baru dan dapat ditularkan dengan mudah di antara manusia, dan menyebabkan gejala parah.

Virus Dengue
Virus dengue
(Kredit: Frederick Murphy. Provided by CDC/ Frederick Murphy, Cynthia Goldsmith)

Virus dengue pertama kali muncul pada 1950-an di Filipina dan Thailand, dan sejak itu menyebar ke seluruh wilayah tropis dan subtropis di dunia. Hingga 40% dari populasi dunia sekarang tinggal di daerah-daerah di mana dengue adalah endemik, dan penyakit ini - dengan nyamuk yang membawanya - diperkirakan akan menyebar lebih jauh ketika iklim dunia menghangat.

Menurut WHO, dengue telah membuat sakit 50 hingga 100 juta orang setiap tahunnya. Meskipun tingkat kematian untuk dengue lebih rendah dibanding beberapa virus lain, yaitu 2,5%, virus ini dapat menyebabkan gejala seperti Ebola yang disebut demam berdarah dengue, dan kondisi ini  memiliki tingkat kematian 20% jika tidak diobati.

Pada tahun 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyetujui vaksin dengue untuk digunakan pada anak-anak berusia 9-16 tahun yang tinggal di daerah di mana dengue biasa terjadi dan dengan riwayat terkonfirmasi terinfeksi, menurut CDC. Di beberapa negara, vaksin yang disetujui tersedia untuk mereka yang berusia 9-45 tahun, tetapi sekali lagi, penerimanya harus punya riwayat dengue di masa lalu. Mereka yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya bisa berisiko terkena demam berdarah jika diberikan vaksin.

Rotavirus
Rotavirus
(Kredit: CDC/ Dr. Erskine L. Palmer)

Sekarang sudah tersedia dua vaksin untuk melindungi anak-anak dari rotavirus, yang merupakan penyebab utama penyakit diare parah pada bayi dan anak kecil. Virus ini dapat menyebar dengan cepat, melalui apa yang oleh para peneliti disebut sebagai fecal-oral route (artinya partikel feses yang kecil yang pada akhirnya masuk ke mulut)

Meskipun anak-anak di negara maju jarang meninggal karena infeksi rotavirus, penyakit ini masih menjadi pembunuh serius di negara berkembang, terutama di negara yang fasilitas kesehatannya tidak memadai dan tidak tersedia secara luas.

WHO memperkirakan bahwa 453.000 anak-anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia meninggal akibat infeksi rotavirus pada 2008. Namun negara-negara yang telah memperkenalkan vaksin tersebut telah melaporkan penurunan tajam dalam angka kejadian rawat inap dan kematian akibat rotavirus.

SARS-CoV
SARS-CoV
(Kredit: CDC/ Dr. Fred Murphy)

Virus ini menyebabkan sindrom pernafasan akut hebat, atau SARS, dan pertama kali muncul pada tahun 2002 di provinsi Guangdong di Cina selatan. Awalnya, virus itu kemungkinan muncul pada kelelawar, kemudian berpindah ke musang sebelum akhirnya menginfeksi manusia. Setelah memicu wabah di Cina, SARS menyebar ke 26 negara di seluruh dunia, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan lebih dari 770 orang selama dua tahun.

Penyakit ini menyebabkan demam, menggigil dan nyeri pada tubuh, dan seringkali berkembang menjadi pneumonia, suatu kondisi parah di mana paru-paru menjadi meradang dan terisi dengan cairan nanah. SARS memiliki angka kematian sebesar 9,6%, dan sampai sekarang belum ditemukan obat atau vaksin yang disetujui. Meskipun begitu, hingga kini belum ditemukan kasus baru SARS sejak dilaporkan pada awal 2000-an.

SARS-CoV-2
SARS-CoV-2
(Kredit: NIAID-RML)

SARS-CoV-2 termasuk dalam keluarga besar virus yang sama dengan SARS-CoV, yang dikenal sebagai virus corona, dan pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di kota Wuhan di Cina. Virus ini kemungkinan berasal dari kelelawar, seperti SARS-CoV, dan kemudian melewati hewan peralihan sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

Sejak kemunculannya, virus ini telah menginfeksi puluhan ribu orang di Cina dan jutaan orang di seluruh dunia. Wabah ini mendorong karantina luas Wuhan dan kota-kota terdekat, pembatasan perjalanan ke dan dari negara-negara yang terkena dampak dan upaya di seluruh dunia untuk mengembangkan diagnostik, perawatan dan vaksinnya.

Penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang disebut COVID-19 ini, memiliki angka kematian sekitar 2,3%. Orang-orang yang berusia lanjut atau yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya adalah yang paling berisiko mengalami serangan parah atau komplikasi. Gejala umumnya adalah demam, batuk kering dan sesak napas, dan pada kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia.

MERS-CoV
MERS-CoV
(Kredit: Shutterstock)

Virus inilah yang menyebabkan sindrom pernapasan Timur Tengah, atau Middle East respiratory syndrome (MERS), memicu wabah di Arab Saudi pada 2012 dan  di Korea Selatan pada tahun 2015. Virus MERS milik keluarga virus yang sama dengan SARS-CoV dan SARS-CoV-2, dan kemungkinan berasal dari kelelawar juga. Penyakit itu menginfeksi unta sebelum menular ke manusia dan memicu demam, batuk dan sesak napas pada orang yang terinfeksi.

MERS sering berkembang menjadi pneumonia berat dan diperkirakan memiliki tingkat kematian antara 30% dan 40%, menjadikannya sebagai strain yang paling mematikan dari virus korona yang diketahui yang berpindah dari hewan ke manusia. Seperti halnya SARS-CoV dan SARS-CoV-2, obat MERS belum ditemukan dan juga belum ada vaksin yang disetujui.

Article Resources

06 April 2020

Pengertian dan Manfaat Epidemiologi

Epidemiolog
Ilustrasi ahli epidemiologi (Gambar: https://www.wlns.com/)

Apa itu epidemiologi?
Epidemiologi adalah studi tentang kemunculan, distribusi, dan pengendalian penyakit, kecacatan, dan kematian pada suatu populasi.

Bidang epidemiologi menggabungkan ilmu biologi, kedokteran klinis, sosiologi, matematika dan ekologi dengan tujuan untuk memahami pola masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan manusia di seluruh dunia.

Apa itu epidemiolog?
Kata "epidemiologi" berasal dari bahasa Yunani "epi," yang berarti pada atau menimpa, "demos," yang berarti orang-orang, dan "logia" yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah, epidemiologi adalah studi tentang apa yang menimpa orang-orang.

Dokter Yunani kuno Hippocrates dianggap sebagai bapak epidemiologi. Hidup antara abad keempat dan kelima SM, ketika sebagian besar perawatan dan obat-obatan kala itu mengandalkan takhayul, Hippocrates adalah yang pertama menggunakan pemikiran rasional untuk menghubungkan masalah kesehatan dengan penyebab lingkungan atau alami. Dia menyarankan perawatan seperti pembedahan, modifikasi diet dan pengobatan herbal. Dia juga menciptakan istilah "endemik" (penyakit khusus untuk daerah tertentu) dan "epidemi" (penyakit khusus pada suatu titik waktu). Kata epidemiolog adalah mereka yang mempelajari atau mempraktikkan epidemiologi atau ahli epidemiologi.

Bagaimana epidemiolog bekerja?
Epidemiolog dapat dianggap sebagai dokter umat atau massa. Seorang dokter klinis berbeda dari seorang epidemiolog karena dokter klinis hanya berfokus pada kesehatan masing-masing pasien, dan mendiagnosis serta merawat setiap pasien berdasarkan penilaian klinis, pengalaman dan pengetahuan ilmiah. Sebaliknya, seorang epidemiolog berfokus pada kesehatan kolektif masyarakat dan terkadang populasi manusia secara global.

Epidemiolog bekerja dengan memahami sumber penyakit dan efek kesehatan negatif lainnya, dan memperkirakan berapa banyak orang yang akan terpapar dan bagaimana penyakit ini dapat menyebar pada suatu populasi.

Epidemiolog menggunakan statistik, model matematika dan biologi dan pengetahuan ilmiah untuk menentukan tindakan kesehatan masyarakat yang tepat untuk mengendalikan dan mencegah masalah kesehatan.

Meskipun umumnya terkait dengan penyakit menular dan wabah, epidemiolog juga dapat mempelajari masalah kesehatan yang tidak menular, seperti prevalensi kanker paru-paru akibat merokok atau peningkatan laju bunuh diri di masyarakat. Meskipun penyebab masalah kesehatan ini mungkin berbeda, tapi alat dan metode yang digunakan para epidemiolog untuk menyelidiki masalah ini adalah sama.

Segitiga epidemiologi (trias epidemiologi)
Sebagai seorang detektif penyakit, setiap epidemiolog membutuhkan 'kotak' peralatan ekstensif untuk menemukan dan menyelidiki petunjuk. Dan di pusat setiap 'kotak' peralatan epidemiologis adalah apa yang disebut segitiga epidemiologi.

Segitiga adalah model untuk menjelaskan hubungan antara penyebab penyakit dan kondisi yang memungkinkannya untuk bereproduksi atau menyebar. Segitiga memiliki tiga sudut yang mewakili "siapa, apa dan di mana". "Siapa" adalah inang, atau orang yang memiliki penyakit. "Apa" adalah agen, atau penyebab penyakit. Dan "di mana" adalah lingkungan, atau faktor eksternal yang memungkinkan dan membantu dalam penularan penyakit.

Segitiga epidemiologi
Segitiga epidemiologi (Gambar: Wiki Common)

Manfaat epidemiologi
Tujuan dari seorang epidemiolog adalah untuk mengungkap informasi yang dapat membantu memutuskan setidaknya satu tautan antara sudut-sudut segitiga, memutus hubungan antara inang, agen dan lingkungan, dan menghentikan penyebaran penyakit.

Di masa lalu, jika seorang dokter menemukan organisme yang telah membuat orang sakit, sebagian orang mungkin berpikir bahwa masalah telah diselesaikan. Tapi sekarang kita tahu bahwa menemukan organisme saja tidaklah cukup. Epidemiologi adalah disiplin integratif, memahami bagaimana inang dan lingkungan berinteraksi untuk menyebabkan penyakit. Melalui penggunaan desain penelitian dan teknik analitik canggih, ahli epidemiologi dapat menggunakan informasi keduanya tentang manusia, atau inang, termasuk faktor risiko genetik, dan organisme.

15 March 2020

Kalkulator IMT, Ukur Berat Badan Ideal Anda

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan indikator sederhana dari korelasi antara tinggi dan berat badan Anda. IMT digunakan untuk mengukur ideal atau tidaknya berat badan, dan merupakan cara pengukuran yang baik untuk menilai risiko penyakit yang dapat terjadi akibat berat badan berlebih.

Jika IMT Anda di atas 25 maka Anda termasuk gemuk dan jika IMT Anda di bawah 18,5 maka Anda termasuk kurus. Semakin tinggi angka IMT Anda, makin tinggi pula risiko Anda untuk menderita penyakit tertentu.

Dibawah ini kami sediakan kalkulator untuk menghitung IMT atau BMI Anda.

Instruksi penghitungan:
- Pilih jenis kelamin
- Masukkan berat dalam kilogram > pilih kg
- Masukkan tinggi badan dalam cm > pilih cm
- Klik "Hitung"


Kalkulator Indeks Massa Tubuh (BMI)
Masukkan Data
Kelamin Pria Wanita
Berat
Tinggi
Hasil
Body Surface Area m2
Lean Body Weight kg = lbs
Ideal Body Weight kg = lbs
Body Mass Index (BMI) kg/m2 =
Interpretasi dari hasil penghitungan
BMI < 17 Sangat Kurus
BMI 17.0 - 18.5 Kurus
BMI 18.5 - 24.9 Normal
BMI 25.0 - 29.9 Gemuk
BMI 30.0 - 34.9 Obesitas Level I
BMI 35.0 - 39.9 Obesitas Level II
BMI ≥ 40 Obesitas Level III


Keterangan:
  • Body surface area; Perkiraan luas permukaan luar tubuh yang dinyatakan dalam m2. Digunakan untuk menghitung metabolisme, elektrolit, kebutuhan nutrisi, dosis obat, pengukuran fungsi paru dll.
  • Lean body weight; Perkiraan berat murni seseorang tanpa lemak. Total berat seseorang adalah lean body weight ditambah dengan lemak. Persentase berat total lemak tiap-tiap orang berbeda-beda, namun berkisar antara 10-40% dari berat total tubuh.
  • Ideal Body Weight; Ini adalah berat ideal Anda seharusnya. Berat tubuh berbanding tinggi badan

Menghitung IMT secara manual

Untuk menghitung IMT secara manual, berikut rumusnya:

http://www.medkes.com/2013/11/kalkulator-imt-ukur-berat-badan-ideal.html
Langkah sederhana menggunakan rumus di atas adalah:
  1. Bagi tinggi badan dengan angka 100, lalu kuadratkan hasilnya.
  2. Bagi berat badan dengan hasil pada poin 1.
Contoh : Seseorang dengan tinggi 160 cm dan berat 60 kg.
  1. 160 / 100 = 1,6. Selanjutnya 1,6 x 1,6 = 2,56.
  2. 60 / 2,56 = 23, 4. Inilah IMT-nya.
Meskipun IMT pada umumnya dapat digunakan pada pria dan wanita, namun ada pengecualian:
  • Tidak berlaku bagi orang-orang yang membangun otot, seperti olahragawan/atlet.
  • Tidak berlaku bagi orang yang kehilangan massa ototnya atau massa otot abnormal.
  • Bukan perhitungan yang akurat untuk orang yang berusia lanjut.

Faktor risiko terkait obesitas

Jika dalam kondisi gemuk atau obesitas, Anda memiliki risiko terhadap beberapa kondisi kesehatan di seperti di bawah ini :
  • Penyakit jantung
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Kolesterol LDL tinggi (kolesterol "jahat")
  • Kolesterol HDL rendah (kolesterol "baik")
  • Trigliserida tinggi
  • Diabetes (glukosa darah tinggi).
Untuk orang-orang yang gemuk (BMI 25-29,9) dan obesitas (IMT lebih besar atau sama dengan 30) memiliki dua atau lebih faktor risiko diatas, sangat disarankan untuk menurunkan berat badan. Penurunan berat badan 5 hingga 10% dari berat badan Anda saat ini (gemuk/obesitas) akan sangat membantu menurunkan risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda berada dalam risiko tersebut atau apakah Anda harus segera menurunkan berat badan. Dokter akan mengevaluasi IMT Anda, lingkar pinggang dan faktor risiko lain.

13 March 2020

7 Tanda Gangguan Mata pada Anak-anak

Tanda-tanda Gangguan Mata pada Anak-anak

Banyak hal tidak diinginkan yang mungkin saja menimpa anak-anak kita yang sedang tumbuh. Bagi orangtua cerdas dan perhatian mungkin saja akan mudah mengenali gejala-gejala gangguan mata pada anaknya.

Jika sudah mengetahui bahwa mata anak kita bermasalah, segeralah ke dokter. Jika hal ini dibiarkan, maka akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah pada matanya, selain akan mempengaruhi perkembangan anak.

Berikut adalah 7 tanda gangguan mata pada anak-anak

1. Matanya meradang atau berair
Mata yang meradang atau berair bisa disebabkan karena seringnya anak menggosok-gosok kelopak matanya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mata lelah, mata kering, konjungtivitis, alergi, lecet pada mata, hingga blefaritis (peradangan kelopak mata). Jika disebabkan oleh mata yang lelah, cari tahu penyebabnya, apakah karena ia terlalu sering menonton main gadget, TV, komputer, atau karena intensitas belajarnya yang tinggi.

2. Berkedip dan mengerutkan kelopak mata
Sering berkedip atau mengerutkan kelopak mata bisa jadi merupakan indikasi bahwa si anak sedang mengalami suatu gangguan mata, diantaranya: otot mata tegang, gangguan penglihatan, gangguan pergerakan mata (distonia mata), hingga masalah kesehatan mental dan fisik. Kondisi ini harus segera ditangani.

3. Menutup satu mata
Anak-anak, jika penglihatan mereka ganda atau kabur karena satu mata tidak normal, maka mereka akan belajar menutup mata itu. Di situlah orang tua perlu mengawasi. Jika anak secara konsisten menutup sebelah matanya, terutama ketika mereka berkonsentrasi pada pelajaran atau tugas, maka itu sudah menjadi tanda merah untuk segera ke dokter spesialis mata.

4. Memiringkan kepala
Memiringkan kepala mungkin akan dilakukan anak-anak yang sedang berusaha untuk memfokuskan matanya. Ini menjadi pertanda bahwa penglihatan si anak mungkin lebih baik di satu mata daripada yang lainnya. Waspadai hal ini.

5. Sering menangis dan sakit kepala
Ini juga merupakan salah satu ciri anak menderita suatu gangguan mata. Otot mata yang tegang dapat menyebabkan anak kesulitan memusatkan mata bersama-sama sehingga menyebabkan sakit kepala. Segera periksakan ke dokter.

6. Enggan bermain di alam terbuka
Perhatikan bila anak memiliki tanda seperti ini. Bermain di alam terbuka biasanya memerlukan penglihatan jauh, anak yang memiliki gangguan dalam melihat jauh biasanya "lemah" dalam aktivitas bermainnya di alam terbuka. Ini sudah menjadi gangguan penglihatan awal.

7. Perubahan perilaku
Jika anak melakukan sesuatu yang lain dari biasanya, itu bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami masalah penglihatan. Misalnya, ia biasa duduk jauh dari TV dan sekarang duduk dekat. Dia dulu bisa secara konsisten menangkap bola bisbol dan sekarang tidak bisa lagi. Atau, dia sekarang sering salah menyalin apa yang dituliskan gurunya di papan tulis. Hal ini menjadi pertanda bahwa si anak mengalami rabun jauh.

Article resources