Fungsi, Jenis dan Efek Samping Antibiotik

Friday, May 23, 2014
Antibiotik

Antibiotik adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengobati, dan dalam sebagian kasus bisa mencegah infeksi oleh bakteri.

Antibiotik dapat digunakan untuk kondisi penyakit yang relatif ringan seperti jerawat hingga yang berpotensi mengancam jiwa seperti pneumonia (salah satu jenis infeksi paru-paru). Namun, adakalanya antibiotik tidak berguna pada beberapa jenis infeksi, dan menggunakannya hanya akan meningkatkan risiko resistensi antibiotik, karena itulah antibiotik tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Menggunakan antibiotik

Penggunaan antibiotik harus didasarkan pada leaflet yang terdapat pada obat, atau menurut anjuran dokter atau apoteker.

Antibiotik dapat diberikan dalam tiga cara:
  • Antibiotik oral - tablet, pil, kapsul atau sirup.
  • Antibiotik topikal - salep, lotion, semprotan atau tetes, yang sering digunakan untuk mengobati infeksi kulit.
  • Antibiotik suntikan - dapat diberikan dalam bentuk suntikan langsung atau melalui infus ke dalam aliran darah atau otot, biasanya antibiotik suntikan hanya diberikan pada orang dengan penyakit yang serius.
Sangat penting untuk terus mengonsumsi antibiotik sampai penyakit Anda tuntas atau dengan kata lain mengikuti petunjuk dokter, meskipun Anda merasa sudah jauh lebih baik. Jika Anda berhenti mengonsumsi antibiotik padahal bakteri penyebab penyakit Anda masih ada, maka bakteri itu akan bangkit kembali dan menjadi lebih kebal atau resisten terhadap antibiotik.

Lupa mengonsumsi antibiotik

Jika Anda lupa meminum antibiotik, maka minumlah segera disaat Anda ingat dan kemudian lanjutkan seperti waktu dan dosis seperti biasa. Namun, jika waktu Anda ingat sudah hampir memasuki waktu untuk dosis berikutnya, maka lewatkan saja dosis yang terlupakan itu. Jangan mengonsumsi dua dosis antibiotik sekaligus untuk mengganti "kelupaan" Anda. Ingat, minum dua dosis antibiotik dalam jarak waktu yang berdekatan akan meningkatkan risiko efek samping.

Sebelum mengonsumsi antibiotik, ada baiknya Anda tanyakan terlebih dahulu ke dokter mengenai apa yang harus dilakukan seandainya kejadian seperti ini terjadi, karena tidak semua antibiotik dapat diperlukan seperti cara diatas. Hal ini untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Sengaja menambah dosis

Bila Anda sengaja mengonsumsi dosis lebih antibiotik, maka secara umum tidak akan membahayakan. Namun, hal ini akan meningkatkan risiko efek samping seperti sakit perut dan diare.

Jika Anda tidak sengaja mengonsumsi antibiotik melebihi dosis yang disarankan dan Anda khawatir atau mengalami masalah efek samping yang mengganggu, maka bicarakanlah dengan dokter.

Jenis antibiotik

Saat ini terdapat ratusan jenis antibiotik, namun kebanyakan diantaranya terklasifikasi dalam enam kelompok jenis antibiotik, yaitu:
  • Penisilin, umum digunakan untuk mengobati berbagai infeksi, seperti infeksi kulit dan infeksi saluran kemih.
  • Sefalosporin, digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi, juga efektif untuk mengobati infeksi yang serius seprti septicaemia dan meningitis.
  • Aminoglikosida, cenderung hanya digunakan untuk mengobati penyakit serius seperti meningitis, karena dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti gangguan pendengaran dan kerusakan ginjal.
  • Tetrasiklin, digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi. Tetrasiklin umum digunakan untuk mengobati jerawat sedang sampai berat dan kondisi lain pada kulit wajah yang disebut dengan rosacea, yang menimbulkan kemerahan dan bintik-bintik pada kulit.
  • Makrolida, sangat efektif mengobati infeksi paru-paru. Makrolida juga menjadi antibiotik alternatif pada mereka yang alergi terhadap penisilin atau untuk membunuh bakteri yang kebal terhadap penisilin.
  • Fluoroquinolones, merupakan antibiotik spektrum luas jenis baru yang efektif untuk berbagai macam infeksi.
Efek samping

Kebanyakan antibiotik (dengan pengecualian aminoglikosida) tidak menimbulkan masalah atau efek samping serius pada orang-orang (kecuali yang memiliki alergi). Efek samping yang paling sering terjadi ketika mengonsumsi antibiotik, antara lain:
  • Perasaan sakit.
  • Kembung dan gangguan pencernaan lainnya.
  • Diare
Sekitar 1 dari 15 orang memiliki reaksi alergi terhadap antibiotik, khususnya penisilin dan sefalosporin. Meksipun jarang terjadi, namun reaksi alergi ini dapat menyebabkan kondisi alergi yang serius (anafilaksis), yang merupakan suatu keadaan darurat medis.

Konsiderasi dan interaksi

Beberapa jenis antibiotik tidak cocok atau bahkan bisa berbahaya pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu, atau wanita hamil atau menyusui. Anda hanya boleh mengonsumsi antibiotik yang khusus diresepkan untuk Anda. Jangan pernah mengonsumsi antibiotik yang bukan diresepkan untuk Anda (seperti dari teman atau kelurga) meskipun nyata khasiatnya bagi orang lain tersebut.

Beberapa jenis antibiotik dapat memiliki reaksi yang tak terduga bila dikombinasikan dengan obat lain, misalnya pil kontrasepsi dan alkohol. Oleh karena itu sangat penting sekali untuk membaca leaflet yang tertera pada kemasan obat dengan seksama atau dengan meminta saran dokter.

Resistensi antibiotik

Organisasi-organisasi kesehatan di seluruh dunia saat ini tengah mencoba mengurangi penggunaan antibiotik, terutama untuk kondisi penyakit yang tidak serius. Hal ini dilakukan untuk memerangi masalah resistensi terhadap antibiotik, yang ketika bakteri sudah resisten atau kebal maka tidak akan bisa lagi diobati dengan satu atau beberapa jenis antibiotik.

Resistensi antibiotik dapat terjadi dalam beberapa cara.

Dari waktu ke waktu, daya tahan bakteri dapat bermutasi yang akhirnya membuatnya resisten terhadap antibiotik jenis tertentu. Risiko resistensi ini akan meningkat ketika seseorang tidak mengonsumsi antibiotik secara tuntas (dengan saran dokter) karena bakteri akan bangkit kembali dan menjadi semakin kebal.

Antibiotik dapat membunuh banyak bakteri berbahaya yang hidup di dalam tubuh. Namun bakteri yang sudah resisten akan dengan cepat berkembang biak untuk menggantikan bakteri-bakteri yang sudah mati itu.

Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama atau sering meskipun sesuai anjuran dokter akan meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Termasuk penggunaan antibiotik untuk kondisi-kondisi penyakit ringan.

Yang paling parah adalah munculnya 'superbugs'. Ini adalah bakteri yang sudah kebal terhadap berbagai jenis antibiotik, diantaranya:
  • Meticillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
  • Clostridium difficile (C. diff).
  • Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis resisten terhadap berbagai obat (MDR-TB)
Tipe-tipe infeksi diatas bisa sangat serius dan sukar untuk diobati, dan menjadi penyebab meningkatnya kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Sebagai contoh, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa ada sekitar 170.000 kematian akibat MDR-TB setiap tahun.

Sedangkan kekhawatiran terbesar adalah munculnya bakteri kebal baru yang tidak lagi mempan terhadap semua jenis antibiotik yang ada. Tanda-tandanya sudah ada dengan kemunculan jenis bakteri yang disebut dengan New Delhi metallo-beta-lactamase (NDM-1), yang dinilai sangat resisten terhadap semua jenis antibiotik.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.