Septikemia: Gejala, Komplikasi, dan Pengobatan

Friday, May 15, 2015
Septikemia (septicaemia) terjadi ketika bakteri jenis tertentu masuk ke dalam aliran darah. Jika tidak diobati, septikemia dapat berakibat fatal. Biasanya mereka yang terkena septikemia adalah orang-orang yang sebelumnya telah menderita suatu penyakit atau kondisi medis tertentu. Pilihan utama pengobatan untuk septikemia adalah antibiotik, yang digunakan untuk mengatasi infeksinya. Istilah lain untuk septikemia adalah bakteremia atau keracunan darah.

Septikemia

Septikemia adalah suatu kondisi dimana terjadi multiplikasi bakteri penyebab penyakit di dalam darah. Tubuh manusia ibarat tuan rumah bagi berbagai jenis bakteri yang hidup dengan leluasa di berbagai lokasi tubuh seperti mulut, kulit, usus, dan saluran kemih. Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan masalah jika mereka masuk ke aliran darah, apalagi jika orang tersebut sedang dalam kondisi tidak sehat atau sistem kekebalan tubuhnya lemah sehingga tidak mampu melawan serangan organisme tersebut.

Itulah sebabnya mengapa orang yang sebelumnya memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami septikemia. Infeksi berat seperti infeksi paru-paru, seringkali juga menyebabkan septikemia. Persentase kasus septikemia yang menyebabkan kefatalan adalah satu dari empat kasus, ini karena efek dari pertumbuhan bakteri yang besar dan racun yang mereka lepaskan di dalam darah. Bakteri yang paling sering bertanggung jawab untuk septikemia adalah Escherichia coli (E. coli), Pneumococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Staphylococcus dan Streptococcus. 

Gejala septikemia

Septikemia seringkali tidak disertai dengan gejala. Bila disertai gejala, biasanya terjadi:
  • Demam tinggi mendadak dan menggigil
  • Merasa terus-terusan tidak sehat
  • Gejala-gejala gangguan gastrointestinal, seperti mual, muntah dan diare
  • Sakit perut
  • Bingung dan cemas
  • Sesak napas
  • Takikardia (denyut jantung cepat).
Tubuh yang sehat akan melawan septikemia

Memiliki kesehatan tubuh yang baik merupakan pencegah atau pertahanan terbaik terhadap septikemia. Sistem kekebalan tubuh biasanya sanggup mengatasi invasi bakteri skala kecil di dalam aliran darah dengan sangat cepat, sehingga bakteri tersebut tidak memiliki kesempatan untuk berkembang apalagi sampai menimbulkan gejala. Menyikat gigi misalnya, dapat mendorong bakteri mulut masuk ke dalam aliran darah melalui gusi, meskipun hanya menyebabkan septikemia jangka pendek. Namun orang sebelumnya sudah memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu akan lebih berisiko terkena septikemia karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah lemah dan tidak lagi mampu melawan bakteri. Selain itu, bayi yang baru lahir dan lansia juga termasuk kelompok yang rentan terkena septikemia.

Kondisi yang berisiko tinggi

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena septikemia, antara lain:
  • Penyakit berat atau kronis
  • Penyakit atau kondisi medis tertentu, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit hati dan penyakit ginjal
  • Pneumonia bakterial berat
  • Luka bakar pada kulit
  • Abses
  • Penyakit atau pengobatan yang memprovokasi ulserasi pada perut
  • Penyalahgunaan zat, seperti alkohol
  • Penggunaan narkoba suntikan
  • Malnutrisi, yang membuat lemah sistem kekebalan tubuh
  • Pengobatan antibiotik jangka panjang, yang akan mengubah rasio bakteri di dalam tubuh karena membunuh beberapa jenis bakteri sedangkan yang lainnya tidak
  • Immune suppression therapy, seperti yang diterapkan untuk mengelola infeksi HIV
  • Luka terbuka.
Perawatan medis juga dapat menyebabkan septikemia

Jika seseorang menjalani perawatan medis yang menggunakan peralatan invasif, misalnya kateter, selalu ada risko bakteri untuk masuk ke dalam tubuh mereka. Contoh perawatan invasif medis yang dapat menyebabkan septikemia, antara lain:
  • Beberapa jenis perawatan gigi, seperti drainase abses
  • Pembedahan pada lokasi yang secara alami mengandung bakteri, seperti perut
  • Pemasangan artificial part untuk jangka waktu lama, seperti sendi prostetik
  • Kateter kandung kemih, biasa dipasang pada orang dengan infeksi saluran kemih
  • Penggunaan jarum infus jangka panjang
  • Lubang ostomy, seperti kolostomi (usus bermuara melalui lubang hasil pembedahan pada dinding perut, tidak melalui anus).
Komplikasi septikemia bisa fatal

Jika tidak mendapatkan pengobatan, septikemia dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan berpotensi mematikan, seperti:
  • Endokarditis - peradangan pada lapisan dalam jantung (endokardium)
  • Perikarditis - peradangan pada membran yang membungkus jantung (perikardium)
  • Meningitis - peradangan pada meninges, membran yang melapisi otak
  • Osteomielitis - infeksi tulang
  • Arthritis - infeksi sendi
  • Syok septik - penurunan tekanan darah, yang dapat menyebabkan kegagalan organ. Kondisi ini juga dikenal sebagai sepsis.
Metode mendiagnosis septikemia

Septikemia didiagnosis berdasarkan riwayat medis pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah di laboratorium untuk mengetahui keberadaan bakteri di dalam darah. Darah kemungkinan juga akan diuji dan dikultur beberapa kali untuk mengidentifikasi bakterinya. Tes diagnostik lainnya yang juga dapat dilakukan adalah pada:
  • Urin
  • Cairan serebrospinal
  • Nanah dari abses
  • Dahak dari paru-paru.
Pilihan pengobatan septikemia

Septikemia diobati dengan pemberian antibiotik secara intravena. Karena pengobatan yang cepat dapat menyelamatkan nyawa pasien, dokter mungkin saja segera memulai pengobatan dengan antibiotik, bahkan sebelum hasil tes keluar dari laboratorium. Dalam kasus ini, dua atau bahkan tiga jenis antibiotik mungkin diberikan pada waktu yang bersamaan. Jika hasil tes telah mengindentifikasi jenis bakteri yang menyebabkan septikemia dan antibiotik yang tepat untuk menyembuhkannya, maka pengobatan akan diubah dengan antibiotik khusus untuk membunuh jenis bakteri yang menyebabkannya. Pilihan pengobatan septikemia lainnya tergantung dari penyebab infeksi dan ada tidaknya komplikasi, tetapi mungkin termasuk:
  • Pengangkatan peralatan medis invasif - misalnya kateter
  • Operasi pengangkatan atau drainase di lokasi infeksi primer, seperti abses
  • Cairan infus untuk membantu menjaga tekanan darah (dalam kasus syok septik)
  • Obat intravena untuk meningkatkan tekanan darah (dalam kasus syok septik).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.