Fungsi, Sumber dan Dosis Vitamin A

Wednesday, April 23, 2014
Vitamin A

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang memiliki fungsi penting bagi tubuh, diantaranya:
  • Membantu sel bereproduksi secara normal, proses ini disebut diferensiasi sel.
  • Menjaga kualitas penglihatan - tanda awal dari kekurangan vitamin A adalah penglihatan yang buruk di malam hari.
  • Diperlukan dalam perkembangan embrio dan janin. 

Vitamin A juga membantu menjaga kesehatan kulit dan selaput lendir yang melapisi hidung, sinus, dan mulut. Vitamin A juga memainkan peran penting pada sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan, pembentukan tulang, proses reproduksi, dan penyembuhan luka.

Vitamin A berasal dari dua sumber. Satu dari sumber hewani yang disebut sebagai retinoid, termasuk retinol. Dan sumber kedua dari tumbuhan yang disebut karotenoid, termasuk beta-karoten. Tubuh akan mengubah beta-karoten menjadi vitamin A.

Di negara-negara maju sudah sangat jarang ditemukan kasus kekurangan vitamin A. Gejala kekurangan vitamin A antara lain, mata kering, buta malam hari, diare, dan masalah kulit.

Vitamin A penting bagi kesehatan tubuh, tapi juga dapat menjadi racun bila dikonsumsi dalam dosis tinggi. Jangan pernah mengonsumsi vitamin A lebih dari yang direkomendasikan oleh dokter.

Jerawat, psoriasis, dan gangguan kulit lainnya

Obat oral atau obat krim yang mengandung retinoid (bentuk sintetis dari vitamin A) tidak hanya bermanfaat untuk membantu mengatasi jerawat yang parah dan psoriasis (penyakit autoimun pada kulit), tetapi juga dapat mengatasi gangguan kulit lainnya, seperti penuaan dini akibat sinar matahari dan kutil. Namun penggunaan obat-obatan ini harus dibawah pengawasan dokter.

Isotretinoin (Accutane), jenis obat oral untuk jerawat, dapat menyebabkan efek samping yang serius dan tidak boleh digunakan oleh wanita hamil atau wanita subur yang ingin memiliki keturunan.

Gangguan mata

Untuk menjaga kualitas penglihatan, seseorag harus mendapatkan vitamin A yang cukup, sumber terbaiknya adalah dari makanan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang cukup mengonsumsi vitamin A, kemungkinannya untuk terkena degenerasi makula akibat usia menjadi lebih rendah. Selain itu, sebuah penelitian pada populasi yang besar menemukan bahwa orang yang memperoleh cukup vitamin A dari makanan memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena katarak. Namun para peneliti masih tidak yakin apakah suplemen vitamin A juga sama khasiatnya dengan vitamin A yang diperoleh dari sumber alami.

Ada pula penelitian lain yang menunjukkan bahwa suplemen vitamin A masih membantu dalam memperlambat kerusakan akibat retinitis pigmentosa, suatu penyakit keturunan yang menyebabkan buruknya penglihatan di malam hari. Penelitian ini sendiri menggunakan vitamin A dosis tinggi, yang kita tahu akan menjadi racun atau berdampak buruk bagi tubuh.

Campak

Vitamin A dapat mengurangi tingkat keparahan dan komplikasi akibat penyakit campak. Anak-anak yang kurang vitamin A lebih berisiko terkena infeksi, termasuk campak. Di daerah-daerah dunia dimana penduduknya banyak kekurangan vitamin A, terjadi persentase kematian sebesar 1 % akibat campak. Oleh karena itu WHO merekomendasikan pemberian suplemen vitamin A pada anak yang terserang campak. Namun jika si anak ternyata tidak kekurangan vitamin A, maka vitamin A tidak akan membantu mengurangi keparahan dan komplikasi akibat campak. Jangan pernah memberikan suplemen vitamin A kepada anak-anak tanpa pengawasan dokter.

Penyakit inflamasi usus (Inflammatory Bowel Disease/IBD)

Orang dengan IBD, baik penyakit ulcerative colitis maupuan Crohn, memiliki kesulitan dalam menyerap semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh mereka. Oleh karena itu ahli kesehatan merekomendasikan bahwa orang dengan IBD harus mengonsumsi multivitamin, termasuk vitamin A.

Kanker

Apakah vitamin A dapat menurunkan risiko kanker masih belum jelas. Orang-orang yang memakan makanan sehat yang cukup beta-karoten dan karotenoid diyakini memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker jenis tertentu, seperti kanker payudara, usus besar, esofagus, dan kanker leher rahim. Dan dalam sebuah penelitian di laboratorium dengan menggunakan tabung uji, vitamin A dan beta-karoten dapat membantu memerangi beberapa jenis kanker.

Tetapi belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa suplemen vitamin A dapat membantu mencegah atau mengobati kanker. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal itu bisa berbahaya. Mendapatkan vitamin A dan beta-karoten dari suplemen malah dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena kanker paru-paru pada perokok atau peminum alkohol. Namun, hal ini juga masih belum jelas dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sebuah studi awal menunjukkan bahwa bentuk topikal dari vitamin A dapat mengurangi pertumbuhan sel-sel abnormal pada leher rahim, yang disebut neoplasia serviks.

Para peneliti juga menyelidiki retinoid, bentuk sintetis dari vitamin A, untuk efeknya terhadap kanker kulit. Orang-orang yang terkena kanker kulit jenis tertentu cenderung memiliki kadar vitamin A dan beta-karoten yang rendah dalam darahnya. Namun, penelitian apakah pemberian dosis tinggi vitamin A atau beta-karoten dapat mencegah atau mengobati kanker, hasilnya juga beragam dan masih belum jelas.

Sumber vitamin A

Vitamin A, dalam bentuk retinyl palmitate, ditemukan dalam daging sapi dan hati ayam, telur, minyak hati ikan, dan produk susu, termasuk susu yogurt, keju susu, dan mentega.

Tubuh juga dapat menghasilkan vitamin A dari beta-karoten dan karotenoid lain, nutrisi yang larut dalam lemak yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran yang memberikan warna bagi sayuran atau buah tersebut. Sebagian besar sayuran berdaun hijau tua dan kuning dan buah seperti ubi jalar, wortel, labu, melon, aprikot, buah persik dan mangga mengandung beta karoten dalam jumlah besar. Dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan beta-karoten ini, berarti Anda menambah kadar vitamin A dalam tubuh Anda.

Suplemen vitamin A

Suplemen vitamin A tersedia dalam bentuk retinol atau retinyl palmitate.

Tablet atau kapsul vitamin A tersedia dalam berbagai dosis. Batas toleransi atau batas amannya adalah 10.000 IU. Sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter sebelum mencoba mengonsumsi vitamin A, mengingat dosis vitamin A yang beragam dan berapa banyak vitamin A yang diperlukan tubuh Anda. Sebagian besar multivitamin mengandung vitamin A yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda.

Tidak seperti vitamin A, beta-karoten dianggap tidak memiliki efek buruk di dalam tubuh. Namun, ada beberapa bukti bahwa pemberian beta-karoten dosis tinggi dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit.

Dosis dan cara penggunaan vitamin A

Vitamin A akan diserap bersama lemak dalam makanan. Jadi yang terbaik adalah mengonsumsinya bersama makanan.

Penelitan-penelitian seringkali menggunakan vitamin A dosis tinggi. Namun, penggunaan vitamin A dosis tinggi dapat menjadi racun. Terapi dengan vitamin A benar-benar harus dibawah pengawasan ketat seorang ahli kesehatan profesional.

Di bawah ini adalah tabel kebetuhan harian vitamin A berbagai usia

Anak-anak Dewasa
Usia Dosis Usia Dosis
Bayi 0-6 bulan 400 mcg Laki-laki 19 tahun atau lebih 900 mcg
Bayi 7-12 bulan 500 mcg Perempuan 19 tahun atau lebih 700 mcg
Anak-anak 1-3 tahun 300 mcg Wanita hamil 14-18 tahun 750 mcg
Anak-anak 4-8 tahun 400 mcg Wanita hamil 19 tahun atau lebih 770 mcg
Anak-anak 9-13 tahun 600 mcg Wanita menyusui 14-18 tahun 1.200 mcg
Anak laki-laki 14-18 tahun 900 mcg Wanita menyusui 19 tahun atau lebih 1.300 mcg
Anak perempuan 14-18 tahun 700 mcg

Perlu diwaspadai

Karena adanya kemungkinan efek samping dan interaksi obat, konsumsi suplemen vitamin A harus dibawah pengawasan dokter.

Mengonsumsi terlalu banyak vitamin A saat hamil dapat menyebabkan cacat lahir yang serius. Anda tidak perlu mengonsumsi vitamin A dalam bentuk terpisah apabila dalam vitamin prenatal Anda sudah mengandung vitamin A.

Vitamin A sintetis dapat menyebabkan cacat lahir. Wanita yang sedang hamil atau ingin hamil tidak perlu mengonsumsinya.

Terlalu banyak vitamin A dalam tubuh, sama dengan racun, dan dapat menyebabkan kegagalan hati, bahkan kematian. Gejala keracunan vitamin A, antara lain sakit kepala kronis, kelelahan, nyeri otot dan sendi, kulit dan bibir kering, mata kering dan iritasi, mual atau diare, rambut rontok. Vitamin A yang diperoleh dari makanan dianggap aman selama dikonsumsi sesuai kebutuhan.

Orang yang memiliki penyakit hati atau diabetes tidak boleh mengonsumsi suplemen vitamin A tanpa pengawasan dokter.

Para perokok dan peminum alkohol tidak perlu mengonsumsi suplemen beta-karoten.

Vitamin A dan beta-karoten dapat meningkatkan kadar trigliserida, yang merupakan lemak dalam darah. Yang akhirnya akan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung, terutama pada perokok.

Vitamin A umum ditemukan dapat berbagai jenis formula atau produk kesehatan atau kecantikan. Suplemen-suplemen dengan jargonnya "untuk kesehatan," "untuk menambah kekebalan tubuh," "untuk mencegah penyakit," "untuk kesehatan mata," "untuk kulit yang sehat," atau "untuk menyembuhkan jerawat," semuanya itu cenderung mengandung vitamin A. Jika Anda mengonsumsi suplemen-suplemen ini dalam satu waktu, artinya Anda berisiko besar overdosis vitamin A yang akhirnya akan menjadi penyakit di dalam tubuh. Telitilah selalu kandungan obat atau nutrisi yang terdapat di dalam suplemen.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer