Alergi Makanan pada Anak-anak

Wednesday, January 28, 2015
Alergi makanan

Kemungkinan bayi untuk terkena alergi semakin tinggi jika terlahir dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit eksim, asma, atau alergi makanan.

Jika bayi berasal dari keluarga seperti ini, maka sangat disarankan untuk menyusuinya hanya dengan ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Jika memang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI eksklusif karena alasan tertentu, sebaiknya berkonsultasi ke dokter guna mencari solusi susu formula jenis apa yang sebaiknya diberikan pada bayi Anda.

Makanan-makanan yang dapat memicu alergi

Periode dimana sering terjadi alergi adalah saat bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat atau dengan kata lain telah lepas dari periode ASI Eksklusif. Makanan atau bahan makanan yang seringkali memicu alergi pada bayi, antara lain:
  • Susu formula
  • Telur
  • Gandum
  • Kacang-kacangan
  • Biji-bijian
  • Ikan laut dan kerang.
Bukan berarti makanan diatas buruk, hanya saja makanan-makanan tersebutlah yang seringkali menjadi pemicu pada sebagian besar kasus alergi anak. Jangan memberikan makanan-makanan ini sebelum bayi berusia enam bulan.

Banyak anak yang sembuh dari alergi terhadap susu atau telur, namun alergi terhadap kacang seringkali terjadi selama seumur hidup.

Alergi kacang

Sekitar 1-2 persen populasi diketahui mengalami alergi terhadap kacang, produk olahan kacang, dan sebagian jenis biji-bijian. Seorang anak berisiko tinggi mengalami alergi kacang jika sebelumnya ia sudah memiliki alergi lainnya (seperti eksim atau alergi makanan lain), atau terdapat riwayat alergi di dalam keluarga dekat mereka (seperti asma, eksim, atau hay fever).

Jika anak Anda dalam situasi berisiko tinggi seperti diatas, sebaiknya berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memberikannya kacang atau makanan berbahan kacang untuk pertama kalinya.

Sebuah kabar baik, bahwa jika Anda ingin makan kacang atau makanan berbahan kacang (seperti selai kacang) padahal Anda sedang menyusui, maka hal ini tidak dilarang kecuali jika memang Anda sendiri alergi terhadap makanan-makanan itu atau karena dokter melarangnya.

Jangan memberikan kacang atau makanan berbahan kacang pada anak hingga ia berusia enam bulan. Selain itu, jangan memberikan kacang dalam bentuk utuh kepada anak berusia dibawah lima tahun karena dapat membuat mereka tersedak.

Jika anak memang alergi kacang, selalulah membaca label kemasan makanan dengan seksama dan hindari suatu makanan yang meragukan.

Apa ciri anak alergi makanan?

Reaksi alergi makanan dapat berupa satu atau beberapa gejala berikut:
  • Diare
  • Muntah
  • Batuk
  • Sesak napas dan mengi
  • Tenggorokan dan lidah gatal
  • Ruam atau gatal pada kulit
  • Bibir bengkak (gembung)
  • Hidung berair atau buntu
  • Mata merah, sakit atau gatal.
Pada beberapa kasus, alergi makanan dapat berupa reaksi alergi yang berbahaya (anafilaksis) dan mengancam jiwa. Jika Anda mengira anak Anda alergi suatu makanan, jangan mengambil tindakan sendiri, tapi konsultasikanlah dengan dokter.

Bahan aditif dalam makanan

Bahan aditif adalah bahan-bahan yang ditambahkan pada makanan selama proses produksi, pengemasan, atau penyimpanan untuk tujuan tertentu, seperti untuk mengawetkannya, agar tetap aman dikonsumsi untuk waktu lama, dan untuk memberikan warna atau tekstur makanan.

Seluruh bahan aditif makanan biasanya telah melalui pemeriksaan dan penelitian ketat sebelum dinyatakan aman untuk digunakan. Label pada makanan seharusnya menunjukkan bahan aditif dalam komposisinya, seperti nama bahannya, kodenya, atau fungsinya seperti sebagai pewarna atau untuk memberikan tekstur tertentu.

Banyak orang yang ternyata memiliki reaksi alergi terhadap beberapa bahan aditif makanan, namun reaksi alergi terhadap makanan biasa seperti, susu atau soya jauh lebih umum terjadi.

Umumnya makanan olahan mengandung bahan aditif, kadar garam dan gula yang tinggi, dan lemak. Oleh karena itu, makanlah makanan-makanan ini sewajarnya saja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.