Gejala Alergi Telur Pada Anak-anak

Sunday, September 27, 2015
Alergi telur

Sebagian anak-anak mengalami gejala alergi tertentu setelah mengonsumsi telur. Sebagian anak lainnya sangat sensitif sehingga mereka mengalami reaksi alergi, bahkan ketika mereka hanya menyentuh telur. Orangtua sebaiknya memahami bahaya dan reaksi alergi telur pada anak-anak.

Untungnya, sebagian anak-anak yang dulunya memiliki alergi terhadap telur secara bertahap tubuhnya mentolerir telur ketika mereka telah dewasa. Dalam arti kata, mereka telah sembuh dari alergi telur. Salah satu alasan mengapa anak-anak alergi pada telur adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka yang hipersensitif terhadap kandungan protein dalam telur.

Ketika sistem kekebalan tubuh tidak dapat mentolerir telur, maka sistem kekebalan tubuh akan melepaskan zat kimia tertentu yang selanjutnya menyebabkan gejala alergi telur.

Gejala Alergi Telur Pada Anak-anak

Masalah kulit seperti kaligata
Masalah tertentu pada kulit seperti kaligata, eksim, kemerahan, gatal-gatal dan bengkak di sekitar mulut dapat terjadi segera setelah anak mengonsumsi telur.

Masalah pencernaan seperti diare
Beberapa masalah pencernaan seperti diare, sakit perut, mual dan muntah juga menjadi gejala alergi telur pada anak-anak.

Masalah saluran pernapasan seperti pilek
Masalah pada saluran pernapasan seperti hidung yang berair (pilek), bersin-bersin dan pernapasan terasa berat juga dapat terjadi akibat reaksi alergi yang ditimbulkan karena mengonsumsi telur. Gejala ini dapat berubah menjadi berbahaya karena gangguan pernapasan dapat memburuk hingga mengancam jiwa.

Masalah terkait jantung seperti tekanan darah rendah
Sebagian anak-anak yang mengalami alergi telur juga bisa mengalami detak jantung yang cepat dan tekanan darah yang rendah. Ketika tekanan darah mendadak rendah, yang dapat membuat anak pusing atau pingsan, dan menyebabkan syok, segeralah bawa anak ke dokter guna mendapatkan perawatan medis.

Saat ini, telur banyak digunakan dalam banyak makanan, seperti kue dan biskuit. Bahkan, pasta dan puding sangat umum mengandung telur sebagai bahan pembuatnya. Orangtua sebaiknya berhati-hati.

Kondisi alergi telur semacam ini memang hanya terjadi dalam persentase yang sangat kecil dari anak-anak. Tapi orangtua tetap harus berhati-hati karena risiko alergi telur ada pada tiap anak-anak. Jangan sampai mereka mengembangkan reaksi alergi berbahaya (anafilaktik) yang dapat mengancam jiwa.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.