Penyebab, Jenis, dan Pengobatan Inkontinensia Urin

Wednesday, July 30, 2014
Inkontinensia urin

Inkontinensia urin bukanlah penyakit, melainkan merupakan gejala dari suatu penyakit atau masalah kesehatan lain yang mendasarinya. Inkontinensia urin dapat membuat seseorang merasa malu, rendah diri, bahkan frustasi dan depresi. Kabar baiknya, inkontinensia urin dapat ditangani secara efektif dan sangat mungkin disembuhkan.

Inkontinensia urin mengacu pada ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol kandung kemih (bladder). Artinya, jika Anda beser (kebocoran kemih) ketika tertawa, bersin, mengalami kejadian yang mengejutkan dan selalu ingin buang air kecil, maka Anda mengalami inkontinensia urin.

Ada banyak sekali penyebab inkontinensia urin. Inkontinensia urin dapat terjadi akibat dampak dari infeksi saluran kemih, sembelit, minum obat jenis tertentu, stroke, dan prostat yang membesar. Tergantung dari penyebabnya, inkontinensia urin dapat bersifat sementara (akut) atau berkelanjutan (kronis).

Penyebab Inkontinensia Urin

Saluran kemih terdiri dari ginjal (tempat terbentuknya urin), kandung kemih (tempat urin dikumpulkan dan disimpan), dan saluran yang menghubungkan kandung kemih ke luar (uretra). Banyak sekali penyebab inkontinensia urin, yang mana bisa bersifat akut atau kronis.

Inkontinensia urin akut dapat disebabkan oleh:
  • Sembelit
  • Infeksi saluran kemih
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Minum terlalu banyak atau minum cairan yang dapat mengiritasi kandung kemih, seperti minuman berkarbonasi, minuman yang mengandung kafein, buah dan jus jeruk, pemanis buatan, dan termasuk kopi dan teh tanpa kafein.
  • Mengonsumsi obat, seperti obat untuk flu, alergi, depresi, nyeri, tekanan darah tinggi, diuretik, dekongestan dan relaksan otot.
Inkontinensia urin kronis dapat terjadi karena:
  • Otot kandung kemih yang terlalu aktif
  • Terdapat obstruksi pada saluran kemih, seperti batu saluran kemih
  • Otot dasar panggul lemah
  • Stroke
  • Kanker kandung kemih
  • Multiple sclerosis (penyakit kronis pada sistem saraf pusat)
  • Penyakit Parkinson
  • Tumor otak
  • Cedera tulang belakang
  • Interstitial cystitis (radang kronis pada dinding kandung kemih)
  • Penyakit atau cedera yang mempengaruhi sistem saraf dan otot, termasuk diabetes
  • Mobilitas yang minim.
Penyebab khusus inkontinensia urin pada perempuan meliputi:
  • Infeksi atau iritasi pada vagina
  • Kehamilan dan persalinan
  • Ketidakseimbangan hormon terkait menopause
  • Histerektomi (operasi pengangkatan rahim).
Penyebab khusus inkontinensia urin pada laki-laki meliputi:
  • Radang prostat (prostatitis) dan benign prostatic hyperplasia (BPH), yang mengacu pada pembengkakan prostat
  • Kanker prostat dan pengobatan untuk kanker prostat, termasuk radiasi dan pembedahan.

Faktor Risiko Inkontinensia Urin

Ada banyak faktor risiko inkontinensia urin, banyak diantaranya yang bisa diatasi. Misalnya dengan tetap menjaga kenormalan berat badan, tidak merokok, dan mengurangi konsumsi kafein dan alkohol. Semua gaya hidup ini akan menurunkan risiko inkontinensia urin. Mengapa?
  • Kelebihan berat badan terutama orang dengan BMI 30 kg/m2 atau lebih berat akan menyebabkan regangan konstan pada kandung kemih dan otot-otot sekitarnya. Pada gilirannya akan menyebabkan kebocoran urin, misalnya ketika batuk atau bersin.
  • Merokok akan meningkatkan risiko terkena inkontinensia urin karena merokok dapat menyebabkan kandung kemih terlalu aktif karena efek nikotin pada dinding kandung kemih.
  • Konsumsi kafein dan alkohol akan meningkatkan risiko inkontinensia urin karena keduanya bersifat diuretik, yang menyebabkan kandung kemih terisi dengan cepat dan memicu keinginan untuk sering buang air kecil.
Olahraga seperti jogging juga dapat berkontribusi untuk inkontinensia urin, terutama pada perempuan, karena jogging dapat menekan kandung kandung kemih, menyebabkan beser, meskipun hal ini bersifat normal dan sementara.

Jenis kelamin juga merupakan faktor risiko inkontinensia urin. Faktanya perempuan dua kali lebih mungkin mengalami inkontinensia urin ketimbang laki-laki. Hal ini karena kodrat perempuan yang hamil, melahirkan dan menopause. Selain itu, uretra pada perempuan lebih pendek daripada laki-laki.

Berusia lanjut juga menjadi salah satu faktor risiko inkontinensia urin, meskipun hal ini bukanlah kondisi yang normal dalam proses penuaan. Hal ini lebih mungkin disebabkan karena lemahnya kandung kemih dan otot-otot kandung kemih pada orang yang berusia lanjut.

Jenis Inkontinensia Urin

Jenis inkontinensia urin yang paling umum adalah:
  • Inkontinensia stres
  • Inkontinensia urgensi
  • Inkontinensia overflow
  • Inkontinensia mixed (campuran).
Inkontinensia stres
Inkontinensia stres adalah jenis inkontinensia urin yang paling umum terjadi, kabar baiknya inkontinensia ini dapat ditangani, dirawat dan disembuhkan dengan efektif.

Inkontinensia stres merupakan kebocoran kemih akibat otot-otot panggul yang lemah. Batuk, bersin, tertawa, berhubungan badan, mengangkat beban berat atau gerakan yang menimbulkan tekanan atau stres pada kandung kemih dapat menyebabkan stres yang kemudian membuat kebocoran kemih. Inkontinesia stres tidak disertai dengan dorongan untuk buang air kecil. Inkontinensia stres biasanya lebih sering dialami perempuan ketimbang laki-laki.

Inkontinensia urgensi
Seperti halnya inkontinensia stres, inkontinesia urgensi juga terjadi karena kandung kemih yang terlalu aktif, kabar baiknya juga dapat disembuhkan dengan efektif. Inkontinensia urgensi disebabkan karena saraf yang rusak mengirimkan sinyal ke kandung kemih untuk berkontraksi, meskipun kandung kemih tidak dalam keadaan penuh. Hal inilah yang menyebabkan desakan untuk buang air kemih yang sering, biasanya lebih dari 8 kali selama 24 jam. Seringnya berkemih di malam hari juga merupakan gejala dari inkontinensia urgensi, yaitu bangun untuk buang air kecil minimal 2 kali atau lebih pada malam hari. Inkontinensia urgensi merupakan jenis inkontinensia yang paling sering terjadi pada laki-laki. Meskipun inkontinensia urgensi lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut, namun ini bukan dianggap bagian dari proses penuaan.

Inkontinensia overflow
Pada inkontinensia overflow, penderita merasakan kandung kemihnya selalu penuh sebagian. Penderita mungkin akan buang air kecil dalam jumlah yang kecil namun sering. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan dalam mengosongkan kandung kemih. Inkontinensia overflow sering dilaporkan terjadi pada orang-orang yang uretranya terblokir atau karena kerusakan pada kandung kemih, dan orang-orang yang mengalami masalah prostat. Seperti halnya inkontinensia stres dan urgensi, ada beberapa pilihan pengobatan untuk menyembuhkannya.

Inkontinensia mixed (campuran)
Sebagian orang dengan inkontinensia urgensi juga mengalami inkontinensia stres dan juga sebaliknya. Namun hal ini tidak berarti bahwa penyebabnya selalu berhubungan. Para pakar kesehatan akan mampu menemukan penyebab dan pilihan pengobatan yang tepat untuk penderita inkontinensia campuran.

Pengobatan Inkontinensia

Pengobatan inkontinensia akan tergantung dari penyebabnya. Secara garis besar, ada beberapa macam pengobatan untuk inkontinensia, antara lain:
  • Perubahan gaya hidup
  • Obat-obatan
  • Peralatan medis
  • Pembedahan.
Perubahan gaya hidup
Perubahan gaya hidup seringkali dapat membantu seseorang dalam mengatasi inkontinensia, antara lain dengan:
  • Menurunkan berat badan
  • Menghindari minum berlebih dan mengurangi konsumsi kafein
  • Senam Kegel
  • Biofeedback
  • Latihan kandung kemih
  • Manajemen cairan dan diet
  • Penjadwalan waktu buang air kecil.
Obat-obatan
Obat-obatan yang umum digunakan untuk mengatasi inkontinensia urin antara lain:
  • Antispasmodik, termasuk obat-obatan antikolinergik dan relaksan otot polos, yang bekerja untuk merelaksasi kandung kemih.
  • Antibiotik, digunakan untuk mengobati infeksi yang menyebabkan inkontinensia.
  • Terapi penggantian hormon, seperti terapi penggantian estrogen pada perempuan menopause.
  • Obat lain, seperti desmopressin yang merupakan antidiuretik yang menghentikan produksi urin saat Anda tidur.
Peralatan medis
Beberapa peralatan medis yang dapat membantu mengatasi inkontinensia urin antara lain:
  • Urethral insert, menyerupai tampon yang dapat dimasukkan ke dalam uretra perempuan guna mencegah kebocoran urin.
  • Pessary, semacam cincin yang dimasukkan ke dalam vagina untuk mengatasi inkontinensia akibat kandung kemih prolaps atau turun.
  • Penile compression device, klem pada penis yang mencegah kebocoran urin.
  • Kateter, jika inkontinensia adalah karena ketidakmampuan dalam mengosongkan kandung kemih, maka dokter akan menyarankan penggunaan kateter. Kateter adalah selang lunak yang dimasukkan ke uretra untuk menguras kandung kemih.
Pembedahan
Pada sebagian kasus inkontinesia urin, mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan. Ada banyak prosedur pembedahan untuk mengatasi inkontinensia urin, seperti:
  • Pemasangan sfingter urin buatan (katup pengontrol aliran urin dari kandung kemih) untuk laki-laki.
  • Suspensi leher kandung kemih (mengangkat kandung kemih yang kendur).
  • Perbaikan kecacatan anatomi internal.
  • Sacral nerve stimulation.
  • Bulking material injections atau collagen injections (akan memperkuat jaringan di sekitar uretra).
  • Prosedur sling (ditempatkan di bawah uretra).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.