Tanda dan Gejala Kanker Ovarium: Apakah Anda Berisiko?

Tuesday, August 05, 2014
Kanker ovarium

Kanker ovarium menjadi kanker kedelapan yang paling umum terjadi pada wanita, sekaligus menduduki peringkat kelima sebagai penyebab kematian wanita akibat kanker.

Kanker ovarium merupakan 'silent killer', yang berarti gejalanya seringkali tidak muncul pada stadium awal perkembangannya. Gejala kanker ovarium seringkali baru ditemukan pada stadium selanjutnya dimana pada saat itu kanker ovarium sudah sulit disembuhkan. Seandainya pun disertai dengan gejala awal, seperti masalah kencing, sakit perut atau kembung, gejala-gejala ini juga seringkali disangka sebagai gejala penyakit lain dan diabaikan.

Gejala Kanker Ovarium

Gejala kanker ovarium yang paling umum adalah buncit atau kembung di perut, perasaan tertekan atau nyeri di daerah panggul, sakit perut, gangguan makan atau perasaan penuh pada perut, dan gejala kencing seperti sering buang air kecil atau kandung kemih yang selalu terasa berisi.

Gejala lainnya dari kanker ovarium, antara lain sembelit, nyeri saat berhubungan badan, perubahan siklus menstruasi atau perdarahan diantara 2 periode menstruasi, sakit punggung, dan lemah.

Namun bagaimanapun juga, gejala-gejala ini terbilang masih umum, dan kadangkala disebabkan karena gangguan kesehatan lain yang tidak berbahaya ketimbang kanker ovarium, sehingga banyak yang mengabaikannya.

Jika pada saat ini Anda mengalami gejala-gejala seperti diatas, ada beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan:
  • Jika sering sembelit namun dalam waktu yang singkat, dan sembelit Anda sembuh sendiri atau sembuh dengan obat, maka mungkin itu bukan kanker ovarium. Kemungkinan kanker ovarium adalah jika sembelit terjadi lebih lama dari biasanya dan tidak sembuh setelah meminum obat-obat biasa.
  • Jika merasa kembung/buncit setiap kali setelah makan makanan tertentu dan kemudian hilang, besar kemungkinan ini tidak terkait dengan kanker ovarium.
  • Jika sembelit, sakit perut atau panggul sudah berlangsung lebih dari seminggu, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Tipe Kanker Ovarium

Teridentifikasi lebih dari 30 tipe dan subtipe kanker ovarium pada wanita. Tapi sebagian besar para ahli mengelompokkannya dalam satu dari 3 kategori:
  • Tumor epitel. Berasal dari sel-sel epitel atau permukaan yang melapisi ovarium. Tipe ini yang paling umum, sekitar 90% dari seluruh kanker ovarium.
  • Tumor sel germinal. Berasal dari sel-sel ovarium yang akhirnya menjadi telur. Biasanya terjadi pada remaja dan dewasa muda. Tumor yang sering dapat disembuhkan ini mengisi sekitar 3% dari seluruh kasus kanker ovarium di negara-negara berkembang.
  • Sex cord-stromal tumors. Mengisi sekitar 5% dari seluruh kanker ovarium. Berasal dari sel-sel yang berubah menjadi jaringan ikat di dalam ovarium.

Penyebab Kanker Ovarium

Penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui. Para ahli menganalisa beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker ovarium, meski para ahli ini sendiri belum menemukan alasan faktor-faktor risiko tersebut bisa meningkatkan risiko kanker ovarium. Faktor-faktor risiko tersebut adalah:

Berusia lebih dari 50 tahun. Wanita yang berusia lebih dari 50 tahun lebih berisiko dari wanita usia di bawahnya. Sebagian besar kanker ovarium berkembang setelah menopause. Para ahli berspekulasi bahwa perubahan tingkat hormonlah yang menjadi pemicunya, ditambah para wanita yang sudah tua telah mengalami siklus ovulasi yang banyak sepanjang hidup mereka. Memang kasus wanita dibawah usia 40 tahun yang terkena kanker ovarium cukup jarang, tapi ingatlah bahwa kanker ovarium tidak mengenal batasan usia.

Obesitas atau kelebihan berat badan. Wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 30 atau lebih, maka lebih berisko. Ada sebuah teori, bahwa sel lemak mengandung estrogen lebih banyak dari sel-sel lain, meskipun belum diketahui bagaimana peningkatan estrogen ini memainkan peran dalam hal ini.

Belum pernah hamil, atau hamil pertama pada saat berusia lanjut. Wanita yang belum pernah melahirkan memiliki risiko yang lebih tinggi dari yang pernah melahirkan. Dan risiko akan semakin turun setiap kali hamil.

Tidak menyusui. Wanita yang tidak menyusui lebih berisiko daripada wanita yang menyusui.

Penggunaan obat kesuburan. Menggunakan obat kesuburan Clomid dalam kurun waktu lebih dari satu tahun akan meningkatkan risiko kanker ovarium.

Terapi penggantian hormon estrogen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menjalani terapi penggantian estrogen pasca menopause mengalami peningkatan risiko kanker ovarium, terutama jika menggunakan estrogen tunggal (tanpa progesteron) selama 5 tahun atau lebih.

Genetik. Ada keluarga yang pernah terkena kanker ovarium, payudara atau kanker usus besar akan meningkatkan risiko kanker ovarium. Penelitian menyebutkan bahwa 10% dari kanker ovarium memiliki kecenderungan warisan dari keluarga. Risiko akan semakin meningkat jika semakin banyak keluarga yang terkena kanker ovarium.

Mutasi gen. Ada keluarga yang terkena kanker dari mutasi (perubahan) gen, misalnya BRCA1 dan BRCA2, juga akan meningkatkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara. Mutasi gen yang meningkatkan risiko kanker usus besar, juga dapat meningkatkan risiko kanker ovarium.

Kanker payudara. Jika Anda menderita kanker payudara, maka kemungkinan untuk terkena kanker ovarium lebih besar.

Diet tinggi daging. Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang diet rendah lemak atau diet tinggi sayuran memiliki risiko kanker ovarium yang lebih rendah dibandingkan mereka yang diet tinggi lemak (khususnya lemak hewan) dan rendah sayuran.

Kebiasaan merokok dan alkohol. Kedua kebiasaan ini akan meningkatkan risiko tumor ovarium epitel.
Mengungkapkan faktor risiko kanker ovarium tidaklah semudah penyakit jantung atau kanker payudara, karena penyakit ini belum lama diteliti secara intensif.

Diagnosis Kanker Ovarium

Dengan rutin memeriksakan panggul, keberadaan tumor atau pembesaran pada ovarium akan diketahui, meskipun tumor kecil bisa saja tidak terdeteksi dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan pencitraan seperti USG transvaginal dapat mendeteksi adanya kelainan.

Ketika tumor kecil mungkin tidak terdeteksi dengan USG, dokter mungkin juga akan melakukan teknik pencitraan lain seperti CT (computed tomography), MRI (magnetic resonance imaging) atau PET (positron emission tomography) Scan. Semuanya akan memberikan gambar panggul dan organ reproduksi.

Dokter mungkin juga akan melakukan tes darah, yang disebut sebagai CA-125, yang menunjukkan kadar protein marker, yang mana peningkatannya dapat mengindikasikan kanker ovarium. Namun tes ini juga belum tentu akurat karena ada beberapa kondisi lain yang juga bisa meningkatkan kadar CA-125. Dan juga bisa seorang wanita yang sudah terkena kanker ovarium namun kadar CA-125 nya masih normal.

Kanker ovarium baru bisa didiagnosis secara pasti dengan melihat potongan/sampel tumor ovarium dengan mikroskop. Untuk mendapatkan jaringan ovarium yang abnormal, dokter akan melakukan laparoskopi untuk melihat ke dalam abdomen dan panggul dengan semacam tabung panjang yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui sayatan kecil di perut atau panggul. Atau dengan melakukan pembedahan terbuka.

Pengobatan Kanker Ovarium

Pengobatan untuk kanker ovarium terdiri dari operasi, kemoterapi dan terapi radiasi. Terkadang dokter menerapkan dua atau tiga metode ini untuk mengobati kanker ovarium.

Pembedahan mungkin dilakukan untuk menentukan stadium kanker dan mengangkat tumor sebanyak mungkin. Jumlah operasi akan tergantung dari stadium kanker dan kesehatan Anda.

Jika Anda di usia subur, dan terkena kanker ovarium stadium awal, dokter mungkin akan mampu mengobatinya dengan tanpa mengangkat rahim atau ovarium.

Untuk kanker ovarium epitel, kemoterapi melalui intravena biasanya terdiri dari kombinasi obat yang diberikan dalam 6 siklus, yang setiap siklus adalah sekitar 3-4 minggu. Pilihan lainnya yaitu kemoterapi intraperitoneal (IP), diberikan melalui selang tipis yang ditempatkan di dalam perut.

Terapi radiasi yang digunakan untuk mengobati kanker ovarium disebut sebagai radiasi sinar eksternal (external beam radiation). Sebuah mesin (dari luar tubuh) memancarkan radiasi ke daerah yang terserang kanker. Interval penyinaran akan tergantung dari tipe dan stadium kanker ovarium.

Hal yang Perlu Diingat

Sebuah statistik dari American Cancer Society menunjukkan bahwa sekitar 3 dari 4 wanita dengan kanker ovarium hanya bertahan hidup sekitar 1 tahun sejak didiagnosis. Hampir setengah (46%) wanita dengan kanker ovarium masih hidup setidaknya hingga 5 tahun setelah didiagnosis.

Beberapa poin terkait kanker ovarium yang perlu Anda ingat dan antisipasi, yaitu:
  • Pelajari faktor-faktor risiko kanker ovarium, dan cari tahu apakah Anda berada di posisi salah satu faktor risiko tersebut.
  • Pelajari riwayat medis keluarga Anda. Jika keluarga Anda memiliki riwayat kanker payudara, kanker ovarium atau kanker usus besar, segeralah berkonsultasi ke dokter, mungkin Anda perlu tes genetik.
  • Ketahui gejala yang berhubungan dengan kanker ovarium. Jika Anda mengalami gejala-gejalanya selama lebih dari satu minggu, periksakan ke dokter.
  • Rutinlah memeriksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan panggul. Hal ini sangat penting bagi wanita menopause atau yang memiliki faktor risiko kanker ovarium.
  • Jaga berat badan Anda (IMT kurang dari 25). Gunakan kalkulator pengukur IMT Medkes.
  • Diet makanan sehat, dan banyak sayuran. Jangan konsumsi lemak jenuh.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.