Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Anda Obesitas?

Advertisement
Komplikasi diabetes

Obesitas didefinisikan sebagai kondisi medis yang ditandai dengan akumulasi lemak berlebih di tubuh. Kata obesitas berasal dari bahasa Latin "obesus", yang secara kasar dapat diterjemahkan menjadi "makan."

Berdasarkan cara terjadinya, obesitas dibagi menjadi dua kategori:
  • Obesitas eksogen: Obesitas ini disebabkan karena makan lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh. Kelebihan kalori akan diubah tubuh menjadi lemak, yang menyebabkan kenaikan berat badan.
  • Obesitas endogen: Obesitas ini disebabkan oleh kerusakan genetik atau gangguan pada hormon yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Orang obesitas berisiko mengalami penyakit dan komplikasi yang mengancam jiwa.

Perbedaan gemuk dan obesitas

Gemuk dan obesitas adalah dua kondisi yang mirip, namun sebenarnya berbeda secara klasifikasi. Perbedaannya terletak pada klasifikasi BMI (body mass index) atau IMT (indeks massa tubuh). Berdasarkan tabel BMI yang disepakati, yang masuk kategori gemuk adalah yang memiliki indeks 25 sampai 29,9. Sedangkan obesitas memiliki indeks 30 atau lebih.

Apakah orang yang obesitas lebih berat daripada orang gemuk? Tidak selalu. Mungkin saja timbangan Anda lebih berat dari orang gemuk, tapi Anda sehat dan tidak temasuk gemuk. Hal ini karena BMI diukur berdasarkan tinggi dan berat badan seseorang. Orang yang gemuk atau obesitas berarti memiliki berat tubuh melebihi berat idealnya.

Ada orang yang mengalami obesitas, namun tidak memiliki risiko kesehatan. Kejadian yang cukup langka ini dikategorikan sebagai "obesitas metabolisme sehat." Orang yang masuk dalam kategori ini biasanya memiliki BMI tinggi dengan ukuran pinggang besar, namun memiliki kepekaan normal terhadap insulin, dan kadar gula darah, tekanan darah, dan kadar kolesterol normal.

Meskipun begitu, jika Anda masuk ke dalam kategori ini, tidaklah menjamin selamanya Anda akan kebal dari efek negatif obesitas. Kondisi ini tidaklah permanen, Anda mungkin akan segera merasakan komplikasinya, terutama saat menua. Solusinya, turunkan berat badan menjadi ideal sehingga bisa terhindar dari komplikasi merugikan obesitas.

Catatan: Untuk mengukur BMI dewasa, gunakan Kalkulator BMI

Obesitas morbid atau obesitas ekstrem

Karakteristik utama obesitas morbid adalah BMI lebih tinggi dari 40. Kondisi ini harus segera ditangani dengan serius karena dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang berat.

Penyebab obesitas morbid sama seperti penyebab obesitas, yakni genetik, hormon, lingkungan, kebiasaan makan, kemungkinan gangguan mental, dan kondisi medis lain yang mendasarinya. Komplikasi yang bisa timbul juga sama, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke dan kanker.

Berbagai penyebab obesitas

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan obesitas, mulai dari gaya hidup dan kondisi genetik atau keturunan, hingga ketidakseimbangan hormon.

Kurang gerak dan terlalu banyak duduk

Terlalu banyak duduk adalah salah satu penyebab utama obesitas. Jika Anda makan melebihi apa yang dibutuhkan tubuh, dan selalu beraktifitas dengan duduk atau kurang gerak, maka kelebihan kalori akan disimpan tubuh sebagai lemak, yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Diet buruk

Faktor penting lain yang meningkatkan risiko obesitas adalah jenis makanan yang Anda makan. Memakan makanan tinggi gula akan meningkatkan BMI Anda. Alokol juga mengandung banyak kalori, jadi kenaikan berat badan akan terjadi lebih cepat.

Makanan restoran adalah penyebab lain bertambahnya berat badan. Banyak makanan restoran, terutama makanan cepat saji, mengandung banyak kalori, lemak berbahaya, dan gula yang membuat lemak tubuh Anda terus menumpuk. Ditambah lagi konsumsi soda, kenaikan berat badan akan lebih cepat.

Genetik / keturunan

Ada empat kelainan genetik yang terkait dengan obesitas:
  • Sindrom Prader-Willi: Kondisi dengan gejala lemahnya otot, dan tumbuh kembang yang buruk. Sindrom ini yang menyebabkan nafsu makan tak terpuaskan selama masa kanak-kanak.
  • Sindrom Bardet-Biedl: Kondisi ini menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak normal, disertai sejumlah masalah penglihatan, kesulitan kognitif, dan kelainan pada alat kelamin. Anak-anak dengan kondisi ini mungkin memiliki jari ekstra saat dilahirkan.
  • Sindrom Alström: Gejala kondisi ini seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran secara bertahap, kelemahan otot, diabetes tipe 2, obesitas dan perawakan pendek. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi gen ALMS1.
  • Sindrom Cohen: Juga dikenal sebagai sindrom Lada, gejala utamanya meliputi kecacatan intelektual, kepala berukuran kecil dan tonus otot lemak. Obesitas dapat terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja, yang mempengaruhi bagian bawah tubuh saja, sedangkan lengan dan kaki tetap normal.

Selain itu, obesitas dinilai memiliki hubungan dengan genetik atau keturunan, tapi hal ini belum sepenuhnya dipastikan. Kemungkinan Anda mengalami obesitas lebih tinggi jika seseorang atau kedua orangtua Anda mengalami obesitas. Mungkin juga bukan karena genetik, namun karena gaya hidup dalam keluarga Anda. Seperti contoh, seorang anak akan mencontoh kebiasaan makan banyak orangtuanya.

Obat-obatan

Beberapa jenis obat seperti obat antipsikotik, antidepresan, antiepilepsi, kortikosteroid, dan antihiperglikemik jika digunakan dalam jangka panjang akan menyebabkan kenaikan berat badan.

Faktor psikologis

Pada sebagian orang, emosi akan memicu perut menjadi lapar. Bosan, sedih, dan stres adalah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan seseorang makan lebih banyak dari yang tubuh mereka butuhkan.

Gejala obesitas yang perlu diwaspadai

BMI adalah indikator utama yang digunakan untuk mengidentifikasi obesitas dengan menghitung apakah seseorang memiliki berat badan ideal berbanding tinggi badan mereka. Untuk menghitung BMI, berat badan Anda (kilogram) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Perlu digarisbawahi bahwa BMI tidak menunjukkan status kesehatan Anda, tapi menunjukkan status berat badan Anda.

Tabel di bawah ini adalah tabel klasikasi BMI untuk orang dewasa.

BMI Interpretasi
BMI < 17 Sangat Kurus
BMI 17.0 - 18.5 Kurus
BMI 18.5 - 24.9 Normal / Ideal
BMI 25.0 - 29.9 Gemuk
BMI 30.0 - 34.9 Obesitas Level I
BMI 35.0 - 39.9 Obesitas Level II
BMI ≥ 40 Obesitas Level III

BMI anak-anak dan remaja juga dapat dihutung, namun caranya berbeda yakni dinyatakan dalam persentil dengan menggunakan grafik atau kalkulator persentil. Hasilnya akan dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka (BMI - Usia) sesuai standar tinggi badan anak di masing-masing negara atau wilayah. Pengukuran BMI pada anak bisa berbeda karena anak masih tumbuh, sehingga tinggi dan berat badan mereka masih berubah.

Selain memiliki BMI yang tinggi, obesitas dapat menimbulkan masalah dalam sehari-hari, seperti:

Susah atau kesulitan bernapas Keringat berlebih
Mendengkur Lamban atau tidak mampu melakukan aktifitas fisik mendadak
Merasa lelah sepanjang hari Nyeri punggung atau sendi
Malu dan Rendah diri Merasa terisolasi

Selanjutnya, obesitas dapat menyebabkan perubahan internal pada tubuh yang biasanya tidak Anda tidak sadari, namun berpotensi membahayakan kesehatan. Tekanan darah tinggi dan lemak yang memblokir arteri Anda (kolesterol tinggi) dapat terjadi, akibatnya risiko serangan jantung dan stroke meningkat. Pada kasus lain, diabetes tipe 2 dapat muncul secara bersamaan dengan obesitas. Gejala utamanya adalah peningkatan intensitas haus, kelemahan ekstrem, dan peningkatan buang air kecil malam hari.

Efek merugikan obesitas pada tubuh

Obesitas merupakan masalah kesehatan yang harus segara ditangani, karena bisa menimbulkan banyak komplikasi serius. Berikut adalah daftar komplikasi potensial yang bisa timbul akibat obesitas beserta gejalanya:

Diabetes tipe 2

Kebanyakan orang yang mengalami obesitas mengalami diabetes tipe 2, kondisi dimana kadar glukosa (gula darah) tubuh lebih tinggi dari batas normal akibat resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas yang menjaga agar kadar glukosa tubuh tetap normal. Pada diabetes tipe 2, pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk memenuhi permintaan tubuh, sehingga kadar glukosa menjadi tinggi. Gejala dibetes tipe 2 antara lain, sering buang air kecil, lemah, infeksi berulang, dan sakit kepala.

Penyakit kardiovaskular

Obesitas akan secara signifikan meningkatkan risko Anda terkena penyakit jantung koroner, yaitu penumpukan plak pada arteri Anda. Jika plak memblokir aliran darah ke jantung, maka serangan jantung bisa terjadi. Gejala serangan jantung adalah rasa sakit di dada, sesak napas, dan palpitasi.

Selanjutnya, obesitas bisa menyebabkan Anda terkena hipertensi atau tekanan darah tinggi. Pada hipertensi, aliran darah terlalu kuat sehingga menambah beban kerja jantung hingga ke titik kerusakan arteri. Jika dalam beberapa kali pemeriksaan terkanan darah Anda lebih dari 140/90, maka kemungkinan besar anda terkena hipertensi.

Batu empedu

Batu empedu adalah batu keras, seperti deposit kristal yang terbentuk di dalam kantong empedu Anda. Batu empedu biasanya terbentuk dari kelebihan salah satu dari tiga zat ini: kolesterol, empedu, atau bilirubin. Dalam kasus obesitas, batu empedu biasanya terbentuk dari kolesterol, dan ukurannya bisa bervariasi, dari mulai sebesar butiran pasir hingga seukuran bola golf.

Jika tidak menyumbat saluran pankreas, batu empedu biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun jika menyumbat akan menimbulkan rasa sakit hebat di kantong empedu, yang bisa terjadi selama beberapa jam. Biasanya terjadi setelah makan banyak, saat kantong empedu melepaskan empedu ke usus kecil. Mual, demam, urin berwarna teh, dan warna kulit kuning adalah gejala lain yang harus diwaspadai.

Kanker

Telah diamati bahwa jumlah lemak berlebih tubuh dapat berkontribusi pada berbagai bentuk kanker. Hubungannya memang masih belum jelas, namun dokter meyakini bahwa peradangan-peradangan yang disebabkan oleh obesitas dapat secara bertahap merusak DNA dari waktu ke waktu sehingga menyebabkan kanker. Jenis-jenis kanker di bawah ini dikaitkan dengan obesitas:

Kanker endometrium: Wanita gemuk dan obesitas memiliki risiko dua sampai empat kali lebih tinggi untuk mengalami kanker endometrium dibandingkan wanita yang memiliki berat badan normal.
Adenokarsinoma esofagus: Orang obesitas memiliki risiko dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan kanker kerongkongan dibandingkan orang dengan berat badan normal. Risiko akan meningkat hingga empat kali lipat jika kondisi obesitas ekstrem.
Kanker payudara: Wanita obesitas postmenopause memiliki peningkatan risiko kanker payudara. Selain itu, kenaikan BMI 5 poin sudah bisa meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 12 persen.
Kanker lambung: Obesitas menggandakan risiko Anda terkena kanker lambung.
Kanker hati: Kanker ini lebih banyak menyerang pria obesitas dibanding wanita, namun risiko untuk keduanya meningkat dua kali lipat jika BMI mereka tinggi.
Kanker ginjal: Di antara orang obesitas, kanker ginjal adalah jenis kanker ginjal yang paling umum yang bisa berkembang. Memiliki BMI tinggi berarti menggandakan risiko Anda dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal.
Kanker pankreas: Gemuk dan obesitas 1,5 kali lebih mungkin untuk mengembangkan kanker pankreas dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Kanker kolorektal: Pria dan wanita obesitas memiliki risiko 30 persen lebih tinggi untuk mengembangkan kanker kolorektal ketimbang orang dengan berat badan normal.


Osteoarthritis

Nyeri di lutut, punggung, dan pinggul biasanya terjadi pada orang obesitas, karena bobotnya yang berat memberikan teakana lebih pada persendian. Rasa sakitnya mungkin ringan, atau bisa jadi sangat parah sehingga menghambat aktivitas sehari-hari.


Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer