Pengobatan Kanker dengan Kemoterapi

Monday, February 02, 2015
Kemoterapi melalui kanula

Kemoterapi adalah penghancuran sel-sel kanker dengan menggunakan obat. Obat yang digunakan dalam terapi kemoterapi dapat berupa obat oral (tablet) atau, yang lebih umum, berupa obat cair yang disuntikkan langsung ke pembuluh darah. Obat kemoterapi juga dikenal sebagai obat sitotoksik atau anti-kanker.

Banyak jenis obat kemoterapi, yang kesemuanya bekerja dengan membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker. Seperti yang kita ketahui, kanker merupakan kumpulan sel-sel yang tumbuh cepat. Sel-sel tubuh lainnya yang juga tumbuh cepat, seperti sel-sel pembentuk folikel rambut, juga akan terpengaruh karena kemoterapi. Itulah sebabnya mengapa rambut rontok menjadi salah satu efek samping kemoterapi.

Penerapan kemoterapi

Tergantung dari faktor individu pasien, seperti jenis dan stadium kanker, usia dan kesehatannya, kemoterapi dapat diterapkan:
  • Sebagai satu-satunya bentuk pengobatan untuk kanker
  • Bersama dengan terapi radioterapi
  • Sebelum operasi untuk mengecilkan tumor
  • Setelah operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa.
Tujuan kemoterapi

Tujuan utama kemoterapi adalah untuk:
  • Menyembuhkan kanker atau meningkatkan kemungkinan untuk sembuh dari kanker
  • Mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita kanker
  • Meningkatkan peluang hidup penderita kanker.
Dimana kemoterapi dilakukan

Terapi kemoterapi dapat diberikan baik kepada pasien kanker yang dirawat inap di rumah sakit atau rawat jalan (ini lebih umum). Tergantung dari lokasi, jenis dan stadium kanker, obat kemoterapi yang diberikan dapat terdiri dari beberapa jenis. Misalnya jadwal kemoterapi khusus untuk mengobati kanker payudara terdiri penggunaan tiga jenis obat kemoterapi.

Metode pemberian kemoterapi

Pemberian kemoterapi tergantung dari faktor-faktor individu pasien, tetapi biasanya:
  • Melalui injeksi ke pembuluh darah (intravena)
  • Tablet atau kapsul oral.
Kemoterapi sangat jarang diberikan melalui suntikan ke:
  • Kulit (subkutan)
  • Cairan tulang belakang (intratekal)
  • Rongga dada (intrapleural)
  • Rongga perut (intraperitoneal)
  • Arteri.
Seperti apa rasa kemoterapi

Diterapi dengan kemoterapi memang terbilang menyakitkan. Banyak pasien kemoterapi mengeluhkan rasa sakit, panas atau terbakar setelah mendapatkan kemoterapi. Sebagian pasien mungkin merasakan dingin atau sejuk pada saat obat kemoterapi masuk ke aliran darah, hal ini karena cairannya lebih dingin dari suhu tubuh.

Kemoterapi dan penggunaan obat lain

Pasien kemoterapi seringkali dilarang mengonsumsi obat-obat lain selama periode pengobatan kemoterapi. Obat-obat tersebut dapat berupa obat-obat yang dijual bebas, vitamin, atau obat herbal.

Sebelum mengonsumsi suatu jenis obat atau suplemen, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, karena beberapa jenis obat dapat menurunkan efektivitas terapi kemoterapi atau dapat meningkatkan risiko efek samping kemoterapi.

Efek samping kemoterapi

Tidak semua penderita kanker mengalami efek samping akibat kemoterapi. Efek samping biasanya tergantung dari jenis obat kemoterapi yang diberikan, dosis, frekuensi, dan faktor individu itu sendiri. Efek samping yang terjadi akibat kemoterapi dapat berupa gejala ringan atau bahkan parah.

Kabar baiknya, efek samping akibat kemoterapi dapat diatasi dan ada pula langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi efek samping kemoterapi. Jika terjadi efek samping yang parah, yang mungkin dilakukan oleh dokter adalah menghentikan pengobatan, menurunkan dosisnya atau menggantinya dengan obat lain. Efek samping yang umum terjadi akibat kemoterapi, antara lain:
  • Lemah
  • Hilang nafsu makan
  • Mual
  • Muntah
  • Perubahan kerja usus seperti diare atau sembelit
  • Rambut rontok (alopecia)
  • Kadar sel darah merah, sel darah putih dan trombosit menurun
  • Infeksi mulut atau sariawan
  • Masalah pada kulit seperti gatal-gatal atau sensitif terhadap cahaya.
Mengatasi efek samping kemoterapi

Perlu diketahui bahwa hampir semua efek samping kemoterapi biasanya akan hilang setelah pengobatan dihentikan. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi efek samping kemoterapi, antara lain:
  • Minum banyak air selama terapi kemoterapi.
  • Berolahraga ringan.
  • Beraktivitas (keras) hanya pada saat merasa paling bertenaga, mungkin di pagi hari. Tidur siang juga cukup membantu.
  • Makanlah makanan sehat berupa buah segar, sayuran, daging tanpa lemak, sereal gandum, dan produk susu rendah lemak. Hindari makanan berlemak tinggi, pedas, atau yang kaya akan bumbu.
  • Rawat rambut dengan sampo lembut. Hindari perawatan rambut yang keras seperti perwarna, perms, rol rambut, gel dan semprotan.
  • Cobalah gunakan sarung bantal berbahan poliester, katun atau satin, ini akan membuat kulit kepala lebih nyaman.
  • Hindari kontak dengan orang-orang yang jelas-jelas sedang terinfeksi (sepert flu), meskipun tidak ada larangan untuk menghindari keramaian.
  • Cuci tangan sampai bersih setelah keluar dari toilet, sebelum menyiapkan makan dan sebelum makan demi mengurangi risiko tertelan kuman penyebab infeksi.
  • Berhati-hatilah terhadap benda tajam yang dapat melukai, karena kemoterapi dapat membuat darah sulit membeku. Sebaiknya gunakan sarung tangan saat melakukan pekerjaan yang berisiko membuat terluka.
  • Selalu jaga kebersihan mulut. Sikat gigi minimal dua kali sehari. Baik juga untuk membilas mulut dengan air garam empat kali sehari untuk mengurangi risiko masalah bau mulut. Obat kumur juga diperlukan untuk mencegah infeksi dan bisul, namun harus dengan rekomendasi dokter.
  • Jika mengalami infeksi mulut, hindari memakan makanan keras atau renyah. Cobalah makan sup, semur atau es krim.
  • Hindari paparan sinar matahari. Jika sedang berada di luar, gunakan pakaian pelindung (seperti topi lebar dan atasan berlengan) dan gunakan tabir surya (SPF30+) pada kulit yang terkena paparan sinar matahari.
  • Moisturising lotions (krim pelembab) seperti sorbolene dapat membantu mengurangi rasa gatal pada kulit.
  • Jangan mengonsumsi obat-obat herbal kecuali diperbolehkan dokter.
Pemeriksaan rutin selama kemoterapi

Penderita kanker yang menerima pengobatan kemoterapi mungkin perlu pemeriksaan darah secara rutin untuk memastikan keamanan kemoterapi. Sebagian penderita mungkin akan dilakukan scan, seperti CT-Scan untuk melihat seberapa baik obat kemoterapi bekerja.

Laporkan ke dokter

Segera beritahu dokter yang menangani jika selama pengobatan kemoterapi mengalami:
  • Demam tinggi lebih dari 38°C
  • Menggigil atau berkeringat
  • Memar yang abnormal
  • Perdarahan yang abnormal
  • Muntah terus menerus
  • Diare atau sembelit berat
  • Nyeri perut
  • Tiba-tiba merasa tidak enak badan tanpa asalan yang jelas.
Jika tidak dapat menghubungi dokter atau rumah sakit, segeralah pergi ke gawat darurat rumah sakit, dan beritahu staf yang bertugas bahwa Anda sedang menjalani pengobatan kemoterapi.


Disarikan dari:
Cancer treatments - chemotherapy
http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Cancer_treatments_chemotherapy?open

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.