Awas, Wanita Hamil Berisiko Hipertensi

Sunday, April 06, 2014
Salah satu penyakit yang rentan terjadi pada masyarakat adalah hipertensi atau lebih dikenal sebagai tekanan darah tinggi. Mirisnya, wanita yang memasuki trimester kedua kehamilan justru lebih berisiko terkena penyakit ini.

Pemeriksaan tekanan darah

Hipertensi termasuk penyakit kardiovaskular dimana terdapat kondisi medis kronis dengan tekanan darah arteri yang meningkat. Peningkatan tekanan darah ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Tekanan darah normal dan hipertensi

Tekanan darah melibatkan dua pengukuran yakni pengukuran sistolik dan diastolik. Yang mana keduanya adalah ketika otot jantung berkontraksi (sistole) atau berileksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat berada dalam kisaran sistolik 100-140 mmHg dan diastolik 60-90 mmHg. Contoh tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Untuk lebih detail soal klasifikasi darah normal adalah pada tekanan sistolik 90-119 mmHg, tekanan diastolik 60-79 mmHg.

Tekanan sistolik 120-139 mmHg dan tekanan diastolik 80-89 mmHg berada dalam kondisi pra hipertensi. Sedangkan tekanan darah tinggi itu bisa dikatakan apabila salah satu atau kedua angka sistolik dan diastolik melewati angka normal. Hipertensi derajat 1 pada tekanan sistolik 140-159 mmHg, tekanan diastolik 90-99 mmHg. Kemudian kategori hipertensi derajat 2, untuk tekanan sistolik menunjukan angka lebih dari 160 mmHg, sedangkan tekanan diastoliknya lebih dari 100 mmHg.

Sementara kategori krisis hipertensi menunjukkan peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi yakni sistolik lebih dari 180 mmHg dan diastolik lebih dari 110 mmHg. Kondisi ini sudah termasuk hipertensi maligna, yang mengindikasikan adanya kerusakan langsung pada satu organ atau lebih.
Salah satu yang berisiko terkena hipertensi yakni wanita hamil. Biasanya hipertensi akan muncul pada trimester kedua kehamilan (pre-eklampsia). Hal ini bisa membatasi aliran/suplai darah dan oksigen ke janin. Namun kabar baiknya, setelah bayi lahir maka tekanan darah ibu akan kembali normal. Selain itu, ibu hamil juga berisiko GGA, gangguan penglihatan, pendarahan otak dan kejang.

Penyebab dan jenis hipertensi

Peningkatan tekanan darah dalam arteri dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
  • Karena jumlah cairan yang mengalir lebih banyak per detiknya.
  • Arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi kaku karena dinding menebal dan kaku atau terjadinya arteriosklerosis.
  • Bertambahnya cairan dalam sirkulasi darah. Hal ini sering terjadi orang dengan kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh.
Sebelum penyakit hipertensi menyerang, sebaiknya waspadai faktor-faktor pencetusnya. Namun perlu diingat, hipertensi itu terbagi dua, yakni:
  1. Hipertensi esensial (primer). Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya, terjadi pada sekitar 90% penderita. Hipertensi ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol.
  2. Hipertensi sekunder. Disebabkan penyakit ginjal dan penyakit renovaskular. Bahkan 1-2 persen penderita hipertensi disebabkan karena kelainan hormonal dan pemakaian obat tertentu. Obat-obatan yang bisa meningkatkan tekanan darah, antara lain, pil KB, kokain, kortikosteroid, siklosporin, eritropoietin, alkohol dan kayu manis.
Faktor pemicu hipertensi antara lain, meningkatnya aktivitas sistem saraf berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stres psikososial, dan asupan Natrium (garam) berlebihan. Bisa juga karena tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium serta meningkatnya sekresi rennin sehingga mengakibatkan meningkatnya produk angiotensin II dan aldosteron. Kemudian, difisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitric oxide (NO) dan peptide natriuretik, perubahan dalam sekresi sistem kliren yang mempengaruhi tonus vascular dan penanganan garam oleh ginjal. Selain itu, penyakit diabetes dan obesitas pun bisa menjadi faktor pencetus hipertensi.

Mencegah hipertensi

Jika diagnosa hipertensi sudah menghampiri, perlu penanganan tepat. Selain mendapatkan pengobatan dari medis, penderita hipertensi juga perlu memodifikasi pola hidup seperti mengurangi berat badan (jika obesitas), berolahraga secara teratur, mengurangi konsumsi garam dan makanan berkolesterol tinggi, berhenti merokok, dan mengendalikan stres. Biasanya respon yang diperoleh dari perubahan pola hidup ini cukup tepat sasaran yaitu tekanan darah yang terkontrol

Agar terhindar dari penyakit hipertensi, setiap orang perlu mengetahui kandungan makanan yang menjadi faktor pencetus hipertensi. Seperti garam, kandungan Natrium-nya bisa meningkatkan tekanan darah yang akhirnya akan menambah beban kerja jantung. The American Heart Association merekomendasikan mengonsumsi kurang dari 1.500 mg Natrium (Na) per hari. Ada baiknya Anda untuk mengetahui kandungan Na pada setiap makanan.

Pada kenyataannya, hal yang sering terjadi adalah kebanyakan orang justru mengonsumsi Na melebihi batas. Misal ikan asin 1 ons mengandung 6.000 mg Na, bumbu siap saji, kecap, sambal, dan saus tomat satu sendok teh sama dengan 1.000 mg Na, keripik kentang 10 gr sama dengan 150 mg Na, mie instant satu bungkus sama dengan mengonsumsi 1300-1500 mg Na, dan makanan kaleng 1 pcs mengandung 800-1000 mg Na.

Jika dalam satu hari saja Anda mengonsumsi berbagai makanan seperti itu, bayangkan betapa banyaknya kandungan garam dalam tubuh Anda. Oleh karena itu, untuk mencegah hipertensi sebisa mungkin memodifikasi makanan agar kandungan garam yang dikonsumsi tidak berlebihan.

Begitu pun dengan kandungan kopi. Efek kafein terhadap tekanan darah bersifat temporer (sementara). Meskipun sebenarnya studi tidak menunjukkan adanya hubungan antara kafein dan peningkatan tekanan darah. Malah menurut The American Heart Association, seseorang boleh mengonsumsi satu atau dua cangkir kopi setiap hari.

Kemudian, hindari menjadi perokok pasif apalagi aktif. Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan tekanan darah sebesar 10 mmHg atau lebih selama satu jam setelah merokok. Artinya kebiasaan merokok sepanjang hari akan terus membuat tekanan darah Anda terus tinggi sepanjang waktu.

Gambar: www.hypnotension.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.