Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2023

Tidur dengan Hewan Peliharaan: Manfaat dan Risiko

Tidur dengan hewan peliharaan

Tidur dengan hewan peliharaan telah menjadi topik yang kontroversial selama bertahun-tahun. Sebagian orang merasa nyaman tidur dengan hewan peliharaan mereka, sementara yang lain menganggapnya tidak higienis dan berpotensi berbahaya bagi kesehatan mereka. Namun, apakah benar-benar baik atau buruk untuk kesehatan Anda tidur dengan hewan peliharaan?

Amankah tidur dengan hewan peliharaan?

Tidur dengan hewan peliharaan dapat menjadi hal yang aman atau tidak aman tergantung pada situasi dan kondisi tertentu. Beberapa hewan peliharaan seperti anjing dan kucing dapat membawa kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Selain itu, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti alergi atau asma, tidur bersama hewan peliharaan dapat memperburuk gejala Anda.

Namun, jika hewan peliharaan Anda sehat dan mendapatkan perawatan kesehatan yang teratur, dan jika Anda menjaga kebersihan tempat tidur dan pakaian tidur Anda dengan baik, maka tidur dengan hewan peliharaan dapat aman dan bahkan membawa manfaat bagi kesehatan Anda.

Manfaat tidur dengan hewan peliharaan

Tidur bersama hewan peliharaan dapat membawa manfaat kesehatan bagi manusia. Berikut adalah beberapa manfaat tidur dengan hewan peliharaan:
  • Meredakan stres dan kecemasan: Beberapa studi menunjukkan bahwa tidur dengan hewan peliharaan dapat membantu meredakan stres dan kecemasan pada manusia. Interaksi dengan hewan peliharaan dapat merangsang pelepasan hormon oxytocin dan serotonin yang dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan suasana hati.
  • Menjaga kesehatan mental: Tidur dengan hewan peliharaan dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kesehatan mental. Hewan peliharaan dapat memberikan kehangatan dan kenyamanan secara emosional yang dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan depresi.
  • Meningkatkan rasa aman: Tidur dengan hewan peliharaan dapat membantu meningkatkan rasa aman dan kepercayaan diri. Beberapa orang merasa lebih aman dan nyaman dengan hewan peliharaan di samping mereka saat tidur.
  • Meningkatkan kualitas tidur: Kehadiran hewan peliharaan dapat mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan kualitas tidur Anda.

Sebelum Anda memutuskan untuk tidur bersama hewan peliharaan, sebaiknya pertimbangkan keamanan dan risiko kesehatan yang terkait dengan situasi dan kondisi Anda. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau dokter hewan Anda.

Risiko kesehatan tidur dengan hewan peliharaan

Meskipun tidur dengan hewan peliharaan dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia, ada beberapa risiko kesehatan di dalamnya. Berikut adalah beberapa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan:
  • Alergi: Tidur dengan hewan peliharaan dapat memperburuk gejala alergi pada manusia yang rentan terhadap alergi terhadap bulu binatang, debu atau serbuk sari. Gejala alergi seperti hidung meler, bersin-bersin, dan mata merah dapat mempengaruhi kualitas tidur dan kesehatan manusia.
  • Infeksi: Hewan peliharaan dapat membawa kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Beberapa contoh infeksi yang dapat disebabkan oleh hewan peliharaan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi kulit, dan infeksi telinga.
  • Parasit: Beberapa hewan peliharaan dapat membawa parasit seperti kutu, tungau, dan cacing yang dapat menyebar ke manusia. Kontak dengan parasit ini dapat menyebabkan rasa gatal dan infeksi.
  • Gangguan tidur: Hewan peliharaan yang tidur bersama manusia dapat mengganggu tidur dengan kebisingan, gerakan, dan perilaku yang tidak diinginkan. Kebisingan dan gerakan hewan peliharaan dapat mengganggu kualitas tidur manusia dan mempengaruhi kesehatan mental dan fisik.
  • Risiko cedera: Tidur dengan hewan peliharaan yang terlalu besar atau aktif dapat meningkatkan risiko cedera pada manusia. Beberapa hewan peliharaan mungkin tidak menyadari keberadaan manusia di sekitar mereka saat tidur, sehingga mereka dapat secara tidak sengaja menginjak atau menekan manusia saat tidur.

Untuk mengurangi risiko kesehatan yang terkait dengan tidur bersama hewan peliharaan, sebaiknya Anda mengikuti beberapa tips kebersihan dan keamanan seperti mencuci tangan sebelum dan setelah bersentuhan dengan hewan peliharaan, membersihkan tempat tidur hewan peliharaan secara teratur, dan memastikan hewan peliharaan Anda mendapatkan perawatan kesehatan yang tepat.

Tips tidur dengan hewan peliharaan

Jika Anda memutuskan untuk tidur dengan hewan peliharaan, ada beberapa tips yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan dan meningkatkan kualitas tidur Anda:
  • Pertimbangkan faktor kesehatan hewan peliharaan Anda: Pastikan bahwa hewan peliharaan Anda memiliki kondisi kesehatan yang baik dan bebas dari parasit atau penyakit yang dapat menular ke manusia.
  • Bersihkan tempat tidur hewan peliharaan: Pastikan tempat tidur hewan peliharaan Anda selalu bersih dan terjaga kebersihannya. Cuci selimut, bantal, dan kasur hewan peliharaan secara teratur untuk mengurangi risiko alergi dan infeksi.
  • Berikan tempat tidur yang terpisah: Berikan tempat tidur yang terpisah untuk hewan peliharaan Anda, terutama jika Anda memiliki alergi atau risiko infeksi tertentu.
  • Batasi akses hewan peliharaan ke tempat tidur: Jangan biarkan hewan peliharaan Anda tidur di tempat tidur manusia jika mereka memiliki masalah kesehatan tertentu atau ketika mereka tidak terawasi. Selain itu, batasi akses hewan peliharaan ke tempat tidur manusia jika hewan peliharaan Anda terlalu besar atau aktif.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan mengikuti tips yang disebutkan di atas, Anda dapat menikmati tidur dengan hewan peliharaan dengan lebih aman dan nyaman.

Secara keseluruhan, tidur dengan hewan peliharaan memiliki manfaat dan risiko kesehatan yang perlu diperhatikan. Sebelum memutuskan untuk tidur dengan hewan peliharaan, penting untuk mempertimbangkan risiko alergi, infeksi, parasit, gangguan tidur, dan risiko cedera yang mungkin terjadi. 

19 Maret 2023

Terapi Hewan Peliharaan: Pengobatan Alami untuk Kesehatan Mental

Terapi hewan peliharaan telah menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir sebagai pengobatan alternatif untuk kesehatan mental. Berinteraksi dengan hewan peliharaan seperti kucing, kelinci, atau bahkan kuda tidak hanya memberikan rasa bahagia dan kenyamanan secara fisik, tetapi juga dapat menjadi pengobatan alami untuk berbagai masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, depresi, dan kesepian.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan mendukung fakta bahwa interaksi dengan hewan peliharaan dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang terapi hewan peliharaan sebagai pengobatan alami untuk kesehatan mental dan manfaatnya.

Terapi kucing

Sejarah terapi hewan peliharaan
Terapi hewan peliharaan telah digunakan sebagai pengobatan alami untuk kesehatan mental sejak ribuan tahun yang lalu. Sejarah terapi hewan dapat ditemukan pada beberapa budaya dan agama di seluruh dunia.

Salah satu contohnya adalah di Mesir Kuno, di mana kucing dianggap sebagai simbol kebahagiaan dan kemakmuran. Kucing dijadikan teman dan peliharaan bagi orang-orang di Mesir Kuno, dan mereka bahkan memuja kucing sebagai dewa. Selain itu, ada catatan sejarah yang mengatakan bahwa dokter Yunani Kuno, Galen, menggunakan hewan peliharaan sebagai pengobatan untuk meredakan stres dan kecemasan.

Pada abad ke-18, terapi hewan peliharaan diperkenalkan di Inggris oleh Quaker, yang memperkenalkan interaksi dengan hewan untuk membantu rehabilitasi orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Selain itu, pada abad ke-19, Florence Nightingale, seorang perawat terkenal, mengembangkan terapi hewan peliharaan sebagai bagian dari program perawatan untuk pasien dengan masalah kesehatan mental.

Pada tahun 1942, seorang psikiater bernama Boris Levinson menemukan bahwa hewan peliharaan dapat membantu anak-anak dengan masalah kesehatan mental. Ia mengembangkan teknik terapi yang disebut "pet therapy" atau "animal-assisted therapy", di mana pasien berinteraksi dengan hewan peliharaan untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental mereka.

Sejak itu, terapi hewan peliharaan terus berkembang dan semakin populer sebagai pengobatan alternatif untuk kesehatan mental.

Penelitian-penelitian tentang terapi hewan peliharaan
Berbagai studi telah menunjukkan manfaat dari terapi hewan peliharaan untuk kesehatan mental, di antaranya:
  • Studi pada tahun 2015 yang dipublikasikan dalam jurnal "International Journal of Workplace Health Management" menunjukkan bahwa menghadirkan hewan peliharaan di tempat kerja dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kebahagiaan dan produktivitas karyawan.
  • Sebuah studi pada tahun 2016 yang dipublikasikan dalam "Journal of Psychiatric Research" menemukan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan pada orang dewasa yang mengalami stres.
  • Studi pada tahun 2018 yang dipublikasikan dalam "Frontiers in Psychology" menunjukkan bahwa interaksi dengan anjing terlatih dapat mengurangi gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) pada veteran militer.
  • Sebuah studi pada tahun 2019 yang dipublikasikan dalam "The Journal of Positive Psychology" menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.
  • Sebuah studi pada tahun 2020 yang dipublikasikan dalam "Applied Animal Behaviour Science" menunjukkan bahwa interaksi dengan kuda dapat meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan pada remaja dengan masalah kesehatan mental.

Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa terapi hewan peliharaan dapat memberikan manfaat kesehatan mental yang signifikan pada berbagai kelompok, termasuk pada orang dewasa yang stres, veteran militer dengan PTSD, dan remaja dengan masalah kesehatan mental.

Bagaimana cara terapi hewan peliharaan?
Terapi hewan peliharaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada kebutuhan pasien dan jenis hewan yang digunakan. Berikut adalah beberapa cara umum untuk melakukan terapi hewan peliharaan:
  • Animal-assisted therapy (AAT): AAT dilakukan dengan bantuan seorang terapis yang memiliki hewan peliharaan terlatih untuk memberikan dukungan emosional dan fisik kepada pasien. Terapis akan mengarahkan interaksi antara pasien dan hewan peliharaan dengan tujuan meredakan stres, kecemasan, dan depresi.
  • Pet therapy: Pet therapy melibatkan interaksi antara pasien dan hewan peliharaan, seperti anjing, kucing, kelinci, atau bahkan kuda. Interaksi ini dapat dilakukan di rumah pasien, di tempat kerja, atau di tempat-tempat umum seperti taman atau rumah sakit.
  • Animal-assisted activities (AAA): AAA dilakukan dengan menghadirkan hewan peliharaan ke tempat-tempat umum seperti sekolah, perpustakaan, atau taman. Tujuannya adalah untuk memberikan kebahagiaan dan kenyamanan kepada orang-orang yang berinteraksi dengan hewan peliharaan tersebut.
  • Equine-assisted therapy (EAT): EAT melibatkan interaksi antara pasien dengan kuda dan digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk masalah kesehatan mental seperti PTSD, kecanduan, dan masalah kesehatan mental lainnya. Interaksi ini dapat dilakukan dengan berjalan-jalan atau berkuda bersama dengan bantuan seorang terapis.

Penting untuk diingat bahwa terapi hewan peliharaan sebaiknya dilakukan oleh profesional yang terlatih dan hewan peliharaan yang digunakan harus terlatih untuk memberikan dukungan emosional dan fisik kepada pasien. Jangan mencoba melakukan terapi hewan peliharaan sendiri tanpa bimbingan profesional yang tepat.

Hewan peliharaan apa saja yang bisa digunakan untuk terapi?
Banyak jenis hewan peliharaan yang dapat dijadikan sebagai terapi hewan peliharaan, tergantung pada kebutuhan pasien dan jenis terapi yang digunakan. Berikut adalah beberapa contoh hewan peliharaan yang sering digunakan dalam terapi hewan peliharaan:
  • Kucing: Kucing juga dapat digunakan dalam terapi hewan peliharaan karena sifatnya yang tenang dan penyayang. Kucing dapat membantu meredakan stres dan kecemasan, serta memberikan kenyamanan dan kebahagiaan.
  • Kelinci: Kelinci juga dapat digunakan dalam terapi hewan peliharaan karena sifatnya yang lembut dan penyayang. Kelinci dapat membantu meredakan stres, kecemasan, dan depresi, serta memberikan kebahagiaan dan kenyamanan.
  • Kuda: Kuda digunakan dalam terapi hewan peliharaan yang dikenal sebagai equine-assisted therapy (EAT). EAT membantu orang untuk mengatasi masalah kesehatan mental seperti kecanduan, PTSD, dan masalah kesehatan mental lainnya.
  • Reptil: Reptil seperti kura-kura, ular, dan iguana juga dapat digunakan dalam terapi hewan peliharaan. Reptil dapat membantu meredakan stres dan kecemasan serta memberikan kesenangan dan kebahagiaan.
  • Burung: Burung juga dapat digunakan dalam terapi hewan peliharaan karena sifatnya yang riang dan ceria. Burung dapat membantu meningkatkan suasana hati dan memberikan kebahagiaan.
  • Anjing: Anjing adalah hewan peliharaan yang paling umum digunakan dalam terapi hewan peliharaan. Anjing dikenal karena sifatnya yang ramah dan mudah bergaul, serta dapat membantu meredakan stres, kecemasan, dan depresi.

Selain hewan peliharaan yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi hewan peliharaan yang dapat digunakan dalam terapi hewan peliharaan, seperti hamster, kelinci mini, ikan, dan bahkan kucing hutan. Namun, sebelum digunakan dalam terapi, hewan peliharaan harus diperiksa oleh dokter hewan dan dilatih secara khusus untuk memastikan bahwa mereka memiliki kepribadian yang cocok untuk terapi hewan peliharaan dan aman untuk digunakan.

Pemilihan hewan peliharaan dalam terapi juga harus disesuaikan dengan jenis terapi yang digunakan. Misalnya, anjing dan kucing lebih cocok digunakan dalam terapi animal-assisted therapy (AAT) yang melibatkan interaksi antara hewan dan manusia, sedangkan kuda lebih cocok digunakan dalam EAT yang melibatkan interaksi antara manusia dan kuda.

Penting juga untuk memperhatikan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, ukuran, dan tingkat aktivitas hewan peliharaan. Hewan peliharaan yang terlalu aktif atau terlalu besar dapat menimbulkan risiko cedera atau ketakutan pada pasien, sementara hewan peliharaan yang terlalu kecil mungkin tidak memberikan pengalaman yang memuaskan dalam terapi.

19 Maret 2015

Apa Bahaya Terlalu Banyak Duduk?

Duduk terlalu lama
Para peneliti banyak yang mengaitkan aktivitas duduk yang terlalu lama dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti obesitas dan sindrom metabolik - sejumlah kondisi yang meliputi peningkatan tekanan darah, gula darah tinggi, kelebihan lemah tubuh di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol yang tinggi.

Terlalu banyak duduk juga diyakini akan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker.




Sebuah penelitian tiga tahun lalu membandingkan orang dewasa yang duduk kurang dari dua jam sehari di depan televisi dengan orang dewasa yang duduk selama empat jam atau lebih di depan televisi. Ternyata mereka yang duduk lebih lama dalam sehari besar kemungkinan akan mengalami:
  • Peningkatan risiko hampir 50 persen untuk kematian akibat berbagai penyebab
  • Peningkatan risiko sekitar 125 persen untuk kejadian yang terkait penyakit kardiovaskular, seperti nyeri dada (angina) dan serangan jantung. 

Peningkatan risiko ini telah dipisahkan para peneliti dari faktor risiko yang sudah ada pada orang dewasa tersebut, seperti merokok dan tekanan darah tinggi.

Duduk di depan TV bukanlah satu-satunya yang menjadi fokus disini. Seluruh aktivitas duduk, seperti duduk di belakang meja kerja atau di belakang kemudi kendaraan sama bahayanya bila dilakukan dalam waktu yang lama. Dan perlu diketahui bahwa berolahraga hanya beberapa jam dalam seminggu atau melakukan aktivitas sedang atau berat diyakini para peneliti tidak secara signifikan menurunkan risiko ini apabila masih duduk dalam waktu yang lama setiap harinya.

Solusinya hanya mengurangi duduk dan banyaklah bergerak secara keseluruhan. Jika ada pekerjaan yang dapat Anda lakukan dengan berdiri, tidak ada salahnya untuk berdiri. Hal ini jauh lebih baik daripada harus duduk berjam-jam setiap hari tanpa gerak badan menyeluruh. Sebagai contoh, jika Anda menelepon tidak ada salahnya untuk melakukannya dengan berdiri atau jika Anda seharian bekerja di depan komputer atau dengan kata lain duduk di belakang meja, cobalah gunakan meja yang tinggi sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan berdiri.

Banyak bergerak tentu akan menyehatkan, ini suatu hal yang tak terbantahkan. Dengan banyak gerak, kalori yang terbakar akan lebih banyak, sehingga menyebabkan penurunan berat badan (bagi mereka yang obesitas) dan menambah energi.

Aktivitas otot yang diperlukan untuk berdiri atau untuk melakukan gerakan lainnya diyakini akan memicu proses tubuh penting yang berkaitan dengan pemecahan lemak dan gula dalam tubuh. Ketika Anda duduk, proses ini seolah terhenti dan risiko Anda terkena penyakit meningkat, sedangkan ketika Anda berdiri atau bergerak aktif, proses ini akan kembali berjalan.

26 Januari 2015

Dapatkah Obat-obatan Menyebabkan Kenaikan Berat Badan?

Obat-obatan

Penyebab utama kenaikan berat badan adalah karena terlalu banyak makan dan kurang berolahraga. Selain karena sebab tersebut, masih ada sebab lain seperti karena mengonsumsi suatu jenis obat. Obat tersebut dapat berupa obat yang dijual bebas maupun obat yang diresepkan oleh dokter.

Seberapa besar kenaikan berat badan karena obat dapat bervariasi, namun bisa saja mencapai setengah kilogram per minggu. Jika diet dan rutinitas olahraga Anda tidak berubah namun tetap mengalami kenaikan berat badan yang berarti, maka bisa jadi penyebabnya berasal dari obat yang Anda konsumsi.

Obat-obat yang menyebabkan kenaikan berat badan

Obat-obatan yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan biasanya memiliki efek meningkatkan nafsu makan, memperlambat metabolisme istirahat (resting metabolism), atau menyebabkan retensi cairan. Obat-obatan yang disinyalir paling sering menyebabkan kenaikan berat badan, antara lain:

Antidepresan

Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengatasi depresi. Obat antidepresan yang telah digunakan sejak lama yaitu antidepresan tricyclic (TCA) terkenal meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan kenaikan berat badan. Contoh obat TCA adalah amitriptyline (Elavil) dan nortriptyline (Pamelor).

Antihistamin

Antihistamin sering digunakan untuk mengatasi alergi. Obat-obat antihistamin seperti cetirizine (Zyrtec) dan fexofenadine (Allegra) diketahui memiliki keterkaitan dengan kenaikan berat badan. Aktivitas antihistamin akan meningkatkan nafsu makan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2010 mengungkapkan tentang penggunaan antihistamin dan risiko obesitas. Pengguna cetirizine (Zyrtec) dan fexofenadine (Allegra) umumnya memiliki berat badan yang lebih besar secara signifikan.

Antipsikotik

Antipsikotik digunakan dalam pengobatan gangguan jiwa. Beberapa jenis obat antipsikotik dapat menyebabkan kenaikan berat badan, contohnya olanzapine (Zyprexa), risperidone (Risperdal), dan clozapine (Clozaril). Obat-obat ini disinyalir memiliki aktivitas antihistamin dan juga memblokir serotonin, yang berkontribusi pada mekanisme penambahan berat badan.

Antihipertensi

Obat antihipertensi digunakan untuk mengatasi hipertensi atau darah tinggi. Obat antihipertensi kelas Beta Blocker diketahui dapat menaikkan berat badan. Contoh obat dari kelas ini adalah metoprolol (Lopressor) dan atenolol (Tenormin).

Kortikosteroid

Kortikosteroid oral dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Kortikosteroid oral digunakan untuk mengatasi asma atau kondisi peradangan seperti arthritis. Steroid dapat mempengaruhi tingkat metabolisme, dan menyebabkan peningkatan nafsu makan dan makan yang berlebihan. Contoh kortikosteroid oral adalah dexamethasone, prednisone, dan methylprednisolone. Sedangkan kortikosteroid injeksi (suntik) lokal dan kortikosteroid inhaler dianggap tidak memiliki keterkaitan dengan kenaikan berat badan.

Obat diabetes

Obat diabetes oral untuk diabetes tipe 2, seperti glyburide (DiaBeta) dan glipizide (Glucotrol), dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Obat-obat ini dapat meningkatkan produksi insulin yang akan menurunkan kadar gula darah, sehingga menyebabkan nafsu makan meningkat. Insulin injeksi juga dapat menyebabkan penambahan berat badan, hal ini karena periode gula darah yang rendah setelah diinjeksi insulin sehingga berefek meningkatkan nafsu makan. Obat lainnya yang digunakan dalam pengobatan diabetes tipe 2 yang dapat menyebabkan penambahan berat badan dan retensi cairan, antara lain pioglitazone (Actos) dan rosiglitazone (Avandia).

Obat kejang/mood stabilizers

Asam valproat (Depakote, Depakene) digunakan untuk mengobati epilepsi (kejang), gangguan bipolar dan sebagai obat pencegahan untuk migrain. Lithium (Lithobid) yang digunakan untuk mengatasi gangguan mood, juga memiliki keterkaitan dengan kenaikan berat badan.

Selain obat-obatan di atas, pil KB yang dikonsumsi dalam waktu yang lama dan sering mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi mabuk perjalanan juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Risiko dan manfaat

Sebagian jenis obat akan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Namun sebagian obat lainnya dapat memicu kenaikan berat badan dengan cepat bahkan sudah terasa dalam waktu satu minggu. Bertambahnya berat badan yang mengarah ke obesitas akan meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Seseorang yang mengonsumsi suatu obat, di satu sisi, tubuhnya atau penyakitnya membutuhkan obat tersebut namun di sisi lain obat tersebut malah menyebabkan kenaikan berat badan.

Langkah-langkah proaktif

Apapun alasannya, berat badan dapat diturunkan dengan diet dan cukup berolahraga. Dan jangan pernah sekali-kali menghentikan penggunaan suatu obat tanpa sepengetahuan dokter karena khawatir akan kenaikan berat badan. Perlu Anda ketahui bahwa ada beberapa jenis obat yang malah berdampak buruk jika dihentikan secara tiba-tiba. Obat-obat jenis ini harus dihentikan dengan secara bertahap menurunkan dosisnya. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai masalah ini, dokter mungkin akan menurunkan dosis obat tersebut, menggantinya atau mungkin mengombinasikannya dengan obat lain untuk menurunkan risiko kenaikan berat badan.