Keracunan Antibiotik : Gejala, Pengobatan, dan Tips

Keracunan Antibiotik : Gejala, Pengobatan, dan Tips

Antibiotik
Keracunan atau overdosis antibiotik terjadi karena penggunaan dosis yang melebihi kebutuhan. Keracunan antibiotik lebih sering terjadi pada anak-anak. Hampir semua dosis obat yang diberikan untuk anak-anak dihitung berdasarkan perkilogram berat badan, bukan berdasarkan usia. Oleh karena itu, jika antibiotik dikonsumsi tanpa sepengetahuan dokter, termasuk juga pada orang dewasa, dan orang tersebut tidak memiliki pengetahuan, maka konsekuensi negatif seperti keracunan dapat terjadi.

Gejala keracunan antibiotik

Masing-masing jenis antibiotik bila dikonsumsi dalam dosis tinggi akan memberikan efek toksik (racun-negatif-merugikan) pada organ yang berbeda pula. Karena itu, ketika terjadi keracunan antibiotik, maka gejala yang muncul akan berdasarkan jenis antibiotik apa yang dikonsumsi.

Namun ada gejala-gejala keracunan antibiotik secara umum, diantaranya:

Pengobatan keracunan antibiotik

Keracunan antibiotik cukup jarang membahayakan jiwa dan biasanya tidak memerlukan pengobatan. Namun yang perlu diwaspadai adalah gangguan pencernaan dan kemungkinan diarenya. Dalam kasus diare, penderita harus minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Sedangkan kasus syok anafilaktik yang terjadi akibat mengonsumsi antibiotik, adalah karena reaksi alergi tubuh seseorang terhadap suatu jenis antibiotik, bukan karena dosis yang tinggi. Meskipun dosis tinggi antibiotik akan memperparah reaksi alergi anafilaktik.

Tips menggunakan antibiotik

Antibiotik adalah obat antibakteri, jadi tidak dapat mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus atau jamur. Infeksi saluran pernapasan yang umum terjadi, seperti influenza, disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Antibiotik tidak boleh diresepkan untuk infeksi akibat virus, karena tidak akan efektif, kecuali jika dokter memiliki pertimbangan lain, seperti untuk mengatasi komplikasi infeksi bakteri yang terjadi akibat infeksi oleh virus.

Dibawah ini adalah tips menggunakan antibiotik dengan benar:
  • Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter, dan jangan mengonsumsi antibiotik yang diresepkan untuk orang lain meskipun penyakit terlihat sama.
  • Antibiotik harus digunakan sesuai petunjuk dokter atau apoteker, takar atau ambil dosisnya dengan benar dan tepat waktu konsumsi.
  • Jika terjadi diare, minumlah banyak cairan.
  • Semua obat memiliki efek samping, termasuk antibiotik. Jika terjadi gejala lain yang membuat tidak nyaman, sebaiknya hubungi dokter.

Antibiotik harus dikonsumsi selama yang diperintahkan dokter, meskipun kondisi tubuh tampak sudah sehat. Lamanya waktu pengobatan dengan antibiotik yang disarankan dokter adalah agar konsentrasi antibiotik di aliran darah dapat dipertahankan dalam waktu tertentu untuk membunuh bakteri penyebab penyakit. Jika konsumsi antibiotik dihentikan lebih cepat dari yang diperintahkan dokter, maka bakteri akan kembali bangkit dan semakin kuat.

Article Resources
  • What to do if you are poisoned (overdose) with antibiotics. http://en.intoxication-stop.com/peredozirovka-antibiotikami-simptomy_html_default.htm
  • Antibiotics: Overdose vs Misuse. https://www.poison.org/articles/2012-oct/antibiotics-overdose-vs-misuse
  • The Danger of Antibiotic Overuse. http://kidshealth.org/en/parents/antibiotic-overuse.html
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi BBLR

Berat badan lahir rendah atau biasa disingkat BBLR adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram (2,5 kilogram).

Karena memiliki berat lahir dibawah normal, bayi BBLR terlihat lebih kecil dari bayi dengan berat lahir normal. Adakalanya kepala bayi BBLR tampak terlihat lebih besar, dan tubuhnya terlihat kurus.

Penyebab BBLR

BBLR utamanya disebabkan karena kelahiran prematur (lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu). Lahir lebih cepat, artinya semasa dalam kandungan janin tidak memiliki banyak waktu untuk tumbuh dan menambah berat badannya. Penambahan berat janin terjadi paling banyak pada trimester ketiga kehamilan.

Penyebab lainnya bayi BBLR adalah intrauterine growth restriction (IUGR) atau pembatasan pertumbuhan intrauterin atau janin. Pada IUGR, bayi tidak tumbuh sebagaimana mestinya (berukuran kecil dibanding usia kehamilan). Hal ini bisa disebabkan karena masalah pada plasenta, kesehatan ibu yang buruk, postur ibu kecil, atau kondisi bayi itu sendiri. Bayi IUGR yang lahir di usia kehamilan 37-41 minggu (normal) bisa jadi sudah memiliki fisik yang matang, namun biasanya lemah.

Bayi yang berisiko BBLR

Setiap bayi yang lahir prematur cenderung memiliki berat dibawah 2.500 gram. Semakin cepat kelahiran seorang bayi, semakin rendah berat lahirnya. Selain karena prematur, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko BBLR, antara lain:
  • Usia ibu. Ibu yang berusia kurang dari 17 tahun atau lebih dari 35 tahun, berisiko memiliki bayi dengan BBLR.
  • Lahir kembar atau lebih. Bayi yang kembar atau lebih seringkali lahir prematur, karena itu berisiko tinggi mengalami BBLR. Lebih dari separuh bayi kembar diketahui mengalami BBLR.
  • Kesehatan ibu. Bayi yang lahir dari ibu yang memiliki kebiasaan merokok, alkohol, dan narkoba cenderung lahir dengan berat badan rendah. Ibu dengan status ekonomi lemah cenderung kekurangan gizi selama kehamilan, minim pemeriksaan, dan mengalami komplikasi kehamilan. Semua faktor ini berkontribusi terhadap BBLR. 

Masalah-masalah bayi BBLR

Bayi BBLR berisiko tinggi mengalami komplikasi. Tubuh mungilnya tidaklah kuat, sulit melawan infeksi, dan sulit menambah berat badan. Karena memiliki lemak tubuh yang sedikit, bayi BBLR biasanya sulit mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap hangat.

Secara umum, semakin rendah berat bayi saat lahir, maka semakin tinggi risikonya terkena komplikasi. Berikut adalah beberapa masalah umum pada bayi BBLR:
  • Kadar oksigen rendah saat lahir
  • Ketidakmampuan menjaga suhu tubuh agar tetap hangat
  • Susah makan, akibatnya berat badan sulit bertambah
  • Mengalami infeksi
  • Gangguan pernapasan, seperti sindrom gawat napas bayi. Gangguan pernapasan yang disebabkan karena paru-paru yang belum sempurna
  • Masalah neurologis, seperti perdarahan intraventrikular (perdarahan di dalam otak)
  • Masalah gastrointestinal, seperti enterocolitis necrotizing (NEC). Penyakit serius pada usus yang sering terjadi pada bayi prematur
  • Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

Hampir semua bayi BBLR memerlukan perawatan khusus di ruangan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) rumah sakit hingga berat badannya bertambah dan kondisinya cukup sehat untuk pulang. Tingkat kelangsungan hidup bayi BBLR sangat tergantung dari berapa beratnya saat lahir. Semakin rendah berat lahir, semakin rendah tingkat kelangsungan hidupnya.

Mendiagnosis BBLR

Selama kehamilan, berat lahir bayi dapat diprediksi melalui beberapa cara, salah satunya dengan mengukur tinggi fundus. Tinggi fundus (bagian atas rahim) dapat diukur dari tulang kemaluan. Ukuran dalam centimeter akan sesuai dengan jumlah minggu kehamilan setelah minggu ke-20. Jika jumlah pengukuran lebih rendah dari jumlah minggunya, kemungkinan janin yang dikandung berukuran kecil.

Pengukuran yang lebih akurat adalah dengan menggunakan USG. USG adalah pemeriksaan yang memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menciptakan gambar struktur internal tubuh, dalam hal ini gambar janin dan organ terkait. Pengukuran dengan USG akan menilai ukuran kepala janin, abdomen, dan kaki, lalu disesuaikan atau dibandingkan dengan grafik pertumbuhan normal janin. Dari sini akan diketahui apakah janin yang dikandung berukuran normal atau kecil.

Untuk mendiagnosis BBLR pada bayi yang baru lahir tentu sangat mudah, cukup dengan menimbang beratnya. Jika beratnya kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kilogram, maka didiagnosis BBLR. Dan bayi yang lahir dengan berat kurang dari 1.500 gram maka didiagnosis BBLSR atau berat badan lahir sangat rendah.

Perawatan bayi BBLR

Perawatan bayi BBLR yang dilakukan oleh dokter anak akan berdasarkan pada:
  • Usia kehamilan, kondisi kesehatan, dan riwayat kesehatan bayi
  • Toleransi bayi untuk pengobatan, prosedur, atau terapi tertentu
  • Pendapat atau analisa dari orangtua.

Pada umumnya, perawatan untuk bayi BBLR meliputi:
  • Perawatan di NICU rumah sakit
  • Ditempatkan di inkubator (tempat tidur khusus dengan pengontrol suhu)
  • Pemberian makanan khusus, terkadang melalui selang yang dimasukkan ke perut jika bayi tidak bisa menghisap, atau melalui jalur intravena (IV).
  • Pengobatan lainnya untuk mengatasi komplikasi BBLR.

Jika tidak terjadi komplikasi, bayi BBLR biasanya akan segera mencapai pertumbuhan fisik dan berat badan yang normal. Mintalah saran dokter anak untuk perawatan lebih lanjut, agar bayi BBLR dapat mengejar ketertinggalan fisiknya.

Pencegahan BBLR

Memang, ilmu dan teknologi kedokteran saat ini sudah sangat baik dalam menyelamatkan bayi BBLR dan prematur dari komplikasinya. Namun, tetap saja mencegah BBLR adalah jalan yang terbaik. Pada pemeriksaan kehamilan rutin, kesehatan ibu dan janin dapat diketahui. Jika ibu mengalami kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, masalah jantung, paru-paru dan ginjal, maka harus ditangani dengan tepat guna mencegah BBLR dan komplikasi lain yang tidak diinginkan.

Gizi ibu, pemeriksaan rutin, dan perawatan selama kehamilan merupakan faktor kunci untuk mencegah BBLR. Karena nutrisi dan penambahan berat badan yang terjadi pada ibu sangat terkait dengan kenaikan berat badan janin dan berat lahirnya, maka sangat penting bagi ibu untuk makan makanan yang sehat dan seimbang selama kehamilan untuk mencegah BBLR.
Apakah Vitamin C Bisa Menyebabkan Efek Samping?

Apakah Vitamin C Bisa Menyebabkan Efek Samping?

Rumus kimia vitamin C

Vitamin C merupakan nutrisi yang sangat penting bagi tubuh. Vitamin C banyak terdapat dalam buah dan sayuran.

Agar sistem kekebalan tubuh tetap kuat, seseorang perlu mengonsumsi vitamin C setiap hari. Vitamin C juga membantu mempercepat penyembuhan luka, menjaga tulang agar tetap kuat, dan meningkatkan fungsi otak.

Banyak yang mengklaim bahwa suplemen vitamin C akan memberikan manfaat yang lebih ketimbang vitamin C alami yang diperoleh dari buah dan sayuran. Salah satu alasan mengapa orang mengonsumsi suplemen vitamin C, adalah untuk mencegah serangan flu. Namun, saat ini banyak suplemen vitamin C yang berdosis tinggi, sehingga dapat menyebabkan efek samping.

Artikel ini akan membahas mengenai keamanan vitamin C, apakah boleh dikonsumsi dalam dosis tinggi dan apakah ada efek samping vitamin C jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.

Vitamin C tidak dapat disimpan di dalam tubuh

Vitamin C termasuk golongan vitamin larut air, artinya akan larut dalam air. Berbeda dengan vitamin larut lemak, vitamin larut dalam air tidak dapat disimpan di dalam tubuh.

Vitamin C yang Anda konsumsi akan diangkut ke jaringan-jaringan tubuh melalui cairan tubuh. Jika terjadi kelebihan vitamin C, maka akan dikeluarkan tubuh bersama dengan urin.

Karena tubuh tidak dapat menyimpan vitamin C dan tubuh juga tidak dapat memproduksinya, maka sangat penting untuk mengonsumsi vitamin C setiap hari. Namun, suplemen vitamin C dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping, seperti gangguan pencernaan dan batu ginjal.

Sebenarnya seseorang tidak perlu lagi mengonsumsi suplemen vitamin C jika sudah mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang cukup.

Vitamin C dosis tinggi bisa menyebabkan gangguan pencernaan

Efek samping yang paling umum akibat mengonsumsi vitamin C dosis tinggi adalah gangguan pencernaan. Namun secara umum, efek samping ini tidak terjadi pada vitamin C yang dikonsumsi dari buah dan sayuran, melainkan hanya terjadi jika dikonsumsi melalui suplemen vitamin C.

Jika vitamin C dikonsumsi dengan dosis lebih dari 2.000 mg sekaligus, kemungkinan besar akan terjadi gangguan pencernaan. Para ahli telah menetapkan batas tertinggi dosis vitamin C yang dapat ditolerir adalah 2.000 mg.

Gejala pencernaan yang umum terjadi akibat mengonsumsi vitamin C dosis tinggi adalah diare dan mual. Selain itu juga dilaporkan dapat menyebabkan refluks asam lambung, meskipun hal ini belum diidukung oleh bukti-bukti yang kuat.

Jika memang Anda mengalami gangguan pencernaan akibat mengonsumsi vitamin C dosis tinggi, cukup kurangi saja dosisnya, atau hindari mengonsumsinya.

Vitamin C dapat menyebabkan kelebihan zat besi

Vitamin C diketahui dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Vitamin C memiliki kemampuan untuk mengikat zat besi non-heme, zat besi yang berasal dari makanan nabati. Zat besi non-heme tidak diserap tubuh seefisien zat besi heme, yaitu zat besi yang berasal dari makanan hewani.

Vitamin C akan mengikat zat besi non-heme, sehingga lebih mudah diserap tubuh. Ini kabar baik bagi mereka yang hanya mendapatkan zat besi yang berasal dari makanan nabati.

Sebuah penelitian pada orang dewasa menemukan bahwa penyerapan zat besi akan meningkat sebesar 67% ketika mereka mengonsumsi 100 mg vitamin C. Namun, orang dengan kondisi yang berisiko mengalami akumulasi zat besi tubuh, seperti hemokromatosis (hemochromatosis), harus berhati-hati dengan vitamin C.

Pada hemochromatosis, konsumsi vitamin C secara berlebihan atau dalam dosis tinggi dapat menyebabkan tubuh kelebihan zat besi, yang mana bisa menimbulkan kerusakan serius pada jantung, hati, pankreas, tiroid, dan sistem saraf pusat.

Disebutkan bahwa tidak akan terjadi kelebihan zat besi jika seseorang tidak memiliki kondisi yang berisiko meningkatkan penyerapan zat besi. Disebutkan pula bahwa kelebihan zat besi lebih mungkin terjadi pada mereka yang mengonsumsi zat besi yang berasal dari suplemen.

Vitamin C dosis tinggi dapat menyebabkan batu ginjal

Kelebihan vitamin C akan diekskresikan tubuh sebagai oksalat, yang merupakan limbah tubuh. Oksalat biasanya dikeluarkan dari tubuh bersama dengan urin. Namun pada keadaan tertentu, oksalat dapat mengikat mineral untuk membentuk kristal yang bisa menyebabkan terbentuknya batu ginjal.

Mengonsumsi vitamin C dengan berlebihan berpotensi meningkatkan jumlah oksalat di dalam urin, sehingga meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal.

Dalam sebuah penelitian, orang dewasa diminta mengonsumsi suplemen vitamin C 1.000 mg dua kali sehari selama enam hari, jumlah oksalat yang mereka keluarkan meningkat sebesar 20%.

Gagal ginjal juga telah dilaporkan terjadi pada orang yang telah mengonsumsi vitamin C lebih dari 2.000 mg dalam sehari. Namun kasus ini jarang terjadi pada orang yang sehat.

Overdosis vitamin C dapat terjadi?

Karena vitamn C larut dalam air, dan tubuh mengeluarkan kelebihannya itu dalam waktu beberapa jam saja setelah dikonsumsi, jadi cukup sulit untuk terjadi overdosis.

Faktanya, hampir tidak mungkin seseorang mengalami overdosis vitamin C yang berasal dari makanan alami. Pada orang yang sehat, setiap kelebihan vitamin C dari dosis harian yang dibutuhkan tubuh akan hilang dari tubuh.

Ahli mengukur bahwa untuk mencapai batas maksimal vitamin C yang dapat ditolerir oleh tubuh adalah dengan mengonsumsi 29 jeruk atau 13 paprika. Jadi cukup tidak wajar jika seseorang bisa mengalami overdosis vitamin C hanya dari makanan alami.

Namun, risiko overdosis akan lebih tinggi pada orang yang mengonsumsi suplemen vitamin C. Semua efek samping vitamin C, seperti gangguan pencernaan dan batu ginjal, hanya lebih mungkin terjadi pada orang yang mengonsumsi vitamin C dengan dosis lebih dari 2.000 mg.

Jika Anda memang membutuhkan suplemen vitamin C, yang terbaik adalah memilih suplemen vitamin C yang dosisnya tidak melebihi 100% dari kebutuhan vitamin C harian. Yakni 90 mg sehari untuk pria dan 75 mg sehari untuk wanita.

Kesimpulan

Vitamin C umumnya aman bagi setiap orang, terutama jika diperoleh dari makanan alami, seperti buah dan sayuran.

Orang yang mengonsumsi vitamin C dalam bentuk suplemen, berisiko overdosis dan mengalami efek samping, utamanya gangguan pencernaan. Konsekuensi yang lebih serius, seperti kelebihan zat besi dan batu ginjal, mungkin juga merupakan akibat dari mengonsumsi vitamin C secara berlebihan.

Mudah untuk mencegah overdosis dan efek samping dari vitamin C, cukup dengan menghindari konsumsi vitamin C dari suplemen.
Cara Mencegah Penularan Penyakit Tuberkulosis (TBC)

Cara Mencegah Penularan Penyakit Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis atau TBC adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri Mycobacterium tuberculosis paling suka berkembang biak di bagian tubuh yang kaya akan darah dan oksigen. Itulah sebabnya mengapa tuberkulosis paling sering menyerang paru-paru, yang disebut sebagai TBC paru. TBC juga dapat menyerang area tubuh lain.

TBC mudah ditularkan melalui udara yang keluar dari mulut atau hidung penderita TBC ketika berbicara, bersin, tertawa, bernyanyi, atau batuk. Partikel udara kemudian terhirup dan masuk ke paru-paru orang yang terpapar, disanalah bakteri TBC akan berkembang biak.

Penularan TBC

Mencegah Penularan Tuberkulosis

TBC adalah penyakit yang sangat menular. Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan bahwa sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi bakteri yang menyebabkan TBC.

Pencegahan TBC terdiri dari dua poin utama. Poin pertama pencegahan TBC adalah menghentikan penularan TBC dari orang ke orang. Poin kedua pencegahan TBC adalah mencegah TBC yang diderita penderita TBC agar tidak menjadi menjadi TBC yang aktif dan menular.

Untuk mencegah TBC, lakukan hal berikut ini:
  • Hindari berada di satu ruangan tertutup/pengap bersama dengan penderita TBC sampai penderita diobati setidaknya sudah selama 2 minggu.
  • Jika Anda bekerja di fasilitas kesehatan yang merawat penderita TBC, gunakan alat pelindung, seperti masker, dan taati prosedur pengendalian infeksi.
  • Jaga kondisi kesehatan dengan pola hidup sehat, dengan mengonsumsi menu seimbang dan berolahraga. Jika kekebalan tubuh lemah, maka bakteri TBC akan mudah masuk dan berkembang biak.

Untuk meminimalisir penularan penyakit TBC di rumah, dimana di dalamnya ada anggota keluarga yang terkena TBC yang menular, tindakan berikut perlu dilakukan:
  • Rumah harus memiliki ventilasi yang memadai.
  • Penderita TBC sebaiknya tidur terpisah dari orang lain di kamar yang memiliki ventilasi memadai.
  • Ketika penderita TBC batuk atau bersin, mulut dan hidung harus ditutup.

Ketika batuk atau bersin, penderita TBC harus menutup hidung dan mulutnya untuk mencegah penularan. Bisa dilakukan dengan tisue, jika tidak ada, batuk dan bersin ke tangan atau siku atas, tapi jangan batuk ke tangan. Mendidik penderita TBC tentang bagaimana penularan TBC merupakan poin penting dalam mencegah TBC.

Dulu, penderita TBC "diusir" dari rumah dan ditempatkan di ruang isolasi di sanatorium. Ini menjadi cara utama untuk mengurangi penularan TBC. Namun kebiasaan ini kemudian berubah setelah penelitian menunjukkan bahwa jika penderita TBC tinggal serumah, dan penderita TBC tersebut telah dirawat dengan obat-obatan TBC, maka tidak meningkatkan risiko penularan TBC di dalam rumah.

Bergunakah vaksin BCG?

Vaksin BCG (bacille Calmette-Guerin) untuk TBC merupakan salah satu vaksin yang paling banyak digunakan saat ini, menjangkau lebih dari 80% bayi baru lahir di negara-negara dengan program imunisasi wajib nasional.

Vaksin BCG pertama kali dikembangkan pada tahun 1920-an, dan telah terbukti memberikan perlindungan yang sangat baik pada anak-anak terhadap penyakit TBC. Namun vaksin ini tidak lagi efektif jika diberikan pada orang dewasa. Vaksin TBC juga sering menyebabkan orang dewasa yang divaksinasi memiliki hasil positif ketika dilakukan tes kulit TBC

Article Resources
  • Webmd. Tuberculosis (TB) - Prevention. https://www.webmd.com/lung/tc/tuberculosis-tb-prevention
  • Tbfacts. TB Prevention – Vaccine, drug treatment, isolation. https://www.tbfacts.org/tb-prevention/
  • CDC - U.S. Department of Health & Human Services. Tuberculosis Facts. https://www.cdc.gov/tb/publications/factseries/prevention_eng.htm

Prosedur Medis

P3K

Infeksi Kanak-kanak

Nutrisi