Prosedur dan Manfaat Otoskopi (Pemeriksaan Telinga)

Prosedur dan Manfaat Otoskopi (Pemeriksaan Telinga)

Apa itu otoskopi?

Otoskopi atau pemeriksaan telinga adalah prosedur pemeriksaan telinga bagian dalam secara visual. Otoskopi akan dilakukan dokter jika Anda mengalami:
Otoskopi dilakukan untuk mendiagnosis infeksi telinga atau untuk melihat seberapa baik pengobatan untuk suatu kondisi telinga telah bekerja. Terutama pada anak-anak, infeksi telinga sangat umum terjadi.

Mengapa otoskopi perlu dilakukan?

Dokter mungkin akan melakukan otoskopi jika Anda pernah atau sedang mengalami hal-hal berikut:
Ketika mengalami infeksi telinga, otoskopi mungkin akan terasa tidak nyaman atau bisa saja sedikit menyakitkan. Tapi dokter akan menghentikan pemeriksaan dan mengangkat otoskop jika rasa sakitnya kian parah akibat otoskopi.

Bagaimana otoskopi dilakukan?

Adakalanya dokter akan meredupkan lampu ruangan guna mempermudah melihat saluran telinga dan gendang telinga Anda dengan otoskop. Otoskop adalah alat tangan (genggam) khusus untuk otoskopi yang dilengkapi dengan lampu dengan ujung berbentuk kerucut yang dapat dilepas yang memungkinkan dokter melihat ke bagian dalam telinga Anda.

Otoskopi

Dokter akan menempatkan ujung otoskop ke telinga dan menyinari saluran telinga dengan cahaya sampai ke gendang telinga Anda. Dengan hati-hati, dokter akan memutar otoskop ke arah yang berbeda untuk melihat bagian lain dalam telinga dan gendang telinga Anda.

Pada otoskopi, dokter mungkin juga akan menggunakan otoskop pneumatik. Otoskop pneumatik adalah otoskop yang dilengkapi dengan 'plastic bulb' pada ujungnya, yang dapat menghembuskan udara kecil ke gendang telinga untuk melihat fungsi gendang telinga Anda. Gendang telinga biasanya akan bergerak karena tiupan kecil udara ini. Dokter akan melihat apakah ada gerakan atau tidak ada gerakan dari gendang telinga. Jika tidak ada, biasanya ini diakibatkan infeksi dan penumpukan cairan di belakang gedang telinga Anda.

Pada pemeriksaan telinga anak-anak, mereka biasanya akan disuruh berbaring terlentang dengan kepala menghadap ke samping. Remaja dan orang dewasa bisa duduk tegak saat diperiksa, dengan memiringkan kepala ke samping agar dokter bisa memeriksanya.

Otoskop sendiri dijual bebas namun tetap harus digunakan oleh orang yang paham, atau telah memiliki pelatihan. Anda dapat membeli sendiri otoskop untuk memeriksa telinga anak Anda di rumah jika Anda merasa mereka mengalami infeksi telinga.

Segera hubungi dokter jika Anda melihat hal-hal berikut di telinga anak Anda:
  • kemerahan
  • pembengkakan
  • berair
  • nanah.

Risiko otoskopi

Meskipun terlihat pemeriksaan yang simpel, tetap saja ada sedikit risiko dalam otoskopi. Jika dokter tidak mengganti ujung otoskop atau tidak membersihkannya dengan benar setelah memeriksa salah satu telinga Anda, maka infeksi dari satu telinga dapat menyebar ke telinga Anda yang lain atau ke telinga orang lain.

Hasil otoskopi

Biasanya, warna saluran telinga sama dengan warna kulit dan gendang telinga berwarna abu-abu terang atau putih mutiara. Pada gendang telinga yang sehat cahaya seharusnya memantul. Kotoran telinga yang berwarna kuning atau coklat bukanlah hal yang harus dikhawatirkan. Jika saluran telinga dan gendang telinga Anda tampak sehat, kemungkinan besar Anda tidak memiliki infeksi telinga.

Jika dokter mengidentifikasi hal-hal berikut di saluran telinga atau di belakang gendang telinga Anda, kemungkinan besar Anda terkena infeksi telinga:
  • kemerahan
  • pembengkakan
  • cairan
  • nanah.
Jika cahaya tidak memantul dari gendang telinga, ini mengindikasikan bahwa cairan mungkin telah menumpuk di balik gendang telinga akibat infeksi.

Perlu diperhatikan

Infeksi telinga umumnya mudah didiagnosis berdasarkan gejala dan pengamatan yang dilakukan dokter dengan melihat ke dalam telinga melalui otoskop.

Jika setelah diberikan antibiotik gejala Anda belum juga membaik, ada pemeriksaan diagnostik lain yang dapat dilakukan dokter untuk mengidentifikasi penyebabnya. Berikut adalah beberapa pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan dokter jika hal ini terjadi:
  • Dokter mungkin akan menggunakan timpanometri untuk secara khusus memeriksa infeksi di bagian telinga tengah, yang berada di belakang gendang telinga.
  • Timpanosentesis, dokter akan memasukkan selang khusus ke telinga Anda menembus gendang telinga untuk menguras cairan di dalamnya. Prosedur ini hanya dilakukan untuk kondisi-kondisi tertentu.
  • Dokter mungkin akan menggunakan reflektometri untuk mengukur seberapa besar suara gendang telinga Anda tercermin. Semakin besar suara reflek gendang telinga kembali, semakin banyak tekanan cairan di dalam gendang telinga Anda.


Resources:
- Ear infections. (2016).
https://my.clevelandclinic.org/services/head-neck/diseases-conditions/ear-infections
- Mayo Clinic Staff. (2015, November 20).
Ear infection (middle ear): Tests and diagnosis. http://www.mayoclinic.com/health/ear-infections/DS00303/DSECTION=tests-and-diagnosis
- Swanson, W. S. (2011, January 14). Treating ear infections with antibiotics.
http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/treating-ear-infections-with-antibiotics/

Image:
- https://www.youtube.com/watch?v=0BJ2EP3TacU
Dapatkah Jahe Mengobati Diare?

Dapatkah Jahe Mengobati Diare?

Jahe untuk diare
Jahe dan diare
Potensi yang terkandung di dalam jahe menjadikannya sebagai obat yang berguna untuk mengatasi diare. Sejak ribuan tahun lalu, tabib-tabib dari Timur telah menggunakan jahe untuk mengobati diare.
Jahe akan menghangatkan perut dan merupakan tonik bagi sistem pencernaan. Jahe juga memiliki sifat anti inflamasi (radang), analgesik, dan antibakteri yang membantu penyembuhan penyakit perut. Fungsi antioksidan yang juga dimiliki jahe memiliki efek positif bagi kesehatan perut secara umum.

Minum teh jahe atau wedang jahe dapat membantu rehidrasi tubuh Anda dan mengembalikan cairan yang hilang ketika diare. Biasanya diare akut akan berlangsung tidak lebih dari beberapa hari. Jahe akan membuat nyaman perut selama diare terjadi, sehingga proses pemulihan akan berlangsung lebih cepat dan nyaman.

Cara memanfaatkan jahe untuk mengobati diare

Untuk mengobati diare, jahe dapat Anda makan langsung atau dibuat menjadi wedang atau teh. Dua cara ini merupakan cara terbaik untuk mengonsumsinya dan dengan hasil terbaik pula. Jahe saat ini sudah tersedia dalam kemasan kapsul, bedak, dan sebagai tingtur. Pastikan tidak mengonsumsi lebih dari 4 gram jahe perhari. Anda bisa mengonsumsi 2 sampai 4 mililiter tingtur jahe perhari.

Selalu periksa label kemasan dengan seksama karena berbeda merk dapat berbeda pula dosis dan kekuatannya.

Cara membuat teh atau wedang jahe
Tambahkan beberapa sendok makan jahe parut atau jahe yang dipotong halus ke dalam secangkir air mendidih. Diamkan selama lima menit atau lebih tergantung seberapa kuat jahe yang Anda inginkan. Madu dan lemon juga dapat Anda tambahkan disitu. Bubuk jahe atau teh jahe kemasan juga boleh Anda gunakan untuk mengonsumsi jahe.

Penelitian penggunaan jahe untuk mengobati diare

Periset mencari cara untuk mengobati diare yang disebabkan oleh patogen usus. Inilah penyebab kematian nomor satu pada bayi di negara berkembang.

Sebuah penelitan dari tahun 2007 pada hewan menemukan bahwa jahe adalah obat yang efektif untuk diare yang disebabkan oleh bakteri E.coli. Jahe bekerja dengan cara memblokir bakteri beracun yang menyebabkan diare dan mencegah cairan menumpuk di dalam usus. Jahe memiliki efek antidiare pada tubuh.

Penelitian dari tahun 2015 juga mendukung penggunaan jahe untuk mengobati diare serta masalah perut lainnya. Jahe diyakini dapat menyembuhkan diare yang disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi. Jahe akan mencegah mual, muntah, dan kejang perut, mengurangi gas di dalam perut dan meningkatkan kesehatan pencernaan. Sebuah penelitian dari tahun 1990 menunjukkan bahwa jahe akan menghambat diare yang diinduksi serotonin secara signifikan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menemukan potensi penggunaan jahe sebagai obat.

Jahe telah berhasil digunakan untuk mencegah diare pada babi. Diare pada babi diketahui sering disebabkan oleh infeksi bakteri. Sebuah studi dari tahun 2012 menunjukkan potensi jahe dalam mencegah diare dan memperbaiki kesehatan usus pada babi.

Yang perlu diketahui sebelum mengonsumsi jahe

Umumnya orang yang mengonsumsi jahe tidak mengalami efek samping. Tapi ada juga laporan mereka yang mengalami beberapa bentuk ketidaknyamanan perut, mulas atau gas berlebih di perut setelah mengonsumsi jahe. Sebagian lainnya bahkan ada yang melaporkan bahwa jahe menjadi penyebab diare.

Untuk mengonsumsi jahe pada saat hamil atau menyusui, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Jangan mengonsumsi jahe jika Anda sedang mengalami gangguan pendarahan, diabetes, suatu gangguan jantung, dan gunakan dengan hati-hati jika Anda memiliki masalah penyakit batu empedu. Jangan memberikan jahe kepada anak-anak dibawah  usia 2 tahun.

Seperti halnya obat-obatan medis, jahe diketahui juga dapat berinteraksi dengan:
  • Obat-obatan yang memperlambat pembekuan darah
  • Phenprocoumon (untuk penyakit tromboemboli, stroke iskemik, dan lainnya)
  • Warfarin atau obat pengencer darah lainnya
  • Obat diabetes
  • Obat hipertensi
  • Obat penyakit jantung.
Bagi kebanyakan orang, mengonsumsi jahe adalah cara yang aman efektif untuk mengobati diare. Perhatikan bagaimana tubuh Anda bereaksi terhadap beberapa jenis jahe. Jika mengalami efek samping, hentikan penggunaan.

Yang tak kalah pentingnya, luangkan waktu bagi tubuh Anda untuk menyembuhkan sendiri penyakit Anda dengan beristirahat. Jika perlu, hentikan sementara semua aktifitas yang menyita waktu Anda selama ini. Berikan waktu istirahat bagi tubuh Anda untuk memulihkan kesehatan.


Resources:
- Khodaie L, et al. (2015 Jan 17). Ginger ancient times to the new outlook. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4377061/
- Huang Q, et al. (1990 Dec). The effect of ginger on serotonin induced hypothermia and diarrhea [Abstract]. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2074539
- Haniadka R, et al. (2013). A review of the gastroprotective effects of ginger (Zingiber officinale Roscoe) [Abstract]. http://pubs.rsc.org/en/Content/ArticleLanding/2013/FO/c3fo30337c#!divAbstract
- Ginger. (September 2016).
https://nccih.nih.gov/health/ginger
- Cho JH, et al. (2012). Effects of anti-diarrhoeal herbs on growth performance, nutrient digestibility, and meat quality in pigs.
https://www.ajas.info/journal/view.php?doi=10.5713/ajas.2012.12339
- Chen J-C, et al. (2007). Ginger and its bioactive component inhibit enterotoxigenic Escherichia coli heat-labile enterotoxin-induced diarrhea in mice.
http://pubs.acs.org/doi/pdf/10.1021/jf071460f

Image : Healthy Food House
Diare Kronis pada Bayi dan Anak-anak

Diare Kronis pada Bayi dan Anak-anak

Diare adalah suatu kondisi dimana tekstur tinja berubah menjadi encer dan buang air beberapa kali sehari. Umumnya diare akan sembuh dengan sendirinya dalam satu atau dua hari tanpa perawatan medis. Sedangkan diare yang berlangsung selama lebih dari 2 atau 4 minggu (termasuk kondisi diare hilang muncul), disebut sebagai diare kronis.

Bila diare terjadi selama beberapa hari, dapat menyebabkan dehidrasi. Bayi dan anak-anak sangatlah rentan terhadap dehidrasi akibat diare. Selama episode diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan. Elektrolit adalah mineral yang sangat mempengaruhi fungsi otot, kadar air dalam tubuh dan keasaman darah.

Jika bayi atau anak mengalami diare yang berlangsung lebih dari 24 jam, sebaiknya hubungi dokter terutama bila ia demam. Diare kronis dapat menyebabkan syok atau kerusakan organ pada bayi dan anak-anak.

Diare juga menjadi penyebab utama kasus malnutrisi pada anak usia dibawah 5 tahun. Umumnya kasus diare ini terjadi akibat air dan makanan yang terkontaminasi. Di negara berkembang, anak di bawah usia 3 tahun disinyalir memiliki tiga episode diare pertahunnya. Setiap kejadian diare maka mereka akan kehilangan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Episode lanjutan dari diare dapat menyebabkan malnutrisi. Malnutrisi sendiri akan memperparah siklus diare.

Di dunia, diare merupakan penyebab utama kedua kematian pada anak usia dibawah 5 tahun. Setidaknya 760.000 nyawa anak melayang setiap tahunnya.

Penyebab diare

Penyebab diare pada anak tidak selalu bisa ditemukan. Namun penyebab umumnya, meliputi:
  • Terlalu banyak mengonsumsi buah atau jus buah
  • Penggunaan antibiotik atau obat lain (pada bayi langsung atau pada ibu yang sedang menyusui)
  • Alergi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu
  • Perubahan pola makan (pada bayi atau pada ibu menyusui).
Sedangkan diare berat disebabkan karena:
  • inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus
  • infeksi bakteri
  • infeksi virus
  • parasit
  • malnutrisi
  • hygiene makanan yang buruk
  • kebersihan yang buruk
  • berkunjung ke daerah lain, biasanya terjadi ketika bayi atau anak-anak mengonsumsi air atau makananan yang sudah terkontaminasi.

Gejala diare

Bayi umum mengeluarkan tinja yang encer, jadi jangan dulu panik. Namun, meningkatnya intensitas dan jumlah tinja encer, terutama jika disertai dengan rewel atau demam, maka bisa jadi itu pertanda diare pada bayi dan anak-anak. Gejala diare lainnya meliputi:
  • sakit atau kram perut
  • mual
  • sering ke kamar mandi, atau berak di celana
  • demam dan menggigil
  • dehidrasi.

Gejala dehidrasi

Dehidrasi adalah suatu kondisi dimana tubuh tidak lagi memiliki cukup cairan untuk bekerja sebagaimana mestinya. Pada bayi dan anak-anak, dehidrasi bisa berkembang sangat cepat.  Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius. Komplikasi dehidrasi meliputi syok, kerusakan organ, dan koma.

Gejala-gejala dehidrasi meliputi:
  • mulut kering
  • mata kering, cekung
  • pipi cekung
  • tidak ada air mata saat menangis
  • gampang marah
  • kulit kering
  • lemah.

Gejala dehidrasi
Gejala dehidrasi

Gejala berikut ini dapat mengindikasikan dehidrasi berat:
  • lebih dari delapan jam tidak buang air kecil
  • kondisi anak sangat lemah
  • bagian kepala atas/ubun-ubun (fontanelle) tampak cekung
  • kulit bila ditekan/dicubit sulit kembali lagi
  • demam tinggi
  • tidak sadarkan diri.
Segera hubungi dokter jika melihat gejala-gejala tersebut.

Pengobatan rumahan untuk diare

Mengobati kasus diare ringan pada bayi dan anak-anak biasanya cukup dilakukan di rumah. Penting untuk dicatat bahwa obat yang bebas diberikan untuk orang dewasa jangan diberikan kepada bayi atau anak-anak. Bicarakan dengan dokter sebelum memberikan obat diare untuk bayi dan anak-anak.

Anda bisa merawat bayi dan anak Anda yang diare dengan langkah-langkah berikut:
  • Pastikan anak minum banyak cairan (oralit, air, air kaldu)
  • Jangan memberikan mereka makanan yang dicurigai memicu diare
  • Sering-seringlah mencuci tangan, terutama saat setelah mengganti popoknya untuk menghindari penyebaran bakteri di rumah.
Bagi ibu menyusui, harus tetap menyusui bayinya yang diare. ASI akan membantu meredakan gejala diare dan mempercepat pemulihan.

Pantau anak dengan seksama, waspadai gejala-gejala dehidrasi. Segera ke dokter bila Anda melihat gejala dehidrasi.

Ganti segera popok mereka setelah ia buang air besar. Hal ini akan mencegah ruam dan iritasi. Krim yang mengandung zinc oxide juga dapat membantu melindungi dan memberikan rasa nyaman bagi kulit.

Bilakah harus dibawa ke dokter?
Bawa bayi atau anak Anda dokter jika mereka diare selama lebih dari dua hari. Meskipun belum dua hari, Anda juga harus membawa anak Anda ke dokter jika melihat gejala-gejala berikut:
  • demam
  • diare berdarah
  • diare berat (delapan kali dalam delapan jam)
  • diare yang disertai muntah
  • sakit atau kram perut
  • diare berulang.
Diare pada bayi dan anak-anak dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi, yang merupakan kondisi berbahaya. Jangan ragu untuk segera ke dokter.

Diagnosis diare kronis pada bayi dan anak-anak

Jika bayi dan anak-anak mengalami diare kronis, maka penyebabnya harus ditemukan. Riwayat medis dan pemeriksaan fisik bayi dan anak akan diperlukan dokter untuk mendiagnosis. Ingat-ingatlah tentang pola makan, kebiasaan makan, dan obat atau vitamin dan mineral yang bayi atau anak Anda konsumsi, karena hal ini akan sangat berguna bagi dokter untuk menemukan penyebabnya.

Untuk menemukan penyebabnya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan berikut:
  • pemeriksaan darah (untuk memeriksa penyakit)
  • kultur tinja (untuk memeriksa keberadaan bakteri dan parasit di usus)
  • tes alergi.
Tergantung dari hasil pemeriksaan ini, mungkin juga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pengobatan diare kronis pada bayi dan anak-anak

Rencana pengobatan untuk bayi atau anak-anak akan tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya.

Bayi atau anak-anak mungkin akan dirawat di rumah sakit jika mereka mengalami diare atau dehidrasi kronis. Mereka mungkin akan diberikan cairan yang mengandung elektrolit (infus) untuk membantu memulihkan keseimbangan cairan tubuhnya.

Penting untuk mematuhi semua saran dari dokter. Jangan memberikan makanan yang memicu diare pada bayi atau anak Anda. Berikan mereka makanan hambar (sepeti kentang, roti atau pisang), hingga diarenya mereda.

Mencegah diare

Diare tidak selau bisa dicegah. Namun, Anda dapat menurunkan risikonya dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan makanan dan minuman.

Ketika akan melakukan perjalanan ke daerah lain, untuk mencegah diare pada bayi dan anak-anak, lakukan langkah berikut:
  • Hanya menggunakan air kemasan untuk diminum, termasuk untuk menyikat giginya.
  • Jangan mengonsumsi susu yang tidak melalui proses pasteurisasi.
  • Cuci dan kupas buah dan sayuran mentah.
  • Jangan mengonsumsi makanan hewani mentah.
  • Sebaiknya bawa makanan ringan dari rumah untuk camilan.
  • Latih anak untuk selalu menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan.
  • Persiapkan cairan pembersih tangan untuk berjaga-jaga ketika tidak ada fasilitas mencuci tangan.


Resources
- Diarrhea. (2013, November 25).
http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/diarrhea/index.aspx
- Diarrhoeal disease. (2013, April).
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/index.html
- Weinberg, N., Weinberg, M. S., & Maloney, S. A. (2015, July 10). Traveling safely with infants & children.http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2012/chapter-7-international-travel-infants-children/traveling-safely-with-infants-and-children.htm
Diare Kronis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Diare Kronis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Diare adalah suatu kondisi pencernaan yang menyebabkan tinja menjadi encer. Diare yang umum dialami orang adalah diare akut yang sering sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Diare akut biasanya bukanlah hal yang serius, tapi jika tidak diatasi maka dapat juga menjadi masalah. Sedangkan jika diare berlangsung lebih dari dua sampai empat minggu, maka ini disebut sebagai diare kronis.

Diare

Gejala diare kronis

Gejala utama diare kronis adalah tinja encer yang berlangsung selama berminggu-minggu. Sedangkan gejala lain diare kronis yang mungkin terjadi, antara lain:
  • kram perut
  • kembung
  • mual.
Penyebab diare kronis

Diare kronis terkadang disebabkan oleh suatu kondisi medis yang dialami seseorang, misalnya keberadaan suatu penyakit lain.

Kondisi peradangan yang dapat menyebabkan diare kronis antara lain kolitis ulserativa dan penyakit Crohn. Kondisi ini dapat menyebabkan tinja disertai dengan darah dan sakit perut.

Untuk diare kronis, biasanya sampel tinja akan diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini antara lain untuk melihat peningkatan sel darah putih, yang merupakan pertanda adanya peradangan di tubuh. Juga untuk mengetahui keberadaan suatu bakteri atau parasit di dalam tinja yang mana keduanya dapat menyebabkan tinja menjadi encer. Selain itu pemeriksaan lab untuk tinja juga dapat mengetahui keberadaan lemak di dalamnya, yang dapat mengindikasikan adanya pankreatitis kronis (kerusakan pankreas akibat peradangan kronis yang berkepanjangan) atau penyakit seliaka.

Diet atau makanan juga bisa menjadi penyebab diare kronis. Bahan-bahan makanan tertentu diketahui dapat mempercepat laju organ pencernaan, menyebabkan makanan melewati usus besar dengan cepat sehingga penyerapan kurang dan tinja menjadi encer. Penyebab umumnya adalah susu dan pemanis buatan (sorbitol dan fruktosa).

Penyebab lain diare kronis meliputi:
  • Obat-obatan - NSAID (obat anti inflamasi non steroid), antibiotik, antasida
  • Diabetes
  • Ketidakpekaan terhadap gluten
  • Penyalahgunaan alkohol.
Jika pemeriksaan darah atau sampel tinja belum dapat mengidentifikasi penyebab diare, dokter mungkin akan melakukan USG atau CT-Scan pada bagian perut, tetapi hal ini biasanya dilakukan jika memiliki gejala lain seperti nyeri hebat atau tinja mengandung darah. Tes pencitraan ini akan dapat mengetahui masalah pada organ pencernaan. Untuk kasus tertentu, kolonoskopi mungkin juga akan dilakukan guna melihat kondisi lapisan usus, pankreas dan kolon.

Terkadang, penyebab diare kronis tidak diketahui penyebabnya. Jika dokter belum menemukan penyebabnya dalam pemeriksaan diagnostik, dokter mungkin akan mengaitkan penyebab diare kronis dengan sindrom iritasi usus besar / irritable bowel syndrome (IBS). Kondisi ini mempengaruhi usus besar dan menyebabkan berbagai gejala seperti diare, konstipasi, kembung, mual, sakit perut. IBS bisa bersifat kronis, tapi tidak merusak usus besar.

Pengobatan diare kronis

Obat anti diare dapat mengurangi diare, namun obat-obat semacam ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.

Pengobatan untuk diare kronis akan tergantung dari penyebabnya. Misalnya, jika Anda didiagnosis dengan kondisi medis seperti kolitis ulserativa, penyakit Crohn, pankreatitis, atau penyakit seliaka, dokter akan memberikan jenis pengobatan yang sesuai dengan penyebabnya. Pengobatannya mungkin termasuk penggunaan obat seperti imunosupresan atau kortikosteroid.

Diare bisa sembuh ketika kesehatan Anda membaik.

Pilihan pengobatan tambahan untuk diare kronis, meliputi:

Diet dan gaya hidup
Catat semua makanan (termausk camilan) dan minuman Anda. Buatlah catatan khusus mengenai makanan-makanan tersebut. Apakah keadaan diare memburuk setelah Anda makan makanan tersebut.

Setelah beberapa minggu, Anda mungkin sudah dapat mengidentifikasi makanan apa saja yang mungkin menjadi pemicu diare kronis. Stop mengonsumsi makanan ini dan lihat kedepannya apakah gejala diare menurun. Misalnya, diare Anda bisa berhenti atau berkurang secara signifikan setelah Anda berhenti mengonsumsi asupan gluten, pemanis buatan, atau produk susu tertentu. Atau kondisi Anda membaik setelah berhenti mengonsumsi sayuran, buah, atau kacang tertentu.

Perubahan gaya hidup untuk membantu mengatasi diarea kronis, meliputi:
  • Menghindari konsumsi kafein dan minuman beralkohol
  • Mengonsumsi makanan berserat rendah
  • Minum air putih guna mencegah dehidrasi
  • Mengatur porsi makan agar tidak makan terlalu banyak.
Obat-obatan
Jika diare kronis disebabkan bakteri atau parasit, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Pada kasus tertentu, kodein juga dapat membantu karena akan meningkatkan waktu yang dibutuhkan tinja untuk melewati saluran pencernaan, yang mengakibatkan tinja menjadi keras. Namun, ada risiko kecanduan obat ini, jadi kodein tidak direkomendasikan sebagai terapi jangka panjang.

Obat-obatan bebas seperti loperamide juga dapat memperlambat transit tinja di usus, tapi loperamide juga tidak boleh dikonsumsi untuk jangka panjang. Ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan untuk mengobati diare kronis Anda.

Pengobatan rumah
Diare kronis bisa saja terjadi setelah Anda meminum obat resep dokter seperti antibiotik. Harus dicari obat-obat alternatifnya. Jika tidak tersedia, gunakan probiotik yang tersedia dalam bentuk yogurt dan kapsul.

Suplemen serat dikaitkan dengan manfaatnya yang menghilangkan sembelit. Tapi suplemen serat tertentu juga bisa meringankan diare kronis karena efek water-holdingnya. Menggunakan psyllium setiap hari dapat mengeraskan tinja atau mengurangi diare yang disebabkan oleh kondisi IBS atau akibat pengobatan,

Mencegah diare kronis

Diare kronis yang disebabkan oleh kondisi medis yang mendasarinya tidak selalu bisa dicegah. Tapi Anda bisa mencegah diare kronis yang terjadi akibat infeksi dengan menjaga agar makanan dan air minum tetap bersih. Sebagai contoh:
  • Minumlah hanya dari sumber air yang bersih.
  • Cuci bersih daging sebelum memassk dan masak hingga matang sepenuhnya.
  • Cuci tangan sebelum memakan sesuatu.
  • Permukaan dapur dan peralatan dapur harus bersih guna mencegah kontaminasi.
  • Cuci buah dan sayuran sebelum mengonsumsinya.
  • Cuci tangan Anda setelah dari kamar mandi, setelah mengganti popok atau setelah menyentuh orang sakit.
Komplikasi diare kronis

Pada diare kronis, ada risiko dehidrasi akibat kehilangan cairan. Dehidrasi adalah dimana tubuh tidak memililki cukup air. Kondisi dehidrasi dapat mengancam jiwa, jadi minumlah banyak cairan seperti oralit, air putih, air kaldu dan teh tanpa pemanis dan kafein. Tanda-tanda dehirasi meliputi:
  • urin berwarna gelap
  • haus yang berlebihan
  • pusing
  • lemah
  • muntah
  • demam
Segera ke dokter bila mengalami gejala-gejala dehidrasi.


Resources:
- Antibiotics and diarrhea. (Last Updated: 03 September 2015)
https://iffgd.org/lower-gi-disorders/diarrhea/antibiotics-diarrhea.html
- Chronic diarrhea. (Last Updated: 18 August 2011).
https://www.cdc.gov/healthywater/hygiene/disease/chronic_diarrhea.html
- Common causes of chronic diarrhea. (Last Updated: 09 January 2016)
https://iffgd.org/lower-gi-disorders/diarrhea/common-causes.html

Prosedur Medis

P3K

Infeksi Kanak-kanak

Nutrisi