Gejala dan Pengobatan Leukemia (Kanker Darah)

Thursday, February 05, 2015
Leukemia adalah kanker pada sel-sel pembentuk darah, yang dibuat di sumsum tulang. Leukemia sering juga disebut dengan kanker darah. Sel-sel darah leukemia tidak berfungsi dengan normal, sehingga tidak mampu melakukan apa yang sel darah normal dapat lakukan.

Leukemia utamanya mempengaruhi sel darah putih, meskipun juga dapat mempengaruhi sel darah merah atau pun trombosit. Sel darah putih merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi, akibat leukemia, sel darah putih tidak dapat berkembang dengan normal sehingga tidak mampu melindungi tubuh dari infeksi.

Sel darah leukemia mielositik kronis
Sel darah leukemia mielositik kronis. Gambar: ucsd.edu
Leukemia dan sel-sel darah

Darah sebagian besar terdiri dari cairan bening yang disebut dengan plasma. Ada tiga jenis sel darah yang mengambang pada plasma, yaitu:
  • Sel darah merah (eritrosit) - yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh
  • Sel darah putih (leukosit) - yang melawan penyakit dan infeksi
  • Keping darah (trombosit) - yang membantu menghentikan pendarahan.
Sel-sel darah ini dibuat di sumsum tulang.

Dalam kondisi normal, jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit seimbang. Pada orang dengan leukemia, sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih yang abnormal. Sel-sel darah putih yang abnormal ini tidak mampu menjalankan fungsinya untuk melawan infeksi. Selain itu, kerumunan sel darah putih abnormal di sumsum tulang membuat sumsum tulang kurang memproduksi sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit yang normal.

Sebagai bagian sistem kekebalan tubuh, sel darah putih berfungsi melawan infeksi. Pada orang dengan leukemia, sejumlah besar sel darah putih ini abnormal, sehingga tubuh akan kesulitan mengatasi infeksi.

Penyebab leukemia

Penyebab pasti leukemia hingga kini belum diketahui. Namun ada beberapa faktor risiko yang diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena leukemia, antara lain:
  • Faktor kimia dan lingkungan - terpapar kimia benzene (racun lingkungan) dalam waktu yang lama. Benzene juga ditemukan di dalam bensin.
  • Sebelumnya menjalani pengobatan kanker - orang-orang yang sebelumnya pernah menjalani kemoterapi dan terapi radiasi untuk kanker lain memiliki peningkatan risiko untuk mengembangkan leukemia jenis tertentu.
  • Paparan radiasi tingkat tinggi - namun tidak ada laporan kasus leukemia terkait penggunaan radiasi dari X-ray dan CT scan.
  • Faktor genetik, seperti:
    • Memiliki saudara, terutama kembar identik yang juga terkena leukemia
    • Mengidap suatu kondisi genetika, seperti down sindrom, sindrom Li-Fraumeni, sindrom Klinefelter, sindrom Wiskott-Aldrich, ataxia-telangiectasia, neurofibromatosis, dan Fanconi anemia.
  • Riwayat keluarga, usia dan jenis kelamin - ketiganya memiliki efek untuk risiko mengembangkan leukemia jenis leukemia tertentu (misalnya, laki-laki lebih berisiko terkena leukemia ketimbang perempuan).
  • Merokok - dapat meningkatkan risiko leukemia jenis tertentu.
Tapi kebanyakan kasus leukemia tidak memiliki faktor-faktor risiko diatas. Saat ini penelitian masih terus dilakukan untuk mencari penyebab leukemia.

Jenis leukemia

Ada beberapa bentuk leukemia dan pengobatannya juga bervariasi:
  • Leukemia akut - berkembang dengan cepat dan mematikan. Bila tidak segera ditangani, penderita dapat meninggal dalam hitungan minggu atau bahkan hari.
  • Leukemia kronis -  berkembang dalam hitungan bulan atau tahun. Perkembangan leukemia yang tidak terlalu cepat membuat harapan hidup menjadi lebih lama.
  • Leukemia limfositik dan leukemia mielositik - leukemia yang mempengaruhi sel limfoid (leukemia limfositik) atau mieloid (leukemia mielositik).
Leukemia sendiri terbagi dalam empat jenis utama, yaitu:

Leukemia limfositik akut (LLA) / Acute lymphocytic leukaemia (ALL)
LLA akan mempengaruhi sel limfosit (jenis sel darah putih yang fungsi utamanya melindungi tubuh dari infeksi) sehingga tidak lagi mampu berfungsi dengan baik. LLA juga menyebabkan produksi berlebih sel limfosit yang abnormal, sehingga sel-sel darah yang lain, seperti sel darah merah dan trombosit tidak cukup mendapatkan nutrisi. Kondisi ini akan menyebabkan infeksi yang serius, karena tubuh tidak mampu melawan infeksi. LLA paling sering terjadi pada anak-anak, dan jarang terjadi pada orang dewasa.

Leukemia limfositik kronis (LLK) / Chronic lymphocytic leukaemia (CLL)
Seperti halnya LLA, LLK juga mempengaruhi sel limfosit, hanya saja perkembangannya lebih lambat. Umumnya penderita tidak menyadari mereka terkena LLK, terkadang baru diketahui setelah melakukan pemeriksaan medis untuk kondisi lain. LLK hanya mempengaruhi orang dewasa, dan tidak terjadi pada anak-anak.

Leukemia mielositik akut ((LMA) / Acute myeloid leukaemia (AML)
LMA akan mempengaruhi sel-sel mieloid yang disebut granulosit. Sel-sel ini mencari penjajah menular di dalam darah dan jaringan di sekitarnya. Pada LMA, banyak sel muda mieloid yang diproduksi namun jumlah sel mieloid yang matang tidak mencukupi. Sel-sel muda mieloid dapat memblokir pembuluh darah. LMA utamanya terjadi pada orang dewasa, namun juga dapat terjadi pada remaja dan anak-anak.

Leukemia mielositik kronis (LMK) / Chronic myeloid leukaemia (CML)
Pada LMK, jumlah sel mieloid yang matang berlebihan, namun tidak berfungsi dengan baik. LMK berbeda dari jenis leukemia yang umum karena memiliki dua tahapan. Tahap pertama, sel-sel abnormal berkembang biak secara perlahan, dan kemudian di tahap kedua, dengan cepat berubah seperti halnya pada LMA. Jenis leukemia yang satu ini dapat mengenai semua usia, tetapi jarang terjadi pada orang berusia di bawah 20 tahun.

Gejala leukemia

Gejala leukemia seringkali kabur dan tidak spesifik, karena dapat menyerupai gejala kondisi lain, seperti flu atau penyakit umum lainnya. Tergantung dari jenis dan stadiumnya, gejala leukemia juga dapat sedikit berbeda. Gejala leukemia yang umum, antara lain:
  • Anemia - terjadi karena kekurangan sel darah merah, sehingga menyebabkan:
    • Lemah, letih dan lesu
    • Kulit pucat
    • Sesak napas
    • Penurunan energi
  • Pendarahan atau memar - terjadi karena tubuh kekurangan trombosit. Bintik-bintik merah kecil yang disebut petechiae, juga dapat muncul
  • Pendarahan dari gusi atau hidung (mimisan)
  • Infeksi berulang - terjadi akibat sel darah putih yang tidak mampu melawan infeksi. Mungkin terjadi demam, menggigil, dan batuk
  • Nyeri sendi dan tulang
  • Sakit perut
  • Hilang nafsu makan atau kehilangan berat badan tanpa alasan yang jelas
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, hati, atau limpa
  • Berkeringat berlebih, terutama di malam hari.
Namun, umumnya orang yang berobat karena gejala-gejala tersebut bukan terdiagnosis mengidap leukemia, melainkan hanya karena kondisi atau penyakit lain yang kurang serius dari leukemia.

Diagnosis leukemia

Untuk menegakkan diagnosis leukemia, limfa, hati dan kelenjar getah bening perlu diperiksa. Pemeriksaan-pemeriksaan yang biasanya dilakukan, antara lain:
  • Tes darah - untuk memeriksa sel-sel darah yang abnormal.
  • Biopsi sumsum tulang - pengambilan sedikit cairan sumsum tulang dengan menggunakan jarum untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
  • Biopsi kelanjar getah bening - sejumlah kecil jaringan pada kelenjar getah bening akan diambil dengan jarum dan diperiksa di laboratorium.
  • Pungsi lumbal (spinal tap) - pengambilan sejumlah kecil cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang dengan jarum untuk menguji sel-sel kanker.
Jika dalam pemeriksaan di atas menunjukkan indikasi leukemia, maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:
  • X-ray - tes yang memanfaatkan radiasi untuk membuat gambar struktur tubuh, terutama tulang.
  • CT scan - jenis pemeriksaan X-ray yang menggunakan komputer untuk membuat gambar stuktur tubuh.
  • Ultrasound (USG) - tes yang menggunakan gelombang suara untuk memeriksa tubuh.
  • MRI scan -  tes yang menggunakan gelombang magnetik untuk membuat gambar struktur dalam tubuh.
Pengobatan leukemia

Peluang kesembuhan anak-anak dan orang dewasa dengan leukemia akut masih sangat besar. Dan juga, leukemia kronis seringkali dapat dikelola untuk jangka waktu yang lama.

Beberapa bentuk pengobatan untuk leukemia, antara lain:
  • Kemoterapi - kemoterapi adalah terapi untuk membunuh atau memperlambat perkembangan sel kanker dengan menggunakan obat-obatan. Kemoterapi menjadi pengobatan utama untuk leukemia. Kemoterapi biasanya diberikan secara intravena (obat cair langsung ke aliran darah), tetapi terkadang juga diberikan dalam bentuk obat oral. Tergantung jenis dan stadium leukemia, kemoterapi dapat dilakukan dengan rawat inap dirumah sakit maupun dengan rawat jalan.
  • Radioterapi - dapat diterapkan pada berbagai jenis leukemia untuk membantu mengendalikan gejala atau untuk mengobati kanker yang telah menyebar ke otak dan sumsum tulang belakang.
  • Transplantasi sumsum tulang - sumsum tulang hancur atau rusak kanker, kemudian diganti dengan sumsum tulang yang sehat.
  • Terapi biologi - menggunakan zat yang dibuat oleh tubuh untuk meningkatkan atau mengembalikan pertahanan alami tubuh terhadap kanker. Terapi biologi sering disebut dengan imunoterapi.
  • Antibiotik - untuk mencegah infeksi.
  • Steroid - penelitian menunjukkan bahwa kemoterapi akan lebih baik jika diberikan bersama dengan pemberian steroid.
  • All-trans-retinoic acid - bentuk vitamin A yang digunakan untuk mengobati jenis leukemia mielositik akut. Biasanya diberikan bersama dengan kemoterapi.
  • Transfusi darah.
  • Obat-obatan lain - untuk mengatasi efek samping terapi (misalnya mual dan muntah akibat kemoterapi).
  • Perubahan pola hidup - karena pertahanan tubuh lemah, penderita leukemia harus selalu menghindari bakteri dan virus. Contohnya, dengan menghindari orang-orang yang jelas-jelas sedang terinfeksi, seperti orang yang sedang flu.
Efek samping pengobatan leukemia bervariasi tergantung dari jenis terapi apa yang dijalani. Umumnya efek samping bersifat sementara, namun ada juga yang bersifat permanen.

Ketika terapi sudah tidak memungkinkan

Jika leukemia baru terdiagnosis pada stadium yang berat, kanker mungkin telah menyebar sehingga pengobatan dengan tujuan untuk kesembuhan tidak dimungkinkan lagi. Pengobatan untuk leukemia stadium lanjut seperti ini biasanya hanya berfokus untuk menghilangkan gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita, seperti penggunaan obat-obat untuk mengatasi rasa sakit atau nyeri, mual dan muntah.
Mencegah leukemia

Belum diketahui cara untuk mencegah leukemia. Namun untuk menurunkan risiko, hindari terpapar dengan bahan kimia dan faktor lingkungan yang berbahaya.


Referensi:
  • American Cancer Society. http://www.cancer.org/
  • Leukemia and Lymphoma Society. http://www.leukemia-lymphoma.org/
  • http://www.lifescript.com/health/a-z/conditions_a-z/conditions/l/leukemiachild.aspx
  • http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Leukaemia
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Leukemia
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Leukemia
  • http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukemia/basics/definition/con-20024914

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.