Hipotiroidisme: Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Thursday, October 08, 2015
Hipotiroidisme dapat diartikan sebagai kondisi dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan gagal untuk memproduksi cukup hormon. Kelenjar tiroid memproduksi suatu hormon untuk mengatur proses metabolisme, seperti untuk pertumbuhan dan penggunaan energi. Penyebab umum hipotiroidisme adalah karena penyakit Hashimoto (penyakit autoimun). Terapi penggantian hormon seumur hidup dengan tablet tiroksin merupakan bentuk pengobatan hipotiroidisme.

Anatomi kelenjar tiroid

Kelenjar tiroid terletak di depan tenggorokan dibawah laring (jakun). Tiroid terdiri dari dua lobus yang terletak di kedua sisi tenggorokan. Kelenjar tiroid memproduksi hormon untuk mengatur berbagai proses metabolisme, termasuk untuk pertumbuhan dan penggunaan energi. Hipotiroidisme berarti kelenjar tiroid yang kurang aktif atau gagal untuk memproduksi cukup hormon ke dalam aliran darah. Hipotiroidisme menyebabkan metabolisme seseorang menjadi lambat.

Hipotiroidisme termasuk gangguan tiroid yang umum terjadi di masyarakat, dan diperkirakan mempengaruhi sekitar enam sampai sepuluh persen perempuan. Prevalensi kejadian akan meningkat seiring usia - hingga seperempat perempuan usia di atas 65 tahun mungkin akan mengalaminya. Pria juga mengalaminya, namun tidak sebanyak kaum perempuan.

Hipotiroidisme terbagi menjadi dua jenis, yakni hipotiroidisme primer dan sekunder. Hipotiroidisme primer merupakan kondisi dimana terjadi gangguan langsung pada kelenjar tiroid, sedangkan hipotiroidisme sekunder disebabkan oleh gangguan pada kelenjar pituitari (hipofisis), struktur otak yang mengawasi kelenjar tiroid. Penyebab umum hipotiroidisme primer adalah kondisi autoimun penyakit Hashimoto.

Gejala hipotiroidisme

Gejala hipotiroidisme dapat bersifat ringan, sedang atau berat. Pada kondisi yang berat atau koma miksedema, hipotiroidisme berpotensi fatal dan harus segera mendapatkan perawatan medis. Gejala hipotiroidisme meliputi::
  • Lemah dan kurang energi
  • Depresi
  • Denyut jantung lambat
  • Berat badan bertambah tanpa sebab
  • Intoleransi terhadap suhu dingin
  • Otot lemah dan sakit
  • Kulit kasar dan kering
  • Wajah bengkak
  • Rambut rontok
  • Sembelit
  • Gangguan konsentrasi
  • Gondok (kelenjar tiroid membengkak).

Hormon tiroid

Kelenjar pituitari yang terletak di otak, mendorong tiroid untuk memproduksi hormon dengan merilis thyroid stimulating hormone (TSH). Kelenjar tiroid memproduksi dua hormon utama - tiroksin (T4) dan tri-iodothyronine (T3). Hormon-hormon ini mengandung atom yodium. Kebutuhan manusia akan atom yodium adalah sekitar 150 mcg (sepersejuta gram) setiap harinya. Sumber yang akan yodium berasal dari makanan-makanan laut.

Penyebab hipotiroidisme

Hipotiroidisme disebabkan oleh banyak hal, yakni:
  • GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) - kekurangan yodium akan menghambat kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon. Tiroid yang membengkak merupakan bentuk responnya dalam mematuhi perintah-perintah kimiawi kelenjar pituitari untuk memproduksi lebih banyak hormon. Tiroid yang membesar dikenal dengan gondok. Kekurangan yodium akan menyebabkan pertumbuhan bayi dan anak-anak terhambat dan kerusakan pada otak mereka.
  • Penyakit Hashimoto - gangguan autoimun. Sel darah putih dan antibodi dari sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel kelenjar tiroid. Jika tidak diobati, kematian akan terjadi dalam kurun waktu antara 10-15 tahun.
  • Pengobatan hipertiroidisme - pengobatan untuk hipertiroidisme (kelenjar tiroid terlalu aktif) seperti menggunakan obatan-obatan, pembedahan dan yodium radioaktif) seringkali menyebabkan pasiennya menjadi hipotiroidisme.
  • Pembedahan - seperti pembedahan untuk kanker tiroid. Pembedahan akan menyebabkan hipotiroidisme jika kelenjar tiroid diangkat seluruhnya ataupun diangkat sebagian.
  • Sinar-x - pengobatan dengan radiasi (seperti dulu untuk mengobati jerawat, radang amandel dan masa adenoid) berpotensi menyebabkan hipotiroidisme di kemudian hari.
  • Obat tertentu - seperti lithium dan obat jantung amiodarone dapat mengganggu kenormalan proses yodium dan produksi hormon tiroid di dalam tubuh.
  • Cacat lahir - ada bayi yang terlahir dengan kecacatan pada kelenjar tiroid (yang mempengaruhi produksi hormon) atau terlahir dengan ketiadaan kelenjar tiroid sama sekali. Jika tidak ditangani, kondisi ini akan menyebabkan kerusakan otak dan menghambat pertumbuhan.
  • Disfungsi kelenjar pituitari - kelenjar pituitari kurang memproduksi thyroid stimulating hormone (TSH) untuk mendorong tiroid untuk memproduksi hormon T3 dan T4.
  • Disfungsi hipotalamus - fungsi dari pituitari terpengaruh oleh hipotalamus (struktur otak). Adanya gangguan pada hipotalamus akan juga mengganggu pituitari dan pada akhirnya akan mempengaruhi kelenjar tiroid.
 
Diagnosis hipotiroidisme

Hipotiroidisme didiagnosis dengan pemeriksaan fisk dan tes darah. Selain itu juga biasanya dilakukan pemeriksaan dengan USG atau yodium radioaktif scan untuk memeriksa struktur internal tiroid.

Pengobatan hipotiroidisme

Kekurangan yodium dapat dengan mudah diatasi dengan asupan yodium dari garan beryodium atau melalui makanan yang kaya akan yodium. Seperti yang diketahui, hipotiroidisme dapat disebabkan oleh kegagalan atau kerusakan pada kelenjar tiroid, pituitari atau hipotalamus. Dalam kasus ini, pengobatan berfokus pada meningkatkan kadar hormon tiroid dengan tablet tiroksin, bentuk terapi penggantian hormon.

Awalnya kurang aktif menjadi sangat aktif

Belum ditemukan obat untuk hipotiroidisme autoimun, sehingga pengobatannya hanya untuk membantu pasien menjalani sisa hidupnya. Dosisnya juga harus dipantau dengan akurat. Dosis yang rendah akan kurang meringankan gejalanya, sedangkan dosis yang tinggi akan menyebabkan hipertiroidisme (akibat terlalu banyak tiroksin). Gejala hipertiroidisme meliputi:
  • Jantung berdebar-debar
  • Berat badan menurun secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya
  • Agitasi dan gugup
  • Keringat berlebih
  • Susah tidur
  • Diare
  • Intoleransi terhadap suhu panas.
 (Better Health)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.