Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Tetanus

Wednesday, December 17, 2014
Paku berkarat penyebab tetanus

Tetanus adalah infeksi serius oleh bakteri yang mempengaruhi sistem saraf. Infeksi tetanus dapat menyebabkan kontraksi atau kejang otot yang hebat, terutama pada otot leher dan rahang. Kejang otot tersebut menyebabkan mulut menjadi terkancing, yaitu tidak dapat dibuka atau ditutup. Tetanus harus dicegah dan diatasi karena dapat mengancam jiwa.

Penyebab tetanus

Bakteri yang menyebabkan tetanus, Clostridium tetani, dapat hidup lama diluar tubuh dan banyak ditemukan di dalam kotoran hewan, tanah, bahkan debu. Bakteri tetanus akan masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit, bahkan bisa dari luka kecil, seperti tertusuk duri.

Setelah bakteri tetanus berada di dalam tubuh, sporanya akan memproduksi racun atau toksin kuat, tetanospasmin, yang mengganggu saraf motorik (neurotoksin) dan saraf lainnya yang mengendalikan otot-otot. Racun inilah yang menyebabkan kekakuan otot dan kejang pada penderita tetanus.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terkena tetanus, antara lain:
  • Tidak divaksinasi tetanus
  • Berusia 50 tahun atau lebih
  • Terluka, seperti karena paku atau pecahan-pecahan lainnya
  • Luka terbuka yang terpapar tanah atau kotoran hewan.
 Kasus tetanus juga dapat berkembang dari jenis cedera berikut:
  • Luka tusuk - termasuk karena tato atau obat suntik
  • Luka tembak
  • Fraktur (patah tulang) majemuk
  • Luka bakar
  • Luka pembedahan
  • Menggunakan narkoba secara intravena (melalui aliran darah)
  • Infeksi telinga
  • Gigitan hewan.
Gejala tetanus

Gejala tetanus dapat muncul kapan saja mulai dari beberapa hari sampai beberapa minggu setelah bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh melalui luka. Namun masa inkubasinya rata-rata berkisar antara 7 sampai 10 hari.

Gejala tetanus meliputi:
  • Sakit kepala
  • Otot rahang atau otot leher kejang
  • Kesulitan menelan (disfagia)
  • Spastisitas atau kekakuan otot
  • Kekakuan otot perut
  • Lekas marah
  • Nyeri atau kesemutan dilokasi luka
  • Kesulitan bernapas
  • Kejang tubuh hebat dan menyakitkan yang berlangsung selama beberapa menit, yang biasanya dipicu oleh hanya kejadian kecil, seperti desiran angin, suara keras, sentuhan fisik atau cahaya.
Gejala lain yang mungkin menyertai tetanus, antara lain:
Diagnosis tetanus

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena tetanus atau tidak, dokter akan mendiagnosis pasien dengan melakukan pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan dan imunisasi, dan gejala-gejala kejang, kekakuan dan nyeri otot. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah kultur bakteri penyebab infeksi di laboratorium, meskipun hasilnya tidak selalu akurat.

Komplikasi tetanus

Setelah racun tetanus sudah mengenai ujung saraf, maka tidak mungkin untuk menghilangkannya. Pemulihan lengkap infeksi tetanus membutuhkan waktu beberapa bulan hingga ujung saraf baru tumbuh.

Komplikasi infeksi tetanus meliputi:
  • Patah tulang - kejang yang hebat dapat menyebabkan tulang belakang dan tulang lainnya patah.
  • Cacat - pengobatan tetanus biasanya menggunakan obat penenang kuat untuk mengendalikan kejang otot. Imobilitas yang berkepanjangan karena penggunaan obat penenang ini dapat menyebabkan cacat permanen. Pada bayi, infeksi tetanus dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, mulai dari gangguan ringan hingga cerebral palsy.
  • Kematian - tetanus dapat menyulitkan pernapasan, menyebabkan penderita dapat tidak bernapas sama sekali. Kegagalan pernapasan menjadi penyebab kematian yang paling umum karena tetanus. Sedangkan efek dari kekurangan oksigen juga menyebabkan serangan jantung dan kematian.
Pengobatan tetanus

Tidak ada obat khusus untuk tetanus. Pengobatan tetanus berfokus pada pengelolaan komplikasinya hingga efek racunnya hilang. Pengobatan untuk tetanus meliputi:
  • Rawat inap di rumah sakit untuk mengatasi komplikasi infeksi.
  • Pembersihan di seluruh area luka untuk mencegah pertumbuhan spora tetanus. Mungkin juga dilakukan pembedahan untuk mengangkat kotoran, benda asing atau jaringan yang mati.
  • Pemberian antibiotik baik secara oral maupun suntikan.
  • Antitoksin- dokter akan memberikan antitoksin tetanus seperti tetanus immune globulin untuk membantu menetralkan racun bakteri tetanus, namun antitoksin ini hanya efektif untuk racun yang belum mengenai jaringan saraf.
  • Vaksinasi tetanus.
  • Obat penenang - dokter umumnya menggunakan obat penenang kuat untuk mengendalikan kejang otot.
  • Obat lain - obat lain, seperti magnesium sulfat dan beta blocker tertentu, dapat digunakan untuk membantu mengatur aktivitas otot tak sadar, seperti detak jantung dan pernapasan. Morfin dapat digunakan untuk tujuan ini.
Tetanus dapat berakibat fatal, yakni kesulitan bernapas dan menelan. Semacam tabung pernapasan (ventilator) seringkali dimasukkan ke dalam tenggorokan pasien untuk membantu pasien tetanus bernapas hingga ia sembuh. Adakalanya juga prosedur pembedahan yang disebut dengan trakeostomi juga perlu dilakukan untuk membuka saluran napas bagian atas.

Mencegah tetanus

Langkah terbaik untuk mencegah tetanus adalah dengan vaksinasi atau imunisasi, karena hampir seluruh kasus tetanus terjadi pada orang yang tidak pernah diimunisasi. Beberapa langkah efektif untuk mencegah tetanus, yakni:
  • Seluruh anak (kecuali anak-anak tertentu) harus mendapatkan vaksinasi DPT. Ini untuk melindunginya dari penyakit difteri (infeksi saluran pernapasan serius), pertusis (batuk rejan atau batuk seratus hari) dan tetanus.
  • Anak yang berusia hingga 12 tahun harus sudah mendapatkan vaksinasi DPT lengkap.
  • Orang dewasa harus divaksinasi tetanus setelah terpapar tetanus.
Gigitan binatang, luka yang sangat kotor dan luka tusuk dan luka yang dalam akan sangat berisiko tetanus. Jika mengalami luka seperti ini, segeralah ke dokter. Dokter akan membersihkan luka tersebut, memberikan antibiotik dan memberikan vaksinasi tetanus.

Jika lukanya kecil, langkah-langkah di bawah ini akan membantu mencegah dari infeksi tetanus:
  • Kontrol pendarahan, jika luka berdarah, berikan tekanan langsung pada luka untuk menghentikan perdaharan.
  • Jaga luka agar tetap bersih. Setelah pendarahan berhenti, bilas luka secara menyeluruh dengan air bersih yang mengalir (atau larutan garam jika tersedia). Bersihkan daerah sekitar luka dengan sabun dan kain lapa atau kassa. Jika dalam luka terdapat puing atau serpihan-serpihan, atau Anda ragu, segeralah ke dokter.
  • Gunakan antibiotik. Setelah luka dibersihkan, oleskan salep atau krim antibiotik, seperti antibiotik multi komposisi seperti Neosporin dan Polysporin. Antibiotik ini tidak membuat luka cepat sembuh, namun mencegah pertumbuhan bakteri dan infeksi dan membuat luka sembuh dengan efisien. Pada beberapa orang, bahan-bahan tertentu yang terdapat di dalam salep tersebut dapat menyebabkan ruam ringan (alergi). Jika ruam muncul, hentikan penggunaannya.
  • Bungkus luka. Paparan udara memang dapat mempercepat penyembuhan luka, namun perban akan menjaga luka agar tetap bersih. Gunakan terus perban hingga luka tersebut mengoreng atau mengeropeng.

Referensi:
  • National Foundation for Infectious Diseases. http://www.nfid.org
  • National Institute of Allergy and Infectious Diseases. http://www.niaid.nih.gov
  • Canadian Family Physician. http://www.cfpc.ca/
  • Caring for Kids. http://www.caringforkids.cps.ca/
  • Mayo Clinic. http://www.mayoclinic.org/
  • National Health Service. http://www.nhs.uk/Conditions/Tetanus/Pages/Introduction.aspx
Gambar via www.mumpreneursonline.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.