Muntah pada Anak, Kenali dengan Cermat

Sunday, November 09, 2014
Muntah

Muntah tidak dapat dijadikan alasan kekhawatiran yang berlebih. Namun dalam beberapa kasus, muntah memang dapat menjadi pertanda bahwa anak sedang mengalami masalah yang serius. Setiap orang tua sebaiknya dapat mengenali muntah yang mana yang membutuhkan perawatan medis dan mana yang tidak.

Penyebab anak muntah

Banyak hal yang dapat menyebabkan anak muntah, meskipun penyebabnya sering tidak diketahui, untungnya sebagian besar kasus muntah bukanlah hal yang serius. Jika si anak hanya muntah sekali saja, bisa jadi itu akibat makan yang terlalu banyak. Namun jika dia terus-terusan muntah, kemungkinan penyebabnya bisa beragam, antara lain:

Infeksi virus atau bakteri
Penyebab muntah pada anak yang paling mungkin adalah karena ia mengalami masalah pada lambung atau ususnya. Jika virus atau bakteri telah menginfeksi lapisan perut atau usus, anak mungkin juga akan mengalami diare, kehilangan nafsu makan, sakit perut, atau demam. Umumnya, sebagian besar muntah akan berhenti antara 12 sampai 24 jam.

Infeksi lain
Infeksi pernapasan juga dapat menyebabkan muntah, terutama bila anak batuk. Strep tenggorokan, infeksi saluran kemih, dan bahkan infeksi telinga terkadang juga dapat menyebabkan mual dan muntah. Muntah juga dapat merupakan gejala dari penyakit serius, seperti penumonia, meningitis, radang usus buntu, atau (sangat jarang terjadi) sindrom Reye.

Mabuk
Sebagian anak-anak rentan mabuk kendaraan, terutama jika dalam perjalanan mereka duduk di kursi belakang tanpa bisa melihat keluar. Para peneliti meyakini bahwa mabuk perjalanan akan terjadi ketika ada ketidaksinkronan antara apa yang dilihat dengan apa yang dirasakan oleh bagian-bagian sensitif tubuh. Baca lebih lanjut mengenai Penyebab Mabuk Kendaraan.

Zat beracun
Anak-anak akan muntah jika ia menelan zat beracun, seperti racun, tanaman, obat-obatan, atau bahan kimia. Atau mungkin disebabkan karena ia mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bahan berbahaya atau beracun. Biasanya disamping muntah, juga akan terjadi diare.

Kapan harus ke dokter

Segera ke dokter apabila anak Anda:
  • Menunjukkan gejala-gejala dehidrasi, seperti penurunan buang air kecil, bibir dan mulut kering, menangis tanpa air mata, lemah, dan urin berwarna kuning gelap.
  • Muntah mengandung darah. Sedikit darah dalam muntah tidak perlu membuat khawatir. Hal ini dapat terjadi karena gaya regurgitasi yang menyebabkan "tiny tears" di dalam pembuluh darah yang melapisi kerongkongan. Muntah yang mengandung darah juga dapat terjadi karena si anak menelan darah dari luka di mulutnya atau mimisan dalam enam jam terakhir. Segera ke dokter jika muntah anak Anda terus terdapat darah atau jika jumlahnya meningkat.
  • Sakit pada sisi kanan atas perut yang disertai dengan kelemahan dan kuning (kulit dan putih matanya kuning). Ini bisa jadi pertanda anak Anda terkena hepatitis.
  • Selalu muntah bila bertemu orang atau berada di lokasi-lokasi tertentu. Jika anak Anda muntah tiap kali ia sampai ke sekolah, misalnya, bisa jadi itu pertanda bahwa ia sedang stres.
Kapan harus ke gawat darurat?

Segera bawa anak Anda ke gawat darurat rumah sakit apabila:
  • Kesulitan bernapas.
  • Menunjukkan gejala dehidrasi berat, seperti mata cekung, dingin, tangan dan kaki timbul bercak-bercak, mengantuk berlebihan, rewel dan cerewet, dan pusing atau delirium.
  • Sakit perutnya parah. Nyeri yang berpusat di sekitar pusar kemudian merambat ke sisi kanan, itu bisa jadi pertanda radang usus buntu.
  • Muntahnya mengandung empedu (zat hijau) atau darah yang menyerupai warna kopi. Dokter mungkin perlu melihat contoh muntahnya jika hal ini terjadi. Artinya jangan lupa membawa contoh muntah anak untuk ditunjukkan kepada dokter.
  • Perutnya bengkak. Ini bisa merupakan pertanda adanya penumpukan cairan atau gas, usus tersumbat, hernia, atau masalah-masalah lain pada saluran pencernaan. Usus tersumbat memang jarang terjadi namun merupakan suatu kondisi yang berbahaya.
  • Anak muntah lebih dari sekali setelah mengalami cedera kepala. Ini mungkin merupakan gejala gegar otak.
  • Lehernya kaku, yang merupakan gejala khas dari meningitis.
Jika Anda menduga anak Anda muntah karena menelan zat beracun, bawalah contoh (kemungkinan) zat beracun yang ia telan tersebut agar memudahkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat untuk anak Anda.

Mencegah dehidrasi pada anak yang muntah

Dehidrasi dapat menjadi masalah yang serius pada anak-anak yang muntah (juga pada yang demam atau diare) karena anak kehilangan cairan yang sangat penting bagi tubuhnya.

Jangan pernah memaksakan anak untuk minum ketika dia masih sering muntah (dalam interval lima atau sepuluh menit). Tapi berikanlah ia minum ketika perutnya sudah tenang sekitar setengah jam atau lebih. Berikan ia cairan oralit atau cairan bening seperti kaldu dengan pelan namun pasti.

Terkadang, jus dapat membuat kondisi anak semakin buruk (terutama jika anak muntah disertai diare). Selain itu, jangan pernah memberikannya minuman berkarbonasi, karena tidak akan membantu menyelesaikan masalah perutnya, yang ada hanya akan merusak giginya.

Kapan saatnya memberikan makanan padat?

Setelah muntah anak berhenti dan nafsu makannya kembali, berikan ia makanan sehat dengan perlahan. Segera berikan ia diet normal: beri ia makanan berkarbohidrat kompleks (seperti roti, sereal dan beras), daging tanpa lemak, yoghurt, atau-buahan, dan sayuran, tapi hindari makanan yang berlemak.

Dengan pemberian diet normal, anak akan lebih cepat pulih karena nutrisi penting tubuhnya telah kembali untuk lebih kuat melawan infeksi.

Perlu diingat, dokter memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai boleh tidaknya mengonsumsi susu setelah muntah. Untuk hal ini, silahkan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter anak Anda.

Pemberian obat

Jangan berikan anak Anda obat anti mual, kecuali memang disarankan oleh dokter. Dan jangan berikan mereka obat yang mengandung aspirin untuk meredakan gejala anak Anda. Aspirin dapat membuat anak rentan terkena sindrom Reye, sebuah penyakit yang memang jarang namun berpotensi fatal.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.