Radang Usus Buntu: Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Monday, September 15, 2014
Appendix atau usus buntu adalah sebuah kantong kecil yang mirip cacing dengan panjang lebih kurang 9 cm. Usus buntu terletak di sisi kanan perut bawah dan merupakan merupakan bagian (menempel) dari usus besar. Fungsi dari usus buntu hingga kini masih menjadi misteri dunia kesehatan, meskipun juga diyakini bahwa usus buntu jelas berperan dalam pencernaan seperti halnya juga ditemukan pada hewan.

Lokasi usus buntu
Lokasi usus buntu. (Gambar: askdoctork.com)
Dalam istilah medis, radang usus buntu disebut dengan apendisitis (appendicitis). Makanan atau kotoran (tinja) terkadang menumpuk di dalam kantung kecil usus buntu, dan akhirnya penyumbatan ini menimbulkan infeksi oleh bakteri. Radang usus buntu adalah bentuk keadaan darurat medis. Jika usus buntu sudah pecah, isinya yang sudah terinfeksi tersebut akan menyebar ke seluruh rongga perut. Jika sampai terjadi komplikasi infeksi pada selaput rongga perut (peritonitis), maka akan mengancam nyawa apabila tidak mendapatkan terapi antibiotik yang kuat.

Orang dari semua jenis kelamin dan umur dapat terkena radang usus buntu, meskipun lebih sering mengenai usia antara 8-25 tahun. Radang usus buntu cukup jarang terjadi pada orang berusia lebih dari 30 tahun dan anak-anak usia dibawah dua tahun. Pengobatan standar untuk radang usus buntu adalah operasi atau pembedahan.

Gejala radang usus buntu

Gejala radang usus bisa bervariasi, namun lebih sering mengikuti pola klasik, seperti::
  • Nyeri tumpul mendadak yang berpusat di sekitar pusar, kemudian menjalar ke sisi kanan bawah perut. Bila area ini ditekan, rasa sakit akan semakin hebat.
  • Nyeri pada punggung bawah, hamstring atau rektum (cukup jarang terjadi).
  • Demam.
  • Muntah atau perut kembung.
  • Diare atau konstipasi.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Tidak mampu buang angin.
Jika Anda merasakan gejala-gejala seperti di atas, segeralah minta pertolongan medis. Jangan makan, minum, atau menggunakan obat nyeri, antasida (obat maag), obat pencahar, atau bantalan pemanas, karena berisiko menyebabkan usus buntu pecah.

Penyebab radang usus buntu

Penyebab radang usus buntu hingga kini masih belum jelas. Seringkali saat operasi ditemukan kotoran atau benda asing yang menyumbat usus buntu (obstruksi). Penelitian menunjukkan bahwa obstruksi usus buntu ini baru terjadi ketika seseorang telah terkena radang usus buntu, namun penelitian yang lain membantahnya, menyebutkan bahwa obstruksi-lah yang menjadi penyebab radang usus buntu. Juga belum ditemukan bukti bahwa diet berperan dalam pengembangan radang usus buntu.

Perforasi usus buntu

Jika nanah sudah menumpuk, usus buntu akan pecah, membanjiri rongga perut dengan materi-materi yang sudah terinfeksi. Pecah atau mengalami perforasi, dapat terjadi setelah 36 jam atau lebih sejak infeksi terjadi. Tanda-tanda usus buntu yang sudah mengalami perforasi adalah gejalanya yang semakin hebat bahkan tidak jarang penderitanya kolaps.

Infeksi pada selaput rongga perut (peritonitis) merupakan komplikasi serius pecahnya usus buntu yang mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan darurat.

Diagnosis radang usus buntu

Mendiagnosis radang usus buntu cukup sulit karena gejalanya bisa mirip dengan gejala gangguan lain seperti gastroenteritis, kehamilan ektopik, infeksi pada ginjal atau saluran kemih, masalah kandung empedu, penyakit Crohn, gastritis, dan infeksi usus.

Untuk meneggakkan diagnosa usus buntu, diperlukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan pertimbangan yang cermat dalam melihat gejala-gejalanya. Pemeriksaan lainnya yang sangat membantu antara lain, USG, CT Scan, tes urine (untuk menyingkirkan dugaan infeksi saluran kemih) dan tes darah (untuk melihat apakah tubuh sedang melawan infeksi).

Karena usus buntu berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera ditangani, jika dokter sudah mencurigainya, dokter mungkin akan mengambil tindakan cepat (sisi keselamatan) dengan mengangkat usus buntu sebelum usus buntu itu pecah.

Pengobatan radang usus buntu

Pengobatan usus buntu standar adalah operasi terbuka, yaitu mengangkat seluruh usus buntu melalui sayatan di perut. Prosedur operasi ini dikenal sebagai apendisektomi atau apendektomi. Sebelum menjalani operasi ini biasanya Anda akan diresepkan antibiotik guna mencegah infeksi.

Usus buntu juga dapat diangkat dengan cara operasi laparoskopi. Menggunakan alat ramping dan berkamera (laparoskop), yang dimasukan melalui sayatan kecil di perut untuk mengangkat usus buntu. Operasi yang satu ini akan meminimalisir luka di perut ketimbang operasi terbuka, dan pasien cenderung pulih lebih cepat. Laparoskopi belum tentu cocok untuk semua pasien radang usus buntu, namun lebih sering dilakukan pada orang yang berusia lanjut dan orang yang obesitas. Jika usus buntu sudah pecah dan infeksinya sudah menyebar ke luar usus buntu, maka diperlukan operasi terbuka untuk membersihkan rongga perut.

Pasca operasi usus buntu, hindari aktivitas berat. Jika usus buntu diangkat dengan laparoskopi, hindari aktivitas berat setidaknya sampai lima hari. Namun jika usus buntu Anda diangkat melalui operasi terbuka, hindari aktivitas berat hingga 2 minggu.

Sebagaimana fungsi usus buntu belum diketahui, efek usus buntu yang sudah diangkat juga tidak diketahui, dan tampaknya tidak mempengaruhi cara kerja sistem pencernaan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain operasi, alternatif pengobatan radang usus buntu adalah dengan penggunaan antibiotik. Sebuah penelitan membandingkan hasil dari operasi dan hasil dari antibiotik untuk mengatasi usus buntu, sekitar 70 persen kasus radang usus buntu dapat diatasi dengan terapi antibiotik. Namun, faktor yang menyebabkan kegagalannya (yang 30 persen) dari terapi antibiotik hingga kini masih belum diketahui. Terapi antibiotik biasanya hanya diterapkan pada pasien yang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan operasi (misal terlalu tua atau terlalu lemah).

Mencegah radang usus buntu

Sebagaimana penyebabnya tidak diketahui secara pasti, belum ditemukan cara yang efektif untuk mencegah radang usus buntu. Namun, radang usus buntu jarang dialami orang yang rutin mengonsumsi makanan tinggi serat.


Referensi:
  • Better Health / Appendicitis / http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Appendicitis / diakses pada 15 September 2014.
  • Diagnose Me / Appendicitis / http://www.diagnose-me.com/symptoms-of/appendicitis.html / diakses pada 15 September 2014.
  • WebMD / Appendicitis / http://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis / diakses pada 15 September 2014.
  • NHS / Appendicitis / http://www.nhs.uk/Conditions/Appendicitis/Pages/Introduction.aspx / diakses pada 15 September 2014.
  • Mayo Clinic / Appendicitis / http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/basics/definition/con-20023582 / diakses pada 15 September 2014.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.