Perbedaan Infeksi Karena Virus dan Bakteri

Tuesday, September 18, 2018

Seperti yang diketahui, infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik. Namun, saat ini penggunaan antibiotik sudah sangat masif sehingga para ahli mengingatkan agar tidak menggunakan antibiotik untuk kondisi dan penyakit seperti infeksi virus, yang sebenarnya tidak terpengaruh oleh antibiotik.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui perbedaan antara infeksi karena virus dan bakteri? Anda mungkin tidak bisa membedakannya, kecuali dengan bantuan dokter.

Ketika Anda terinfeksi, Anda mungkin mencoba mendiagnosisnya dirumah, mungkin karena ingin menghemat uang atau menghemat waktu ke dokter. Anda mungkin menebak infeksi yang Anda alami adalah infeksi karena virus, dan bisa bisa saja itu benar, lalu Anda berpendapat bahwa karena antibiotik tidak berguna pada infeksi virus, jadi untuk apa ke dokter?

Memang tidak ada alasan bagi orang-orang untuk ke dokter hanya karena pilek biasa, tetapi mendiagnosis sendiri jenis infeksi sudah merupakan kesalahan. Faktanya:
  • Tergantung dari jenis infeksi virusnya, mungkin masih ada obat yang dapat membantu. Obat-obatan yang secara khusus untuk menargetkan virus disebut antivirus. Antivirus memang tidak digunakan sesering antibiotik, tetapi dalam beberapa kasus antivirus banyak membantu.
  • Kecuali dengan pemeriksaan laboratorium, tidak ada cara lain untuk memastikan apakah suatu infeksi disebabkan oleh virus atau bakteri.

Memang ada beberapa gejala/tanda yang dapat membantu menentukan apakah suatu infeksi disebabkan oleh virus atau bakteri, tetapi kecuali karena kondisi yang mengancam jiwa, dokter biasanya akan mengambil sampel terlebih dahulu sebelum memberikan antibiotik. Sampel yang diambil tergantung pada dugaan infeksi, dapat berupa sampel darah, kultur tenggorokan, usap kulit, atau lainnya.

Keinginan untuk mendiagnosis dan mengobati diri sendiri di rumah adalah sifat alami manusia, tetapi daripada mengambil risiko, lebih baik bertanya ke dokter.

Berikut adalah beberapa aturan praktis yag menjadi pertimbangan ketika Anda mencoba memutuskan apakah akan ke dokter atau tidak. Lebih baik ke dokter jika Anda mengalami hal-hal berikut:
  • Dehidrasi. Dokter akan menyarankan banyak minum cairan jernih (seperti kaldu ayam). Dengan tetap terhidrasi akan membantu Anda mengencerkan lendir yang diproduksi tubuh. Sementara sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus maupun bakteri dengan menggunakan lendir untuk membawa virus atau bakteri keluar tubuh. Jika lendir terlalu kental, karena tidak terhidrasi, infeksi bisa memburuk. Bakteri dapat bertahan di dalam lendir yang semula dihasilkan saat tubuh Anda sedang melawan virus.
  • Sesak napas. Jika infeksi menyerang paru-paru atau saluran napas Anda, inilah saatnya untuk ke dokter. Pneumonia atau asma dengan bronkitis dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
  • Kelemahan, linglung atau pingsan. Kelemahan, apalagi yang disertai dengan demam, kedinginan (menggigil), dan nyeri tubuh merupakan tanda infeksi serius.
  • Kondisi yang memburuk secara tiba-tiba. Kondisi kesehatan yang memburuk secara tiba-tiba menjadi pertanda Anda harus ke dokter. Terkadang satu infeksi membuka jalan masuk bagi infeksi yang lain. Sebagai contoh, lendir yang dihasilkan oleh infeksi virus dapat menjadi tempat yang bagus bagi bakteri untuk berkembang biak.
  • Anak-anak dengan demam. Demam adalah bagian yang umum dari penyakit virus pada anak-anak - sebagian besar demam dapat diatasi degan mudah degan perawatan suportif, seperti pemberian cairan dan obat penurun panas. Namun ada tanda-tanda demam anak yang harus segera mendapatkan perawatan dokter. Bisa Anda baca disini.

Mungkin Anda pernah mendengar bahwa lendir hijau atau batuk berdahak adalah tanda infeksi bakteri. Mungkin benar bahwa lendir hijau adalah tanda adanya sesuatu yang berkembang biak di sana, tetapi itu tidak mengecualikan kemungkinan bahwa sesuatu yang lain yang menyebabkan infeksi di tempat pertama.

Apapun itu, jika Anda merasa ragu dan tidak memiliki pengetahuan akan sesuatu, lebih baik bertanya ke dokter. (verywellhealth)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer