Laparoskopi : Kegunaan, Prosedur, dan Komplikasi

Thursday, March 29, 2018
Advertisement
Laparoskopi atau peritoneoskopi adalah pemeriksaan bagian dalam rongga perut atau panggul untuk diagnosis atau pengobatan (atau keduanya) dari sejumlah penyakit dan kondisi. Keunggulan dari laparoskopi adalah hanya diperlukan sayatan kecil. Itulah sebabnya mengapa laparoskopi juga disebut sebagai "operasi lubang kunci."

Laparoskopi akan memeriksa bagian dalam rongga perut atau panggul menggunakan tabung kecil (laparoskop) bercahaya yang dimasukkan melalui sayatan kecil. Laparoskop juga dilengkapi dengan kamera serat optik atau peralatan bedah kecil (atau dilengkapi keduanya).

Laparoskopi

Laparoskop akan mengirimkan gambar ke layar komputer di ruang operasi. Sebelum teknologi laparoskopi ada, dokter harus membuat lubang besar dan memotong lapisan jaringan untuk memeriksa organ dalam. Dengan laparoskopi, proses pemeriksaan atau pengobatan, dan waktu pemulihan pasien menjadi lebih singkat.

Masalah yang dapat didiagnosis atau diobati dengan laparoskopi

Beberapa masalah kesehatan yang mungkin dapat didiagnosis atau diobati dengan laparoskopi antara lain:
  • Infertilitas wanita - dengan laparoskopi, dokter dapat memeriksa masalah seperti jaringan parut, endometriosis dan tumor fibroid, dan untuk melihat apakah uterus (rahim), tuba fallopi dan ovarium abnormal sehingga menyebabkan infertilitas.
  • Masalah lain sistem reproduksi wanita - termasuk prolapse dasar panggul dan vagina. Beberapa jenis histerektomi dapat dilakukan dengan menggunakan operasi laparoskopi.
  • Kehamilan ektopik - embrio berada dan tumbuh di dalam tuba fallopi. Jika tidak diangkat dengan operasi, embrio yang terus tumbuh pada akhirnya akan memecahkan tuba fallopi.
  • Adhesi - adanya jaringan parut di dalam rongga panggul.
  • Penyakit pada sistem saluran kemih - laparoskopi dapat digunakan untuk menyelidiki atau mengobati (atau keduanya) kondisi kanker dan non-kanker dari ginjal, penyumbatan ureter, penyakit kandung kemih, dan inkontinensia.
  • Kanker organ dalam - kanker hati dan pankreas dapat didiagnosis dengan menggunakan laparoskopi. Laparoskopi juga dapat digunakan untuk beberapa jenis kanker kolokteral (kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum).
  • Asites - atau cairan di dalam rongga perut; laparoskopi dapat membantu menentukan penyebabnya.
  • Masalah lain - organ yang sakit (seperti kantong empedu dan usus buntu) dapat diangkat dengan laparoskopi; hernia juga dapat diperbaiki dengan laparoskopi.

Prosedur laparoskopi

Laparoskopi dapat dilakukan dengan anestesi (bius) lokal atau umum (tergantung dari sifat prosedurnya). Setelah sayatan dibuat (biasanya di samping pusar dengan panjang 5-10 mm), laparoskop dimasukkan ke dalam rongga perut. Gas karbon dioksida atau nitro oksida kemudian dilewatkan dengan cara dipompa ke rongga untuk memisahkan dinding perut dari organ-organ di bawahnya. Ini untuk memudahkan pemeriksaan.

Sayatan atau lubang lain bisa saja dibuat untuk memungkinkan akses instrumen bedah lainnya, misalnya laser. Setelah diagnosis dibuat dan masalah diatasi, instrumen dilepas, gas dikeluarkan dan sayatan dijahit. Tergantung dari kondisi pasien dan masalah yang ditangani, lama prosedur laparoskopi berkisar antara 30-90 menit.

Pasca laparoskopi

Yang mungkin terjadi setelah prosedur laparoskopi:
  • Nyeri di sekitar lokasi sayatan. Biasanya dokter sudah meresepkan obat penghilang rasa sakit
  • Nyeri bahu, disebabkan oleh gas yang dipompa ke dalam rongga perut
  • Sensasi perut kembung
  • Mual
  • Kram perut
  • Sembelit
  • Untuk laparoskopi panggul saja, mungkin ada pendarahan ringan atau keluarnya cairan dari vagina
  • Pasien biasanya tidak disarankan untuk pulang segera setelah laparoskopi karena obat yang diberikan sebelum prosedur
  • Sebagian besar gejala operasi laparoskopi sembuh dalam satu atau dua hari.

Kemungkinan komplikasi laparoskopi

Semua operasi memiliki risiko. Beberapa kemungkinan komplikasi setelah laparoskopi meliputi:
  • Aritmia jantung
  • Tusukan pada organ internal atau arteri utama tubuh (aorta)
  • Pendarahan ke dalam rongga perut
  • Pembekuan darah di pembuluh darah kaki
  • Reaksi alergi terhadap obat bius
  • Kebocoran cairan sementara dari luka bedah
  • Kebutuhan untuk beralih dari laparoskopi menjadi operasi terbuka dalam kasus komplikasi yang tidak terduga.

Perawatan di rumah

Saran-saran pasca laparoskopi:
  • Umumnya pasien dapat melanjutkan aktivitas normalnya dalam beberapa hari hingga satu minggu
  • Jangan melakukan aktivitas fisik yang berat selama sekitar satu minggu atau lebih
  • Lepas perban di hari berikutnya, biarkan luka mengering
  • Setelah laparoskopi panggul, gunakan pembalut sebagai pengganti tampon untuk mengatasi pendarahan atau pelepasan dari vagina
  • Jika mengalami demam tinggi, menggigil, muntah, sulit buang air kecil, merah di lokasi sayatan meningkat atau nyeri semakin parah, hubungi dokter.

Operasi laparotomi

Alternatif bedah untuk laparoskopi adalah operasi terbuka laparotomi. Perut akan dibuka dengan satu sayatan besar. Kerugian utama laparotomi adalah masa pemulihan di rumah sakit lebih lama (hingga satu minggu atau lebih) dan waktu pemulihan lebih lama. Seseorang dengan operasi terbuka biasanya butuh masa pemulihan selama enam minggu.

Dibandingkan dengan laparoskopi, risiko infeksi dan adhesi meningkat pada laparotomi. Bekas luka yang dihasilkan dari operasi terbuka laparotomi juga jauh lebih luas.

Ringkasan:
  • Laparoskopi adalah prosedur medis yang digunakan untuk memeriksa bagian dalam rongga perut atau panggul untuk diagnosis atau pengobatan (atau keduanya) dari sejumlah penyakit dan kondisi.
  • Laparoskopi memeriksa bagian dalam organ perut atau panggul menggunakan tabung kecil (laparoskop) yang dimasukkan melalui sayatan kecil.\
  • Sayatan yang kecil berarti waktu pemulihan lebih singkat dana minim bekas luka.

Article Resources
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/laparoscopy
  • Gambar: https://media.healthdirect.org.au/images/general/primary/Laparscopy-v2.jpg

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer