Bayi Lahir Mati : Pengertian dan Penyebab

Saturday, December 30, 2017
Advertisement
Janin meninggal

Lahir mati adalah keadaan dimana bayi lahir tanpa tanda-tanda kehidupan sejak usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Janin yang meninggal di dalam rahim pada saat kehamilan usia 20 minggu atau lebih disebut sebagai intra uterine fetal death (IUFD) atau kematian intrauterine. Dan bayi yang meninggal pada saat persalinan disebut sebagai intrapartum fetal death atau kematian intrapartum. Meskipun bukan kejadian biasa, lahir mati bukanlah kasus yang jarang terjadi.

Penyebab janin meninggal di dalam rahim

Ada banyak penyebab mengapa janin meninggal di dalam rahim. Penyebabnya berkaitan dengan kondisi dan fungsi plasenta, kondisi bawaan atau genetik, infeksi, kesehatan, usia, dan gaya hidup ibu.

Masalah fungsi plasenta dianggap menjadi penyebab paling umum kasus janin meninggal di dalam rahim. Istilah medis untuk hal ini adalah insufisiensi plasenta. Sekitar dua pertiga janin yang meninggal di rahim ditengarai disebabkan karena insufisiensi plasenta.

Penyebab mengapa plasenta tidak berfungsi dengan baik ini belum diketahui secara pasti. Tapi yang para ahli ketahui adalah jika plasenta tidak berfungsi dengan baik, maka pembuluh darah yang menghubungkan ibu ke janin akan menyempit sehingga menyebabkan menurunnya suplai nutrisi dan oksigen ke janin, yang berujung pada masalah pertumbuhan.

Bila janin memiliki masalah pertumbuhan, maka kondisi ini disebut sebagai intrauterine growth restriction (IUGR). Ciri utamanya adalah ukuran janin kecil berbanding usia kehamilan. Kenyataannya, bayi-bayi yang lahir mati umumnya prematur dan ukurannya lebih kecil berbanding usia kehamilan. Lihat bayi BBLR

Preeklampsia yang merupakan komplikasi kehamilan juga dapat menurunkan suplai aliran darah ke janin melalui plasenta.

Cacat bawaan, genetik, atau kromosom juga dapat menyebabkan bayi lahir mati. Kondisi ini dianggap sebagai penyebab sekitar 10% persen kasus bayi lahir mati. Cacat bawaan ini bisa terjadi pada otak, jantung, atau organ vital bayi lainnya yang belum berkembang dengan baik.

Pendarahan berat pada kehamilan akhir atau selama persalinan adalah penyebab lain bayi lahir mati. Kondisi ini bisa terjadi bila plasenta sudah terlepas dari rahim sebelum kelahiran (plasenta abrupsi).

Kondisi kesehatan ibu sendiri, seperti diabetes, dan infeksi seperti streptokokus kelompok B, listeriosis, atau toksoplasmosis juga dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim.

Seiring bertambahnya usia wanita, risiko memiliki bayi lahir mati juga meningkat. Risiko pada ibu yang sudah cukup tua adalah pada usia kehamilan sekitar 41 minggu. Di sebagian rumah sakit, calon ibu yang sudah cukup tua mungkin dianjurkan melakukan persalinan dengan induksi pada usia kehamilan 39 atau 40 minggu.

Bayi yang meninggal di hari-hari akhir menjelang persalinan cukup jarang terjadi. Penyebabnya juga mungkin karena masalah pada plasenta. Jika telah melewati hari persalinan, plasenta bisa saja tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Di sebagian besar rumah sakit, jika ibu belum melahirkan secara normal pada usia kehamilan sekitar 41 minggu, biasanya akan direkomendasikan untuk persalinan induksi.

Faktor gaya hidup seperti obesitas, minum alkohol, dan merokok selama kehamilan meningkatkan risiko bayi lahir mati. Merokok dapat menghambat pertumbuhan janin dalam rahim, karena dapat mengurangi suplai oksigen ke janin melalui plasenta.

Apa yang terjadi ketika janin meninggal dalam rahim?

Fakta yang menyedihkan adalah ketika janin meninggal dalam rahim, sang ibu harus tetap melalui proses persalinan, karena persalinan akan berguna bagi kesehatan ibu dan pemulihan fisiknya. Bayi yang lahir mati jarang dilahirkan melalui proses operasi caesar.

Persalinan untuk kasus bayi lahir mati umumnya adalah secara induksi. Dokter akan memberitahukan hal ini, dan memberi waktu kepada ibu dan keluarga untuk memahami sebelum mulai menginduksi persalinan.

Sebagian besar ibu dengan kasus bayi lahir mati lebih memilih untuk dilakukan induksi sesegera mungkin. Sedangkan sebagian kecil lainnya memilih menunggu beberapa saat untuk melihat apakah persalinan akan dimulai dengan sendirinya tanpa induksi. Namun jika ibu memiliki suatu kondisi lain seperti infeksi, dokter biasanya menyarankan untuk segera dilakukan induksi.

Jika janin yang dikandung kembar atau lebih, dan satu janin didapati telah mati di dalam rahim, dokter mungkin tidak menyarankan induksi persalinan. Banyak faktor-faktor lainnya yang dipertimbangkan, seperti apakah janin berbagi plasenta atau tidak, dan pada tahap apa kematian terjadi. Dokter mungkin akan menyarankan ibu untuk melanjutkan kehamilannya guna memberi kesempatan kepada janin yang sehat untuk tumbuh hingga ia benar-benar siap untuk dilahirkan.

Penyebab bayi lahir mati saat persalinan

Sangat jarang terjadi bayi meninggal secara mendadak selama proses persalinan. Sebagian besar bayi yang baru lahir meninggal saat masih di dalam kandungan. Namun sayangnya, kasus bayi lahir mati pada saat persalinan tetaplah ada.

Jika ada yang tidak beres saat persalinan, adakalanya sang ibu dan keluarga tidak mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang terjadi karena staf medis rumah sakit biasanya sedang sibuk menangani keadaan darurat persalinan.

Pada kasus yang jarang, jika ukuran bayi sangat besar, bahunya mungkin tersangkut pada saat melewati jalan lahir (distosia bahu), bayi akan tercekik dan suplai oksigen menurun sehingga dapat menyebabkan bayi meninggal.

Penyebab jarang lainnya bayi lahir mati saat persalinan adalah masalah pada tali pusar yang mengakibatkan hilangnya suplai oksigen ke bayi. Tali pusar bisa terlepas sebelum bayi lahir atau melilit leher bayi.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer