Gejala dan Penanganan Keracunan Makanan

Thursday, May 22, 2014
Keracunan makanan

Keracunan makanan adalah suatu keadaan peradangan akut pada selaput lendir lambung atau usus kecil. Keracunan makanan sangat umum terjadi dan terkadang menimbulkan masalah serius hingga mengancam hidup penderitanya. Banyak sekali penyebab keracunan makanan, yang paling umum adalah karena infeksi bakteri seperti Campylobacter, Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), Listeria, dan Botulisme.

Keracunan makanan juga bisa disebabkan karena mengonsumsi alkohol secara berlebihan, virus (seperti norovirus) yang menyebabkan peradangan pada usus, alergi terhadap suatu bahan makanan tertentu yang mungkin menyehatkan bagi orang lain namun tidak bagi dirinya, dan racun atau bahan kimia tertentu. Sebagian racun dapat menyebabkan keracunan dalam waktu yang jauh lebih singkat. Dalam kasus ini, muntah menjadi gejala utama.

Makanan sangat rentan terhadap kontaminasi jika tidak ditangani, disimpan atau dimasak dengan baik. Makanan yang dimasak dan disiapkan secara massal rentan sekali terkontaminasi oleh zat-zat beracun dan bakteri. Makanan yang paling sering menyebabkan keracunan (karena pengolahan yang tidak benar atau terkontaminasi) adalah daging, ikan, susu, telur dan berbagai penganan atau sajian setelah makan. Makanan yang terkontaminasi oleh bahan atau bakteri tertentu paling sering terjadi akibat ketidakbersihan lingkungan memasak, bahan makanan atau tempat makan tidak dicuci dengan bersih, proses pengolahan makanan yang salah, dan juga karena orang yang mengolahnya sedang dalam kondisi penyakit tertentu, seperti infeksi pada kulit atau batuk-batuk.

Gejala Keracunan Makanan

Keracunan makanan biasanya dimulai dengan perasan mual, kejang dan nyeri di perut secara tiba-tiba, perut kembung terutama di bagian bawah yang diikuti dengan muntah-muntah, diare, dan perasaan lemah. Mungkin juga muncul perasaan terbakar pada anus, dan tinja yang dikeluarkan mengandung darah atau semacam lendir. Bila sudah dalam kondisi seperti ini, si penderita akan kekurangan cairan dan akhirnya syok, hingga asidosis (terlalu banyak asam pada cairan tubuh).

Dalam dua sampai empat jam setelah memakan makanan yang sudah terkontaminasi bakteri, penderita akan merasakan kejang perut yang hebat, diikuti perasaan mual, muntah-muntah, dan diare, sering juga terjadi kelemahan dan syok yang hebat. Meskipun begitu, pada umumnya serangan ini akan berakhir dalam beberapa jam diikuti dengan kesembuhan sempurna.

Mengatasi Keracunan Makanan

Kebanyakan orang yang keracunan makanan biasanya akan sembuh dengan sendiri tanpa pengobatan medis. Untuk membantu meringankan gejala dan mempercepat proses kesembuhan, sebaiknya:
  • Beristirahat.
  • Minum banyak cairan dan oralit untuk mencegah dehidrasi. Oralit akan mengganti garam, glukosa dan mineral penting lainnya yang hilang karena dehidrasi.
  • Hindari memakan sesuatu hingga sembuh (kecuali cairan). Ketika sudah sembuh, makan makanan yang mudah dicerna, seperti roti, kerupuk, pisang dan nasi lembut.
  • Minum cairan setiap kali diare.
  • Kompres hangat pada perut. Hal ini akan meringankan kejang dan nyeri di perut dan kecenderungan untuk muntah.
Penderita keracunan makanan harus dibawa ke dokter jika:
  • Gejala bertambah parah dan tidak berkurang dalam satu hari.
  • Demam 38° C atau lebih.
  • Terdapat gejala dehidrasi berat.
  • Penderita adalah bayi.
  • Keracunan terjadi secara massal.
Antibiotik mungkin akan diresepkan dokter jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sumber keracunan makanan adalah karena bakteri. Dokter mungkin juga akan memberikan obat suntikan untuk mengatasi gejala atau mempercepat kesembuhan.

Mencegah Keracunan Makanan

Makanan dapat terkontaminasi selama tahap pembuatan, pengolahan dan penyajian. Untuk mencegah keracunan makanan, yang harus dilakukan adalah:
  • Masak daging, unggas, telur, sosis dan ikan secara matang.
  • Cuci tangan dengan benar sebelum dan setelah menyiapkan makanan.
  • Hindari menggunakan alat masak atau wadah untuk kelas makanan berbeda, seperti mengiris daging lalu mengiris tahu tanpa pisau dicuci terlebih dahulu.
  • Cuci tangan dengan baik setelah memegang hewan.
  • Jangan mengonsumsi susu yang belum di pasteurisasi.
  • Selalu perhatikan keterangan kadaluarsa pada makanan.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.