Pentingnya Zat Besi Bagi Tubuh dan Sumbernya

Tuesday, April 09, 2013
Salah satu mineral penting lainnya bagi tubuh adalah zat besi, karena zat besi termasuk dalam reaksi hidup yang utama. Kadar zat besi di dalam tubuh manusia memang tidaklah banyak, namun kegunaannya amat menakjubkan. Rasanya boleh kita katakan bahwa seluruh penemuan manusia sampai ke luar angkasa belum bisa dibandingkan dengan apa-apa yang terjadi pada tubuh manusia, terutama bila kita memikirkan aksi dan reaksi yang menakjubkan dari zat besi di dalam tubuh. Tanpa logam ini, kita tidak akan bisa hidup walaupun sesaat.

Fungsi utama dari zat besi adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut elektron di dalam proses pembentukan energi di dalam sel. Untuk mengangkut oksigen, zat besi harus bergabung dengan protein dan membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah dan myoglobin di dalam serabut otot. Bila bergabung dengan protein di dalam sel, zat besi membentuk enzim yang berperan di dalam pembentukan energi di dalam sel. Jadi, zat besi paling banyak ditemukan di dalam sel darah merah, di mana disitu merekalah yang membentuk hemoglobin. Inilah zat yang memberikan warna merah pada darah.

Ukuran sel darah merah amatlah kecil. Biasanya dalam setetes sel darah terdapat sekitar 5.000.000 butir sel darah merah. Sel darah merah yang kecil ini berbentuk bulat pada tepi dan cekung pada bagian tengahnya, kira-kira berbentuk seperti piring. Dibandingkan dengan bentuk sel-sel lain, sel darah merah memilki permukaan yang lebih besar/luas, inilah yang membuat sel darah merah lebih mudah melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
 
Zat besi di dalam darah
 
Tiap-tiap butir sel darah merah setidaknya mengandung 250.000.000 molekul hemoglobin, dan satu miliar atom besi. Dalam waktu hanya beberapa detik ketika sel darah merah ini melewati paru-paru, seribu juta molekul oksigen diangkutnya dari udara di dalam paru-paru. Dan pada waktu yang sama, sel darah merah ini meninggalkan satu miliar molekul karbon dioksida yang telah dikumpulkannya dari seluruh jaringan tubuh. Karbon dioksida yang tidak diperlukan lagi bagi tubuh ini akan dikeluarkan dari tubuh pada saat kita menghembuskan napas. Oleh karena itu, kita harus selalu menghirup udara segar guna memberikan oksigen pada sel-sel darah merah dan menghindari dari menghirup karbondioksida. Inilah yang kita sebut dengan pernapasan.

Sebagian besar sel hidup didalam tubuh bertahun-tahun lamanya, mungkin ada yang hidup selama hidup kita. Namun tidak demikian dengan sel darah merah. Sel darah merah hanya hidup kira-kira empat bulan saja, dan kemudian akan binasa. Ini berarti sel baru harus segera dihasilkan dalam jumlah yang banyak dan kontinyu untuk menggantikan sel darah merah yang sudah tidak terpakai lagi.

Untuk maksud inilah tubuh manusia menghasilkan jutaan sel darah merah baru setiap menit, padahal proses ini hanya untuk memenuhi persediaan darah merah yang normal !. Jika kita kehilangan darah karena pendarahan atau karena sebab-sebab lain, maka tubuh manusia harus menghasilkan sel darah merah yang lebih banyak lagi. Tiap-tiap sel darah merah membawa sedikit kadar zat besi yang harus diedarkan ke seluruh tubuh dengan cepat dan tepat, sehingga setiap sel mempunyai kadar zat besi yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. Sesungguhnya perhitungan sistem yang terjadi di dalam tubuh manusia amatlah detail sehingga tidak ada yang namanya istilah pemborosan. Sebagai penghantar oksigen pada otak, jantung, dan sampai ke seluruh tubuh, maka zat besi penting bagi hidup Anda.
 
Akibat Kekurangan Zat Besi

Jika di dalam tubuh tidak terdapat zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan atau tubuh pada umumnya, maka tentu saja jumlah hemoglobin dalam sel darah merah akan berkurang dan keadaan tidak sehat akan muncul yang dikenal sebagai anemia gizi.
 
Minimnya kadar hemoglobin di dalam darah ditandai dengan bagian kelopak mata penderita terlihat berwarna pucat, atau bahkan mukanya pucat, lemah, perubahan dalam tingkah laku kognitif, dan "spoon nails" atau kuku sendok (suatu kelainan bentuk dimana kuku-kuku tampak tipis dan berbentuk cekung/berlekuk).
 
Untuk sesaat, kekurangan zat besi memang tidak begitu memberi pengaruh bagi tubuh, namun bila ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang, maka waspada. Tidak hanya kelemahan yang akan diperoleh namun kekurangan zat besi juga akan mempengaruhi fungsi otak, otak akan lemah, daya ingat dan berpikir akan menurun. Sangat berbahaya bila ini terjadi pada anak-anak.
 
Untuk itulah seorang ibu hamil harus mendapatkan zat besi yang cukup. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk anak yang dikandungnya. Agar pada waktu si anak lahir ke dunia, dia tidak kekurangan zat besi yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan kecerdasannya kelak. Si ibu hamil sebaiknya mengkonsumsi zat besi tambahan. Disinilah pemerintah kembali mengeluarkan biaya besar untuk memberikan tablet "tambah darah" secara cuma-cuma bagi seluruh ibu hamil di Indonesia yang bisa didapat di Puskesmas dan bidan-bidan.
 
Anemia karena kekurangan zat besi juga bisa terjadi pada remaja putri yang sedang tumbuh dan mulai mengalami siklus menstruasi. Mereka akan kehilangan darah dan otomatis kadar zat besi di dalam tubuhnya akan berkurang. Tablet-tablet tambahan zat besi juga diperlukan bagi remaja seperti ini.
 
Angka Kebutuhan Normal Zat Besi

Laki-laki dewasa yang berat badannya 75 kg setidaknya memiliki ± 4000 mg zat besi, sementara wanita dewasa dengan berat badan 55 kg memiliki ± 2100 mg zat besi. Laki-laki memiliki cadangan zat besi di dalam limpa dan sumsum tulang sebanyak 500-1500 mg, itulah sebabnya anemia jarang dijumpai pada laki-laki. Sebaliknya, wanita hanya mempunyai cadangan zat besi 0-300 mg sehingga rentan terhadap anemia, apalagi pada usia subur wanita mengalami menstruasi.

Kebutuhan zat besi tergantung kepada jenis kelamin dan umur. Angka kecukupan zat besi yang dianjurkan adalah :
  • Anak 2-6 tahun 4,7 mg/hari
  • Usia 6-12 tahun 7,8 mg/hari
  • Laki-laki 12-16 tahun 12,1 mg/hari
  • Gadis 12-16 tahun 21,4 mg/hari
  • Laki-laki dewasa 8,5 mg/hari
  • Wanita dewasa usia subur 18,9 mg/hari,
  • Wanita menopause 6,7 mg/hari
  • Wanita menyusui 8,7 mg/hari.
Angka kecukupan ini dihitung berdasarkan ketersediaan hayati (bioavailability) sebesar 15%. Zat besi dalam makanan dapat berasal dari sumber nabati dengan ketersediaan hayati 2-3% dan sumber hewani dengan ketersediaan hayati 20-23%. Untuk meningkatkan ketersediaan hayati, zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat ditambahkan dengan vitamin C dan asam organik lainnya.
 
Sumber-Sumber Makanan Mengandung Zat Besi

Banyak ahli kesehatan yang menyarankan agar setiap orang memeriksakan kadar hemoglobin setiap 6 bulan sekali agar kadar zat besi di dalam tubuh bisa dikontrol. Beberapa makanan yang mengandung zat besi dalam kadar yang cukup tinggi antara lain : jagung, telur, kangkung, kismis, bayam, daging sapi, ikan (beberapa ikan memiliki zat besi dalam kadar yang tinggi seperti ikan sarden), kentang, buah prune, kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai, beras merah, sereal, dan yoghurt non lemak atau susu skim.

Kredit foto : interactive-biology.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.