Sindrom Couvade atau Kehamilan Simpatik

Sunday, February 05, 2017
Sindrom Couvade

Sindrom Couvade atau kehamilan simpatik adalah suatu kondisi dimana seorang suami mengalami gejala-gejala terkait kehamilan seperti yang dialami istrinya yang sedang hamil. Istilah "Couvade" berasal dari bahasa Prancis "couver" yang berarti "mengeram" atau "untuk menetaskan." Istilah ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1865 oleh Edward Burnett Tylor, seorang antropolog berkebangsaan Inggris untuk menggambarkan kebiasaan laki-laki dalam menyambut masa kehamilan pada suatu kelompok masyarakat primitif. Dimana para pria menirukan perilaku wanita hamil, seperti menarik diri dari pekerjaan sukunya, berhenti melakukan aktivitas fisik sehari-hari, menghindari aktivitas seksual, bahkan meniru perilaku wanita yang melahirkan seperti berbaring di tempat tidur dan menjerit keras.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Sindrom Couvade merupakan kondisi yang umum terjadi, bukan suatu penyakit ataupun gangguan mental. Sebagian ahli meyakini bahwa Sindrom Couvade terjadi akibat suami yang terlalu simpati dengan apa yang dialami sang istri selama masa kehamilannya. Namun penelitian masih perlu dilanjutkan untuk mencari kepastian apakah Sindrom Couvade memang disebabkan oleh faktor psikologis sang suami.

Gejala Sindrom Couvade

Gejala-gejala terkait Sindrom Couvade cukup bervariasi dan umumnya terjadi selama trimester pertama dan trimester ketiga kehamilan sang istri.

Gejala fisik Sindrom Couvade

Gejala-gejala yang muncul biasanya:
  • Mual / muntah
  • Mulas 
  • Sakit perut 
  • Diare atau sembelit
  • Kembung
  • Peningkatan atau penurunan nafsu makan
  • Gangguan pernapasan
  • Sakit gigi atau sakit kepala
  • Kram pada kaki
  • Nyeri belakang (punggug)
  • Gangguan perkemihan atau iritasi pada bagian genital.

Gejala psikologis Sindrom couvade

Gejala-gejala psikologis yang mungkin muncul pada Sindrom Couvade antara lain:
  • Perubahan pola tidur (susah tidur),
  • Perubahan mood
  • Perasaan cemas
  • Depresi
  • Penurunan libido dan gelisah.

Penyebab Sindrom Couvade

Belum ada bukti yang jelas mengenai penyebab sindrom ini. Tapi sebagian ahli menilai munculnya sindrom ini diawali dari stres dan rasa empati. Mulai dari tekanan finansial untuk persiapan persalinan, hingga tanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan kebutuhan istri dan bayi. Sebagian ahli juga menyebutkan bahwa pasangan yang sebelumnya infertil (lama tidak memiliki anak), maka suaminya cenderung lebih berisiko mengalami Sindrom Couvade.

Bagi sebagian orang, menjalani kehamilan memang dapat menyebabkan stres di kedua belah pihak. Dan stres inilah yang membuat tubuh pria melepaskan zat kimia yang menyebabkan simpati berlebihan pada kehamilan yang dialami si istri. Lalu, ditambah rasa empati, maka sudah cukup sarat bagi seorang suami untuk mengalami sindrom Couvade.

Saran untuk sindrom Couvade

Sindrom Couvade ini aman dan tidak berbahaya dan biasanya akan hilang setelah proses persalinan. Tidak ada obat yang ampuh untuk mengatasi sindrom ini, kecuali persalinan sang istri.

Apakah Sindrom Couvade itu nyata atau hanya sekedar mitos? Yang jelas ketika seseorang akan menjadi ayah maka psikologisnya akan sangat berhubungan erat dengan faktor emosional dan stres. Jika pasangan Anda hamil, terapkan langkah-langkah untuk mencegah atau mengelola stres, dan persiapkan diri Anda untuk menjadi seorang ayah. Mintalah saran dan dorongan dari teman dan keluarga dan bicarakan dengan istri Anda. Pemahaman dan perencanaan yang baik untuk tantangan di masa depan akan sangat membantu memudahkan masa transisi Anda  untuk menjadi seorang ayah.


Ref:
  1. http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/couvade-syndrome/faq-20058047
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3628883/
  3. https://www.babble.com/pregnancy/couvade-syndrome-2/
  4. http://www.kidspot.com.au/birth/pregnancy/signs-and-symptoms/couvade-syndrome-your-partners-sympathetic-pregnancy
  5. http://www.intisari-online.com/read/sindrom-couvade-suami-ikut-ngidam-saat-istri-hamil

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dijadikan dasar untuk mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan untuk setiap kondisi indvidual. Medkes tidak bertanggung jawab atas penggunaan konten tersebut. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai masalah kesehatan yang mungkin Anda atau orang lain miliki. Gambar-gambar yang dimuat di dalam Medkes adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.