Waspadai Kandungan Merkuri pada Ikan

Sunday, September 07, 2014
Ikan kakap putih
Merkuri merupakan unsur alami yang ditemukan pada udara, air dan makanan. Merkuri umumnya masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Ikan mengandung merkuri karena memakan sesuatu dari sungai atau lautan. Salah satu bentuk merkuri yang paling beracun adalah metilmerkuri. Teknik pengolahan dan cara memasak makanan, tidak secara signifikan menurunkan kadar merkuri pada ikan.

Wanita hamil atau lebih tepatnya bayi yang dikandungnya berisiko tinggi terhadap efek merkuri. Sistem saraf bayi yang masih berada di dalam rahim paling rentan terhadap bahaya merkuri. Merkuri akan menghambat pertumbuhannya di tahun-tahun pertama setelah kelahiran. Penelitian tentang merkuri dan efeknya hingga kini masih terus dilakukan. Saat hamil, seorang ibu harus selektif dalam mengonsumsi ikan, termasuk juga porsinya.

Ikan menyerap metilmerkuri

Merkuri terdiri dari tiga bentuk yaitu organik, anorganik dan logam. Salah satu bentuk organik dari merkuri, yaitu metilmerkuri, adalah yang paling berbahaya.

Metilmerkuri yang terdapat pada ikan utamanya berasal dari merkuri di sedimen laut yang diubah oleh mikroorganisme menjadi metilmerkuri. Metilmerkuri akan diserap oleh jaringan ikan melalui insang saat mereka berenang dan melalui saluran pencernaan saat mereka makan.

Ikan yang mengandung tinggi merkuri

Ikan sangat penting dikonsumsi karena mengandung sejumlah zat yang bermanfaat besar bagi kesehatan seperti protein yang tinggi, rendah lemak jenuh, tinggi lemak tak jenuh, dan tinggi minyak omega-3. Namun di sisi lain, ikan juga dapat membahayakan kesehatan karena mengandung merkuri.

Kadar merkuri pada tiap-tiap jenis ikan berbeda-beda. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti, jenis, usia, ukuran, lokasi, habitat, dan makanannya. Ikan predator (yang memakan ikan lain) berada di rantai makanan paling atas dan cenderung mengandung merkuri lebih tinggi dari ikan lainnya.

Beberapa ikan yang mengandung tinggi merkuri antara lain:
  • Hiu
  • Pari
  • Todak
  • Kakap putih
  • Tuna sirip biru selatan.
Untuk orang dewasa dan anak-anak yang berusia 6 tahun lebih, ikan-ikan dengan kadar tinggi merkuri tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi lebih dari satu kali seminggu. Selain ikan-ikan diatas, umumnya ikan-ikan yang dijual di Indonesia (ikan laut dan sungai) tidak berisiko buruk bagi kesehatan, tentunya apabila dikonsumsi dalam batas kewajaran.

Efek merkuri pada janin

Janin sangat rentan terhadap efek buruk merkuri. Kadar merkuri dalam tubuh ibu akan meningkat karena mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri, yang akhirnya merkuri ini akan dikirimkan kepada janin yang dikandungnya melaui plasenta.

Janin akan lebih sensitif terhadap merkuri pada bulan ketiga dan keempat kehamilan. Efeknya pada otak dan sistem saraf janin mungkin tidak akan terasa hingga akhirnya perkembangan anak tersebut terhambat (lambat berjalan atau berbicara). Memori, bahasa dan fokus anak mungkin juga akan terpengaruh karena merkuri yang diperolehnya ketika di dalam kandungan.

Wanita hamil sewajarnya saja mengonsumsi ikan 

Para ahli menyarankan agar wanita hamil mengonsumsi ikan 3 kali seminggu demi kesehatan dirinya dan janin yang dikandungnya. Mengonsumsi ikan yang tidak mengandung tinggi merkuri dengan wajar merupakan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan dirinya dan janinnya.

FDA Amerika Serikat menyarankan agar wanita hamil tidak mengonsumsi lebih dari 350 gram ikan bermerkuri rendah dalam seminggu (ikan bermerkuri tinggi harus dihindari). Sedangkan untuk umum, konsumsi ikan dengan tinggi kadar merkuri tidak boleh lebih dari 500 gram dalam satu bulan.

Jika memang Anda pernah mengonsumsi ikan bermerkuri tinggi, tidaklah perlu khawatir. Yang perlu dikhawatirkan adalah apabila Anda mengonsumsinya secara terus menerus, yang menyebabkan penumpukan merkuri dalam darah.

Merkuri dan menyusui

Metilmerkuri dari ikan yang dimakan oleh ibu selama kehamilan tampaknya hanya menimbulkan ancaman kesehatan pada bayi yang sedang di dalam rahim. Setelah bayi dilahirkan, kadar merkuri dalam ASI tidak lagi tinggi dan cenderung tidak menyebabkan efek buruk bagi bayi.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.