Pemeriksaan Status Mental

Advertisement
Pemeriksaan Status Mental
Pemeriksaan status mental dilakukan untuk menguji fungsi kognitif seseorang. Pemeriksaan status mental dapat dilakukan oleh dokter ataupun perawat. Sedangkan psikolog lebih kepada pengujian yang lebih kompleks, yakni bila pasien didapati ada gangguan neurokognitif tertentu.

Pemeriksaan status mental akan menguji penampilan, orientasi, rentang perhatian, memori, kemampuan bahasa, dan keterampilan menilai. Pemeriksaan status mental dapat juga disebut sebagai pengujian neurokognitif.

Tujuan pemeriksaan

Pemeriksaan status mental dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyakit jiwa atau kondisi yang mempengaruhi otak. Pemeriksaan status mental akan dapat membantu dalam mendiagnosis:
  • penyakit Alzheimer
  • attention deficit disorder (ADD)
  • gangguan bipolar
  • demensia
  • trauma kepala
  • gangguan kepribadian
  • kecacatan intelektual
  • gangguan neurokognitif
  • skizofrenia
  • stroke
  • transient ischemia attack (TIA), juga sering disebut sebagai "mini stroke" yang berlangsung kurang dari 24 jam.

Selama pemeriksaan

Jenis utama pemeriksaan status mental yang digunakan adalah mini-mental state examination (MMSE), yang juga dikenal dengan Folstein Mini Mental State Exam. Pada pemeriksaan ini, penguji akan mengamati penampilan, orientasi, rentang perhatian, memori, kemampuan bahasa, dan keterampilan dalam menilai.

Penampilan
Penguji akan melihat apakah penampilan pasien sudah sesuai dengan usianya. Apakah tampak lebih tua atau tampak lebih muda. Penguji juga akan mengamati bagian fisik yang terkait dengan kondisi tertentu, seperti almond-shaped eyes (mata berbentuk almond) yang terkait dengan Down syndrome. Penguji akan melihat apakah pasien berpakaian dengan baik. Penguji akan melihat apakah pakaian yang pasien gunakan sudah tepat untuk situasi dan cuaca.

Penguji akan mencari tanda-tanda /isyarat untuk melihat seberapa nyaman pasien dalam situasi sosial. Penguji akan mengamati bahasa tubuh pasien. Penguji akan mencari gerakan yang merupakan ciri khas dari kondisi tertentu, seperti gerakan atau kontraksi otot berlebihan. Mereka akan mengamati bagaimana pasien melakukan kontak mata. Mereka akan memperhatikan apakah pasien menatap dengan tajam atau menghindari kontak mata sama sekali.

Orientasi
Orientasi pasien terhadap waktu, tempat, dan orang juga akan diuji. Orientasi yang abnormal mungkin menunjukkan seseorang itu pengguna alkohol, pengguna obat tertentu, mengalami trauma kepala, kekurangan nutrisi, atau gangguan neurokognitif.

Untuk menguji orientasi pasien, penguji akan mengajukan pertanyaan. Yang pertama kali ditanyakan biasanya identitas diri seperti nama dan umur. Pasien juga akan ditanya mengenai pekerjaan, dan dimana tempat tinggalnya. Selanjutnya pasien juga mungkin akan ditanya dimana dia berada saat ini, tanggal, bulan, atau tahun berapa saat ini.

Rentang perhatian
Rentang perhatian pasien akan diuji sehingga penguji akan dapat menentukan apakah pasien dapat menyelesaikan apa yang ada di pikirannya. Apakah pasien dapat menyelesaikan masalah, atau pemikiran pasien mudah terganggu. Rentang perhatian yang abnormal dapat mengindikasikan attention deficit disorder (ADD), serta beberapa macam kerumitan lainnya.

Saat pengujian, penguji mungkin akan meminta pasien untuk menghitung mundur dari angka tertentu atau mengeja kata pendek maju atau mundur. Pasien juga mungkin diminta untuk mengikuti instruksi lisan dari penguji.

Memori
Baik memori (ingatan) jangka pendek atau memori jangka panjang keduanya akan diuji. Hilangnya memori jangka pendek biasanya mengindikasikan adanya masalah medis, sedangkan hilangnya memori jangka panjang dapat mengindikasikan masalah lainnya. Penguji akan menanyakan tentang kejadian terkini, seperti siapa presiden saat ini. Penguji juga mungkin menanyakan kejadian terkini di dalam hidup seperti perjalanan yang dilakukan baru-baru ini.

Untuk menguji ingatan pasien, penguji akan mengucapkan tiga kata. Pasien akan diminta untuk mengulang kata-kata ini setelah beberapa menit. Penguji juga akan menguji memori jangka panjang pasien dengan mengajukan pertanyaan tentang masa kecil atau masa sekolah.

Kemampuan bahasa
Penguji akan melakukan pengujian untuk melihat bagimana pasien dalam menggunakan bahasa. Misalnya, apakah pasien sudah menggunakan kata-kata dengan tepat, memberi nama benda dengan tepat, mengalami kesulitan dalam menemukan kata, atau kesulitan lain dengan penggunaan bahasa secara umum. Namun penguji harus tahu apakah pasien memang bisa membaca menulis atau tidak. Hasil pengujian kemampuan berbahasa yang tidak normal mungkin menunjukkan beberapa masalah kesehatan mental.

Untuk pengujian bahasa, pasien mungkin akan diminta menuliskan kalimat lengkap atau mengikuti arahan tertulis. Penguji juga akan meminta pasien untuk menyebutkan beberapa barang biasa di dalam ruangan, seperti pena atau meja. Penguji mungkin juga akan meminta pasien untuk menyebutkan sebanyak mungkin kata-kata yang dimulai dari huruf tertentu sesuai dengan kategori tertentu, seperti jenis makanan atau jenis hewan.

Pertimbangan / judgement
Pengujian judgement dilakukan untuk menilai kemampuan pasien dalam memecahkan masalah dan kemampuan pasien untuk membuat keputusan yang dapat diterima. Hasil yang abnormal dari pengujian ini dapat mengindikasikan adanya skizofrenia, kecacatan intelektual, atau gangguan neurokognitif.

Pasien mungkin akan diminta untuk menggambar jam yang menunjukkan waktu tertentu. Penguji mungkin juga akan bertanya mengenai apa yang pasien lakukan dalam beberapa situasi berbeda yang mungkin pasien hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pasien mungkin akan ditanya mengenai apa yang akan dilakukan jika berada di toko dan ingin mendapatkan sesuatu, atau apa yang akan pasien lakukan jika menemukan dompet di jalan.

Persiapan sebelum pemeriksaan

Tingkat pendidikan dan tingkat kepahaman akan bahasa Indonesia dapat mempengaruhi hasil tes mini-mental state examination (MMSE). Pendamping pasien atau pasien itu sendiri sebaiknya memberitahu penguji jika pasien kurang memahami bahasa Indonesia. Juga beritahu penguji tentang riwayat pendidikan, misalnya apakah pasien lulusan perguruan tinggi atau lulus SMA.

Setelah pemeriksaan

Penguji akan mendiskusikan hasil pemeriksaan dengan pasien atau dengan keluarga pasien. Jika pasien melakukan pemeriksaan pasca mengalami cedera, biasanya pemeriksaan ulangan perlu dilakukan lagi beberapa waktu kedepan untuk mengukur kemajuan yang dialami.


Article Resources
  • Mayo Clinic Staff. (2015, December 22). Alzheimer’s: Overview. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/home/ovc-20167098
  • Mini Mental State Examinations. (2015). https://www.alzheimers.org.uk/site/scripts/documents_info.php?documentID=121
  • Tesar, G.E, Austerman, J., Pozuelo, L., & Isaacson, J. H. Behavioral assessment of the general medical patient. (2010, August).
  • Behavioral Assessment of the General Medical Patient. http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/psychiatry-psychology/behavioral-assessment-of-medical-patient/
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer