Diare Setelah Makan : Apa Penyebab dan Bagaimana Menghentikannya?

Advertisement
Penyebab diare setelah makan

Mengalami diare saja sudah merupakan suatu ketidaknyamanan, bagaimana dengan diare yang terus terjadi setelah makan? Diare atau mencret yang terjadi setelah makan dikenal dengan istilah postprandial diarrhea (PD). Jenis diare yang satu ini seringkali tak terduga, yang mana perasaan untuk BAB (buang air besar) dapat terjadi secara tiba-tiba setelah makan.

Sebagian orang dengan PD mengalami nyeri saat buang air besar dan umumnya rasa nyeri ini segera hilang setelah BAB. Mereka yang mengalami PD biasanya kesulitan dalam menikmati makanan karena kekhawatiran akan diare setelahnya. Dan stres seperti ini malah akan memperburuk kondisi PD mereka.

PD bukanlah kondisi yang langka, tapi untuk sampai kepada diagnosisnya maka bisa jadi akan sulit. Hal ini karena PD seringkali merupakan gejala dari kondisi lain. Misalnya, sebagian orang mengalami PD yang terkait dengan sindrom iritasi usus besar atau IBS. Ini disebut dengan IBS-diarrhea atau IBS-D. PD bisa menjadi gejala dari IBS-D. Sedangkan pada kasus lainnya, PD terjadi tanpa alasan yang dapat didiagnosis.

Kondisi atau masalah yang dapat menyebabkan PD terbagi menjadi dua kategori utama, yakni:
  • Akut, yang berlangsung dalam waktu singkat
  • Kronis, yang berlangsung dalam waktu lama (jangka panjang).

Penyebab PD akut

Beberapa kondisi atau masalah kesehatan dapat menyebabkan PD akut. Umumnya PD akut akan sembuh dengan sendirinya, tapi sebagian lainnya memerlukan obat-obatan. Penyebab PD akut meliputi:

Infeksi virus: Infeksi virus, seperti kutu perut, dapat menyebabkan PD akut dan membuat saluran pencernaan menjadi sangat sensitif. PD bisa berlangsung selama beberapa hari, meskipun gejala lainnya telah mereda.

Intoleransi laktosa: Orang yang alergi terhadap laktosa, sejenis gula yang ditemukan di dalam susu, mungkin akan mengalami PD jika mereka makan makanan yang mengandung laktosa. Gejala intoleransi laktosa antara lain, kembung, kram perut, dan diare.

Keracunan makanan: Tanpa perlu diperintah, tubuh manusia sebenarnya telah melakukan tugasnya dengan baik, karena tubuh mengetahui bahwa ia telah memakan sesuatu yang seharusnya ia tidak makan. Ketika makanan buruk masuk kedalam, tubuh akan mendeteksinya dan segera melawan dan mengusirnya. Maka dari itu terjadilah diare atau muntah dalam beberapa menit setelah makan makanan yang terkontaminasi.

Malabsorbsi gula: Kondisi ini cukup mirip dengan intoleransi laktosa. Tubuh orang yang megalami malabsorbsi gula tidak mampu menyerap gula dengan baik seperti laktosa dan fruktosa. Ketika gula-gula ini masuk ke dalam usus, maka akan menyebabkan diare dan masalah gastrointestinal lainnya.

Diare balita: Balita dan anak-anak yang banyak minum jus buah bisa mengalami PD. Tingginya jumlah gula dalam minuman ini akan berefek menumpuknya air ke dalam usus, yang bisa menyebabkan tinja menjadi encer dan diare.

Parasit: Parasit yang terbawa makanan dapat menyebabkan PD. Jenis parasit yang cukup umum terbawa dalam makanan adalah cacing pita. Gejalanya, termasuk PD, akan berlangsung sampai parasit tersebut mati atau keluar dari tubuh.

Overdosis magnesium: Mengonsumsi magnesium dalam tingkat yang tinggi dapat menyebabkan diare. Namun overdosis magnesium sangat sulit terjadi hanya karena memakan makanan alami, biasanya hanya terjadi pada mereka yang mengonsumsi suplemen.

Penyebab PD kronis

Penyebab PD kronis kemungkinan besar adalah kondisi yang mungkin membutuhkan perawatan jangka panjang. Kondisi ini antara lain:

Sindrom iritasi usus besar (IBS): IBS merupakan suatu kelainan yang menyebabkan berbagai masalah gastrointestinal. Gejalanya antara lain diare, kembung, gas berlebih, dan kram perut. Belum jelas apa penyebab IBS.

Penyakit seliaka: Penyakit yang terkait dengan autoimun ini menyebabkan masalah pada usus setiap kali Anda mengonsumsi gluten. Gluten adalah protein yang paling sering ditemukan di dalam gandum.

Kolitis mikroskopik: Kondisi ini menyebabkan radang usus besar. Selain diare, gejalanya meliputi gas berlebih dan kram perut. Peradangan tidak selalu terjadi. Hal ini berarti PD bisa kambuh dan bisa hilang.

Malabsorbsi asam empedu: Kandung empedu menghasilkan empedu untuk membantu memecah dan mencerna lemak yang berasal dari makanan. Jika asam ini tidak diserap dengan benar, maka mungkin akan mengganggu usus besar. Hal ini menyebakan tinja menjadi berair atau encer.

Pengangkatan kandung empedu: Orang yang kandung empedunya telah diangkat dapat mengalami diare yang sering pada beberapa minggu atau bulan pertama setelah dioperasi. Pada kebanyakan kasus, diare akan berhenti, namun sebagian lainnya akan terus mengalami diare kronis atau PD setelah operasi.

Dumping syndrome: Komplikasi operasi penurunan berat badan ini tidak umum terjadi, tapi bisa menjadi penyebab PD. Dengan kondisi ini, perut akan kosong dengan cepat setelah makan. Ini memicu reflek yang mengatur pergerakan usus, sehingga diare mungkin lebih sering terjadi.

Perawatan PD

Banyak penyebab PD yang memerlukan perawatan medis, namun keempat gaya hidup ini juga dapat meringankannya:

Hindari makanan pemicu: Makanan tertentu dapat menyebabkan PD. Jika tidak yakin dengan makanan apa yang memicu PD, catatlah makanan-makanan tersebut. Catat apa yang dimakan dan saat mengalami PD. Pertama-tama cermati makanan yang umum terkait dengan PD, seperti makanan berlemak, serat, dan susu.

Higiene makanan: Jaga buah dan sayuran dari bakteri jahat dengan mencucinya terlebih dahulu sebelum dimakan, masaklah daging hingga matang sepenuhnya, selalu dinginkan makanan yang memang harus disimpan dalam suhu dingin.

Makan sedikit tapi sering: Sebaiknya orang dengan PD makan lima sampai enam kali sehari, bukan makan tiga kali tapi banyak. Ini akan membantu usus agar lebih mudah mencerna makanan, dan itu akan mengurangi gejala PD.

Hindari stres: Perut sangat memiliki keterkaitan dengan pikiran. Bila stres, perut akan lebih gampang "marah". Pelajari cara mengelola stres, ini tidak hanya baik untuk kesehatan mental tapi juga untuk pencernaan Anda.

Perlu diperhatikan

Diare memang akan selalu terjadi dan jarang menjadi perhatian yang serius. Namun, komplikasi yang serius dapat terjadi, segera ke dokter bila Anda mengalami gejala tambahan berikut:

Frekuensi: Jika diare terjadi beberapa kali dalam seminggu selama lebih dari tiga minggu, atau jika diare terjadi selama tiga hari berturut-turut.

Demam: Jika Anda mengalami diare yang disertai demam diatas 38,8°C.

Nyeri: Jika diare memang sudah sering Anda alami tapi baru kali ini Anda mengalami sakit perut hebat atau nyeri rektum saat BAB, segeralah ke dokter.

Dehidrasi: Ketika diare, sangatlah penting untuk merehidrasi tubuh Anda. Minum air putih atau minuman elektrolit dapat membantu Anda tetap sehat meskipun sedang diare. Gejala-gejala dehidrasi yakni:
  • Haus yang ekstrem
  • Linglung atau bingung
  • Kram otot
  • Urin berwarna gelap.

Kotoran berubah warna: Jika warna tinja Anda hitam, abu-abu, atau berdarah, segeralah ke dokter. Ini bisa jadi merupakan gejala dari masalah gastrointestinal yang serius.

Tidak ada satu alat atau pemeriksaan khusus untuk mengidentifikasi atau mendiagnosis penyebab PD. Oleh karena itu, dokter seringkali merekomendasikan pilihan pengobatan tertentu satu persatu sampai ia menemukan satu pilihan pengobatan yang bekerja secara konsisten. Jadi bersabarlah.

Saat perawatan berlangsung, hal ini akan membantu dokter memahami apa yang menjadi penyebab PD. Dari situ, dokter akan terus mempersempit potensi penyebabnya dan akhirnya rencana pengobatan yang tepat dapat ditemukan.

Article Resources
  • Celiac disease. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/celiac-disease/home/ovc-20214625
  • Irritable bowel syndrome. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/irritable-bowel-syndrome/basics/causes/con-20024578
  • Post-prandial reactive hypoglycaemia and diarrhea caused by idiopathic accelerated gastric emptying: a case report. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3113993/
  • Review: Management of postprandial diarrhea syndrome. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22624684
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer