Asma dan Kehamilan

Advertisement
Asma dan Kehamilan

Banyak ibu yang merasa khawatir minum obat asma mengingat kondisi mereka yang sedang hamil. Perlu diketahui bahwa kondisi asma selama kehamilan memiliki pengaruh penting terhadap kesehatan janin dan ibu itu sendiri.

Jika pernapasan baik dan lancar, maka janin yang dikandung juga akan sehat, dan begitupun sebaliknya, karena perkembangan janin sangat tergantung dari udara yang Anda hirup. Kondisi asma yang tidak terkontrol selama kehamilan, dan stres akan asma itu sendiri, akan memperburuk kondisi kesehatan janin dan ibu.

Yang terpenting dilakukan adalah tetap berkomunikasi dengan dokter bagaimana menangani asma Anda selama kehamilan. Obat-obat apa, dan perawatan apa saja yang dapat dilakukan agar asma dapat terkontrol dengan baik selama kehamilan.

Perubahan asma selama kehamilan

Masih belum jelas bagaimana kehamilan dapat mempengaruhi kondisi asma seorang wanita. Pada sepertiga wanita, asma mereka memburuk, sepertiga lainnya membaik, dan sepertiga lainnya tidak mengalami perubahan sama sekali.

Asma ringan sebelum kehamilan, dan dikontrol dengan baik selama kehamilan, maka akan semakin baik pula kemungkinan Anda sedikit atau tidak terserang gejala asma selama kehamilan.

Jika asma semakin memburuk selama kehamilan, gejalanya cenderung paling buruk pada minggu 24 hingga 36. Setelah ini, gejala akan menurun dan sekitar 90% wanita tidak lagi memiliki gejala asma hingga persalinan.

Obat asma aman digunakan selama kehamilan

Sebagian ibu menghentikan minum obat asma ketika tahu mereka hamil, karena khawatir akan membahayakan janin. Ini sebenarnya kesalahan fatal. Risiko kebanyakan obat asma terhadap janin sangatlah kecil dibandingkan dengan risiko serangan-serangan asma selama kehamilan.

Serangan asma berulang atau yang tidak terkontrol selama kehamilan cenderung menyebabkan komplikasi kehamilan. Bayi lebih mungkin dilahirkan prematur dan berat badan rendah, sehingga butuh rawat inap setelah melahirkan. Selain itu, asma yang tidak terkontrol dapat membahayakan kesehatan Anda sendiri karena Anda akan cenderung mengalami preeklampsia atau hipertensi. Dua kondisi ini akan berefek buruk bagi janin. Semakin parah asma, semakin buruk efek yang akan diterima janin. Bahkan, meskipun jarang terjadi, janin bisa mati karena kekurangan oksigen.

Umumnya, obat-obat untuk asma aman dan boleh digunakan selama kehamilan. Obat asma yang dihirup, obatnya akan langsung masuk ke saluran napas, yakni di tempat yang dibutuhkan, sehingga seringkali cukup dengan dosis yang kecil. Konsultasikan dengan baik dengan dokter Anda mengenai obat apa yang paling cocok dengan kondisi asma Anda selama kehamilan.

Serangan asma saat persalinan

Meskipun jarang, tetap ada kemungkinan serangan asma saat persalinan. Diketahui, ada kemungkinan obat yang digunakan selama atau setelah persalinan dapat memicu atau memperburuk asma. Sebaiknya Anda tetap menyiapkan obat asma ketika persalinan, pun ketika berada di rumah sakit. Ketika serangan asma muncul saat persalinan, gunakan saja obat asma Anda seperti biasa.

Pemicu asma selama kehamilan

Secara umum, pemicu asma selama kehamilan sama dengan sebelum Anda hamil. Sensitivitas tubuh selama kehamilan terhadap pemicu dapat meningkat, menurun, atau sama. Perbedaan ini disebabkan karena perubahan hormon selama kehamilan.

Pemicu umum serangan asma, antara lain:
  • Infeksi saluran napas, seperti flu, bronkitis, dan sinusitis. Infeksi bakteri dan virus dapat memicu serangan asma.
  • Asap dan asap rokok
  • Emosi atau marah
  • Alergi makanan
  • Rinitis alergi (hay fever atau alergi musiman)
  • Perubahan cuaca, terutama udara dingin dan kering
  • Olahraga
  • Aroma tajam, semprotan, parfum
  • Reaksi alergi terhadap bahan kimia tertentu
  • Reaksi alergi terhadap kosmetik, sabun, shampo
  • Reaksi alergi terhadap iritan, seperti tungau, debu, jamur, bulu, dll.

Langkah terbaik untuk mengatasi asma selama kehamilan adalah dengan menghindari pemicunya.

Asma, kehamilan, dan asap rokok

Serangan asma akan berkurang atau akan dapat terkontrol dengan baik jika Anda tidak merokok atau tidak terpapar asap rokok.

Asap rokok akan berefek buruk bagi janin yang sedang berkembang, seperti:
  • Risiko kelahiran prematur
  • Berat badan lahir rendah, yang berisiko menimbulkan komplikasi lainnya
  • Risiko kematian janin atau lahir mati, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)
  • Risiko infeksi pernapasan.

Komplikasi kehamilan yang lebih sering dialami oleh wanita perokok atau yang sering terpapar asap rokok, antara lain kehamilan ektopik, keguguran, masalah pada plasenta, ketuban pecah dini, dan persalinan prematur.


Article Resources
  • Asthma - pregnancy and breastfeeding. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/asthma-pregnancy-and-breastfeeding
  • Asthma and pregnancy. https://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/pages/asthma-pregnant.aspx
  • Asthma in Pregnancy. https://www.emedicinehealth.com/asthma_in_pregnancy/article_em.htm
Semua konten di Medkes hanya untuk tujuan informasi dan tidak untuk dijadikan dasar dalam mendiagnosis atau membuat rencana pengobatan. Hubungi profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan Anda. Lihat Disclaimer