Tes Kepadatan Tulang (Densitometri) : Manfaat, Prosedur, dan Komplikasi

Thursday, February 09, 2017
Tes kepadatan tulang (densitometri) adalah suatu prosedur medis yang dilakukan untuk mengukur tingkat kepadatan atau kekuatan tulang. Tes kepadatan tulang mengukur seberapa banyak kalsium dan mineral lainnya di dalam tulang. Tes kepadatan tulang berguna untuk mengidentifikasi penyakit osteoporosis (kepadatan tulang kurang, tulang hilang kekuatan dan mudah patah akibat kehilangan kalsium) atau osteopenia (kondisi keropos tulang yang ringan). Di masa lalu osteoporosis hanya dapat dideteksi ketika seseorang telah mengalami patah tulang.

Ada beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mengukur kepadatan tulang. Umumnya tes-tes ini mudah dilakukan, cepat, dan tidak menyebabkan rasa sakit. Dual energy x-ray absorptiometry (DEXA), yang memanfaatkan mesin scan x-ray khusus untuk mengukur kepadatan tulang, merupakan teknik pengukuran yang paling populer saat ini karena prosesnya yang cepat dan sangat akurat. Tes kepadatan tulang sering juga disebut dengan tes kepadatan mineral tulang (BMD) atau pengukuran massa tulang.

Tes DEXA kepadatan tulang
Tes DEXA kepadatan tulang

Bilakah tes kepadatan tulang dilakukan?

Meskipun osteoporosis lebih sering mengenai wanita yang sudah tua, laki-laki juga dapat mengalaminya. Tanpa memandang jenis kelamin atau usia, dokter biasanya akan merekomendasikan tes kepadatan tulang untuk orang-orang yang:
  • Sebelumnya pernah mengalami fraktur (patah tulang).
  • Pasca menopause dan berisiko osteoporosis.
  • Mengalami deformitas vertebral (tulang belakang).
  • Mengalami penurunan tinggi badan. Orang-orang yang mengalami penurunan tinggi badan setidaknya 1,6 inc (4 cm) kemungkinan mengalami fraktur kompresi tulang punggung, yang mana osteoporosis menjadi salah satu penyebab utamanya.
  • Menggunakan obat-obatan tertentu. Penggunaan obat steroid dalam jangka panjang, seperti prednison, dapat mengganggu proses pembangunan kembali tulang, yang akhirnya dapat menyebabkan osteoporosis.
  • Menerima transplantasi. Orang yang menerima transplantasi organ atau sumsum tulang belakang berisiko tinggi osteoporosis, hal ini karena obat anti penolakan juga mengganggu proses pembangunan kembali tulang.
  • Mengalami penurunan kadar hormon. Selain karena penurunan alami hormon pasca menopause, estrogen wanita juga dapat turun ketika menjalani pengobatan kanker tertentu.
  • Menjalani pengobatan kanker prostat. Beberapa pengobatan untuk kanker prostat akan menurunkan kadar testosteron pada pria. Menurunnya kadar testosteron akan menyebabkan pelemahan tulang.
  • Osteopenia (menurunnya kepadatan tulang).
  • Sedang menjalani pengobatan osteoporosis.

Penyakit dan kondisi tertentu juga dapat menyebabkan hilangnya kepadatan tulang, seperti penyakit endokrin (hormonal), penyakit hati kronis, rheumatoid arthritis, dan gagal ginjal kronis.

Dokter akan menggunakan hasil tes kepadatan tulang untuk:
  • Mengidentifikasi penurunan kepadatan tulang sebelum tulang Anda patah
  • Menentukan risiko patah tulang
  • Mendiagnosis osteoporosis
  • Memantau keberhasilan pengobatan osteoporosis.

Sebelum menjalani tes kepadatan tulang, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
  • Riwayat kesehatan
  • Faktor risiko penyakit tulang
  • Kehamilan (wanita hamil tidak dianjurkan menjalani tes kepadatan tulang)
  • Instruksi-instruksi khusus sebelum tes.

Prosedur tes kepadatan tulang

Tes kepadatan tulang merupakan tes yang mudah, cepat dan tanpa rasa sakit. Hampir tidak diperlukan persiapan. Hanya saja biasanya, pasien akan diminta melepaskan pakaian dan memakai pakaian dari rumah sakit. Semua perhiasan harus ditanggalkan sebelum menjalani tes.

Ada beberapa prosedur yang digunakan untuk mengukur kepadatan tulang, antara lain:
  • Dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) - Energi x-ray berbeda-beda yang digunakan untuk mendeteksi kepadatan tulang dan jaringan lunak. Teknik ini dapat digunakan untuk mengukur kepadatan tulang di tulang belakang, pinggul, lengan, dan total tubuh. DEXA menjadi metode yang paling umum digunakan untuk mengukur kepadatan tulang karena prosesnya cepat, tanpa anestesi atau suntik, dan keakuratannya mencapai 98-99%. 
  • Single energy x-ray absorptiometry - Energi x-ray tunggal yang digunakan untuk mengukur kepadatan tulang pada bagian-bagian tubuh perifer seperti lengan dan tumit. Dalam teknik ini, area yang akan diuji dibungkus dalam substansi seperti jaringan atau direndam dalam air untuk meningkatkan keakuratan.
  • Ultrasound - Pengukuran dengan ultrasound dapat menginformasikan data tentang struktural tulang.  Perangkat ultrasound canggih seperti quantitative ultrasound (QUS) dapat menganalisa kepadatan tulang tumit hanya dalam waktu beberapa menit, dengan print out hasil yang otomatis.

Tes kepadatan tulang umumnya akan memakan waktu sekitar belasan menit atau lebih dan tulang yang palig sering diuji adalah tulang belakang, pinggul dan lengan.

X-ray biasa sebenarnya juga dapat mendeteksi osteoporosis tetapi hanya jika sepertiga dari massa tulang telah hilang. Tapi untuk mendeteksi osteoporosis dalam tahap awal, x-ray biasa tidak dapat melakukannya.

Hasil tes kepadatan tulang

Hasil tes kepadatan tulang menggunakan satuan g/cm2 dalam dua nilai: T-sore dan Z-score. Kedua nilai menggambarkan kepadatan tulang seseorang dengan nilai normal orang lain dalam suatu pengelompokan yang sama, yang dikenal sebagai ‘reference population’.

T-score
T-score adalah kepadatan tulang Anda dibandingkan dengan nlai normal orang dewasa muda yang sehat dan berjenis kelamin sama. T-score Anda adalah jumlah unit - yang disebut standar deviasi - kepadatan tulang Anda berada diatas atau dibawah rata-rata.
T-scoreArti score
-1 atau lebih tinggiKepadatan tulang Anda normal
Antara -1 sampai -2.5Pertanda osteopenia. Kepadatan tulang Anda dibawah
normal, namun belum didiagnosis osteoporosis
-2.5 atau lebih rendahNilai ini menunjukkan Anda mengalami osteoporosis.
Semakin rendah skor, maka tingkat osteoporosis semakin parah.
Z-score
Z-score adalah jumlah deviasi standar diatas atau dibawah normal dari orang lain dengan usia, jenis kelamin, berat badan, etnis dan ras yang sama. Jika Z-score Anda -2 atau lebih rendah, mungkin menunjukkan bahwa selain penuaan ada sesuatu yang lain yang menyebabkan hilangnya kepadatan tulang. Jika dokter dapat mengidentifikasi masalahnya, kondisi ini seringkali dapat diobati dan kehilangan kepadatan tulang dapat diperlambat atau bahkan dihentikan.

Tes kepadatan tulang memang dapat mengkonfirmasi bahwa seseorang memiliki kepadatan tulang yang rendah, namun tidak mengkonfirmasi penyebabnya. Evaluasi medis yang lengkap oleh dokter yang akan menemukan penyebabnya.

Semakin tinggi kadar mineral tulang, maka semakin padat tulang Anda. Dan semakin padat tulang Anda, maka tulang semakin kuat dan kecil kemungkinan untuk patah.


Komplikasi tes kepadatan tulang

Tes kepadatan tulang merupakan prosedur yang aman dan tingkat radiasinya hanya sebanding dengan seperti yang Anda dapatkan dari lingkungan sehari-hari dalam waktu sekitar satu hari dan jauh lebih kecil dari radiasi rontgen dada.

Tes kepadatan tulang merupakan prosedur yang aman dan tanpa disertai rasa sakit. Pasien dapat melanjutkan aktivitas biasanya setelah menjalaninya.

Jika Anda mengalami osteoporosis atau ada riwayat genetik osteoporosis maka sebaiknya Anda memeriksakan kepadatan tulang secara rutin guna memastikan perawatan dapat berhasil menjaga integritas tulang Anda. Sebaiknya pengujian berulang hanya dilakukan di fasilitas atau menggunakan mesin yang sama, ini untuk menghindari perbedaan pengukuran antara mesin atau fasilitas. Pilihlah fasilitas kesehatan yanag terpercaya untuk mengukur kepadatan tulang Anda.


Referensi:
- https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/bone-density-testing
- http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/bone-density-test/basics/definition/prc-20020254
- https://www.nof.org/patients/diagnosis-information/bone-density-examtesting/
- https://medlineplus.gov/ency/article/007197.htm

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.