Kupas Tuntas Manfaat Daun Teh untuk Kesehatan

Friday, January 02, 2015
Daun teh

Teh adalah minuman populer di seluruh dunia. Teh terbuat dari daun tanaman Camellia sinensis. Kelompok senyawa agen pelindung yang terdapat didalam teh yang dikenal sebagai katekin (catechin).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa teh dapat memperlambat perkembangan kanker dan menurunkan risiko penyakit jantung. Namun sebagian penelitian lainnya gagal menemukan manfaat teh bagi kesehatan. Hingga saat ini penelitian terhadap kontribusi teh untuk kesehatan terus dilakukan.

Empat jenis teh

Secara garis besar, ada empat jenis teh:
  • Teh putih - terbuat dari daun teh muda atau tunas daun teh, dengan menggunakan metode pengolahan yang cepat agar teh tetap segar.
  • Teh hijau - daunnya dikukus atau dipanaskan dengan cepat untuk mencegah oksidasi (kerusakan) katekin.
  • Teh oolong (semi fermentasi) - proses pembuatannya lebih lama dari teh hijau namun tidak selama proses pembuatan teh hitam.
  • Teh hitam (fermentasi) - daun teh diolah lebih lanjut, termasuk dengan memanfaatkan paparan panas.
Mengapa teh berbeda-beda

Perbedaan utama dari jenis-jenis teh diukur berdasarkan derajat oksidasinya (paparan dengan oksigen). Oksidasi yang berlebihan dianggap tidak sehat. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa teh putih dan teh hijau dianggap memiliki manfaat kesehatan yang lebih besar daripada teh oolong dan teh hitam.

Selama ini, teh hijau (non-fermentasi) digemari di negara-negara Asia. Sementara negara-negara Barat cenderung lebih menyukai teh hitam (fermentasi) karena rasanya yang lebih kuat akibat proses fermentasi. Karakteristik teh oolong (semi-fermentasi) berada di antara teh hijau dan teh hitam. Sedangkan teh putih termasuk teh yang langka dan cenderung mahal, namun teh ini memiliki popularitas yang paling baik di seluruh dunia. Seluruh jenis teh mengandung kafein, zat stimulan sistem saraf, meskipun saat ini sudah tersedia teh tanpa kafein.

Senyawa pelindung di dalam teh

Polifenol yang termasuk flavanoid adalah bahan kimia alami tanaman (yang disebut fitokimia) yang ditemukan di dalam teh dan memiliki sifat antioksidan yang kuat. Antioksidan adalah agen yang melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas dan menurunkan risiko kerusakan yang disebabkan oleh low density lipoprotein (LDL) atau yang lebih dikenal sebagai kolesterol jahat dalam darah.

Teh mengandung berbagai varietas polifenol yang dikenal sebagai katekin. Katekin dianggap memiliki sifat mencegah atau menghambat perkembangan kanker (anti-karsinogenik), tumor (anti-tumorgenik) dan perubahan genetik yang tidak diinginkan (anti-mutagenik).

Penelitian tentang manfaat teh untuk kesehatan

Sebuah penelitian internasional menunjukkan bahwa minum teh secara teratur dapat memperlambat perkembangan jenis kanker tertentu dan menurunkan risiko penyakit jantung. Umumnya laporan yang menunjukkan adanya hubungan positif teh dan pengaruhnya terhadap kanker muncul dari penelitian yang menggunakan teh hijau, daripada teh hitam.

Sedangkan penelitian lainnya membantah pendapat ini. Salah satu alasannya mungkin terkait bioavailabilitas yang rendah dari katekin teh (katekin teh tidak mudah diserap tubuh) pada manusia dan hewan. Alasan lainnya mungkin karena kehadiran mikroorganisme alami di dalam usus (flora mikroba atau mikrobiota) yang mempengaruhi penyerapan antioksidan ini.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan manfaat kesehatan yang tepat dari minum teh, tapi teh tetap disarankan oleh para ahli untuk kesehatan usus, fungsi kekebalan tubuh, tekanan darah, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular (CVD), diabetes dan kerusakan gigi.

Hubungan teh dan penyakit jantung

Kadar kolesterol darah yang tinggi telah dikaitkan dengan risiko penyakit jantung koroner. Dua jenis kolesterol darah yaitu low density lipoprotein (LDL), yang memblokir arteri, dan high density lipoprotein (HDL), yang menurunkan kadar LDL.

Diyakini bahwa polifenol di dalam teh membantu mencegah aterosklerosis, suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak yang menyebabkan arteri menyempit.

Berdasarkan sebuah penelitian dari Jepang, teh hijau akan menurunkan kadar LDL atau kolesterol jahat, dan dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Penelitian di Eropa menemukan bahwa minum teh secara teratur akan melindungi dari penyakit jantung. Sedangkan penelitian lainnya menunjukkan bahwa peminum teh memiliki risiko penyakit jantung 36 persen lebih rendah dari bukan peminum teh.

Peradangan (inflamasi) juga diyakini memiliki kontribusi untuk penyakit jantung. Polifenol dalam teh memiliki sifat anti inflamasi ringan pada hewan uji coba. Penelitian awal juga menunjukkan bahwa polifenol teh dapat menurunkan aktivitas trombosit, yang merupakan agen pembekuan darah.

Hubungan teh dan kanker

Kanker prostat sangat umum terjadi pada pria berusia lanjut. Kejadian kanker prostat di Asia secara signifikan lebih rendah daripada di Barat, tetapi ilmu pengetahuan baru-baru ini menganggap bahwa teh hijau menjadi faktor kuncinya. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa beberapa bahan kimia yang ditemukan di dalam teh mampu memperlambat pertumbuhan kanker prostat.

Pada tahun 2010, sebuah penelitian di Australia dilakukan terkait efek meminum teh terhadap risiko kanker ovarium. Penelitian ini menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi teh hijau atau teh hitam memiliki risiko lebih rendah untuk mengembangkan kanker ovarium. Tidak seperti kebanyakan penelitian lain, penelitian ini menemukan bahwa teh hitam efektif dalam menurunkan risiko kanker ovarium. Tapi tetap saja, efeknya masih tidak sekuat teh hijau.

Penelitian di Jepang juga menyelidiki efek teh pada kanker, dan menemukan bahwa mengonsumsi hingga 10 cangkir teh hijau setiap hari akan:
  • Mengurangi penyebaran kanker ke bagian tubuh lain (metastasis)
  • Memperlambat pertumbuhan kanker
  • Mengurangi kemungkinan kanker berkembang di lokasi awal.
Beberapa uji coba terhadap manusia dan hewan lainnya juga menunjukkan bahwa teh juga dapat melindungi dari kanker mulut, lambung, pankreas, usus, sistem pencernaan, dan kandung kemih pada wanita. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa teh memiliki pengaruh protektif terhadap kanker.

Sebuah ulasan baru-baru ini menyoroti potensi zat yang ditemukan di dalam teh hijau dalam melindungi dari kanker usus, kulit, paru-paru, prostat dan payudara.

Hubungan teh dan penyakit hati

Stres oksidatif dan peradangan berperan besar dalam cedera dan penyakit hati akut. Pada hewan percobaan, katekin pada teh hijau didapati dapat menekan atau mengurangi keparahan kerusakan hati.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami fungsi polifenol pada teh hijau, atau kombinasi dari beberapa komponen teh, apakah benar-benar memberikan manfaat anti inflamasi pada manusia. Penelitian pada hewan sejauh ini menunjukkan bahwa suplemen teh hijau mungkin bermanfaat untuk mengurangi peradangan dan stres oksidatif pada hati.

Faktor lain yang berkontribusi

Beberapa penelitian menemukan bahwa peminum teh memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah daripada peminum kopi. Dengan fakta ini mungkin kita akan menganggap katekin pada teh lah yang berperan. Namun, faktor gaya hidup terkait juga harus diperhitungkan. Misalnya, para peminum kopi lebih mungkin adalah perokok, yang mana meningkatkan risiko penyakit jantung.

Satu hal yang sulit adalah mengisolasi efek teh dari semua faktor kesehatan yang berhubungan dan gaya hidup yang tak terhitung jumlahnya yang juga mempengaruhi perkembangan penyakit. Penelitian ini sedang berlangsung.

Teh tanpa kafein

Proses dekafeinasi pada teh dapat merusak zat fenolik. Karena kebanyakan penelitian meneliti efek teh yang berkafein, tidak dapat diasumsikan bahwa teh tanpa kafein akan memberikan manfaat kesehatan yang sama atau lebih baik.

Teh herbal

Teh herbal biasanya terbuat dari berbagai jenis tanaman dan selain daun juga terkadang memanfaatkan bunga dan akarnya. Meskipun disebut teh herbal, umumnya teh herbal tidak mengandung daun Camellia sinensis atau daun teh. Masih belum jelas apakah teh herbal dapat memberikan potensi manfaat kesehatan yang sama dengan teh hijau atau hitam dalam kaitannya untuk mencegah penyakit jantung.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.