Penyebab Kuning pada Bayi Baru Lahir

Saturday, December 13, 2014
Phototherapy pada bayi kuning

Bayi yang baru lahir sering mengalami kuning atau jaundice, sehingga membuat kulit dan mata mereka tampak kekuning-kuningan. Sekitar 6 dari 10 bayi yang baru lahir umum mengalami kuning, mulai dari yang ringan hingga berat. Kuning lebih sering terjadi pada bayi prematur.

Kuning pada bayi umumnya disebabkan karena menumpuknya zat kimia yang disebut bilirubin dalam darah dan jaringan bayi (ikterus fisiologis). Normalnya, bilirubin diproses di hati, tapi hati bayi yang baru lahir akan membutuhkan waktu hingga beberapa hari sejak kelahiran untuk siap memproses bilirubin.

Kuning biasanya terjadi di hari kedua atau ketiga sejak kelahiran. Jika bayi Anda terlihat sehat, kuning tidak perlu dikhawatirkan karena akan hilang sendiri setelah satu minggu atau lebih. Namun, bayi prematur atau bayi yang sakit dengan tingkat bilirubin yang sangat tinggi membutuhkan perawatan medis di rumah sakit.

Gejala kuning pada bayi

Gejala kuning pada bayi tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya, tetapi umumnya:
  • Kuning pada kulit, biasanya muncul pertama kali pada wajah dan kulit kepala
  • Kuning pada bagian putih mata (sclera)
  • Kuning yang menyebar pada kulit tubuh (kuning sedang)
  • Telapak tangan dan telapak kaki kuning (kuning berat)
  • Mengantuk yang tidak biasa
  • Kesulitan makan
  • Dalam beberapa kasus, feses atau kotoran berwarna terang dan urin berwarna gelap.
Ikterus fisiologis

Bilirubin merupakan limbah tubuh hasil daur ulang sel darah merah yang sudah tua atau rusak. Sedangkan hati akan bertugas menghilangkan bilirubin dengan mengekskresikannya ke usus.

Di dalam rahim, bilirubin janin akan dikirimkan melalui tali pusat dan dieliminasi oleh tubuh ibu. Setelah lahir, bayi harus membuang bilirubinnya sendiri melaui proses di hati, sedangkan hati masih membutuhkan waktu beberapa hari agar dapat berfungsi dengan maksimal. Pada periode tersebut, terjadilah penumpukan bilirubin di dalam tubuh bayi dan menyebabkan gejala kuning.

Setiap bayi yang baru lahir memiliki tingkat bilirubin berlebih, namun hanya sekitar 60% dari bayi cukup bulan yang mengalami gejala kuning. Untuk hal ini, biasanya pengobatan tidak diperlukan, kecuali jika kadar bilirubinnya sangat tinggi, atau kondisi prematur atau sakit. Dehidrasi (kekurangan cairan) atau berat badan yang rendah dapat memperburuk kondisi kuning.

Penyebab lain kuning pada bayi

Kuning pada bayi juga dapat disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain, seperti:
  • ASI kurang - payudara ibu hanya sedikit memproduksi kolostrum di hari-hari pertama setelah melahirkan. Kurangnya ASI yang diterima oleh bayi dapat mempengaruhi fungsi hatinya.
  • Hepatitis neonatal - beberapa jenis virus dapat memicu hepatitis pada bayi, seperti cytomegalovirus, rubella, dan hepatitis A, B and C. Bayi dengan hepatitis neonatal mungkin terkena infeksi virus saat dalam kandungan, atau dalam bulan pertama kehidupannya.
  • Rh (Rhesus) dan ABO blood group incompatibilities (ketidakcocokan golongan darah) - ibu memproduksi antibodi yang menyerang sel-sel darah merah bayi selama semester akhir kehamilan. Hal ini berarti tingkat sel darah merah rusak yang harus dihilangkan oleh tubuh lebih tinggi, yang pada gilirannya akan memicu kenaikan tingkat bilirubin, sehingga bayi dapat terlahir dengan anemia dan mengalami kuning berat dalam beberapa jam setelah kelahiran.
  • Anemia hemolitik - bisa jadi ini merupakan gangguan autoimun yang diwariskan, dimana sistem kekebalan tubuh bayi menghancurkan sel-sel darah merah. Juga dapat menjadi komplikasi dari gangguan lain, seperti sepsis (infeksi serius).
  • Galaktosemia - galaktosa adalah gula susu. Bayi dengan galaktosemia tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk memecah galaktosa. Tingginya kadar galaktosa dapat menyebabkan sirosis hati dan akhirnya kuning.
  • Atresia bilier - saluran aliran empedu dari hati ke usus kecil rusak, alasannya tidak diketahui. Tanpa saluran empedu, empedu akan menumpuk di hati dan menyebabkan gejala kuning.
Diagnosis penyebab kuning pada bayi

Penyebab kuning pada bayi harus ditemukan. Beberapa tes untuk menemukan penyebab kuning pada bayi, antara lain:
  • Pemeriksaan fisik
  • Tes darah
  • USG
  • Biopsi hati
  • Exploratory surgery (pembedahan eksplorasi).
Pengobatan kuning pada bayi

Pengobatan kuning pada bayi tergantung dari penyebabnya. Diantara pengobatan kuning pada bayi, adalah:
  • Kuning ringan - Jika bayi sehat dan terlihat tidak ada masalah, biasanya tidak diperlukan perawatan. Hati bayi hanya perlu waktu beberapa hari untuk siap memproses bilirubin dengan baik.
  • Kuning sedang - fototerapi adalah pengobatan yang paling sering diterapkan (lihat foto atas). Fototerapi akan mengubah bilirubin di kulit bayi menjadi bahan kimia yang kurang berbahaya. Bayi akan ditempatkan di dalam inkubator hangat di bawah lampu biru. Untuk memaksimalkan paparan lampu, pakaian bayi akan ditanggalkan dan menggunakan pelindung/penutup mata. Fototerapi biasanya dilakukan selama satu atau dua hari. Untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan ekskresi bilirubin, bayi membutuhkan makan teratur setiap tiga sampai empat jam.
  • Kuning berat - fototerapi tetap menjadi perawatan utama, tetapi dalam kasus kuning yang berat, mungkin diperlukan transfusi darah. Namun hal ini sangat jarang.
  • Kuning karena kurang ASI - terus menyusui dan fototerapi tetap dilakukan.
  • Hepatitis neonatal - tidak ada pengobatan medis spesifik. Biasanya diberikan suplemen vitamin dan mineral, atau obat-obatan untuk meningkatkan aliran empedu.
  • Anemia hemolitik - pengobatannya tergantung dari penyebabnya. Misalnya, anemia hemolitik yang disebabkan oleh infeksi parasit malaria diobati dengan obat anti malaria.
  • Galaktosemia - pengobatan utamanya adalah memastikan diet bayi tidak mengandung galaktosa atau laktosa. Biasanya, dilakukan dengan menghentikan pemberian ASI dan menggunakan susu formula khusus.
  • Atresia bilier - biasanya dilakukan operasi untuk menyambungkan atau menghubungkan saluran kecil dari hati ke usus kecil agar empedu mengalir dengan baik.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.