Cara Mengatasi Gigitan Binatang pada Anak

Wednesday, September 17, 2014
Gigitan kucing

Apa yang harus dilakukan jika anak terkena gigitan binatang?

Penanganannya tergantung dari seberapa parah lukanya. Jika lukanya kecil atau hanya berupa goresan yang tidak dalam, bersihkan kulit yang luka tersebut dengan hati-hati menggunakan sabun dan air. Gunakan juga salep antibiotik dua kali sehari untuk mencegah infeksi.

Jika luka terjadi pada bagian tubuh yang sering kotor, seperti pada ujung tangan dan kaki bagian bawah, tutupi luka dengan kassa dan plester. Jika tidak, biarkan saja tak usah dibalut. Biarkan luka tersebut terbuka terkena udara.

Jika gigitan binatang menyebabkan kulit rusak dan dan terjadi perdarahan, hal ini bisa saja serius.  Gunakan kain kassa steril, dan tekan luka tersebut dengan jari-jari Anda. Jika dalam beberapa menit langkah tersebut tidak menghentikan perdarahan, sebaiknya bawa saja ke dokter. Perlu diketahui bahwa gigitan binatang pada wajah atau leher anak sangat berbahaya karena berpotensi mengoyak pembuluh darah besar.

Bahkan meskipun dengan langkah menekan luka perdarahan menjadi terhenti, sebaiknya juga bawa anak Anda ke dokter guna memastikan apakah lukanya membutuhkan jahitan atau perawatan lainnya. Gigitan binatang lebih berisiko menyebabkan infeksi ketimbang jenis luka lain (misal, luka karena benda mati), sehingga dokter biasanya akan meresepkan antibiotik.

Haruskah khawatir dengan rabies?

Jika Anda menemui anjing atau kucing yang tingkahnya berbeda dari anjing dan kucing lainnya atau mulutnya berbusa dan terus mengeluarkan air liur, sebaiknya waspada dengan binatang ini. Binatang ini kemungkinan sudah terkena rabies. Jika tergigit oleh binatang seperti ini sebaiknya lakukan vaksinasi rabies.

Sayang, vaksinasi rabies pada binatang kurang umum di Indonesia dan belum ada unit khusus pemerintah untuk mengendalikan binatang yang berkeliaran. Sehingga anjing dengan ciri-ciri di atas sering kita temui di jalanan.

Selain anjing dan kucing, binatang liar lainnya seperti musang, kera dan kelelawar juga dapat membawa virus rabies. Dan ada satu fakta lain yang harus Anda ketahui dari binatang lainnya, yaitu kelelawar, seseorang dapat terinfeksi rabies melalui gigitan atau goresan yang sangat kecil dari kelelawar, bahkan goresan atau luka tersebut tidak bisa Anda lihat. Untuk itu, ada baiknya segera bawa anak Anda ke dokter jika ia kontak atau menyentuh kelelawar.

Binatang rumahan lainnya seperti gerbil, hamster, marmut, dan tikus putih tidak membawa virus rabies, namun gigitan dari binatang ini tetap berisiko menyebabkan infeksi. Sedangkan binatang kecil liar lainnya, seperti gopher, tikus, kelinci, dan tupai berisiko kecil untuk menularkan rabies.

Bagaimana dengan infeksi karena gigitan binatang?

Meskipun kekhawatiran utama dari gigitan binatang adalah rabies, namun pada kenyataannya kejadian yang paling umum hanyalah menyebabkan infeksi biasa. Itulah sebabnya betapa pentingnya mencuci daerah luka secara menyeluruh dan mengoleskan salep antibiotik dua kali sehari. Salep antibiotik yang cukup baik digunakan untuk mengatasi gigitan binatang yakni salep seperti Neosporin (mengandung Bacitracin Zinc, Neomycin Sulfate dan Polymyxin B Sulfate), atau jika tidak ada, gunakan saja madu lebah sebagai alternatif. Madu lebah juga memiliki sifat antibiotik.

Jika luka serius, atau terjadi di area tubuh yang berisiko tinggi infeksi seperti wajah, tangan, kaki atau area genital anak Anda (meski lukanya kecil) sebaiknya mintakan resep antibiotik kepada dokter. Secara umum, antibiotik yang sering diresepkan dokter untuk mengatasi gigitan binatang antara lain, Amoksisilin, Penisilin, Eritromisin, Doksisilin dan Klindamisin.

Untuk seluruh luka, termasuk hanya satu luka kecil, anak Anda mungkin membutuhkan suntikan anti tetanus, tapi ini dilakukan hanya jika sebelumnya ia belum pernah disuntik tetanus. Dan jangan lupa, terus rawat dan pantau perkembangan lukanya selama beberapa hari kedepan, meskipun itu hanya luka kecil. Jika luka mulai menunjukkan tanda-tanda infeksi (merah, bengkak atau keluar nanah) atau jika ia sakit sepanjangan atau demam, sebaiknya bawa ke dokter.

Bagaimana cara mencegah dari tergigit binatang?

Kasus gigitan binatang yang paling sering adalah dari anjing, meskipun kasus karena kucing mungkin juga banyak, hanya saja korban biasanya tidak terdata karena tidak berobat. Setengah kasus gigitan anjing adalah anak-anak, jadi Anda perlu mengambil tindakan-tindakan preventif agar anak Anda terlindung dari gigitan binatang.

Selalu awasi anak Anda ketika ia bermain dengan binatang peliharaannya dan binatang peliharaan orang lain. Di Amerika, lebih kurang setengah kasus anak-anak yang digigit anjing adalah karena digigit anjing yang bukan miliknya (lebih sering milik tetangga).

Ajarkan anak Anda agar tidak mendekati anjing atau kucing yang mereka tidak kenal. Ingat, anjing sangat mudah menggigit jika terprovokasi.

Ajarkan juga mereka agar tidak mendekati anjing atau kucing yang sedang makan dan tidak menyentuh anjing atau kucing yang sedang tidur. Beritahu mereka agar tetap berdiri tegak (jangan berlari) ketika anjing menunjukkan gelagat yang kurang baik.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.