Hubungan Kanker Payudara dan Hormon Estrogen

Tuesday, August 12, 2014
Hubungan Kanker Payudara dan Estrogen

Kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi yang mempengaruhi wanita Indonesia dengan angka prevalensi 26 per 100.000 wanita (Depkes RI 2010). Ada berbagai jenis kanker payudara, dengan sekitar 70 persen diantaranya merupakan tumor yang sensitif terhadap hormon estrogen wanita. Kanker payudara ini sering disebut sebagai kanker payudara ER+ (estrogen receptor positive).

Kanker payudara paling sering dialami wanita pasca menopause, yakni ketika ovarium (indung telur) tidak lagi memproduksi estrogen. Pasca menopause, tubuh akan memproduksi estrogen di jaringan lemak, termasuk di dalam payudara. Terapi endokrin adalah jenis perawatan yang akan menghentikan produksi atau kerja estrogen pada sel tumor.

Kanker Payudara dan Wanita Usia Subur

Kanker payudara pada wanita dibawah usia 25 tahun cukup jarang terjadi. Namun, risiko akan kanker payudara akan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Pengembangan kanker payudara ER+ pra menopause sangat dipengaruhi dari hormon estrogen yang diproduksi ovarium. Dalam kasus ini, pilihan terapi bisa berupa terapi endokrin atau kemoterapi, atau keduanya.

Supresi ovarium atau juga sering disebut sebagai ablasi ovarium merupakan tindakan medis untuk menghentikan fungsi ovarium. Supresi ovarium bisa dilakukan dengan pembedahan yaitu dengan mengangkat ovarium, atau dengan pemberian hormon gonadotropin, yang akan menyebabkan penurunan sementara produksi estrogen dari ovarium, yang mungkin akan efektif untuk kanker payudara ER+.

Wanita dengan kanker payudara berhak menentukan pilihan pengobatan, apakah mau menjalani kemoterapi atau tidak. Tentunya keputusan ini harus dibuat setelah berdiskusi dengan dokter dan mempertimbangkan semua manfaat dan risikonya.

Estrogen Pada Wanita Pasca Menopause

Seperti yang disebutkan diatas, kanker payudara paling sering terjadi pada wanita pasca menopause, dan sebagian besar kanker ini adalah ER+. Jaringan payudara mengandung sel-sel lemak, sel-sel lemak ini memproduksi enzim yang disebut dengan aromatase, yang memproduksi estrogen. Pada jaringan payudara normal, kadar aromatase masih terkontrol.

Semakin tua seorang wanita, se-sel lemak di payudaranya cenderung akan menghasilkan enzim aromatase dalam jumlah yang besar, yang pada akhirnya akan meningkatkan kadar estrogen lokal. Estrogen yang diproduksi secara lokal inilah yang diyakini berperan dalam memicu kanker payudara pada wanita pasca menopause. Setelah terbentuk, tumor kemudian meningkatkan kadar estrogennya untuk membantunya tumbuh. Kelompok sel imun di tumor tampaknya juga meningkatkan produksi estrogen.

Penelitian terbaru juga telah mengidentifikasi adanya hubungan antara obesitas dan produksi estrogen. Data menunjukkan bahwa obesitas meningkatkan risiko kanker payudara 2 kali lipat pada wanita tua.

Kanker Payudara dan Terapi Endokrin

Pengobatan yang masuk dalam klasifikasi sebagai terapi endokrin umum digunakan untuk menghentikan produksi atau kerja estrogen, seperti obat tamoxifen. Obat ini sering digunakan pasca pembedahan, berfungsi untuk menurunkan risiko kekambuhan kanker payudara, meskipun juga membawa sejumlah efek samping. Pada kebanyakan kasus, manfaat tamoxifen dinilai masih jauh lebih besar daripada risikonya.

Kerja aromatase inhibitor (AI)

Dewasa ini, kita sudah mendengar pengembangan obat terbaru untuk menghentikan kerja estrogen dengan menghambat produksinya. Aromatase inhibitor (AI), termasuk letrozole, yang mencegah aromatase dari memproduksi estrogen, sekaligus menurunkan kadar estrogen di dalam payudara. AI telah terbukti memiliki manfaat yang lebih, dan memiliki efek samping yang lebih ringan daripada tamoxifen.

Kemungkinan efek samping dari aromatase inhibitor antara lain:
  • Hot flash (perasaan panas di seluruh tubuh seperti saat menopause)
  • Kekakuan sendi
  • Osteoporosis.
Sedangkan, penelitian terbaru saat ini berfokus pada senyawa baru yang dirancang untuk menghentikan produksi estrogen hanya pada payudara saja, karena tubuh tetap membutuhkan estrogen, seperti untuk kesehatan tulang.

Kanker Payudara dan Terapi Penggantian Hormon

Menopause dapat menjadi pemicu gejala hot flash dan kekeringan pada vagina. Terapi penggantian hormon (TPH) akan meringankan gejala dengan cara meningkatkan kadar hormon wanita, yang juga akan menurunkan risiko osteoporosis dan penyakit jantung.

Sejak diketahui bahwa kanker payudara memiliki hubungan dengan estrogen, wanita yang menjalani TPH dalam jangka panjang (lebih dari lima tahun) diketahui memiliki peningkatan risiko kanker payudara 0,3 kali lipat. Sedangkan wanita yang menjalani TPH dalam jangka pendek (seperti dua tahun) masih memiliki tingkat risiko kanker payudara yang sama dengan wanita yang belum pernah menjalani TPH. Pada banyak kasus, manfaat kesehatan yang diperoleh wanita pasca menopause awal dari TPH dinilai masih lebih besar ketimbang risikonya. (betterhealth.vic.gov.au/cancer.gov) 

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.