Coklat: Berat Badan, Migrain hingga Jerawat

Sunday, August 31, 2014
Coklat
Coklat merupakan makanan yang tinggi gula dan lemak. Mengonsumsi coklat dalam porsi yang sedikit akan bermanfaat bagi kesehatan, namun terlalu banyak makan coklat akan memberikan efek buruk bagi kesehatan secara umum. Salah satu dampak buruk coklat apabila dikonsumsi secara berlebihan adalah naiknya berat badan atau kesulitan dalam mempertahankan berat badan yang sehat.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa di dalam biji kakao (buah yang digunakan untuk membuat coklat) dapat membantu mencegah penyakit jantung, kanker, dan penyakit degeneratif lainnya, namun hal ini belum tentu benar, masih harus dibuktikan dengan bukti-bukti penelitian.

Nutrisi dan Komponen Aktif pada Coklat

Kandungan gizi yang terdapat di dalam coklat bisa berbeda-beda, hal ini disebabkan karena proses pengolahannya yang berbeda-beda. Tapi pada umumnya coklat mengandung sejumlah kecil nutrisi penting seperti protein, vitamin E, kalsium, fosfor, magnesium, zat besi, tembaga dan antioksidan.

Sementara coklat dapat dikategorikan sebagai makanan sehat, namun waspadalah dengan kadar gula dan lemaknya yang tinggi. Makan coklat terlalu banyak dapat membuat seseorang kesulitan dalam mempertahankan berat badannya yang sehat, dan akan mengurangi nafsu makan untuk makanan sehat lainnya. Sewajarnya, coklat sebaiknya hanya dikonsumsi sebanyak 25 gram dan itupun hanya sesekali.

Hubungan Coklat dan Migrain

Migrain adalah jenis sakit kepala yang disebabkan karena kekejangan pada arteri yang menuju otak. Mekanismenya masih belum jelas, namun sejumlah pemicu migrain berhasil diidentifikasi. Jenis-jenis makanan tertentu seperti coklat, diyakini sebagian ahli dapat berperan sebagai pemicu migrain. Namun fakta ini masih harus didukung bukti-bukti penelitian lebih lanjut.

Hubungan Coklat dan Jerawat 

Selain menyebabkan naiknya berat badan, coklat juga dituduh sebagai penyebab jerawat. Namun hingga saat ini belum ada bukti meyakinkan bahwa coklat dapat menyebabkan jerawat. Penelitian yang ada sebelumnya juga belum mengidentifikasi senyawa, bahan atau bahan kimia alami yang terdapat dalam coklat yang dapat memicu pertumbuhan jerawat atau memperparah jerawat. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa diet indeks glikemik tinggi yang dikombinasikan dengan asupan tinggi karbohidrat olahan (seperti gula yang terdapat dalam coklat) memiliki hubungan dengan jerawat.

Coklat dan Berat Badan yang Sehat

Mengonsumsi makanan bergizi dan diet seimbang merupakan langkah terbaik untuk mempertahankan berat badan yang sehat. Lima kelompok makanan sehat yaitu:
  • Buah-buahan
  • Sayur-sayuran
  • Kacang-kacangan
  • Biji-bijian dan gandum
  • Daging atau unggas tanpa lemak, ikan, telur, tahu dan tempe
  • Susu, yoghurt dan keju.
Mengonsumsi coklat dan minuman manis secara berlebihan, ditambah lagi tubuh tidak berolahraga menjadi penyebab utama naiknya berat badan seseorang. Anehnya, coklat yang dijual saat ini banyak yang dikemas dalam porsi yang besar, dan iklan-iklannya di televisi telah mengubah persepsi orang bahwa itulah porsi standar coklat untuk dikonsumsi, padahal porsi yang dibutuhkan jauh lebih kecil dari itu.

Coklat juga merupakan makanan padat energi, artinya sebagian besar kandungannya adalah energi. Porsi yang wajar untuk mengonsumsi coklat adalah sekitar 25 gram, yakni sekitar setengah dari coklat kecil atau sepersepuluh dari coklat yang besar. Jika memang Anda sangat menyukai coklat dan sulit untuk menguranginya, cobalah ganti dengan susu skim atau minuman coklat rendah lemak.

Meskipun begitu, meyakini coklat sebagai penyebab naiknya berat badan juga tidak sepenuhnya benar. Karena apabila si penikmat coklat juga mengonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga, maka hal ini tidak akan terjadi.

Coklat dan Antioksidan

Karena salah satu tujuan proses pengolahan coklat adalah untuk menghilangkan rasa pahitnya, maka coklat umumnya merupakan sumber antioksidan yang buruk. Tidak ada yang dapat diharapkan dari coklat sebagai antioksidan. Sebaliknya, konsumsilah buah dan sayuran, termasuk teh hijau atau hitam, karena ini adalah cara terbaik meningkatkan asupan antioksidan tanpa perlu tubuh kita diisi dengan lemak atau gula yang berlebih seperti yang ditemukan pada coklat.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.