Kanker dan Hubungannya dengan Konsumsi Makanan Harian

Friday, April 11, 2014
Makanan yang kita makan akan mempengaruhi risiko kita untuk terkena kanker jenis tertentu. Makanan dengan energi dan lemak yang tinggi dapat menyebabkan obesitas yang akhirnya akan meningkatkan risiko terkena beberapa jenis kanker. Sedangkan pola makan dengan mengonsumsi nabati tinggi dari buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan dan gandum dapat membantu mencegah kanker.

Diet menjadi salah satu faktor gaya hidup yang mempengaruhi risiko seseorang untuk terkena kanker. Merokok, obesitas, alkohol, paparan sinar matahari dan tingkat aktivitas fisik juga mempengaruhinya. Meskipun beberapa jenis makanan diyakini dapat menurunkan risiko terkena kanker, belum ada bukti bahwa makan tertentu dapat menyebabkan atau menyembuhkan kanker.

Makanan dan kanker
Gambar: bowelscreeningwaitemata.co.nz

Makanan dan kanker

Beberapa jenis kanker umum yang perkembangannya bisa dipengaruhi karena pola makan kita, antara lain:

Kanker paru-paru
Kanker paru-paru menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia, dan kebiasaan merokoklah yang paling bertanggung jawab untuk jenis kanker ini. Ada bukti bahwa diet tinggi sayuran dan buah-buahan akan melindungi seseorang dari mengidap kanker paru-paru. Diperkirakan bahwa senyawa karotenoid (banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran), serta vitamin E yang paling berperan dalam mencegah kanker. Namun, penggunaan suplemen antioksidan, seperti beta-karoten dan vitamin E, belum terbukti efektif baik untuk mencegah apalagi mengobati kanker paru-paru. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplemen beta-karoten justru meningkatkan risiko kanker paru-paru pada perokok.

Kanker payudara
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada kalangan wanita di dunia. Terdapat peningkatan risiko kanker payudara pada wanita yang pertumbuhannya cepat di masa kecil, dan tinggi dan berat badannya berlebih ketika dewasa. Sebagian besar risiko terkena kanker payudara terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar estrogen seorang wanita, seperti usia menarche (menstruasi pertama kali), terlambat menopause, dan jumlah kehamilan. Risiko terkena kanker payudara juga meningkat seiring bertambahnya usia. Wanita pasca menopause yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko dua kali lebih besar dari rata-rata risiko kanker payudara. Diet tinggi lemak tak jenuh, sayuran dan buah-buahan dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.

Kanker prostat
Kanker prostat merupakan kanker yang umum terjadi pada pria. Pria yang berusia diatas 50 tahun memiliki risiko yang lebih besar, tapi tidak menutup kemungkinan kanker prostat juga dapat mengenai orang-orang yang masih muda. Sayuran (khususnya kedelai) dapat menurunkan risiko kanker prostat, sedangkan diet lemak tinggi yang sebagian besar berasal dari sumber hewani (seperti susu, daging) akan meningkatkan risiko kanker prostat. Lycopene adalah antioksidan kuat yang ditemukan pada tomat, semangka dan stroberi yang diyakini dapat menurunkan risiko kanker prostat.

Kanker usus (kanker kolokteral)
70% kasus kanker usus dapat dicegah dengan pola hidup sehat. Menjaga berat badan yang normal, aktif secara fisik, dan diet tinggi sayuran dan serat akan menurunkan risiko kanker usus. Sedangkan mengonsumsi sejumlah besar daging dan daging olahan dan alkohol akan meningkatkan risiko kanker usus.

Kurangi makanan ini

Makanan yang sebaiknya Anda kurangi konsumsinya agar risiko kanker menurun, antara lain:
  • Daging merah
  • Makanan olahan dengan serat rendah
  • Makanan yang sangat asin.
Perbanyak makan ini

Sedangkan makanan yang perlu ditingkatkan konsumsinya untuk mencegah kanker, antara lain:
  • Sayuran, terutama sayuran mentah seperti sayuran berdaun hijau dan wortel
  • Makanan tinggi serat, seperti biji-bijian dan sereal
  • Tomat
  • Buah jeruk
  • Sayuran seperti brokoli, kubis, dan sayuran hijau lainnya.
Daging dan kanker usus

Saat ini bukti ilmiah menunjukkan bahwa makan daging olahan akan meningkatkan risiko kanker usus. World Cancer Research Fund (WCRF) merekomendasikan agar orang-orang menghindari mengonsumsi daging olahan (seperti sosis dan burger).

Juga direkomendasikan agar anak-anak tidak diberi daging olahan. Hal ini untuk mencegah kebiasaan mereka berlanjut hingga dewasa. Untuk pengganti daging olahan, bisa digunakan daging dari ikan atau unggas, daging tanpa lemak atau keju rendah lemak.

Ada pula bukti yang meyakinkan bahwa daging merah juga meningkatkan risiko terkena kanker usus. Untuk itu disarankan agar mengurangi asupan daging merah. Penelitian juga menunjukkan bahwa memakan daging merah bakar dapat meningkatkan risiko terkena kanker usus, namun hal ini juga masih belum jelas.

Lemak dan Kanker

Telah banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara lemak dan kanker. Bukti saat ini memang tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antara asupan lemak yang tinggi dengan jenis kanker tertentu (dengan pengecualian kanker prostat). Namun diet tinggi lemak dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan faktor risiko untuk beberapa jenis kanker, seperti kanker usus besar, payudara, ginjal, esofagus, kandung empedu dan endometrium.

Buah-buahan, sayuran dan kanker

Makan buah dan sayuran telah lama diyakini akan memberi manfaat bagi kesehatan. Buah-buahan dan sayuran mengandung banyak vitamin, mineral dan antioksidan yang dapat membantu tubuh menurunkan risiko kanker di daerah tertentu di sistem pencernaan, seperti mulut dan perut.

Penelitian akhir-akhir ini memang menunjukkan kelemahan peran buah-buahan dan sayuran dalam mencegah kanker. Namun buah-buah dan sayuran masih merupakan bagian penting dari diet Anda dan secara tidak langsung akan memainkan peran besar dalam menurunkan risiko kanker. Buah dan sayuran relatif rendah kalori dan mengonsumsinya bisa menjaga atau menurunkan berat badan.

Suplemen bukanlah jawaban

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa efek perlindungan dari suatu zat dalam makanan akan mencegah kanker tidak boleh diartikan bahwa kita dapat menggantinya dengan mengonsumsi suplemen. Dalam beberapa kasus kanker, risiko terkena kanker bahkan meningkat pada orang-orang yang mengonsumsi suplemen dosis tinggi dari jumlah gizi yang biasanya dikonsumsi melalui makanan.

Makanan yang dapat meningkatkan risiko kanker

Sementara diet energi tinggi dan rendah serat dapat meningkatkan risiko terkena kanker, beberapa makanan lain juga diyakini berpotensi menyebabkan kanker (karsinogenik). Makanan-makanan ini antara lain:

Pemanis
Pemanis buatan seperti aspartam, sakarin dan siklamat. Tikus laboratorium akan menderita kanker kandung kemih ketika diberikan sakarin atau siklamat dalam jumlah yang besar. Namun penelitian internasional menunjukkan bahwa manusia tidak terpengaruh seperti tikus, dan pemanis buatan dianggap aman untuk dikonsumsi.

Daging acar atau makanan asin
Tidak ada bukti meyakinkan bahwa daging merah bisa menyebabkan kanker. Namun, daging acar lainnya mengandung zat yang disebut nitrat, yang berpotensi menyebabkan kanker pada hewan laboratorium bila dimakan dalam jumlah yang besar. Pada manusia sendiri penelitian ini masih belum jelas. Untuk tetap di jalur yang aman, ada baiknya Anda membatasi jumlah daging olahan dalam diet, karena daging-daging seperti itu umumnya tinggi lemak dan garam. Garam juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker perut dan sebaiknya hanya dikonsumsi dalam jumlah yang direkomendasikan.

Makanan bakar atau panggang
Sekelompok zat karsinogenik yang disebut polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) akan muncul ketika makanan dimasak terlalu panas atau dengan cara dibakar. Meski makanan gosong atau kebiasaan merokok bisa mengandung jejak PAH, para ahli sepakat bahwa jumlah PAH yang dikonsumsi orang-orang jauh lebih rendah yang dimungkinkan untuk meningkatkan risiko kanker. Meski begitu, ada baiknya memasak makanan dengan suhu yang relatif rendah seperti dengan cara mengukus, merebus, baking, oseng-oseng atau memanggang dengan microwave.

Alkohol
Mengonsumsi alkohol akan meningkatkan risiko terkena kanker mulut, faring, laring, esofagus, payudara, usus dan hati. Risikonya bahkan lebih besar dari para perokok. Penggunaan alkohol dalam jumlah yang sedikit pun akan meningkatkan risiko terkena kanker. Untuk mengurangi risiko terkena kanker dan penyakit lainnya, ada baiknya menghentikan minum alkohol.

Mengobati kanker dengan makanan

Beberapa makanan diyakini memainkan peran penting dalam pencegahan beberapa jenis kanker, namun meskipun begitu, nilai terapeutik makanan dalam mengobati kanker masih belum jelas. Memang benar bahwa penderita kanker akan membutuhkan gizi yang sangat baik dalam rangka menghadapi tuntutan fisik penyakit dan kerasnya perawatan medis untuk kanker.

Klaim bahwa jenis makanan, vitamin atau zat gizi tertentu dapat membunuh sel-sel kanker harus dipandang dengan skeptis. Pada saat ini, hanya ada sedikit (kalau boleh dikatakan tidak ada) bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa makanan atau suplemen tertentu dapat menyembuhkan atau menghancurkan sel-sel kanker.

Asupan nutrisi untuk penderita kanker adalah penting karena beberapa alasan, yaitu:
  • Sistem kekebalan tubuh harus kuat agar bisa melawan penyakit dengan optimal.
  • Diet dapat disesuaikan untuk mengatasi berbagai gejala, seperti sembelit, diare atau mual.
  • Kehilangan nafsu makan atau meningkatnya metabolisme berarti bahwa seseorang itu membutuhkan makanan dengan energi tinggi.
  • Protein tambahan mungkin diperlukan untuk membantu mencegah hilangnya massa otot akibat penurunan berat badan.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.