Efek Suara/Musik Untuk Kecerdasan Janin

Monday, September 23, 2013
Janin mendengar musik

Jamak diketahui bahwa musik, suara, ataupun nyanyian berharga bagi kehidupan manusia. Dari penelitian di luar negeri maupun dari observasi studi kasus di Indonesia, musik diketahui dapat mencerdaskan otak manusia.

Terlebih bila terapi musik tersebut dilakukan sejak bayi berada dalam rahim ibu untuk memberikan keseimbangan perkembangan otak kiri dan kanan. Umumnya stimulasi perkembangan otak janin dapat dilakukan sejak usia kehamilan 18-20 minggu.

Pengaruh musik bagi otak kiri dan otak kanan

Jika seluruh bagian dari telinga telah terbentuk, si janin akan mendengar suara yang datang dari luar rahim, seperti layaknya kita semua. Yang lebih menakjubkan, ternyata dari penelitian terbukti bahwa janin bukan hanya mendengar, tapi juga memberikan respons terhadap segala suara.

Jadi, bila mendengar suara musik dari luar, si janin akan meresponsnya. Coba saja dengan menempelkan walkman ke perut ibu hamil. Berdasarkan perkembangan embriologi, otak bayi terdiri atas otak kanan dan otak kiri, yang pembentukannya dimulai pada awal-awal kehamilan sampai bayi lahir.

Belahan otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik. Ini meliputi berbicara/kemampuan tata bahasa, baca-tulis-hitung, daya ingat, logika, analisis, angka dan lainnya. Karena bersifat logis, otak kiri berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada pendidikan formal.

Adapun otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif. Di dalamnya meliputi perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, serta sosialisasi dan pengembangan kepribadian.

Jelas sekali bahwa fungsi otak kiri dan otak kanan ada kaitannya dengan musik. Karena itu, pada pelaksanaan terapi musik bagi ibu-ibu hamil, perangsangan atau stimulasi mental haruslah mencakup peningkatan perkembangan dan keseimbangan kedua belahan otak tersebut.

Ikhtiar ini dimaksudkan agar bayi/anak kelak tumbuh dan berkembang menjadi individu atau manusia seutuhnya. Penelitian doktor ahli kebidanan Hermanto Tri Joewono dari Surabaya pada tahun 2002 silam sungguh patut diapresiasi. Beliau meneliti sel otak bayi tikus (rattusnovergicus) yang setiap saat ibu tikus diperdengarkan musik Mozart, gamelan dan dangdut.

Ternyata, jumlah sel otak janin tikus meningkat secara bermakna. Hasilnya, musik Mozart (136,7), gamelan (80,5), dan dangdut (70,7). Sementara kelompok kontrol yang tidak pernah diperdengarkan musik apapaun, jumlah sel otaknya cuma 44,2.

Janin Mozart

Secara umum terapi musik akan menimbulkan efek Mozart. Yakni, suara, irama, lagu dan komposisi tertentu mempunyai efek yang secara fisik, mental, emosional, serta spiritual dapat menguatkan pikiran, membuat kreatif, serta berdaya penyembuhan penyakit.

Mozart memang musikus jenius yang menciptakan sejumlah musik paling inspirasi di dunia. Musiknya bisa membangkitkan kasih sayang, mengusir kesedihan. Bahkan, musik tersebut bisa mempertajam pikiran, meningkatkan kreativitas, dan menyehatkan tubuh.

Musiknya punya kekuatan menarik indera dan otak secara serempak. Musik bisa menolong pasien stroke menemukan bahasa dan ekspresi. Mozart mulai merintis karya besar sejak berusia empat tahun dan mulai matang di usia delapan tahun.

Sejak dalam rahim, janin Mozart memang selalu dibuai dengan musik. Ayahnya, Leopold, adalah guru biola, komponis kerajaan. Dia sering mengalunkan top symphony ciptaannya dengan alat musik sejenis piano yang menyentak-nyentak namun jenaka.

Kakak Mozart, Maria Anna, yang berusia empat tahun juga menyambut kelahiran sang adik dengan ketukan-ketukan keyboard. Leopold memang menaruh harapan besar bahwa kehamilan istrinya menghasilkan ahli waris bakat musiknya.

Maka, melodi-melodi pertama dalam diri Mozart adalah musik. Alunan irama itulah yang diyakini merangsang otaknya menjadi jenius. Musik adalah penggugah perasaan mendalam yang paling cepat. Pengaruh musik memang luar baisa.

Jangan heran jika di desa kecil Prancis, dokter ahli kebidanan Michael Odent mengoordinasikan pertemuan kelompok ibu-ibu hamil yang dilengkapi dengan piano. Mereka bisa bernyanyi bersama secara teratur. Mereka rutin memperdengarkan musik Mozart pada dinding perut ibu hamil.

Di Valencia, Spanyol, bidan Rosario N. Rozada Montemurro di tempat kerjanya juga membantu kelompok paduan suara dua kali sepekan bagi ibu-ibu hamil. Tujuannya, agar bayi mereka yang di dalam rahim yang 95 persen waktunya diisi tidur bisa terusik.

Semua ini didukung banyak jurnal penelitian. Terbukti selama kehamilan janin mendengar aspek nada dan irama suara ibu, sehingga waktu lahir mengerti bahasa sehari-hari.

Ditulis oleh dr. Pribakti B.SPOG (K)
Dokter, pengajar SMF Obgin FK Universitas Lambung Mangkurat/RSUD Ulin Banjarmasin
Judul asli : "Efek Mozart di Puskesmas"

Tentunya kita harus bijak memilih lagu/musik/suara yang akan diperdengarkan kepada janin kita. Setiap suara yang diperdengarkan pada janin tentu memiliki efek tersendiri baginya. Jika memang berdampak baik, ok saja, tapi bagaimana bila suatu suara/lagu itu akan menimbulkan efek buruk bagi kepribadiannya kelak? Mungkin salah satu lagu bisa membuatnya menjadi jenius kelak, tapi bagaimana bila lagu tersebut membawa "efek samping" baginya nanti. Maka dari itu pemilihan lagu/musik yang salah bisa berakibat buruk. Bijaklah dalam hal ini.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.