Jika Anak Terlambat Bicara

Monday, June 03, 2013
Terapi wicara
 
Perkembangan setiap anak tentu saja berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang mahir berjalan lebih dulu tapi belum bisa mengucapkan kata-kata, ada pula anak-anak yang sudah bisa berbicara tetapi belum mampu berjalan. Sebagian ahli anak mengatakan bahwa batas seorang anak bisa berbicara lancar adalah usia 2 tahun 3 bulan.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa seorang anak terlambat bicara atau speech delay. Namun, keterlambatan bicara pada anak masih bisa ditoleransi (wajar) selama si anak yang berusia 2 tahun itu masih bisa merespon ucapan, menatap mata saat Anda berbicara, bisa mengucapkan beberapa kata, dan bisa diajak berkomunikasi meskipun masih menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh.

Jenis Keterlambatan Bicara
 
Secara umum, ada dua jenis keterlambatan bicara yaitu ringan (fungsional) dan berat (non-fungsional). Keterlambatan bicara fungsional hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak dan biasanya tanpa disebabkan kelainan pada otak. Penyebabnya keterlambatan gangguan koordinasi oral motor (gerakan mulut) atau ketidaksempurnaan fungsi organ otak (bukan kelainan di otak). Gejalanya antara lain gangguan bahasa reseptif dan gangguan kemampuan pemecahan masalah visuo motor.

Semua keterlambatan bicara memang harus diwaspadai, namun yang lebih harus diwaspadai adalah keterlambatan bicara non-fungsional. Hal ini disebabkan karena gangguan organ tubuh terutama kelainan di otak. Cirinya, anak terlambat berbicara dan disertai dengan kelainan neurologis (infeksi/tumor otak, kelumpuhan, perawakan pendek dll), gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, dan autis.

Penyebab Terlambat Bicara
 
Anak usia dua tahun yang belum bisa bicara sama sekali, jelas merupakan keadaan yang tidak normal. Ada kemungkinan risiko anak berkembang ke arah autis atau gangguan perkembangan lain. Apalagi jika anak tampak lebih senang bermain sendiri dan menunjukkan gejala-gejala ke arah autis. Namun jangan dulu dicap si anak mengidap autis.
 
Penyebab gangguan bicara banyak sekali, mulai dari gangguan pendengaran, kelainan genetik atau keturunan, penerus impuls ke otak, otak itu sendiri, otot dan kelainan organ bicara (susunan gigi dan bentuk lidah dll), retardasi mental, autis, dan deprivasi lingkungan. Faktor lingkungan sendiri antara lain adalah lingkungan yang sepi, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, keterbelakangan mental, dan sikap orangtua.

Selain hal di atas, anak terlambat bicara juga bisa disebabkan karena terlalu aktifnya si anak bergerak sehingga kurang fokus dan konsentrasi. Sebaiknya berkonsultasi ke dokter anak agar tahu penyebab pastinya.

Solusi Terlambat Bicara

Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah mengunjungi dokter anak untuk memastikan penyebabnya. Apabila penyebab sudah diketahui, maka arah terapi sudah menjadi jelas. Biasanya dokter anak akan melakukan skrining secara kasar. Apabila anak terlihat tidak memiliki respons terhadap ekspresi dan reseptif, dokter juga akan mencari tahu apakah terjadi kerusakan pada otak si anak. Selanjutnya, apabila ditemukan ada gangguan, anak akan menjalani rehabilitasi medik dan terapi wicara.

Diluar terapi yang diberikan oleh dokter, ada baiknya bagi orangtua untuk membiarkan si anak berinteraksi dengan teman-temannya, jangan biarkan si anak menonton televisi terlalu lama karena akan membuatnya menjadi pasif dan selalu ajak anak Anda untuk berkomunikasi dan benarkan setiap kosakatanya yang salah.

Intinya orangtua harus lebih tanggap dan lebih sering melakukan stimulus. Kurangi kesibukan Anda, jangan biarkan anak Anda tinggal seharian dirumah dengan orang lain, karena Anda lah yang terbaik bagi perkembangan si anak. Bila Anda jauh dari anak, sesekali telpon dan ajak si anak berkomunikasi. Komunikasi dengan orangtua menjadi hal yang penting baik itu selama si anak masih bayi, apalagi sudah mengalami gangguan bicara.
 
Kredit foto : healthtap.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.