Sindrom Stevens Johnson Bisa Karena Alergi Obat

Sunday, May 26, 2013
Sindrom Stevens Johnson

Sindrom Stevens Johnson (SSJ) merupakan penyakit kulit yang berbahaya. Walaupun jarang terdengar di Indonesia dan juga bukan penyakit menular, penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi berlebihan pada obat (alergi obat) menjadi penyebab utama yang menyebabkan seseorang menderita SSJ.

Sindrom Stevens Johnson akan mengancam kondisi kulit yang mengakibatkan kematian sel-sel kulit sehingga lapisan kulit bagian atas (epidermis) mengelupas/memisahkan diri dari dermis. Penyakit ini ditandai dengan kelainan kulit dan mukosa. Jika serangan terjadi, penderita harus secepatnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sedangkan masa pemulihannya bisa memakan waktu berminggu-minggu. Jika kondisi penyakit ini parah, maka bisa mengakibatkan kematian.

Gejala

Kelainan kulit akibat Sindrom Stevens Johnson ini ditandai dengan erupsi simetris yang beragam, mulai dari bercak kemerahan, perdarahan di bawah kulit (purpura), lepuh seperti luka bakar, sampai terkelupas atau lisisnya lapisan kulit bagian atas (epidermis). SSJ sering mengenai bagian wajah, bagian atas tubuh, lengan, tungkai namun bisa terjadi di seluruh tubuh. Kelainan mukosa pada SSJ juga bisa mengenai mulut dengan gambaran seperti sariawan yang hebat. Juga bisa terjadi gangguan pada mata berupa mata merah (konjungtivitis).

Pada umumnya, penderita yang terkena SSJ akan mengalami demam dan radang tenggorokan (mirip flu), gangguan pernapasan, nyeri sendi, dan selanjutnya baru diikuti ruam merah atau keunguan di kulit yang terasa sakit dan menyebar atau bahkan melepuh. Dalam beberapa kasus, sel-sel di lapisan kulit terluar akan mati sehingga kulitnya seperti mengelupas. Pada tingkat SSJ yang berat, penderita bisa mengalami koma.

Berat ringannya reaksi yang timbul ini bervariasi pada tiap individu, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga infeksi yang sangat berat hingga menyebabkan kematian.

Penyebab

Sindrom Stevens Johnson paling banyak dipicu oleh penggunaan obat atau reaksi tubuh yang berlebihan pada obat. Pada beberapa kasus, SSJ bisa disebabkan karena infeksi virus dan memiliki hubungan dengan kanker. Namun hingga kini, penyebab pastinya belum bisa dipastikan.

Semua obat sebenarnya bisa memicu munculnya alergi, tapi setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda. Pada banyak kasus SSJ, beberapa obat-obatan yang sering menjadi pemicu SSJ antara lain : Penisilin, Sthreptomicine, Sulfonamida, Tetrasiklin, Metamizol, Antalgin, Paracetamol, Kloepromazin, Karbamazepin, Tegretol dan turunan dari obat-obat itu. Namun kembali lagi, semua obat bisa menyebabkan reaksi alergi.

Pengobatan

Penderita harus menghentikan semua konsumsi obat yang disinyalir atau dicurigai sebagai penyebab SSJ. Umumnya kesembuhan terjadi dalam kurun waktu 2 hingga 3 minggu. Dan Kematian berkisar antara 5 sampai 15% pada kasus yang berat dengan berbagai komplikasi atau pengobatan terlambat dan tidak memadai. Kematian biasanya disebabkan oleh gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Pengobatan yang biasa diberikan untuk penderita SSJ adalah :
1. Kortikosteroid
2. Antibiotik, ini untuk mencegah terjadinya infeksi
3. Cairan infus
4. Salep untuk lesi pada kulit (topikal)
5. Vitamin C dosis tinggi

Pencegahan

Sindrom Stevens Johnson bisa menyerang semua usia, namun lebih sering terjadi pada usia dewasa. Begitu pula dengan gender, laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang sama untuk terkena SSJ. Pencegahan yang terbaik adalah tidak mengonsumsi obat sembarangan.
Ada baiknya Anda memberitahukan dokter jika Anda memiliki alergi terhadap suatu obat-obatan, makanan atau bahan-bahan kimia tertentu. Karena hal ini sangat penting bagi dokter agar bisa menentukan dengan tepat jenis obat apa yang aman bagi Anda. Jika Anda tidak mengetahui apakah Anda alergi terhadap sesuatu atau tidak, beritahukan saja kepada dokter tentang penyakit-penyakit yang pernah Anda derita. Selain itu, tentunya Anda harus terus menjaga kesehatan Anda.

Foto : diseasespictures.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.