Mengolah Ramuan Tradisional? Sebaiknya Perhatikan Hal Ini!

Sunday, March 31, 2013
Pengobatan tradisional dengan bahan dari tanaman biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan umumnya tekniknya dikuasai secara turun temurun. Pemakaian dan cara pengolahannya boleh dibilang amat sederhana. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sebagian pemakainya kurang mengindahkan hal-hal yang bersifat higienis. Padahal alat, bahan, dan pelaku (orang yang mengolah) sebaiknya harus bersih. Selain itu, ada hal-hal yang harus diketahui pula untuk menghindarkan hal-hal yang tak dikehendaki karena pemakaian tanaman obat ini.

Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut antara lain bahan tanaman, peralatan yang digunakan, air, jangka waktu pemakaian, dan tindakan medis lainnya.

1. Bahan Tanaman

Bahan tanaman yang hendak digunakan untuk pengobatan harus dalam keadaan segar. Jika yang digunakan adalah bahan yang kering, maka keadaannya juga harus baik. Hindari pemakaian bahan tanaman yang telah terkena kotoran, lembab, berjamur, dimakan serangga, atau tergeletak di tempat yang kotor.

Sebaiknya sebelum digunakan/diolah, bahan dicuci terlebih dahulu dengan air sampai bersih benar. Bagian akar tanaman yang mengandung tanah sebaiknya dicuci bersih karena bagian ini dapat membawa bibit penyakit atau bahkan telur cacing.
Sambiloto
Sambiloto, daunnya bisa digunakan untuk pengobatan Tipus, TBC Paru, Kencing Nanah dll
Bahan tanaman utuh yang dikonsumsi segar, misalnya rimpang*, buah, atau daun, sebaiknya dijaga kesegarannya dengan menyimpannya di tempat yang bersih dan jauh dari panas atau terkena sinar matahari langsung. Akan lebih baik bila bahan tersebut disiapkan atau dipetik pada hari itu juga, jadi tidak perlu disimpan.

Persyaratan di atas tidak berlaku untuk ramuan yang dicampur minyak serta ramuan bercampur bahan kering, seperti serbuk atau pil.

2. Peralatan yang Digunakan

Tak dapat dipungkiri bahwa kelemahan utama pada pengobatan tradisional ialah kurangnya perhatian pada peralatan yang digunakan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele. Alat yang digunakan dapat menularkan penyakit, membawa kotoran lain, atau bahkan menghilangkan khasiat obat jika tidak bersih atau alat yang digunakan salah.

Sendok, gelas, panci perebusan, saringan, botol, atau peralatan yang dipakai sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Jika perlu, alat tersebut direbus atau direndam dalam air panas. Setelah digunakan, alat harus dibersihkan lagi. Jangan beranggapan karena nantinya hendak dipakai lagi untuk membuat obat yang sama maka alat tak perlu dibersihkan. Memang alat akan terkena kotoran lagi, tetapi kotoran lama yang tertimbun justru dapat mendatangkan masalah baru. Misalnya, menimbulkan residu (endapan) pada alat atau mendatangkan kuman penyakit.

Saringan atau perasan harus dibersihkan benar-benar, sebaiknya direbus dengan air mendidih. Bila menggunakan saringan dari kain, gunakan kain bersih, tak perlu kain baru yang penting tidak habis digunakan untuk keperluan lain. Seandainya kain digunakan untuk keperluan lain maka sebelum dan sesudah pemakaian, kain perasan harus dibersihkan dengan baik.

Panci perebusan hendaknya terbuat dari bahan tanah, keramik, atau email. Sedapat mungkin jangan merebus bahan dengan panci dari aluminium, besi, atau kuningan. Peralatan dari timah hitam atau timbal dilarang keras digunakan untuk membuat ramuan. Hal ini perlu untuk menghindari timbulnya endapan, pembentukan zat racun, konsentrasi larutan obat menurun, atau efek samping karena reaksi bahan kimia panci dengan zat yang dikeluarkan tanaman.

Selain kebersihan alat, pelaku yang meracik obat sebaiknya juga menjaga kebersihan tangan dan ruangan.

3. Air

Air yang sehat ialah air yang tidak berwama, tidak berbau, tidak berasa, dan bening. Air yang kekuningan, berbau, dan mengandung kotoran sebaiknya tidak digunakan.

Untuk ramuan yang tidak perlu direbus, berarti harus menggunakan air masak dan bersih. Namun, jika ramuan harus direbus terlebih dahulu maka dapat menggunakan air mentah yang bersih.

4. Jangka Waktu Pemakaian

Ramuan tradisional umumnya dibuat dengan cara perebusan, diperas, atau dimakan mentah. Ramuan yang direbus boleh disimpan sehari atau 24 jam. Setelah jangka waktu tersebut sebaiknya ramuan dibuang dan dibuat lagi yang baru bila memerlukannya. Jika ramuan dibuat dari perasan tanpa direbus, hanya boleh disimpan selama 12 jam. Lebih dari itu jangan digunakan lagi karena dapat tercampur kuman atau kotoran dari udara atau lingkungan sekitamya.

Umumnya resep pengobatan tradisional berdasarkan pertimbangan jangka waktu di atas. Tak ada salahnya kan untuk selalu mempertimbangkan jangka waktu pemakaian ini jika ternyata ramuan yang dibuat berlebih. Jangan menyimpan ramuan lebih dari waktu yang disarankan hanya karena sayang membuangnya. Ingatlah bahwa kesehatan lebih penting dari sekedar bahan tersebut.

5. Tindakan Medis Lainnya

Meskipun ramuan tradisional juga termasuk tindakan untuk mengobati penyakit, tidak berarti pengobatan medis atau kedokteran modern diabaikan. Penderita tetap boleh dibawa ke rumah sakit, puskesmas, atau dokter yang terdekat, terlebih lagi bila penyakitnya parah.

*Rimpang atau rizoma adalah modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya.

Kredit foto : H. Zell/wikimedia

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Disclaimer: Semua informasi di dalam artikel-artikel Medkes.com merupakan sudut pandang penulis. Medkes.com tidak mendukung dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan pandangan tersebut oleh pihak lain. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan.